Archive | November 26, 2012

Anak ngga bisa, emaknya pun jadi ;-)

Hari Sabtu kemarin, saya jadi model untuk ponakan yang sedang kursus tata rias pengantin Bali. Sebenarnya yang biasa jadi modelnya adalah anak saya, tapi berhubung si anak berhalangan akhirnya saya yang menggantikan karena tidak mungkin bisa mencari model lain dengan mendadak. Tidak ada rotan, akar pun jadi. Anaknya tidak bisa, emaknya pun jadi! 😛

Hari itu materi pelajarannya adalah Tata Rias Pengantin Bali Modifikasi. Sungguh pengalaman yang menarik, menjadi model  tata rias pengantin pada usia yang tidak muda lagi. Saya sempat bertanya pada ponakan.

“Apa Ibu ngga ketuaan nih?” Semua ponakan biasa memanggil saya ‘Ibu’, seperti anak saya sendiri.

“Ngga, Bu, asal ngga keriput aja, kalau keriput susah ngeriasnya.”

Saya tersenyum dalam hati. Lha, saya sudah kepala empat, mendekati lima, siapa bilang belum ada kerutan? Setidaknya, gejala  pasti ada deh 😀

Sampai di salon (tempatnya kursus), saya pasrah saja ketika wajah saya “dilukis”. Yang paling lama adalah saat membentuk alis, dan menurut gurunya, membentuk alis memang paling sulit. Beberapa kali alis yang sudah dibentuk, dihapus lagi, diulang lagi, berkali-kali.

Selesai di wajah, lanjut ke penataan rambut. Pertama gurunya yang memberi contoh, kemudian ponakan melanjutkan. Rambut saya disasak kemudian dibentuk, diberi sanggul dan disesuaikan dengan bentuk wajah saya. Penataan rambut selesai sudah, tinggal memasang bunga-bunga. Saat itu, asisten gurunya nyeletuk, “waw, kok tampak muda sekali!” (Ehem). Pernyataan sang asisten diamini oleh gurunya, “Bener, ngga kelihatan sama sekali kalau Ibu sudah punya anak gadis.” (Ehem lagi), hihihi.

Selanjutnya, sanggul itu dilengkapi dengan bunga, beberapa jenis bunga warna emas, ditata sedemikian rupa sehingga kepala saya kelihatan cantik sekali. Bagian wajah dan kepala beres sudah. Sekarang bagian badan, yaitu memakai kain. Kain yang dipakai adalah Songket Bali. Kemudian dari dada atas sampai pinggul, dililit stagen hitam, dan ditumpuk lagi dengan stagen prada keemasan.  Selesai. Sentuhan akhir adalan giwang besar dan bross besar yang disematkan di dada atas. Beres!

Sore (menjelang malam) itu, saya serasa jadi model beneran, difoto puluhan kali oleh tiga orang yaitu ponakan, guru salon dan asistennya. Beberapa kali mereka berseru takjub melihat hasil riasan ponakan (dibawah bimbingan gurunya, tentu saja).

“Wow, cocok jadi pengantin lagi nih,” canda mereka.

“Kalau begini, orang akan mengira usia Bu Desak ngga lebih dari tiga puluh satu tahun,” kata sang asisten sambil  tersenyum.

Yang paling senang tentu saja ponakan saya, karena dia telah berhasil merias seorang ibu (yang tidak muda lagi), tampak tujuh belas tahun lebih muda, kata mereka lho, bukan kata saya (walaupun saya tidak akan  menolak dikatakan seperti itu), hahaha. Karena, bukankah salah satu tujuan merias seseorang adalah agar  orang tersebut kelihatan lebih cantik dan lebih muda dari aslinya? Jadi, jelas saja ponakan saya senang bukan alang kepalang. 😀

Advertisements