Penipuan gaya baru

Jaman sekarang  ada banyak jenis penipuan yang menggunakan ponsel. Terakhir yang marak adalah penipuan lewat SMS yang berisi agar mengirim pulsa segera ke sebuah nomor ponsel dengan alasan yang beragam. Ada yang mengaku sebagai “Mama”, kemudian “Papa” yang sedang berurusan di kantor polisi. Terakhir yang saya terima adalah SMS yang berisi: “Tolong uangnya transfer segera ke nomor rekening XXXXX atas nama YYYYY. Segera ya, ditunggu.” Saya beberapa kali menerima SMS seperti itu, tetapi tidak pernah saya pikirkan, langsung tekan tombol ‘hapus’ saja.

Kemarin ada penipuan yang baru saya dengar yaitu seseorang menelpon ke telpon rumah (bukan ke ponsel) dan si penerima telepon disuruh mengirim sejumlah uang ke rekening seseorang. Saya cukup terkejut karena si calon korban ini adalah kakak ipar saya sendiri.

Hari itu, siang hari, ada seseorang yang menelepon ke rumahnya, kebetulan siang itu dia seorang diri di rumah. Istrinya sedang keluar rumah dan kedua putrinya yang sudah remaja sedang bekerja. Terjadi percakapan telepon sebagai berikut:

“Selamat siang, Pak”

“Selamat siang, Pak… saya mau mengabarkan bahwa putri Bapak sedang berada di Rumah Sakit Sanglah.”

Kakak ipar langsung kaget. “Anak saya yang mana, kenapa??”

“Anak Bapak jatuh dari tangga dan segera dilarikan ke rumah sakit, saya lupa namanya… siapa tadi…mm….”

“Intan? Anak saya, Intan? Jatuh lagi??” Kakak ipar tambah shock dan panik sebab dulu putrinya ini pernah jatuh di tangga kantornya karena terpeleset, tetapi tidak ada luka yang serius.

“Betul, Pak. Iya, putri Bapak yang bernama Intan. Kondisinya cukup parah, saya perlu dana segera untuk bisa membantunya, kalau tidak putri Bapak tidak tertolong.”

Kakak ipar tambah panik, akal sehatnya hilang sudah. Dalam kebingungan dan kepanikannya dia mendengarkan semua instruksi yang diberikan oleh si penelepon. Pikirannya hanya terfokus pada satu hal: kalau uang tidak segera ditransfer dalam waktu lima belas menit sejumlah sepuluh juta lima ratus rupiah, seperti yang diminta oleh orang itu, maka putrinya tidak akan tertolong.

Setelah menutup telepon, dia langsung menelepon Intan, tidak diangkat. Berulang kali dicoba, tetap tidak diangkat. Pikirannya makin panik, seperti robot dia buru-buru pergi ke ATM untuk bersiap mengirim uang.  Sampai di ATM, dia bingung bagaimana caranya mentransfer uang lewat ATM karena selama ini tak sekali pun ia pernah menggunakan fitur transfer di ATM, juga fitur-fitur lainnya. Kartu ATM yang dimilikinya selama ini hanya digunakan untuk menarik tunai saja.  Hanya itu. Karenanya, dia langsung bergegas ke Bank, dengan fokus pikiran: UANG HARUS SEGERA DIKIRIM!

Sampai di Bank terjadi percakapan:

“Bu, saya mau mengirim uang,” kata kakak ipar dengan nada panik, dia takut waktu lima belas menit yang diberikan oleh orang itu sudah lewat.

“Buku tabungannya mana, Pak?” tanya petugas Bank dengan agak heran melihat mimik wajah kakak ipar.

“Saya buru-buru, Bu, saya tidak sempat mengambil buku tabungan. Tolong pakai kartu ATM saya saja. Cepatlah.“ jawabnya.

Petugas Bank mulai melihat ada yang tidak beres, kemudian bertanya lebih lanjut. Kakak ipar pun menjawab bahwa dia disuruh segera mengirim uang sejumlah sepuluh juta lima ratus ribu untuk menyelamatkan putrinya.

Akhirnya petugas Bank mafhum apa yang telah terjadi.

“Bapak, jangan percaya dengan telepon gelap seperti itu. Itu penipuan, Pak. Bapak mungkin juga sudah dihipnotis lewat suara tadi.” Kata petugas Bank dengan sabar.

Kakak ipar tersadar seketika. Dia seperti baru bangun, dan sangat bersyukur bisa terhindar dari penipuan itu. Berlakangan baru diketahui bahwa saat itu Intan sedang rapat penting masalah keuangan di kantornya dan ponselnya ditinggal di ruang kerjanya karena dia tidak ingin terganggu oleh ponsel ketika sedang rapat dengan beberapa atasannya.

Dari kejadian itu ada hal yang membuat saya berpikir cukup keras.

1. Si penelpon sepertinya tahu bahwa Intan pernah jatuh di tangga

2. Si penelpon juga tahu bahwa Intan saat itu tidak akan bisa dihubungi lewat telepon/ponsel karena yang bersangkutan sedang rapat penting di kantornya.

3. Si penelepon seolah-olah tahu bahwa Intan ini dulunya memang sedikit lemah dan sering sakit, dan ini berhasil membuat ayahnya makin yakin.

Adakah semua itu hanya kebetulan belaka?

Di satu sisi saya melihat ada untungnya juga kakak ipar saya ini agak “gaptek” dalam menggunakan kartu ATM, sehingga dia tidak bisa langsung main transfer saja. Kalau tidak, bisa dipastikan uang sepuluh juta lima ratus rupiah itu pasti sudah melayang ke rekening si penipu. Bukan dengan ATM saja kakak ipar gaptek, tapi dalam menggunakan ponsel pun dia hanya mengerti menggunakan SMS, menelpon dan menerima telpon. Selebihnya tidak. Kali ini ketidaktahuan dan ‘gaptek’-nya telah menyelamatkannya.

Advertisements

3 thoughts on “Penipuan gaya baru

  1. Tugas dalam menjaga dan membantu masyarakat agar terhindar dari penipuan dan kejahatan, bukan hanya tugas dan kewajiban kepolisian saja, melainkan sudah menjadi tugas dan tanggung jawab setiap warga negara indonesia tanpa melihat jabatan,kedudukan serta profesi. Oleh karena itu jangan ragu untuk share segala bentuk kejahatan Cyber Crime ini ke situs crimecyber.net atau laporpolisi.com , supaya para penipu dan penjahat tersebut jadi jera dan masyarakat supaya dapat informasi tentang kejahatan cyber crime yang kian bertambah marak akhir-akhir ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s