Penyesalan yang (selalu) terlambat

Cerita ini sudah terjadi beberapa bulan yang lalu yang membuat saya kaget setengah mati dan makin menyadari realitas yang ada di masyarakat. Makin menyadarkan saya betapa HIV/AIDS berada sangat dekat dengan kita dan benar-benar tak terduga. Kejadian ini membuat mata saya makin terbuka lebar, bahkan hampir-hampir tidak percaya karena alur ceritanya bagai sebuah sinetron.

Cerita berawal dari kunjungan teman lama suami saya yang sudah lama tidak bertemu. Namanya Ngurah, dia datang bersama istrinya dan kami pun ngobrol lama, ngalor ngidul. Dia juga bercerita tentang tempat kerjanya sekarang. Saat itu dia bekerja dengan seorang dokter dalam sebuah organisasi yang khusus menangani pasien HIV/AIDS, sehingga dia tahu persis berapa jumlah pasien HIV/AIDS dan seberapa parah kondisi para pasien tersebut, serta apa saja yang dilakukan oleh organisasi itu.

Apa yang diceritakannya benar-benar membuat saya merinding dan tidak menduga situasinya sedemikian parah dan mengerikan. Cara penularan yang amat mengerikan. Mungkin kita sering membaca baliho yang bertuliskan betapa bahayanya virus HIV/AIDS atau pamflet yang disebar di jalan-jalan tentang cara-cara menghindarkan diri dari virus HIV/AIDS yang mengancam. Mungkin kita tidak terlalu serius menanggapinya atau membacanya sambil lalu saja. Tetapi mendengar langsung dari orang yang ikut berkecimpung dalam penanggulangan HIV/AIDS benar-benar membuat saya menggigil karena merinding. Berikut adalah  kisahnya.

Suatu hari seorang mahasiswi yang berparas cantik memeriksakan dirinya ke dokter karena merasa badannya tidak enak dan merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Oleh dokter yang memeriksanya, dia disarankan untuk cek darah lengkap karena dokter itu melihat ada sesuatu yang mencurigakan. Benar saja, setelah sekian kali konsultasi dan setelah memeriksa hasil cek darahnya secara mendalam, si gadis dinyatakan positif terjangkit HIV/AIDS. Bisa dibayangkan betapa syok gadis itu. Dia pun langsung berada di bawah pengawasan dokter dan organisasi tersebut. Konseling  dilakukan bukan hanya untuk pengobatan tetapi terutama untuk persiapan mentalnya. Rupanya gadis ini tidak bisa menerima kondisi dirinya. Dia begitu dendam dan marah kepada pria yang menularinya. Dia merasa yakin dari siapa dirinya tertular dan dengan cara bagaimana dia tertular. Dia tidak mengkonsumsi narkoba dalam bentuk apa pun, tidak pernah menyuntik dirinya, tidak pernah melakukan transfusi darah.

Tetapi dia sangat ingat pernah beberapa kali melakukan hubungan intim dengan pacarnya yang juga teman kuliahnya. Kini dia sangat menyesali perbuatannya, tetapi… seperti biasa, penyesalan selalu datang terlambat. Dendam yang membara bercampur putus asa membuatnya diam-diam menyusun sebuah rencana, rencana yang amat mengerikan. Padahal setiap melakukan konseling, sang konselor selalu memberitahunya apa-apa yang tidak boleh dilakukan agar tidak menularkan virus HIV/AIDS kepada orang lain. Tetapi… justru dia ingin melakukan semua yang dilarang tersebut!. Dia tahu dirinya tidak akan bertahan hidup lama. Jadi dalam sisa hidupnya dia ingin melakukan sesuatu untuk membalaskan dendamnya. Pembalasan dendam yang mengerikan, dan sayangnya, banyak orang tak bersalah yang menjadi pelampiasan dendamnya.

Dia bertekad selama dia masih hidup dan masih bisa bergerak, dia akan mencari mangsa banyak pria. Mulailah dia menjalankan aksinya dengan semangat balas dendam. Dengan wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang seksi menggiurkan, tidak sulit baginya untuk menggaet laki-laki hidung belang. Dia pun “mengobral” dirinya murah-murah dan melakoni gaya hidup ‘one night stand’,  tidur dengan banyak laki-laki, baik teman kuliahnya atau pun laki-laki yang baru dikenalnya. Bisa dibayangkan, betapa cepatnya penularan virus tersebut. Bayangkan, kalau laki-laki yang telah ‘tercemar’ tersebut kemudian berhubungan dengan orang lain, dan seterusnya… dan seterusnya. Sungguh mengerikan, bukan? Sampai akhirnya si gadis meninggal dunia, dan begitu banyak ‘warisan’ mengerikan yang ditinggalkannya.

Waktu terus berjalan. Beberapa lama kemudian, dokter dan organisasi tempat Ngurah bekerja ini kebanjiran pasien yang terjangkit HIV… dan sebagian besar adalah mahasiswa yang berasal dari kampus si gadis di kota S.  Dari konseling yang penuh kesabaran, diketahuilah bahwa sebagian besar dari para pasien tersebut pernah berhubungan intim dengan almarhumah. Rupanya, si gadis berhasil menjalankan dendamnya. Tinggallah para korbannya yang kini menyesali diri penuh penderitaan, menunggu ajal menjemput.

Ketika saya mendengarkan cerita tersebut, saya benar-benar terperangah, tidak bisa berkata-kata hanya: “Aduuh, masaaaa?” atau “Yang benar sajaaa?” atau “Ini seriusssss?”  dan sejenisnya. Saya hampir-hampir tidak memercayai cerita itu yang kedengaran seperti sebuah sinetron (walaupun saya tidak hobi nonton sinetron).  Ingin tidak percaya, tetapi berita di beberapa media massa tampaknya membenarkan cerita di atas.  Berita yang dilansir oleh harian Bali Post pun memperkuat kebenaran cerita tersebut. Juga di media lainnya.

world AIDS DayMenyedihkan dan sangat memprihatikan. Dari cerita ini semoga ada yang bisa diambil hikmahnya. Betapa berbahayanya melakukan hubungan intim yang tidak aman. Penyuluhan tentang HIV/AIDS  terhadap generasi muda harus makin ditingkatkan dan harus makin gamblang, dengan penggambaran yang sejelas-jelasnya tentang bagaimana akibatnya kalau terinfeksi virus HIV/AIDS ini. Ini juga bisa menjadi sebuah pelajaran yang amat berharga bagi kaum lelaki agar tidak gampang tergoda oleh perempuan cantik yang tampak begitu agresif. Harus bisa mengendalikan diri serta berpikir tenang, jernih dan jauh ke depan. Ingat, penyesalan memang selalu datang terlambat.

Catatan: Gambar-gambar di atas diambil di sini, sini dan sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s