Ular beneran!

Di musim liburan ini begitu banyak ada acara-acara menarik yang layak dikunjungi. Salah satunya adalah Japan Expo yang diadakan pada tanggal 30 Juni 2012, yang penyelenggaraannya bertempat di Lapangan Parkir GOR Lila Bhuana (Ngurah Rai) Denpasar. Pada dasarnya acaranya menampilkan segala sesuatu yang berbau Jepang, pernak-pernik Jepang dan berbagai lomba yang berbau Jepang.  Dimeriahkan juga oleh cosplayer yang berdandan ala tokoh-tokoh manga atau ala tokoh-tokoh kartun Jepang.

Anak saya bersama teman-temannya juga mengunjungi acara ini. Di samping rasa ingin tahunya, juga kebetulan salah satu adik kelasnya ikut sebagai cosplayer.

Sepulang dari sana, seperti biasa setiap datang dari bepergian, dia bercerita dengan heboh apa-apa saja yang dialaminya di sana. Mendengar ceritanya, saya seolah-olah menyaksikan langsung  suasana tersebut. Tapi, yang membuat saya terbelalak ketika dia bilang bahwa dia berfoto dengan seekor ular yang melilit di bahunya! Saya tidak percaya, sampai dia memperlihatkan hasil fotonya. Saya tambah kaget bercampur takjub dan sediki ngeri. Saya tidak habis pikir dan tidak pernah menduga dia berani melakukan itu, sementara teman-teman yang diajaknya tidak ada yang berani.

“Ih, Ajung ngga takut?” tanya saya sambil bergidik melihat fotonya.

“Tadinya sih takut, Bu. Tapi kemudian ngga takut lagi. Ternyata ular itu tidak seperti yang kita duga lho, Bu. Ternyata ular itu cantik!”

“Hah? Cantik?!”

“Iya cantik, Ajung malah kasihan melihatnya, Bu. Diajak joget-joget gitu sama pawangnya, terus dioper-oper kesana kemari. Kaya’nya ular itu udah capek banget.  Ajung bisa lihat dari matanya.”

Hah!

Saya tahu anak ini penyayang binatang. Tidak tega melihat binatang yang menurutnya tersakiti.

Termasuk membunuh tikus dan kecoa pun dia tidak tega. Ini lebay, bukan?  Kalau melihat tikus di rumah, dia akan mengusirnya agar lari sehingga tidak dilihat oleh ayahnya, yang  pasti akan memburu dan membunuhnya.

Pernah ada ulat bulu yang entah bagaimana caranya masuk, tahu-tahu sudah menempel di dinding kamarnya yang memang berdekatan dengan kebun.

Dia buru-buru memanggil saya dan mengatakan ada ulat bulu. Saya segera datang dan bersiap untuk membunuhnya. Pelan-pelan ulat itu saya pindahkan ke selembar kertas bekas dengan bantuan lidi. Niat saya adalah membungkusnya kemudian membuangnya ke tempat sampah. Tapi anak saya keburu berteriak.

“Ibuuu, jangan diremas kertasnya, hati-hati, kasihan….”

HAH? Kasihan? Dia ngga tahu apa bulu ulat tersebut bisa bikin gatal seluruh tubuh?

“Terus? Ibu apain dong ini?” tanya saya.

“Taruh di pepohonan di depan rumah aja, pokoknya jangan dibunuh.”

Ya, ampun anak ini.

Tapi saya mengikuti juga kemauannya. Ulat itu saya buang di antara pepohonan yang cukup lebat di pinggir jalan di depan rumah saya.

Anak yang aneh.

Bukan hanya terhadap binatang dia seperti itu, terhadap tumbuh-tumbuhan juga. Ketika jaman kampanye dulu. dia sering marah dan sedih melihat pohon-pohon di pinggir jalan dipaku seenaknya untuk memasang gambar-gambar para caleg. Dia menyumpahi supaya para caleg itu tidak menang.

“Tega sekali memaku batang-batang pohon untuk memasang gambar-gambar tidak penting itu!” ujarnya kesal dengan mata berkaca-kaca. Seolah-olah dia merasakan sakitnya pohon-pohon tersebut.

Walaupun dia begitu penuh belas kasih terhadap segala makhluk hidup, tapi saya tidak pernah menyangka dia berani melilitkan ular di tubuhnya! Ular beneran! Sementara saya begitu takut dengan ular, dan selalu berdoa agar tidak pernah bertemu ular.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s