Archive | February 2012

Semua Karena Internet

Banner-axis-clean-small-300x198

Saat ini hampir tak terbayang kalau kita tidak bisa atau tidak mengenal internet. Bahkan siswa SD pun sudah diberikan tugas oleh guru-gurunya untuk mencari tugas atau data-data di internet. Apalagi siswa di jenjang yang lebih tinggi yaitu SMP dan SMA. Dunia kuliah apalagi. Bisa dipastikan mahasiswa/mahasiswi yang tidak mau belajar internet akan tergilas dan ketinggalan informasi. Sekarang adalah era informasi, bukan era globalisasi saja. Siapa yang mendapatkan informasi lebih awal, dia akan memenangkan kesempatan.

Internet bukan monopoli anak muda saja. Setiap orang yang jeli bisa memanfaatkan internet sesuai dengan kebutuhannya. Seperti saya yang telah memutuskan untuk menjadi penerjemah lepas. Sebagai ibu rumah tangga yang lebih mengutamakan keluarga, dengan kesibukan antar jemput anak sekolah atau les, saya berusaha mencari peluang dan mendapatkan penghasilan tanpa harus meninggalkan rumah dengan memanfaatkan hobi. Saya gemar membaca dan menulis, menyukai Bahasa Inggris dan sejak dulu memang sangat ingin menjadi penerjemah, terutama penerjemah novel. Sebagai orang yang suka membaca novel, tentu kegiatan menerjemah mempunyai keuntungan ganda bagi saya. Di satu sisi hobi membaca novel tersalurkan ketika proses menerjemah, di sisi lain saya tetap mendapatkan penghasilan dari hasil menerjemah ini. Enak, bukan? J

Lalu bagaimanakah caranya mendapatkan order kalau hanya berdiam diri saja di rumah? Jawabannya adalah: internet. Saya bergabung di komunitas penerjemah, rajin menyimak informasi dan pembahasan dunia penerjemahan di milis yang saya ikuti, yang memang membahas seluk-beluk penerjemahan sekaligus menangkap peluang-peluang yang dilempar oleh rekan-rekan penerjemah di sana. Saya mengikuti diskusi berbagai topik tentang penerjemahan di milis ini yang sangat membantu dalam menambah ilmu penerjemahan saya.  Saya juga memanfaatkan jejaring sosial terutama Facebook untuk membangun jaringan dengan sesama penerjemah. Setelah menyelesaikan tugas-tugas sebagai ibu rumah tangga, biasanya saya langsung berlayar di lautan internet yang maha luas itu. Selalu ada informasi berguna yang saya dapatkan setelah berselancar di internet. Saya juga memperhatikan status teman-teman di Facebook, dan sesekali berkomentar ketika ada yang menarik perhatian.

Saya berkenalan dengan beberapa penerjemah senior dan penyunting dari beberapa penerbit di Facebook. Berinteraksi lewat fitur chatting dengan mereka, diawali dengan ngobrol-ngobrol ringan. Bisa dikatakan semua klien online saya berawal dari Facebook. Novel pertama yang saya terjemahkan, informasinya saya dapatkan dari teman Facebook yang menyampaikan bahwa sebuah penerbit sedang mencari penerjemah lepas. Teman itu pun memberi tahu saya apa saja syarat-syaratnya, lengkap dengan alamat email yang harus dituju. Setelah dites, saya dinyatakan lolos kriteria mereka. Begitu pun dengan novel kedua, saya berkenalan dengan seorang penyunting di Facebook juga, yang bekerja di sebuah penerbit dan  akan menerbitkan sebuah novel klasik. Saya mengajukan lamaran ke sana dan mengirim Curriculum Vitae lewat email, setelah dites saya dinyatakan lulus. Demikian juga dengan klien lainnya dari sebuah agensi. Semua  karena internet.

Saya berusaha tetap ‘beredar’ di internet entah lewat jejaring sosial atau pun milis-milis supaya eksistensi kita terjaga. Dengan kita tetap eksis,  para klien akan sadar dengan keberadaan kita dan tidak melupakan kita.  Tentu kita harus tetap menjaga dan meningkatkan kualitas diri dan kualitas pekerjaan kita. Siapa bilang internet hanya untuk chatting tak berguna? Ngalor-ngidul tanpa manfaat? Atau memberi komentar-komentar tak penting di status teman-teman kita?

Manfaat internet begitu luas, ayoo… manfaatkan untuk eksistensi kita di dunia kita masing-masing. Internet itu bagai perpustakaan semesta yang bisa diakses oleh siapa saja, yang penting kita harus pandai-pandai memanfaatkannya untuk kebaikan kita dan sesama.


 

Advertisements

Penipuan gaya baru

Jaman sekarang  ada banyak jenis penipuan yang menggunakan ponsel. Terakhir yang marak adalah penipuan lewat SMS yang berisi agar mengirim pulsa segera ke sebuah nomor ponsel dengan alasan yang beragam. Ada yang mengaku sebagai “Mama”, kemudian “Papa” yang sedang berurusan di kantor polisi. Terakhir yang saya terima adalah SMS yang berisi: “Tolong uangnya transfer segera ke nomor rekening XXXXX atas nama YYYYY. Segera ya, ditunggu.” Saya beberapa kali menerima SMS seperti itu, tetapi tidak pernah saya pikirkan, langsung tekan tombol ‘hapus’ saja.

Kemarin ada penipuan yang baru saya dengar yaitu seseorang menelpon ke telpon rumah (bukan ke ponsel) dan si penerima telepon disuruh mengirim sejumlah uang ke rekening seseorang. Saya cukup terkejut karena si calon korban ini adalah kakak ipar saya sendiri.

Hari itu, siang hari, ada seseorang yang menelepon ke rumahnya, kebetulan siang itu dia seorang diri di rumah. Istrinya sedang keluar rumah dan kedua putrinya yang sudah remaja sedang bekerja. Terjadi percakapan telepon sebagai berikut:

“Selamat siang, Pak”

“Selamat siang, Pak… saya mau mengabarkan bahwa putri Bapak sedang berada di Rumah Sakit Sanglah.”

Kakak ipar langsung kaget. “Anak saya yang mana, kenapa??”

“Anak Bapak jatuh dari tangga dan segera dilarikan ke rumah sakit, saya lupa namanya… siapa tadi…mm….”

“Intan? Anak saya, Intan? Jatuh lagi??” Kakak ipar tambah shock dan panik sebab dulu putrinya ini pernah jatuh di tangga kantornya karena terpeleset, tetapi tidak ada luka yang serius.

“Betul, Pak. Iya, putri Bapak yang bernama Intan. Kondisinya cukup parah, saya perlu dana segera untuk bisa membantunya, kalau tidak putri Bapak tidak tertolong.”

Kakak ipar tambah panik, akal sehatnya hilang sudah. Dalam kebingungan dan kepanikannya dia mendengarkan semua instruksi yang diberikan oleh si penelepon. Pikirannya hanya terfokus pada satu hal: kalau uang tidak segera ditransfer dalam waktu lima belas menit sejumlah sepuluh juta lima ratus rupiah, seperti yang diminta oleh orang itu, maka putrinya tidak akan tertolong.

Setelah menutup telepon, dia langsung menelepon Intan, tidak diangkat. Berulang kali dicoba, tetap tidak diangkat. Pikirannya makin panik, seperti robot dia buru-buru pergi ke ATM untuk bersiap mengirim uang.  Sampai di ATM, dia bingung bagaimana caranya mentransfer uang lewat ATM karena selama ini tak sekali pun ia pernah menggunakan fitur transfer di ATM, juga fitur-fitur lainnya. Kartu ATM yang dimilikinya selama ini hanya digunakan untuk menarik tunai saja.  Hanya itu. Karenanya, dia langsung bergegas ke Bank, dengan fokus pikiran: UANG HARUS SEGERA DIKIRIM!

Sampai di Bank terjadi percakapan:

“Bu, saya mau mengirim uang,” kata kakak ipar dengan nada panik, dia takut waktu lima belas menit yang diberikan oleh orang itu sudah lewat.

“Buku tabungannya mana, Pak?” tanya petugas Bank dengan agak heran melihat mimik wajah kakak ipar.

“Saya buru-buru, Bu, saya tidak sempat mengambil buku tabungan. Tolong pakai kartu ATM saya saja. Cepatlah.“ jawabnya.

Petugas Bank mulai melihat ada yang tidak beres, kemudian bertanya lebih lanjut. Kakak ipar pun menjawab bahwa dia disuruh segera mengirim uang sejumlah sepuluh juta lima ratus ribu untuk menyelamatkan putrinya.

Akhirnya petugas Bank mafhum apa yang telah terjadi.

“Bapak, jangan percaya dengan telepon gelap seperti itu. Itu penipuan, Pak. Bapak mungkin juga sudah dihipnotis lewat suara tadi.” Kata petugas Bank dengan sabar.

Kakak ipar tersadar seketika. Dia seperti baru bangun, dan sangat bersyukur bisa terhindar dari penipuan itu. Berlakangan baru diketahui bahwa saat itu Intan sedang rapat penting masalah keuangan di kantornya dan ponselnya ditinggal di ruang kerjanya karena dia tidak ingin terganggu oleh ponsel ketika sedang rapat dengan beberapa atasannya.

Dari kejadian itu ada hal yang membuat saya berpikir cukup keras.

1. Si penelpon sepertinya tahu bahwa Intan pernah jatuh di tangga

2. Si penelpon juga tahu bahwa Intan saat itu tidak akan bisa dihubungi lewat telepon/ponsel karena yang bersangkutan sedang rapat penting di kantornya.

3. Si penelepon seolah-olah tahu bahwa Intan ini dulunya memang sedikit lemah dan sering sakit, dan ini berhasil membuat ayahnya makin yakin.

Adakah semua itu hanya kebetulan belaka?

Di satu sisi saya melihat ada untungnya juga kakak ipar saya ini agak “gaptek” dalam menggunakan kartu ATM, sehingga dia tidak bisa langsung main transfer saja. Kalau tidak, bisa dipastikan uang sepuluh juta lima ratus rupiah itu pasti sudah melayang ke rekening si penipu. Bukan dengan ATM saja kakak ipar gaptek, tapi dalam menggunakan ponsel pun dia hanya mengerti menggunakan SMS, menelpon dan menerima telpon. Selebihnya tidak. Kali ini ketidaktahuan dan ‘gaptek’-nya telah menyelamatkannya.