Archive | July 2012

Lagi, penipuan gaya baru

Pagi tadi saya menerima SMS yang isinya: “Tolong uangnya dikirim ke no rekening XXXXX, segera ya.”  OK, ini sudah ‘biasa’ karena sudah beberapa kali saya menerima SMS sejenis. Atau SMS begini: “Selamat, nomor HP Anda mendapatkan hadiah Rp75juta yang diundi tadi malam di stasiun TV XXX.” OK, ini juga sudah biasa, entah berapa kali saya menerima yang begini. Kalau SMS minta pulsa, ngga usah dibilang lagi, tak terhitung.

Nah, tadi siang saya ada lagi modus baru. Kira-kira pukul 11.30, telpon rumah berdering, setelah saya angkat terjadilah percakapan sebagai berikut:

Penelepon (perempuan): “Selamat siang, ini betul rumah Ibu Desak Nyoman Pusparini?” (Menyebutkan nama lengkap saya)

Saya: “Betul, dari siapa ya?”

Penelepon: “Saya dari Telkom Pusat Jakarta, selamat Bu, nomor telepon Ibu keluar sebagai pemenang kedua setelah diundi tadi malam.”

‘Alarm’ saya langsung ‘nguing-nguing’, saya yakin ini penipuan, tapi tak urung saya jawab juga: “Oh, ya? Hadiahnya apa, Bu? Dan dalam rangka apa?”

Penelepon: “Ibu langsung aja telpon ke kantor pusat kami di Jakarta, tolong dicatat ya, telepon ke no. 021-50322809 hubungi Bapak Drs.  H. Reynaldi Firmansyah.

Suara penelepon ini terdengar sangat profesional, mantap dan tegas, tapi saya merasa ada sedikit nada mendesak.  Saya nurut dan mencatat nomor telepon  serta nama yang harus saya hubungi.

Saya: “Boleh tahu alamat kantornya, Bu?”

Penelepon: “Ibu telepon aja langsung, dan usahakan sekarang karena hari ini nomor tersebut bebas pulsa khusus untuk pemenang undian.”

Saya: “Okey, Bu, terima kasih atas informasinya.” (Telepon langsung ditutup).

Kemudian sambil senyum-senyum saya cerita sama anak saya isi dari pembicaraan telepon tadi. Anak saya hanya ternganga, hehehe.

“Ajung, Ibu mau nelepon orang ini, setelah nelepon kalau Ibu kelihatan aneh seperti orang terhipnotis, tolong sadarkan Ibu yaa,” kata saya sambil ketawa-ketiwi. Anak saya ngakak.

Tapi, tentu saja saya tidak akan nelepon ke nomor tersebut. Saya yakin 99,99% itu adalah penipuan. Masih ada angka 0,01% yang ingin saya buktikan. Dulu, ketika anak saya masih SD, saya pernah mendapat telepon seperti ini dari Telkom  Plaza Ubung (tempat saya dulu biasa bayar tagihan telepon), yang mengabarkan bahwa nomor telepon rumah saya memenangkan undian berhadiah. Oleh si penelepon saya disuruh menghubungi sebuah nomor. Waktu itu belum marak macam-macam penipuan seperti sekarang ini. Saya pun nelepon ke nomor itu dan ternyata memang benar saya dapat hadiah (sebuah radio Compo) yang harus diambil sendiri di Kantor Telkom Jln. Teuku Umar Denpasar. Hanya saja waktu itu si penelepon memberi penjelasan  rinci, saat saya tanya pengundiannya berdasarkan apa. Dijawab, yang diundi adalah nomor-nomor telepon yang selalu membayar sebelum tanggal 10. Jadi semacam ucapan terima kasih untuk pelanggannya. Cukup jelas, tidak seperti si penelepon tadi yang hanya menyuruh saya nelepon ke sebuah nomor tanpa penjelasan apa-apa.

Saya penasaran dan ingin mencari tahu, tapi mesti bertanya pada siapa? Karena si penelepon tadi ‘menjual’ nama Telkom, maka tempat bertanya yang paling aman dan tepercaya adalah: Telkom sendiri. Saya pun menghubungi nomor 147. Saya ceritakan semua, si operator mencatat nomor telepon dan nama yang harus saya hubungi tadi. Kemudian dengan tegas operator tersebut mengatakan bahwa, sampai saat ini Telkom tidak pernah mengadakan undian apa pun. Teriring pesan, kapan pun menerima telpon sejenis dan membawa-bawa nama Telkom jangan sungkan-sungkan untuk konfirmasi langsung ke Telkom.

Hm,  makin hari makin beragam saja modus-modus penipuan ini dan para penipu makin kreatif saja.  Sudah saatnya kita lebih meningkatkan kewaspadaan lagi. Saya tidak tahu, entah bagaimana cara kerja penipuan ini seandainya saya benar-benar menelepon ke sana. Mungkin dihipnotis agar mau mengikuti apa yang dikatakannya? Entahlah.

Advertisements

‘Hunting’ calon menantu :-)

Dalam berbagai kesempatan anak saya sering cerita tentang teman-temannya yang sudah punya pacar. Dia memang selalu cerita apa pun yang dialaminya, baik di sekolah atau pun di luar sekolah. Sehingga saya jadi tahu siapa yang nembak siapa, si A lagi berantem sama pacarnya, si B baru saja putus, si C lagi ada masalah dengan pacarnya, dan lain sebagainya.

Secara iseng saya tanya, “Trus Ajung gimana? Belum punya pacar nih?” Walaupun saya tahu pasti dia memang belum punya dan belum pernah pacaran sampai saat ini. Saya memang tidak merekomendasi dia untuk pacaran dulu, padahal teman-temannya sejak SMP sudah banyak yang mulai pacaran. Meskipun saya sarankan untuk tidak pacaran dulu, dia sendiri memang belum berniat pacaran sampai nanti setelah kuliah.

Lucunya, walaupun dia belum pernah pacaran, dia seringkali bertindak sebagai “psikolog” untuk teman-temannya yang bermasalah dalam pacaran.  Ketika teman-temannya tahu bahwa ada seseorang yang naksir dia, sempat temannya kasih saran agar dia menerimanya. “Anggap sebagai selingan, jangan terlalu serius,” kata temannya. Tapi anak saya tidak setuju dengan pola pikir seperti itu. Dia tidak ingin bermain-main dengan perasaan. Bagaimana kalau ternyata si lelaki serius sedangkan dia hanya main-main? Dia tidak ingin menyakiti siapa pun.

Saya hanya menyarankan agar dia berteman saja dulu dan menjalin pertemanan sebanyak-banyaknya.  Memang dia punya banyak teman dekat yang hampir-hampir seperti saudara atau keluarga. Saya mengenal hampir semua teman-teman dekatnya baik laki-laki ataupun perempuan dan mereka sering ngumpul di rumah.  Saya memang berusaha mendekatkan diri dengan semua temannya.  Saya ingin agar dia mengenal banyak karakter dan mempunyai wawasan yang luas tentang berbagai karakter manusia. Ternyata diam-diam dia memang suka mengamati karakter orang dan itu mungkin salah satu hal yang membuatnya suka dengan dunia psikologi.

Ketika sambil becanda saya tanya, tentang pacar dia menjawab sambil tertawa.

“Ibu aja deh yang cariin.”

“Lho, kok Ibu?” tanya saya.

“Iya, nanti kalau ngga cocok dengan selera Ibu, gimana?” katanya.

“Nah, kalo Ibu yang cariin…kalo Ajung ngga cocok gimanaaa?” canda saya.

“Gini… Ibu ajukan calon, Ajung tinggal bilang iya kalau cocok dan bilang tidak, kalau Ajung tidak suka.”

“Hehehehe,” kami berdua tertawa serempak.

“Ya, sudah… kalo begitu Ibu akan hunting calon menantu nih dari sekarang,” kata saya setelah tawa kami mereda.

Pembicaraan di atas bisa dibilang serius, bisa dibilang becanda.

Tentu saya tidak akan memaksakan kehendak pada putri tunggal saya ini, tapi yang jelas saya menginginkan yang terbaik.  Ibu mana pun pasti mengharapkan yang terbaik dan mengharapkan kebahagiaan anaknya. Di satu sisi saya juga tahu, bahwa anak saya ini sadar dirinya diberikan beberapa “syarat khusus” dalam mencari pasangan hidupnya. Tetapi di atas segalanya saya hanya mengharap, siapa pun pasangannya nanti betul-betul orang yang baik dan benar-benar mencintainya dengan sepenuh hati.

Antara dua pilihan

Tanggal 6 Juli 2012, pengumuman ujian tulis SNMPTN, hari yang ditunggu-tunggu oleh ratusan ribu calon mahasiswa, hari yang akan menentukan masa depan mereka. Pengumuman ini yang rencananya diumumkan tanggal 7 Juli, diajukan sehari karena semuanya sudah siap, sehingga pihak berwenang merasa tidak perlu lagi menunda-nunda pengumuman.

Anak saya sebagai salah satu peserta ujian tulis SNMPTN termasuk salah satu yang lulus dan diterima di Fak. Psikologi Udayana. Pengumuman kelulusannya malah membuat anak saya galau. Penyebabnya karena sebelumnya, dia sudah lulus juga di Poltekkes Negeri di jurusan Analis Kesehatan.  Psikologi dan Analis Kesehatan adalah dua jurusan yang amat diinginkannya. Tadinya dia berharap lulus di salah satu saja. Poltekkes mengeluarkan pengumuman terlebih dahulu, tentu dia amat gembira atas kelulusannya dan segera mengikuti tahap tes berikutnya  yaitu tes kesehatan dan tes bebas narkoba.  Tanggal 5 Juli pengumuman tes kesehatan di Poltekkes diumumkan, dan dia dinyatakan lulus.

Esoknya, tanggal 6 Juli, keluar pengumuman SNMPTN, dan dia dinyatakan lulus di Fak. Psikologi. Nah, dia sempat galau mau pilih yang mana. Dengan berbagai pertimbangan, dia tetap memilih Analis Kesehatan dengan harapan, suatu saat nanti bisa kuliah juga di Fak. Psikologi. Dia mencintai dunia psikologi dan bahkan sudah sering “praktek psikolog”, dan “pasien-pasiennya” adalah teman-temannya yang sedang galau :-). Lucunya, para “pasien” itu sering kali menemukan jalan keluar dari kegalauannya, setelah konsultasi dengan “sang psikolog” 😀

Selamat ya, Nak. Ibu sungguh bangga padamu. Semoga perjalananmu ke depan semakin diberi kemudahan oleh Tuhan. Amin.

Ular beneran!

Di musim liburan ini begitu banyak ada acara-acara menarik yang layak dikunjungi. Salah satunya adalah Japan Expo yang diadakan pada tanggal 30 Juni 2012, yang penyelenggaraannya bertempat di Lapangan Parkir GOR Lila Bhuana (Ngurah Rai) Denpasar. Pada dasarnya acaranya menampilkan segala sesuatu yang berbau Jepang, pernak-pernik Jepang dan berbagai lomba yang berbau Jepang.  Dimeriahkan juga oleh cosplayer yang berdandan ala tokoh-tokoh manga atau ala tokoh-tokoh kartun Jepang.

Anak saya bersama teman-temannya juga mengunjungi acara ini. Di samping rasa ingin tahunya, juga kebetulan salah satu adik kelasnya ikut sebagai cosplayer.

Sepulang dari sana, seperti biasa setiap datang dari bepergian, dia bercerita dengan heboh apa-apa saja yang dialaminya di sana. Mendengar ceritanya, saya seolah-olah menyaksikan langsung  suasana tersebut. Tapi, yang membuat saya terbelalak ketika dia bilang bahwa dia berfoto dengan seekor ular yang melilit di bahunya! Saya tidak percaya, sampai dia memperlihatkan hasil fotonya. Saya tambah kaget bercampur takjub dan sediki ngeri. Saya tidak habis pikir dan tidak pernah menduga dia berani melakukan itu, sementara teman-teman yang diajaknya tidak ada yang berani.

“Ih, Ajung ngga takut?” tanya saya sambil bergidik melihat fotonya.

“Tadinya sih takut, Bu. Tapi kemudian ngga takut lagi. Ternyata ular itu tidak seperti yang kita duga lho, Bu. Ternyata ular itu cantik!”

“Hah? Cantik?!”

“Iya cantik, Ajung malah kasihan melihatnya, Bu. Diajak joget-joget gitu sama pawangnya, terus dioper-oper kesana kemari. Kaya’nya ular itu udah capek banget.  Ajung bisa lihat dari matanya.”

Hah!

Saya tahu anak ini penyayang binatang. Tidak tega melihat binatang yang menurutnya tersakiti.

Termasuk membunuh tikus dan kecoa pun dia tidak tega. Ini lebay, bukan?  Kalau melihat tikus di rumah, dia akan mengusirnya agar lari sehingga tidak dilihat oleh ayahnya, yang  pasti akan memburu dan membunuhnya.

Pernah ada ulat bulu yang entah bagaimana caranya masuk, tahu-tahu sudah menempel di dinding kamarnya yang memang berdekatan dengan kebun.

Dia buru-buru memanggil saya dan mengatakan ada ulat bulu. Saya segera datang dan bersiap untuk membunuhnya. Pelan-pelan ulat itu saya pindahkan ke selembar kertas bekas dengan bantuan lidi. Niat saya adalah membungkusnya kemudian membuangnya ke tempat sampah. Tapi anak saya keburu berteriak.

“Ibuuu, jangan diremas kertasnya, hati-hati, kasihan….”

HAH? Kasihan? Dia ngga tahu apa bulu ulat tersebut bisa bikin gatal seluruh tubuh?

“Terus? Ibu apain dong ini?” tanya saya.

“Taruh di pepohonan di depan rumah aja, pokoknya jangan dibunuh.”

Ya, ampun anak ini.

Tapi saya mengikuti juga kemauannya. Ulat itu saya buang di antara pepohonan yang cukup lebat di pinggir jalan di depan rumah saya.

Anak yang aneh.

Bukan hanya terhadap binatang dia seperti itu, terhadap tumbuh-tumbuhan juga. Ketika jaman kampanye dulu. dia sering marah dan sedih melihat pohon-pohon di pinggir jalan dipaku seenaknya untuk memasang gambar-gambar para caleg. Dia menyumpahi supaya para caleg itu tidak menang.

“Tega sekali memaku batang-batang pohon untuk memasang gambar-gambar tidak penting itu!” ujarnya kesal dengan mata berkaca-kaca. Seolah-olah dia merasakan sakitnya pohon-pohon tersebut.

Walaupun dia begitu penuh belas kasih terhadap segala makhluk hidup, tapi saya tidak pernah menyangka dia berani melilitkan ular di tubuhnya! Ular beneran! Sementara saya begitu takut dengan ular, dan selalu berdoa agar tidak pernah bertemu ular.