Archive | September 2012

Masih (banyak) ada orang baik

Minggu lalu saya mengantar anak yang akan mengikuti kuliah perdana. Dari rumah berangkat pagi-pagi, maklum mahasiswa baru, takut telat katanya.  Di samping itu jalur yang kami lalui adalah jalur macet, sehingga makin pagi berangkat makin terhindar dari macet.

Sejak mulai sekolah sampai duduk di SMA, anak saya selalu membawa bekal makanan dari rumah. Katanya sih tidak ada masakan yang lebih enak dari masakan ibunya, hehehe. Becanda. Versi seriusnya, dia males ngantri di kantin sekolah yang biasanya pasti membeludak, karena belum dapat giliran, waktu istirahat sudah habis.  Udah laper, capek ngantri, eh… malah ngga sempat makan. Jadi, paling aman adalah membawa bekal sendiri.

Nah, pagi itu karena ini kuliah perdana, dia belum tahu situasi kantin kampus, belum tahu juga apakah memungkinkan untuk makan di kelas (kalau bawa bekal sendiri). Jadi, hari itu saya tidak menyiapkan bekal untuknya. Tapi untuk berjaga-jaga, saya menyarankan dia untuk membawa jajan atau roti plus minuman tentu saja. Maka, mampirlah kami di Circle K (CK) Waturenggong untuk membeli perbekalan.

Dia masuk sendiri dan saya menunggu di tempat parkir. Sambil menunggu, seperti biasa kalau saya berada di tempat yang cukup asing (saya hampir tak pernah berkunjung ke CK ini), saya menyapukan pandangan ke sekitar sekilas. Di sebelah kiri saya ada mobil APV dengan pengemudinya masih duduk di belakang setir. Di sebelah kanan saya kosong, mungkin karena masih terlalu pagi, tidak banyak ada pengunjung saat itu. Setelah  memerhatikan ke sekitar, saya memusatkan perhatian lagi ke pintu masuk CK. Beberapa menit kemudian dari dinding kaca  tembus pandang itu saya melihat anak saya sedang di kasir. Setelah selesai membayar, dia bergegas keluar. “Ayo, Bu… cap cus, biar ngga telat,” katanya. Kami pun langsung meninggalkan CK tanpa banyak cakap.  Pikiran saya hanya bagaimana supaya cepat sampai di kampusnya, sebelum jalanan mulai macet.

Untuk menuju pintu keluar halaman parkir, saya harus melewati  mobil APV hitam itu. Saat melewatinya, sekilas saya melihat si pengemudi tergopoh-gopoh keluar dari mobilnya. Selanjutnya saya tidak ngeh lagi. Tiba-tiba ketika sudah akan menyeberang, seseorang memanggil-manggil dari belakang. Dengan berlari-lari, seorang lelaki mengejar kami. Saya mengenalinya sebagai pengemudi mobil APV tadi.  Perawakannya tinggi besar seperti seorang bodyguard (tampang sedikit sangar),  dilihat dari wajahnya kira-kira berusia di akhir tigapuluhan atau awal empatpuluhan.  Dia berlari sambil menjulurkan tangan kanannya yang menggenggam sesuatu warna hitam.

“Ini punyanya adik. Saya lihat saat jatuh tadi di parkiran sana,” katanya sambil menyerahkan benda hitam itu pada anak saya. Ternyata itu adalah HP anak saya yang terjatuh ketika ia memasukkan belanjaannya ke dalam tas tadi.  Anak saya sama sekali tidak menyadarinya. Dia mengira HP-nya masih aman di kantong jaketnya. Dia sempat kaget, tapi setelah yakin itu adalah HP-nya, anak saya langsung menerimanya dengan tak lupa mengucapkan terima kasih.

Saya sendiri sebenarnya juga cukup kaget, terutama oleh kejujuran dan kebaikan bapak itu yang rela lari mengejar kami sampai ke pinggir jalan untuk mengembalikan HP tersebut.  Tentu saja saya bersyukur dan sangat berterima kasih. Tidak ada yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan itu, selain berdoa semoga Tuhan yang membalasnya. Terlebih anak saya, kalau sampai HP itu hilang, dia pasti nangis, sebab belum tentu ada budget dalam waktu dekat ini untuk membeli Samsung Galaxy yang baru lagi. 🙂

Syukurnya lagi, HP itu sama sekali tidak ada kerusakan atau lecet, walaupun terjatuh di atas paving beton. Rupanya cover-nya yang terbuat dari kulit berlapis beledru itu  cukup ampuh sebagai pelindungnya ketika terbentur paving beton.

Itu hanya salah satu kebaikan yang saya terima. Sebenarnya, banyak kebaikan-kebaikan yang saya alami yang ingin saya tulis juga.  Walaupun ada juga kejadian-kejadian pahit dalam hitup saya, saya sudah memutuskan hanya akan fokus pada kebaikan-kebaikan saja. Sedapat mungkin berusaha berbuat kebaikan juga, tentu sebatas kemampuan saya sebagai manusia biasa. Karena… saya percaya dengan Hukum Karma Phala.

 

 

 

Advertisements
This entry was posted on September 14, 2012. 2 Comments