Archive | July 2011

Penyesalan selalu datang terlambat

Minggu lalu saya kedatangan teman lama yang sudah lama tidak bertemu. Namanya Ngurah, dia datang bersama istrinya dan kami pun ngobrol lama, ngalor ngidul. Dia juga bercerita tentang tempat kerjanya sekarang. Saat ini dia bekerja dengan seorang dokter dalam suatu organisasi yang khusus menangani pasien HIV/AIDS, sehingga dia tahu persis berapa jumlah pasien HIV/AIDS seberapa parah kondisi para pasien tersebut, dan apa saja yang dilakukan oleh organisasi itu. Apa yang diceritakannya benar-benar membuat saya merinding dan tidak menduga situasinya sedemikian parah dan mengerikan. Cara penularannya amat mengerikan. Mungkin kita sering membaca baliho atau pamflet di jalan-jalan tentang bahaya HIV/AIDS yang mengancam. Tetapi mendengar langsung dari orang yang ikut berkecimpung di dalamnya benar-benar membuat saya menggigil karena merinding. Berikut adalah salah satu kisahnya.

Seorang mahasiswi yang berparas cantik memeriksakan dirinya ke dokter karena merasa badannya tidak enak. Oleh dokter yang memeriksanya, dia disarankan untuk cek darah lengkap karena dokter itu melihat ada sesuatu yang mencurigakan. Benar saja, setelah sekian kali konsultasi dan setelah memeriksa hasil cek darahnya secara mendalam, si gadis positif terjangkit HIV/AIDS. Bisa dibayangkan betapa syok gadis itu. Dia langsung berada di bawah pengawasan dokter dan organisasi tersebut. Konseling pun dilakukan bukan hanya untuk pengobatan tetapi terutama untuk persiapan mentalnya. Rupanya gadis ini tidak bisa menerima kondisi dirinya. Dia begitu dendam dan marah kepada pria yang menularinya. Dia merasa yakin dari siapa dirinya tertular. Dia ingat pernah beberapa kali melakukan hubungan intim dengan pacarnya yang juga teman kuliahnya. Kini dia sangat menyesali perbuatannya, tetapi… seperti biasa, penyesalan selalu datang terlambat. Diam-diam dia menyusun sebuah rencana, rencana yang amat mengerikan. Konselornya telah memberitahunya apa-apa yang tidak boleh dilakukan agar tidak menularkan virus HIV kepada orang lain. Tetapi… justru dia ingin melakukan semua yang dilarang tersebut!. Dia tahu dirinya tidak akan bertahan hidup lama.

Dia bertekad selama dirinya masih hidup dan masih bisa bergerak, dia akan mencari mangsa banyak pria. Mulailah dia menjalankan aksinya dengan semangat balas dendam. Dengan wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang seksi menggiurkan, tidak sulit baginya untuk menggaet laki-laki hidung belang. Dia pun “mengobral” dirinya murah-murah dan melakoni gaya hidup ‘one night stand’,  tidur dengan banyak laki-laki, baik teman kuliahnya ataupun laki-laki yang baru dikenalnya. Bisa dibayangkan, betapa cepatnya penularan virus tersebut. Bayangkan, kalau laki-laki yang telah ‘tercemar’ tersebut kemudian berhubungan dengan orang lain, dan seterusnya… dan seterusnya. Sampai akhirnya si gadis meninggal dunia, begitu banyak ‘warisan’ mengerikan yang ditinggalkannya.

Waktu terus berjalan. Beberapa lama kemudian, dokter dan organisasi tempat Ngurah bekerja ini kebanjiran pasien yang terjangkit HIV… dan sebagian besar adalah mahasiswa yang berasal dari kampus si gadis di kota S.  Dari konseling yang penuh kesabaran, diketahuilah bahwa sebagian besar dari para pasien tersebut pernah berhubungan intim dengan almarhumah. Rupanya, si gadis berhasil menjalankan dendamnya. Tinggallah para korbannya yang kini menyesali diri penuh penderitaan, menunggu ajal menjemput.
Ketika saya mendengarkan cerita tersebut, saya benar-benar terperangah, tidak bisa berkata-kata hanya: “Aduuh, masaaaa?” atau “Yang benar sajaaa?” atau “Seriusssss ini” dan sejenisnya. Saya hampir-hampir tidak memercayai cerita itu yang kedengaran seperti sebuah sinetron (walaupun saya tidak hobi nonton sinetron).  Ingin tidak percaya, tetapi berita di beberapa media massa tampaknya membenarkan cerita di atas.  Berita yang dilansir oleh harian Bali Post pun memperkuat kebenaran cerita tersebut.
Menyedihkan dan sangat memprihatikan. Cerita ini merupakan sebuah pelajaran yang amat berharga bagi para lelaki agar tidak gampang tergoda oleh perempuan cantik. Ingat, penyesalan selalu datang terlambat.

Advertisements