#Postcardfiction: Jangan kutuk anakmu, Ibu

Ibu,

Mohon ampunMaafkan anakmu yang telah membuatmu kecewa. Anak yang kau timang-timang sejak kecil, kau susui dengan penuh kasih, ternyata, setelah besar, setelah dewasa hanya membuatmu kecewa.

Ibu, aku tahu kau heran dengan perubahanku, yang sedari kecil selalu menjadi anak yang paling penurut di antara anak-anakmu yang lain, tiba-tiba menjadi pemberontak. Ibu, maafkan aku telah membuatmu begitu shock. Karena tak pernah kau sangka aku bisa menjadi sepemberontak ini. Sebelumnya, bahkan untuk memilih jurusan kuliah pun aku selalu  mematuhimu.

Aku mulai memberontak dalam hati ketika kudengar engkau hendak menjodohkan aku dengan seseorang yang masih kerabat kita. Tadinya aku tidak terlalu memikirkannya, tetapi ketika kudengar rencana itu semakin santer, aku mulai was-was. Entah kenapa, aku merasa begitu tersinggung dan kecewa ketika engkau mengutarakan hal itu padaku.

Aku tersinggung dan merasa dianggap tidak mampu untuk mencari jodohku sendiri. Tapi aku hanya diam. Ketika engkau makin serius membicarakannya, aku juga diam saja. Tidak berkomentar apa pun. Sebenarnya, saat itu aku berada dalam keadaan bingung dan sedih. Bingung tidak tahu harus berkata apa, karena di hati kecilku aku tidak ingin mengecewakanmu, dalam bentuk apa pun, seperti yang selama ini kulakukan, aku selalu menurut.

Aku sedih, karena kali ini aku harus mengecewakanmu. Aku sudah mempunyai pilihan sendiri, Ibu, yang menurutmu tidak sesuai dengan kriteriamu, tidak sesuai dengan wangsa kita.

Ketika engkau semakin serius membicarakan perjodohan itu, aku pun sibuk menyusun rencana untuk lari dari rumah. Aku tak tega menyakiti pasanganku, Ibu. Tapi malah lebih tega menyakitimu, mengecewakanmu dan meninggalkanmu? Ibu, ampuni aku.

Kini, aku telah pergi dari sisimu. Ibu, berikan aku sedikit restumu, jangan kutuk anakmu ini. Aku sadar sepenuhnya, sepatah kata kutukan dari seorang Ibu adalah nestapa berkepanjangan untuk anaknya. Berikan aku kesempatan untuk menunjukkan bahwa pilihanku tidak salah. Terimalah kami, Ibu, berikan kesempatan padaku untuk membahagiakanmu.

 

Doaku untukmu, Ibu, dan mohon pengampunanmu….

Advertisements

5 thoughts on “#Postcardfiction: Jangan kutuk anakmu, Ibu

  1. itu yg sering dilakukan ortu scr tidak sengaja.. kadang mengutuk anaknya sendiri.. yg akan nantinya berpengaruh kpd karma anaknya dan juga karma dr ortu yg mau tak mau akan melihat hasil dr kutukan tidak sengaja tsb…

    • Benar sekali, semoga para ibu menyadari hal ini dan tidak sembarang mengeluarkan kutukan bagi anaknya. Benar sekali juga, ketika sang ibu mengutuk anaknya dan kutukan tersebut berjalan, maka secara tak langsung sang ibu ikut “terkutuk” menyaksikan penderitaan anaknya yang diakibatkan oleh kutukannya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s