Archive | November 2012

Penyesalan yang (selalu) terlambat

Cerita ini sudah terjadi beberapa bulan yang lalu yang membuat saya kaget setengah mati dan makin menyadari realitas yang ada di masyarakat. Makin menyadarkan saya betapa HIV/AIDS berada sangat dekat dengan kita dan benar-benar tak terduga. Kejadian ini membuat mata saya makin terbuka lebar, bahkan hampir-hampir tidak percaya karena alur ceritanya bagai sebuah sinetron.

Cerita berawal dari kunjungan teman lama suami saya yang sudah lama tidak bertemu. Namanya Ngurah, dia datang bersama istrinya dan kami pun ngobrol lama, ngalor ngidul. Dia juga bercerita tentang tempat kerjanya sekarang. Saat itu dia bekerja dengan seorang dokter dalam sebuah organisasi yang khusus menangani pasien HIV/AIDS, sehingga dia tahu persis berapa jumlah pasien HIV/AIDS dan seberapa parah kondisi para pasien tersebut, serta apa saja yang dilakukan oleh organisasi itu.

Apa yang diceritakannya benar-benar membuat saya merinding dan tidak menduga situasinya sedemikian parah dan mengerikan. Cara penularan yang amat mengerikan. Mungkin kita sering membaca baliho yang bertuliskan betapa bahayanya virus HIV/AIDS atau pamflet yang disebar di jalan-jalan tentang cara-cara menghindarkan diri dari virus HIV/AIDS yang mengancam. Mungkin kita tidak terlalu serius menanggapinya atau membacanya sambil lalu saja. Tetapi mendengar langsung dari orang yang ikut berkecimpung dalam penanggulangan HIV/AIDS benar-benar membuat saya menggigil karena merinding. Berikut adalah  kisahnya.

Suatu hari seorang mahasiswi yang berparas cantik memeriksakan dirinya ke dokter karena merasa badannya tidak enak dan merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Oleh dokter yang memeriksanya, dia disarankan untuk cek darah lengkap karena dokter itu melihat ada sesuatu yang mencurigakan. Benar saja, setelah sekian kali konsultasi dan setelah memeriksa hasil cek darahnya secara mendalam, si gadis dinyatakan positif terjangkit HIV/AIDS. Bisa dibayangkan betapa syok gadis itu. Dia pun langsung berada di bawah pengawasan dokter dan organisasi tersebut. Konseling  dilakukan bukan hanya untuk pengobatan tetapi terutama untuk persiapan mentalnya. Rupanya gadis ini tidak bisa menerima kondisi dirinya. Dia begitu dendam dan marah kepada pria yang menularinya. Dia merasa yakin dari siapa dirinya tertular dan dengan cara bagaimana dia tertular. Dia tidak mengkonsumsi narkoba dalam bentuk apa pun, tidak pernah menyuntik dirinya, tidak pernah melakukan transfusi darah.

Tetapi dia sangat ingat pernah beberapa kali melakukan hubungan intim dengan pacarnya yang juga teman kuliahnya. Kini dia sangat menyesali perbuatannya, tetapi… seperti biasa, penyesalan selalu datang terlambat. Dendam yang membara bercampur putus asa membuatnya diam-diam menyusun sebuah rencana, rencana yang amat mengerikan. Padahal setiap melakukan konseling, sang konselor selalu memberitahunya apa-apa yang tidak boleh dilakukan agar tidak menularkan virus HIV/AIDS kepada orang lain. Tetapi… justru dia ingin melakukan semua yang dilarang tersebut!. Dia tahu dirinya tidak akan bertahan hidup lama. Jadi dalam sisa hidupnya dia ingin melakukan sesuatu untuk membalaskan dendamnya. Pembalasan dendam yang mengerikan, dan sayangnya, banyak orang tak bersalah yang menjadi pelampiasan dendamnya.

Dia bertekad selama dia masih hidup dan masih bisa bergerak, dia akan mencari mangsa banyak pria. Mulailah dia menjalankan aksinya dengan semangat balas dendam. Dengan wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang seksi menggiurkan, tidak sulit baginya untuk menggaet laki-laki hidung belang. Dia pun “mengobral” dirinya murah-murah dan melakoni gaya hidup ‘one night stand’,  tidur dengan banyak laki-laki, baik teman kuliahnya atau pun laki-laki yang baru dikenalnya. Bisa dibayangkan, betapa cepatnya penularan virus tersebut. Bayangkan, kalau laki-laki yang telah ‘tercemar’ tersebut kemudian berhubungan dengan orang lain, dan seterusnya… dan seterusnya. Sungguh mengerikan, bukan? Sampai akhirnya si gadis meninggal dunia, dan begitu banyak ‘warisan’ mengerikan yang ditinggalkannya.

Waktu terus berjalan. Beberapa lama kemudian, dokter dan organisasi tempat Ngurah bekerja ini kebanjiran pasien yang terjangkit HIV… dan sebagian besar adalah mahasiswa yang berasal dari kampus si gadis di kota S.  Dari konseling yang penuh kesabaran, diketahuilah bahwa sebagian besar dari para pasien tersebut pernah berhubungan intim dengan almarhumah. Rupanya, si gadis berhasil menjalankan dendamnya. Tinggallah para korbannya yang kini menyesali diri penuh penderitaan, menunggu ajal menjemput.

Ketika saya mendengarkan cerita tersebut, saya benar-benar terperangah, tidak bisa berkata-kata hanya: “Aduuh, masaaaa?” atau “Yang benar sajaaa?” atau “Ini seriusssss?”  dan sejenisnya. Saya hampir-hampir tidak memercayai cerita itu yang kedengaran seperti sebuah sinetron (walaupun saya tidak hobi nonton sinetron).  Ingin tidak percaya, tetapi berita di beberapa media massa tampaknya membenarkan cerita di atas.  Berita yang dilansir oleh harian Bali Post pun memperkuat kebenaran cerita tersebut. Juga di media lainnya.

world AIDS DayMenyedihkan dan sangat memprihatikan. Dari cerita ini semoga ada yang bisa diambil hikmahnya. Betapa berbahayanya melakukan hubungan intim yang tidak aman. Penyuluhan tentang HIV/AIDS  terhadap generasi muda harus makin ditingkatkan dan harus makin gamblang, dengan penggambaran yang sejelas-jelasnya tentang bagaimana akibatnya kalau terinfeksi virus HIV/AIDS ini. Ini juga bisa menjadi sebuah pelajaran yang amat berharga bagi kaum lelaki agar tidak gampang tergoda oleh perempuan cantik yang tampak begitu agresif. Harus bisa mengendalikan diri serta berpikir tenang, jernih dan jauh ke depan. Ingat, penyesalan memang selalu datang terlambat.

Catatan: Gambar-gambar di atas diambil di sini, sini dan sini.

Advertisements

Anak ngga bisa, emaknya pun jadi ;-)

Hari Sabtu kemarin, saya jadi model untuk ponakan yang sedang kursus tata rias pengantin Bali. Sebenarnya yang biasa jadi modelnya adalah anak saya, tapi berhubung si anak berhalangan akhirnya saya yang menggantikan karena tidak mungkin bisa mencari model lain dengan mendadak. Tidak ada rotan, akar pun jadi. Anaknya tidak bisa, emaknya pun jadi! 😛

Hari itu materi pelajarannya adalah Tata Rias Pengantin Bali Modifikasi. Sungguh pengalaman yang menarik, menjadi model  tata rias pengantin pada usia yang tidak muda lagi. Saya sempat bertanya pada ponakan.

“Apa Ibu ngga ketuaan nih?” Semua ponakan biasa memanggil saya ‘Ibu’, seperti anak saya sendiri.

“Ngga, Bu, asal ngga keriput aja, kalau keriput susah ngeriasnya.”

Saya tersenyum dalam hati. Lha, saya sudah kepala empat, mendekati lima, siapa bilang belum ada kerutan? Setidaknya, gejala  pasti ada deh 😀

Sampai di salon (tempatnya kursus), saya pasrah saja ketika wajah saya “dilukis”. Yang paling lama adalah saat membentuk alis, dan menurut gurunya, membentuk alis memang paling sulit. Beberapa kali alis yang sudah dibentuk, dihapus lagi, diulang lagi, berkali-kali.

Selesai di wajah, lanjut ke penataan rambut. Pertama gurunya yang memberi contoh, kemudian ponakan melanjutkan. Rambut saya disasak kemudian dibentuk, diberi sanggul dan disesuaikan dengan bentuk wajah saya. Penataan rambut selesai sudah, tinggal memasang bunga-bunga. Saat itu, asisten gurunya nyeletuk, “waw, kok tampak muda sekali!” (Ehem). Pernyataan sang asisten diamini oleh gurunya, “Bener, ngga kelihatan sama sekali kalau Ibu sudah punya anak gadis.” (Ehem lagi), hihihi.

Selanjutnya, sanggul itu dilengkapi dengan bunga, beberapa jenis bunga warna emas, ditata sedemikian rupa sehingga kepala saya kelihatan cantik sekali. Bagian wajah dan kepala beres sudah. Sekarang bagian badan, yaitu memakai kain. Kain yang dipakai adalah Songket Bali. Kemudian dari dada atas sampai pinggul, dililit stagen hitam, dan ditumpuk lagi dengan stagen prada keemasan.  Selesai. Sentuhan akhir adalan giwang besar dan bross besar yang disematkan di dada atas. Beres!

Sore (menjelang malam) itu, saya serasa jadi model beneran, difoto puluhan kali oleh tiga orang yaitu ponakan, guru salon dan asistennya. Beberapa kali mereka berseru takjub melihat hasil riasan ponakan (dibawah bimbingan gurunya, tentu saja).

“Wow, cocok jadi pengantin lagi nih,” canda mereka.

“Kalau begini, orang akan mengira usia Bu Desak ngga lebih dari tiga puluh satu tahun,” kata sang asisten sambil  tersenyum.

Yang paling senang tentu saja ponakan saya, karena dia telah berhasil merias seorang ibu (yang tidak muda lagi), tampak tujuh belas tahun lebih muda, kata mereka lho, bukan kata saya (walaupun saya tidak akan  menolak dikatakan seperti itu), hahaha. Karena, bukankah salah satu tujuan merias seseorang adalah agar  orang tersebut kelihatan lebih cantik dan lebih muda dari aslinya? Jadi, jelas saja ponakan saya senang bukan alang kepalang. 😀

Yoga (#2)

Kemarin, Selasa, 20 November 2012, hari kedua saya latihan yoga. Tambah semangat dan tambah senang, mungkin karena niat dan minat saya yang begitu besar. Latihan berlangsung selama dua jam dan saya sama sekali tidak merasa lelah malah terasa segar.  Jadwal latihan mestinya mulai jam lima sore, tapi karena sang guru harus menghadiri upacara adat yang dilaksanakan sejak pagi di kampungnya,  sehingga latihan molor satu jam.

Di hari kedua ini peserta yang hadir adalah sebelas orang dari 14 yang terdaftar.  Sedangkan hari pertama yang hadir  8 orang karena sebagian berhalangan.  Peserta memang dibatasi maksimal 14 orang kalau pun nanti ada peminat lain akan dibuatkan kelas baru.  Mudah-mudahan kelas baru nanti bisa dilaksanakan setiap hari Minggu, karena anak saya sangat ingin ikut dan hanya bisa hari Minggu saja.

Latihan hari kedua masih diisi dengan latihan dasar dan teknik-teknik pernapasan.  Juga dikenalkan beberapa pose atau asana yang sungguh menarik bagi saya. Sang guru beberapa kali mengingatkan tidak ada kompetisi dalam yoga dan jangan sekali-sekali memaksakan diri untuk mengikuti asana yang kira-kira belum bisa diikuti sekalipun teman lainnya sudah bisa melakukannya. Ditekankan lagi bahwa kelenturan tubuh seseorang itu berbeda dengan yang lainnya. Jadi, diikuti senyamannya saja, jangan sampai tubuh merasa dipaksa. Pelan-pelan seiring waktu dan latihan, tubuh akan makin lentur dengan sendirinya.

Sang guru juga sempat menanyakan siapa-siapa di antara kami yang mempunyai penyakit tertentu. Misalnya darah tinggi, karena ada beberapa pose yoga yang tidak boleh dilakukan oleh orang penderita penyakit tertentu. Untuk itulah dia perlu tahu bagaimana kondisi kesehatan para peserta.

“Kita semua punya tujuan yang sama yaitu mengikuti yoga untuk meningkatkan kualitas kesehatan. Jangan sampai setelah ikut yoga, kondisi kesehatan malah makin menurun,” katanya mewanti-wanti.

Kami senang dengan cara mengajarnya yang penuh kesabaran (mungkin setiap guru yoga memang sabar dan halus yaa :D).  Setiap gerakan, setiap pose yang kami lakukan sang guru selalu menjelaskan apa manfaat dari pose itu untuk organ-organ tubuh kita. Setiap pose selalu ada organ tubuh yang dituju.  Pokoknya, yoga memang asyik!

Saya berniat untuk menulis setiap selesai latihan yoga dan mendokumentasikannya di blog ini, sehingga perjalanan saya dalam latihan yoga terdokumentasi di sini. 🙂

Artikel untuk Buku Bahtera 3

Hampir dua bulan yang lalu Ibu Sofia Mansoor mengumumkan bahwa Buku Bahtera 3 akan segera dibuat, dan sejak itu saya sudah berniat untuk menyumbang dua tulisan. Ide untuk kedua tulisan itu sudah ada tetapi saya tidak bisa langsung menulisnya. Deadline terjemahan yang sudah mepet membuat saya tidak konsentrasi untuk menulis. Saya sudah mencobanya karena khawatir ide yang ada akan terkubur, atau batas waktu pengiriman tulisan sudah ditutup. Hanya saja, setiap memulai menulis teringat dengan deadline, akhirnya saya tidak jadi menyelesaikan tulisan itu. Untuk berjaga-jaga agar ide tersebut tidak hilang, saya ketik konsepnya saja dulu dengan harapan, begitu deadline terpenuhi, saya akan menyelesaikannya segera.

Akhirnya, dua minggu yang lalu artikel pertama bisa saya selesaikan dan langsung dikirim ke panitia. Penulisan artikel kedua tidak bisa langsung diselesaikan karena ada pekerjaan mendesak. Diselingi mengajar dan pekerjaan kecil-kecil (pendek), dan… hari ini selesai sudah artikel kedua. Sekarang tinggal berdoa saja semoga kedua artikel tersebut lolos seleksi dan bisa dimuat di Buku Bahtera 3 bersama penerjemah-penerjemah lainnya yang hebat-hebat. 🙂

Dalam buku Bahtera 2 yang diberi judul Menatah Makna (MM), yang terbit pada bulan Februari 2011, saya menyumbang dua artikel juga. Sedangkan pada buku Bahtera 1 yang diberi judul Tersesat Membawa Nikmat (TMN) saya tidak menyumbang tulisan, tentu saja tidak karena saya belum jadi anggota milis Bahtera saat itu. 😉 Buku TMN ini terbit pada bulan Juli 2009, sedangkan saya baru jadi anggota milis Bahtera sebulan kemudian, tepatnya Agustus 2009.

Jayalah, Bahteraku! 🙂

 

 

 

 

Akhirnya, bisa juga ikut kelas yoga (#1)

Sudah sejak lama saya ingin sekali mengikuti kelas yoga, bermula dari membaca artikel tentang yoga, kemudian diperkuat oleh tayangan acara yoga di TV lokal yang tampil reguler setiap minggu. Acaranya dipandu oleh orang India, yang ashramnya terletak di Renon. Saat itu anak saya masih kelas 4 SD dan saya rajin nonton acara tersebut sehingga keinginan saya makin menggebu-gebu. Saya sempat menghubungi ashram itu yang nomor teleponnya ditampilkan di layar setiap acara menjelang selesai.

Saya sudah menanyakan hari dan biaya untuk ikut kelas yoga bagi pemula. Kendala terbesarnya adalah tempatnya yang jauh dari rumah. Membayangkan untuk pergi ke sana membuat saya jadi malas. Pelan-pelan keinginan itu terkubur, tapi saya masih sering membaca-baca artikel tentang yoga, manfaatnya bagi kesehatan dan tubuh kita. Ada juga yang mengatakan bahwa yoga bisa dipelajari sendiri dengan membeli VCD/DVD tentang yoga dan mengikuti petunjuknya. Saya pernah membeli salah satu buku + VCD karya Anand Khrisna, tapi terus terang saya tidak berani mencoba sendiri tanpa instruktur yang berpengalaman.

Sekian tahun kemudian, tepatnya minggu lalu, ketika sedang menghadiri arisan ibu-ibu di kompleks perumahan kami yang diadakan di Balai Dusun (Balai Pertemuan), saya didekati oleh Ibu Rusmala, seorang dosen Ekonomi di Udayana. Ibu dosen itu bertanya pada saya apakah berminat ikut kelas yoga. Hah? Yoga? Mendengar kata yoga telinga saya langsung berdiri dan menghentikan kegiatan tulis menulis sejenak. Sebagai bendahara arisan, saat itu saya sedang sibuk menerima uang dan mencatat nama ibu-ibu yang membayar arisan.

“Yoga? Kapan? Di mana?” saya begitu antusias.

“Tempatnya di sini, kita akan manggil guru yoga untuk mengajar kita, sekarang kita data dulu siapa-siapa yang mau ikut.”

“Mauuuu, catat nama saya Bu,” kata saya penuh semangat.

(Nah, siapa bilang arisan hanya ajang untuk bergosip?) 😀

Akhirnya, datanglah hari itu. Hari pertama kelas yoga, instrukturnya seorang pria yang berusia kira-kira di akhir tigapuluhan atau awal empatpuluhan. Sebelum sesi yoga dimulai, setiap peserta ditanya apa yang menjadi harapannya setelah mengikuti yoga. Saya sendiri tidak muluk-muluk, intinya saya ingin menjaga dan meningkatkan kesehatan tubuh. Mengingat saya termasuk orang yang malas berolah raga. Kalaupun nanti ada hasil lain yang mengikuti, itu hanyalah bonus. Saya tidak muluk-muluk akan bisa berpose yang (tampaknya) sulit sekali seperti Mbak Dina Begum. Apalagi mengingat usia saya yang tidak muda untuk memulai yoga, dan sebelumnya saya sempat ragu-ragu apakah saya akan bisa mengikutinya. Tetapi sang guru meyakinkan tidak ada istilah terlambat untuk memulai yoga.  Saya semangat lagi, apalagi sebagian besar peserta lainnya rata-rata berusia kepala lima, setidaknya saya masih kepala empat. 😉

Sebelum sesi yoga dimulai, sang guru menjelaskan secara singkat apa itu yoga, dan apa manfaatnya bagi tubuh kita. Persis seperti apa yang pernah saya baca di sebuah website. Yoga telah dipraktekkan selama lebih dari 5.000 tahun dan kelas yoga yang paling diminati adalah mempelajari berbagai macam  fisik pose, yang disebut asana. Ini juga biasanya mencakup beberapa bentuk teknik pernapasan dan mungkin suatu teknik meditasi juga. Beberapa kelas yoga dirancang murni untuk relaksasi. Tapi ada gaya yoga yang mengajarkan cara untuk menggerakkan tubuh dengan cara baru. Memilih salah satu dari gaya ini menawarkan begitu banyak manfaat kesehatan terbesar dan memungkinkan kita untuk mengembangkan fleksibilitas, kekuatan, dan keseimbangan.

Secara garis besar yoga bisa memberikan manfaat yang besar untuk menambah fleksibilitas, dapat memperbaiki postur, menambah kinerja organ-organ pernapasan, meningkatkan konsentrasi dan mood, mengurangi stress dan meningkatkan ketenangan, membantu mengatur tekanan darah sehingga otomatis membantu jantung.

Beberapa penelitian juga memberi kesan bahwa yoga memiliki efek positif pada pembelajaran dan memori. Peneliti lain telah mempelajari apakah yoga dapat memperlambat proses penuaan, meningkatkan rasa seseorang dari penerimaan diri, atau meningkatkan tingkat energi. Beberapa potensi manfaat yoga mungkin sulit untuk dipelajari secara ilmiah. Misalnya, yoga telah dikatakan dapat meningkatkan kesadaran rohani.

Kelas yoga hari pertama berjalan dengan sangat menyenangkan. Sang guru membimbing kami dengan sabar dan perlahan-lahan, mulai dari dasar sekali. Mulai dari teknik bernapas, pemanasan, kemudian mulai dengan pose-pose yang ringan. Kami mengikuti semua aba-abanya, dan beberapa kali sang guru berucap: “Jangan dipaksa, jangan memaksakan diri, kalau memang tidak kuat atau terasa sakit, lepaskan.” Kalimat itu diucapkan berulang-ulang. Saya teringat dengan salah satu artikel yang pernah saya baca, yang antara lain menyebutkan bahwa melakukan yoga tubuh tidak boleh terasa sakit dan tidak ada istilah kompetisi dalam yoga.

Kami melakukan semua gerakan yang diajarkan, sampai pada suatu pose yang disebut mudra yoga. Saya exciting sekali ketika ternyata saya bisa melakukannya. Tadinya saya pikir saya tidak akan bisa menyentuhkan kepala ke lantai dalam posisi duduk seperti itu. Wah, senangnya, maklum newbie, hihihi.

Sesi yoga hari itu ditutup dengan pendinginan dan pemijatan diri sendiri. Asyik dan seru, dan… tak sabar menunggu hari Selasa berikutnya. 🙂

NB: ilustrasi gambar di atas diambil di sini dan di sini.

Buket mawar yang indah

Kemarin siang saya mengantar anak ke kios bunga untuk membeli buket bunga, karena sore harinya dia akan menghadiri resepsi pernikahan. Sang mempelai perempuan adalah kakak dari sahabatnya. Anak saya akan datang berlima, yang merupakan teman-teman dekat dari sang sahabat.

Tempat yang kami tuju adalah kios bunga di Jalan Sutoyo, Denpasar, di sana berderet banyak kios dengan berbagai jenis bunga yang indah dan wangi. Sampai di sana, anak saya minta pendapat saya, bunga apa sebaiknya yang dibeli. Saya menyarankan mawar merah. Oleh si penjaga kios, kami dipersilakan memilih sendiri. Kami pun asyik memilih-milih mawar dan sesekali menciumnya. Hm, wangi nian.

Ketika sedang asyik memilih-milih, seorang pemuda memasuki kios dan dengan wajah malu-malu langsung mencari si penjaga kios.

“Mas, saya mau beli mawar tiga tangkai, yang merah dan putih,” kata pemuda itu.

“Silakan dipilih, Mas,” jawab si penjaga.

“Oh, baiknya mawar merah yang dua tangkai atau yang putih, Mas?” tanya pemuda itu lagi.

Si penjaga kios tidak menjawab, mungkin dia bingung, atau jangan-jangan dalam hati dia berkata: “Yah, terserah Mas dong, sukanya yang gimana.”

Pemuda itu tampak bingung sejenak kemudian berkata, “Yang putih dua deh,  yang merah satu.”

Ketika si penjaga beranjak, si pemuda menyela lagi, “Eh, nggak  nggak, yang merah dua, yang putih satu, tolong dirangkai yah, yang putih taruh di tengah-tengah.”

Saya yang mendengar percakapan itu  tersenyum dalam hati. Anak saya rupanya juga mendengar percakapan tersebut dan tidak bisa menahan senyumnya, bahkan pecah menjadi tawa kecil. Karena takut suara tawanya terdengar oleh pemuda itu, dia menjauh. Saya mengikutinya.

“Aih aih, cowok itu pasti beli bunga untuk nembak seorang cewek, Bu,” katanya sambil cekikikan kecil dan berusaha menutup mulutnya dengan telapak tangannya. “Aaah…  so sweet sekali orang ini,” lanjutnya dengan nada jahil. “Jangan malu-malu dong, Mas.”

Saya bisa pastikan, kalau saja pemuda itu temannya sendiri, pasti habis sudah digodain dan dikerjain.  Anak saya ini memang usil, jahil bin jenaka.

“Waw, kapan yaa… ada yang kasih mawar ke Ajung, hihihi.”

Entah orang itu mendengar suara anak saya atau bagaimana, dia melirik anak  saya sekilas. Tapi anak saya tidak melihatnya, dia sedang mengalihkan pandangan dan berusaha meredam tawanya. Akhirnya pemuda itu pergi, setelah dibuatkan buket mungil oleh si penjaga kios.

Kami lanjut memilih-milih mawar yang segar, karena buket yang akan  dibuat cukup besar, sehingga perlu mawar cukup banyak. Anak saya urunan berempat, sehingga bisa membeli buket yang cukup besar. Mestinya berlima, tapi karena satu temannya sudah nyumbang mobil + bensin, jadi dia tidak dikenai urunan untuk pembelian buket  lagi (ternyata pinter juga anak-anak ini berhitung) 😀

Sambil menunggu si Mas penjaga kios merangkai buket, anak saya masih ketawa-ketiwi mengingat tingkah pemuda yang dianggapnya lucu karena bersikap malu-malu.

“Bu, kapan ya Ajung mendapat buket seperti itu?” tanyanya masih sambil senyam-senyum.

Saya sendiri hanya tertawa. Walaupun sudah mahasiswi, sampai sekarang dia belum pernah pacaran. Tampaknya dia masih fokus mengejar cita-cita. Ketika teman-temannya dari SMP sudah sekian kali gonta-ganti pacar, dia belum ada niat untuk pacaran. Tapi dia punya beberapa sahabat,  laki-laki atau perempuan, yang selalu siap menemani sehingga dia tidak pernah merasa sendiri.

Tenang, Nak, suatu hari nanti akan ada seorang pangeran yang akan mempersembahkan sebuah buket bunga yang cantik dan menyatakan cintanya, yang akan menjadi calon mantu terbaik bagi Ibu, karena kau memang pantas mendapatkan sebaik-baiknya seorang lelaki.

Memancing, hobi yang aneh?

Di kompleks perumahan saya, ada sebuah sungai yang membentang di sisi selatan jalan utama menuju kompleks perumahan kami. Pinggiran sungai tersebut ditata sedemikian rupa sehingga kelihatan indah dan bersih. Beberapa tanaman hias makin mempercantik pemandangan, juga ada beberapa pohon pisang dan kelapa gading. Warga perumahan yang kebetulan memerlukan daun pisang atau buah kelapa, boleh memetik di sana karena itu dianggap milik bersama.

Di pinggir sungai itulah saya sering melihat beberapa orang yang memancing, duduk  terpekur menatap ke air sungai tanpa bergerak. Memandang air sungai berharap ada sedikit gerakan dari pancing mereka. Setiap saya melihat orang-orang yang memancing di sana, saya selalu tidak habis pikir.  Tidak pagi, siang, sore, malam selalu saja ada yang memancing di sana, membuat saya heran campur takjub dengan kesabaran mereka menunggu ikan yang menghampiri umpan di ujung pancing mereka.  Mereka seperti tidak peduli dengan dingin dan nyamuk yang menggigiti kulit tubuh mereka. Di musim hujan pun para pemancing tidak mengurungkan niat untuk memancing. Tangan kiri memegang payung dan tangan kanan memegang pancing, membuat saya senyum-senyum sendiri.

Saya sering berpikir, sebegitu nikmatnyakah memancing sehingga mereka betul-betul tidak peduli cuaca, tidak peduli waktu, tetap saja duduk tepekur tanpa ada jaminan mendapat ikan barang seekor pun. Saya sempat berpikir betapa anehnya mereka dan “menyiksa” diri seperti itu. Tapi, namanya juga hobi kan? Mungkin dengan memancing mereka bisa melatih kesabaran dan mendapatkan kepuasan batin ketika ada ikan yang memakan umpan pancing mereka. Saya membayangkan diri sendiri, yang tidak akan mungkin bisa betah bergelap-gelap atau berhujan-hujan untuk memancing (eh, emang ada perempuan yang suka mancing ya?). 😀

Suami saya beberapa kali membuang ikan ke sungai itu. Ceritanya, di halaman belakang rumah saya, ada sebuah kolam yang melingkari Merajan (Pura kecil yang biasa ada di tiap-tiap rumah pemeluk Hindu). Ada beberapa pohon teratai di sana. Untuk mencegah agar nyamuk tidak berkembang biak, kami menyemplungkan beberapa ikan, ada ikan mujair dan ada ikan karper. Seiring waktu, ikan-ikan tersebut berkembang biak menjadi banyak sekali. Kami bingung mau diapakan ikan-ikan tersebut. Saking banyaknya, ikan-ikan itu kelihatan seperti berdesakan di tengah kolam yang sebenarnya cukup besar. Kalau diambil untuk dimasak sendiri dan dimakan sendiri, aduh, sudah pasti kami tidak berani, tidak tega makan peliharaan sendiri. Akhirnya, timbul ide untuk mengambil ikan-ikan tersebut dan membuangnya ke sungai. Begitu seterusnya. Barangkali ikan-ikan yang dipancing oleh orang-orang itu, salah satunya adalah keturunan dari ikan-ikan saya yang dibuang di sana. 🙂

Kembali kepada para pemancing yang saya anggap aneh tadi, setelah seharian atau semalaman memancing tapi tidak mendapatkan seekor ikan pun, kira-kira gimana ya perasaan mereka? Kesal? Kecewa? Marah? Atau biasa-biasa saja, karena tujuan mereka memancing bukanlah untuk mendapatkan ikan, tapi hanya sebagai refreshing? Bisa jadi demikian.

Kemudian saya berpikir, kalau mereka tahu,  jangan-jangan para pemancing itu juga menganggap saya aneh, berjam-jam di depan komputer, memelototi layar komputer, “menyiksa” mata J. Atau mungkin mereka juga menganggap saya aneh kalau mereka tahu saya hobi membaca novel dan sering hanyut terbawa cerita. Berlinang air mata, kalau ceritanya sedih dan menyayat, dan tersenyum bahkan tertawa sendiri kalau ada cerita yang lucu. Bisa jadi mereka akan berpikir: aneh sekali orang ini, dibuat nangis oleh sebuah novel (yang notabene adalah fiksi). 😀

Yah, setiap orang mempunyai hobi yang berbeda-beda, yang mungkin terasa aneh bagi orang lain, tapi sangat menyenangkan dan membahagiakan bagi si pelaku hobi tersebut, dan tentu sama sekali tidak aneh, bukan? 🙂