Archive | December 2011

Satu Malam Tanpa Internet

Sore itu saya sedang menerjemahkan artikel tentang saham dan transparansi laporan keuangan yang merupakan tugas kuliah, milik teman yang kuliah pascasarjana di jurusan Magister Manajemen. Karena materinya yang lumayan berat (menurut saya), saya perlu riset dan banyak browsing untuk mencari referensi terutama istilah-istilah dalam jual-beli saham dan beberapa istilah keuangan. Saat itu hujan lebat dan sesekali terdengar suara petir yang sayup-sayup. Saya sempat was-was dan berniat mematikan modem. Tapi saat itu saya kebetulan menemukan tautan yang dibutuhkan sehingga modem tidak jadi saya matikan. Ketika sedang asyik membaca isi tautan tersebut, tiba-tiba terdengar suara gelegar petir yang maha dahsyat dan hampir bersamaan dengan itu terdengar suara seperti ledakan berasal dari modem.

Saya kaget dan seketika terloncat dari tempat duduk dan refleks mencabut stop kontak listrik. Saya pakai Speedy dengan modem ADSL,  dan saya tahu modem itu sudah mati ketika terdengar suara ledakan tadi. Saya hanya berharap komputer yang sedang saya pakai tidak ikut terbakar. Sekian lama saya tidak berani menyalakan komputer menunggu hujan dan petir mereda. Saya lama tercenung memikirkan pekerjaan saya yang harus segera selesai karena keesokan harinya teman saya itu harus mempresentasikan tugasnya.

Setelah hujan reda saya menelpon langganan tempat saya biasa belanja alat-alat komputer, menanyakan apakah bisa membawakan modem sore itu. Saya sudah memperkirakan jawabannya tapi tetap saja saya mencoba. Benar saja, sore itu (sudah menjelang malam) dia tidak bisa datang dan berjanji akan datang esok pagi dengan membawa modem yang saya minta.  Yah, apa boleh buat, saya pun  mulai melanjutkan kerja minus internet.

Terbiasa dengan internet, terbiasa juga menggunakan kamus-kamus online, cukup tergantung dengan Kateglo dan milis Bahtera, malam itu saya terpaksa hanya mengandalkan kamus offline. Pekerjaan tidak bisa ditunda karena harus selesai esok pagi. Saya sudah berjanji dan tidak mungkin saya ingkari. Tapi saya masih bersyukur, saya sempat membaca isi tautan tadi dan masih ingat dengan poin-poinnya. Dengan bantuan kamus-kamus yang ada, akhirnya menjelang subuh selesai juga pekerjaan saya.

Sempat terpikir, dulu sebelum ada internet para penerjemah senior bisa menghasilkan terjemahan yang luar biasa. Kenapa saya begitu tergantung dengan internet? Apakah karena terlanjur ‘manja’? Ah, saya kan hanya memanfaatkan teknologi yang ada? Teknologi akan mubazir kalau tidak dimanfaatkan, bukan? 😉 *Membela diri*

Advertisements
This entry was posted on December 21, 2011. 6 Comments

Cinta itu membunuhnya

Pagi yang cerah, tapi topik pembicaraan hari itu tidak secerah cuaca.

Selasa pagi itu saya baru saja selesai jogging satu putaran di Lapangan Renon, sekalian mengantar dan menunggu anak saya yang masih olah raga. Setelah olah raga, saya akan langsung mengantarnya ke sekolah yang tidak terlalu jauh dari Lapangan Renon. Sambil menunggu, saya berdiri di pinggir lapangan sambil melakukan gerakan pendinginan. Seorang ibu yang juga menunggui anaknya menghampiri saya, kemudian kami ngobrol sebentar sekitar persoalan anak-anak sekolah. Kemudian seorang bapak ikut nimbrung diikuti oleh Bapak Tukang Parkir yang biasa bertugas di sana. Si Bapak bercerita bahwa dia lebih memilih mengantar dan menunggui anaknya  olah raga daripada melepasnya naik kendaraan sendiri karena jarak rumahnya dan Lapangan Renon memang cukup jauh. Anaknya baru kelas tiga SMP. Bapak Tukang Parkir juga ikut urun suara bercerita betapa kacaunya lalu lintas sekarang.

Ketika sedang ngobrol, tiba-tiba terdengar teriakan dari pinggir jalan di seberang kami berdiri.

“Tolooong… tolongggg!” teriakan seorang perempuan.

Seketika kami semua menoleh ke sumber suara itu, begitu juga orang-orang lain yang mendengarnya. Saya melihat seorang perempuan naik sepeda motor dipepet oleh seorang laki-laki yang juga naik motor, sehingga motor si gadis tidak bisa bergerak. Beberapa orang laki-laki termasuk Bapak Tukang Parkir dengan segera menghampiri mereka berdua. Tadinya saya pikir si gadis dijambret atau dirampok, walaupun agak heran karena perampokan dilakukan di tempat umum di depan begitu banyak orang. Ternyata dugaan saya salah. Rupanya mereka berdua adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar,  tadinya mereka sudah bicara di suatu tempat dan si gadis ingin putus dari pacarnya. Si pemuda tidak ingin putus dan mengejar si gadis, karena si gadis tidak mau berhenti, maka dipepetlah motornya oleh si pemuda. Karena dipepet si gadis berteriak minta tolong. Oh, ya, ampunnn!

Setelah tahu duduk permasalahannya, orang-orang yang mengerumuni mereka pun bubar kembali. Kami kembali melanjutkan obrolan. Mungkin karena terbawa oleh peristiwa tadi, obrolan kami adalah tentang hubungan dua orang yang bermasalah. Topik yang menyedihkan.

“Saya kemarin baru datang dari kampung menghadiri upacara ngaben warga desa yang bunuh diri,”  kata Bapak yang punya anak SMP itu.
“Bunuh diri? Bunuh diri kenapa?” saya selalu shock setiap mendengar berita/cerita bunuh diri. Membayangkan betapa gelap jalan yang dilihatnya sehingga ‘berani’  memutuskan bunuh diri (atau pengecut karena lari dari kenyataan?)

Si Bapak itu kemudian bercerita. Ada sepasang kekasih yang sudah pacaran lama, dan awalnya tidak ada masalah karena kedua belah pihak orang tua sama-sama menyetujui hubungan mereka. Kemudian si pemuda ingin meresmikan hubungannya dengan menikahi si gadis.  Tetapi entah apa sebabnya, tiba-tiba orang tua si pemuda tidak setuju dan menyuruhnya memutuskan hubungan dengan si gadis. Si pemuda kaget dan tidak menduga respon orang tuanya seperti itu. Dia berusaha meyakinkan orang tuanya, berhari-hari membujuk mereka agar mau menikahkannya dengan si gadis. Tapi orang tuanya tetap pada pendiriannya. Setelah sekian lama, si pemuda mulai putus asa.

Akhirnya si pemuda dan si gadis memutuskan bunuh diri bersama, dengan minum racun serangga! Si pemuda meninggal duluan, kemudian tidak lama diikuti oleh si gadis. Hebohlah desa itu. Orang tua si gadis tidak bisa menerima kenyataan tersebut dan menuntut orang tua si pemuda dan menganggap merekalah  penyebab peristiwa bunuh diri itu. Orang tua si pemuda sangat menyesali sikapnya, kehilangan anak dan menghadapi tuntutan dari orang tua si gadis. Tapi nasi telah menjadi bubur, dan bubur tidak pernah bisa menjadi nasi kembali.

Miris. Cinta itu telah membunuh mereka 😦

Mendengar cerita ini saya ingat dengan seorang teman yang sedang mempunyai masalah hampir sama yaitu tidak (belum) mendapat restu untuk menikah dari orang tua masing-masing.  Mereka akan direstui menikah tapi dengan syarat. Syarat inilah yang menjadi masalah, karena orang tua si gadis dan si pemuda mempunyai syarat yang bertentangan satu sama lainnya, dan sampai saat ini belum menemukan titik temu. Saya tahu si pemuda sudah hampir putus asa. Mudah-mudahan mereka membaca tulisan ini. Pesan saya: jangan pernah mengambil jalan pintas. Percayalah, Tuhan tidak pernah memberikan cobaan melebihi batas kemampuan umat-Nya asal kita mau bersabar. Klise? Mungkin. Tapi yakinilah, sudah terbukti.

Alarm otomatis

Ada sebuah “kelebihan” yang saya miliki yang membuat anak saya iri dan ingin sekali memiliki kelebihan seperti itu. Kelebihan itu adalah saya punya “alarm otomatis” yang bisa diatur sesuka saya, yang berhubungan dengan jam bangun tidur. Saya tidak membutuhkan jam weker atau alarm-alarm lainnya untuk membangunkan saya. Saya hanya butuh bantuan bantal saja :D. Misalnya saya ingin bangun jam empat pagi untuk suatu keperluan, maka saya cukup berkata dalam hati: “Wahai bantal, tolong bangunkan saya jam empat pagi, karena saya harus mengerjakan bla… bla… bla….” Maka, esok paginya saya pasti terbangun jam empat teng. Tidak kurang tidak lebih. Kemudian kalau esoknya saya tidak butuh bangun jam empat, tapi ingin bangun jam lima, maka saya pun mengucapkan “mantra” yang sama dan hanya mengganti jam bangun yang diinginkan saja.

Hal itu berlaku untuk tidur siang atau tidur malam. Saya memang tidak terbiasa tidur siang, tapi adakalanya tubuh terasa capek dan tiba-tiba ngantuk sekali. Kalau sudah demikian saya akan tidur sebentar dan tak lupa mengucapkan: “Wahai bantal, tolong bangunkan saya lima belas menit lagi karena saya tidak ingin tidur terlalu lama.” Hasilnya? Lima belas menit kemudian saya seketika terbangun, dengan kondisi segar, tidak bangun terpaksa.

Anak saya ingin sekali bisa seperti itu agar bisa “mengendalikan hobi tidurnya” :D. Setiap tidur siang, dia susah sekali bangun, akhirnya selalu bangun kemalaman karena tidak pernah bisa tidur dibawah dua jam. Saya sudah memberikan “ilmunya” tapi ternyata tidak mempan!

Dia bilang: “Ibu aneh, kok bisa sih seperti itu?” Aneh? Tidak juga. Setiap orang pasti bisa seperti itu. Kuncinya terletak pada pengaturan pikiran dan niat. Saya yakin pikiran itu berkuasa atas tubuh kita. Saya tinggal mengatur pikiran saja, maka selanjutnya pikiran itu akan mengatur tubuh kita, iya kan? Tidak percaya? Silakan dicoba 😀