Archive | January 2013

Power yang tambah besar dan alergi yang hilang (Yoga #7 & #8)

yoga-poseManfaat senam yoga yang saya ikuti dengan teratur makin jelas terasa manfaatnya. Kebugaran tubuh meningkat, tenaga terasa lebih kuat, tidak cepat capek dan lebih gampang menguasai emosi.

Tentang power diri yang meningkat bisa saya rasakan perbedaannya dibandingkan sebelum ikut yoga. Kalau dulu setiap naik tangga menuju lantai 2 (sejumlah 16 anak tangga, dengan posisi yang agak curam), sampai di atas pasti napas agak memburu. Kalau sekarang tidak, bahkan hampir tidak merasa naik tangga. Napas tidak terpengaruh sama sekali.

Begitu juga kalau saya jalan kaki dari rumah menuju pura kecil di dekat jembatan di kompleks perumahan saya, yang berjarak kurang-lebih 150 meter. Dilihat dari jarak,ย  memang tidak terlalu jauh, tetapi posisi jalannya yang menanjak tinggi, itu yang menyebabkan agak capek dan napas sedikit tersengal-sengal. Sekarang tidak ada lagi istilah napas tersengal-sengal. *Senang*

Satu lagi yang sangat terasa adalah alergi dingin saya yang hampir hilang 100%. Beberapa tahun terakhir ini, saya sangat terganggu dengan beberapa bagian tubuh yang sangat sensitif kalau terkena angin, apalagi udara yang ber-AC.ย  Yang paling sensitif terutama tengkuk/leher, lengan bagian atas dan pergelangan kaki. Hal ini menyebabkan saya tidak pernah lepas dari syal atau pashmina. Tidak peduli pagi, siang, sore, malam syal harus selalu terlilit di leher. Tidak bisa mengenakan baju tanpa lengan, tidak kuat memakai celana pendek/rok pendek yang memperlihatkan pergelangan kaki. Tidak tahan tanpa alas kaki.

Kalau saya mencoba membiarkan bagian-bagian tubuh itu terbuka, seketika saya merasakan ada angin dingin yang menusuk dan menjalar naik sampai ke tenggorokan dan seketika itu pula saya batuk hebat. Menderita kan? Kalau sudah begitu, satu-satunya jalan saya harus segera menutup bagian tubuh tersebut kalau tidak mau batuk makin hebat. Kalau mandi harus selalu memakai air hangat, tidak peduli di siang hari, kalau tidak,ย  habis mandi saya akan terserang batuk.

Setelah sekian kali mengikuti yoga dan mengikuti dengan tekun pose-pose yang diberikan oleh sang guru, semua gejala alergi itu menghilang tanpa bekas. Tadinya saya tidak ngeh. Tapi kemudian saya sadar, lho… kok saya tidak butuh syal lagi? Kenapa saya tidak pernah merasa dingin lagi? Dan baju-baju tanpa lengan sama sekali tidak mengganggu lagi. Ternyata saya sudah bebas alergi dingin! *Yay!*

Dari sini saya bisa menyimpulkan apa yang dikatakan oleh guru yoga saya, bahwa manfaat yoga memang sangat banyak antara lain melancarkan peredaran darah, memperbaiki pencernaan yang terganggu, mengaktifkan semua kelenjar tubuh dan memaksimalkan fungsi-fungsi kelenjar tersebut. Juga mengoptimalkan self-healing tubuh kita.

Jadi, sangat tidak rugi menyisihkan waktu untuk mengikuti senam yoga, bukan? ๐Ÿ˜€

Advertisements
This entry was posted on January 24, 2013. 2 Comments

Lelunakan

Lelunakan adalah salah satu tata rias tradisional Bali. Kali ini saya menjadi “korban praktek” lagi. Untungnya bukan malpraktek ;-). Foto-foto berikut adalah hasil tata rias ponakan saya yang kali ini materinya Lelunakan. Ciri khas lelunakan adalah ada selendang yang dipasang sedemikian rupa di kepala. Untuk busananya tergantung situasi, boleh kain + kebaya, kemudian dililit selendang di luar kebayanya. Boleh juga model kemben seperti gambar di bawah, kemudian dililit selendang di luarnya.

Berusaha bergaya dan bersikap feminim, supaya nyambung dengan tata rias, padahal aslinya macho abiss (kata anak saya) ๐Ÿ˜€

Lelunakan 2

Bersama sang perias yang mungil bin imut, ponakan saya yang cantik, Gung Inten. Uh, di sini saya kelihatan banget aslinya, kekar, dan tidak bisa disembunyikan sebagai mantan atlit kempo ๐Ÿ˜€ *Ciaaattt*

19012013(002)

(NB: Semua foto-foto ini dikritik oleh anak saya, katanya saya tidak fotogenic sama sekali dan tidak bisa berpose.ย  Yah, sudahlah, Nak. Terima kenyataan kalau hasil fotonya tak seindah aslinya :P)

Ulang Tahun KEB Yang Pertama

Hari ini, tlogokeb2012smallanggal 18 Januari 2013, KEB berulang tahun yang pertama. KEB singkatan dari Kumpulan Emak2 Blogger, yang merupakan sebuah wadah tempat berkumpulnya para ibu yang suka ngeblog. Walaupun ada kata “Emak2”, anggotanya tidak dibatasi untuk yang berstatus ibu saja, tetapi juga terbuka untuk para calon ibu, alias perempuan-perempuan yang masih bujang.

Awal didirikannya KEB adalah adanya rasa penasaran dari founder-nya yaitu, ingin mengetahu seberapa banyak sebenarnya ibu-ibu yang suka ngeblog. Setelah dikenalkannya KEB, ternyata banyak sekali ibu-ibu yang tertarik untuk gabung menjadi anggotanya. Dari sana terlihat ternyata blogger perempuan (tepatnya blogger ibu-ibu) tidak kalah banyak dengan blogger pria.

Saya berbangga menjadi salah satu anggotanya, betapa tidak, KEB ini beranggotakan ibu-ibu yang luar biasa, pinter, cantik, gaul dan suka berbagi ilmu…dan narsis tentu saja. ๐Ÿ˜€

Banyak manfaat yang saya petik dari KEB, dengan membaca postingan-postingan mereka. Wawasan dan pengetahuan saya bertambah dalam segala hal. Hal itu membuat saya tambah semangat untuk menulis, menulis apa pun yang saya alami atau yang terjadi di sekitar saya.

Akhir kata, selamat ulang tahun KEB, semoga tetap jaya dan senantiasa berbagi untuk sesama.

Jadi model lagi

05012013Hari Sabtu kemarin saya didaulat menjadi model lagi oleh ponakan saya yang sedang belajar jadi penata rias pengantin. Seperti biasa, saya yang “duduk di bangku cadangan”, harus maju karena dua orang yang biasa jadi modelnya berhalangan, yaitu anak saya dan pegawai salon tempatnya kursus.

Ini untuk ke sekian kalinya saya jadi modelnya, dan tumben merasa begitu capek, padahal hanya duduk dan berdiri:-). Mungkin kondisi saya yang memang agak drop, karena dari Jumat kemarinnya, kegiatan saya agak banyak, dan kebetulan jadwalnya numpuk. Saya duduk di kepengurusan yayasan yang mengelola sebuah TK, dan menjabat sebagai Sekretaris Yayasan.ย  Jumat pagi sampai siangnya ada rapat yayasan dengan agenda yang cukup penting yaitu restrukturasi kepengurusan yayasan dan membuat rencana kerja untuk pengembangan TK ke depannya, dan cukup menyita waktu dan pikiran. Sorenya ada arisan se-kompleks perumahan yang diadakan sebulan sekali (setiap tanggal 4), dan kebetulan juga saya sedang kebagian jadi bendahara (yang berganti setiap periodenya), sehingga cukup puyeng mencatat keluar-masuknya uang. (NB:ย  saya sama sekali tidak berbakat jadi bendahara, stress menghitung uang orang, dan, duluuuu setiap jadi bendahara pasti norokin deh).

Sok sibuk ama sih. ๐Ÿ˜› Ngga juga, saya hanya berusaha balance dengan tidak melupakan kehidupan sosial di tengah-tengah masyarakat. Karena sehari-harinya, saya bisa 12 jam lebih di depan komputer.

Kembali ke ponakan, les hari ini tidak pake make-up wajah karena untuk make-up sudah dinyatakan lulus. Begitu juga rias pengantin Payas Agung, sudah dinyatakan lulus baik untuk tata rias wajah atau pun penataan busananya. Rias pengantin Payas Agung sudah punya pakem tersendiri dan tidak boleh diubah-ubah, hanya bermain di di kombinasi warna busana saja.

Tapi untuk Tata Rias Modifikasi, ponakan saya yang jegeg bin imut, ๐Ÿ˜‰ Gung Inten, merasa belum puas dan ingin bereksperimen. Gadis imut ini, walau kesehariannya bergelut dengan angka-angka karena pekerjaannya sebagai Kepala Bagian Keuangan di sebuah Sekolah Tinggi Kesehatan, mempunyai ketertarikan yang besar terhadap dunia rias-merias. Dia suka merias dan mempercantik orang. Untuk itulah dia belajar tata rias pengantin dengan serius untuk menyalurkan kegemarannya.

Tata rias modifikasi memang memberi peluang yang seluas-luasnya untuk bereksperimen dan menciptakan kreasi-kreasi baru yang cantik. Tata rias ini biasanya digunakan saat Pre-Wedding atau resepsi-resepsi. Karena untuk tata rias wajah sudah OK, jadi hari ini fokus di penataan rambut dan busana. Mulailah rambut saya diuyel-uyel untuk membentuk berbagai macam sanggul, dijepit, dipasangi bunga dan sirkam. Terkadang saya sedikit meringis, karena terasa sakit di kulit kepala kena tusuk jepitan ketika ponakan salah cara memasangnya.ย  Tapi dia selalu sadar dengan kesalahannya dan segera mengulanginya.

“Aduh, Bu, maaaff, sakit yaa?” tanyanya dengan nada bersalah.

“Ngga kok, sakit dikiiit aja, tapi sudah hilang, lanjut deh,” jawab saya.

Saya tidak mau dia merasa bersalah dan bertindak ragu-ragu. Namanya juga belajar, pastilah harus melalui proses. Sejak awal jadi modelnya, saya memang tidak pernah komplain soal sakit, sehingga saya mungkin termasuk modelnya yang tidak pernah mengeluh. ๐Ÿ˜€

Tata rambut beres sudah. Dilanjutkan dengan pemakaian busana. Setelah memakai kain, dilanjutkan dengan pemakaian stagen yang dililitkan di tubuh dari dada bagian atas sampai pinggul. Ada dua jenis stagen, lapisan pertama warna hitam, lapisan kedua stagen dari prada keemasan. Nah, saat pemasangan stagen inilah ponakan mulai kerepotan dan hampir putus asa. Menurutnya, dia agak susah ketika melilitkan stagen peralihan dari pinggang ke pinggul. Sempat diulang dari awal karena kurang rapi.

“Aduuhh, kenapa sih Aya selalu bermasalah setiap memakaikan stagen sama Ibu? Ibu sih, lingkar pinggang Ibu mempunyai perbedaan yang ekstrim dengan lingkar pinggul,” katanya dengan sedikit cemberut. Tampaknya dia cukup kesal juga, setelah capek berputar-putar, eh, hasil tidak memuaskan sehingga harus diulang.

“Eh, jangan salahkan Ibu lho, salahkanlah orang yang melahirkan Ibu,” jawab saya sambil ngakak.

Gurunya ikut tertawa dan menimpali, “Gung, mendandani orang yang mempunyai body gitar spanyol emang susah, harus tahu teknik, tapi kalau berhasil akan kelihatan bagus sekali.”

“Lagi pula, kalau Jung benar-benar sudah turun ke lapangan, Jung kan ngga tahu jenis klien yang akan datang. Masa Jung menolak klien karena tubuhnya sulit didandani?” Kata saya masih dengan tertawa.

Ponakan saya tertawa meringis. “Iya juga sih.” Ayooo, semangat!

Pemasangan stagen pun diulangi dari awal, dan itu mungkin yang menyebabkan saya agak capek, berdiri lama dan diputar-putar. ๐Ÿ˜€ Tapi saya berusaha tidak memperlihatkan rasa capek, khawatir ponakan kehilangan semangat dan merasa bersalah.

Akhirnya, hampir pukul delapan malam, selesai sudah. Gurunya tampak puas dengan pekerjaan muridnya, apalagi sang murid berhasil menciptakan satu kreasi baru pemasangan selendang yang tampak cantik dan unik. Walaupun awalnya saya yang mengusulkan agar ponakan mengganti cara pemasangan selendang dan membuat kreasi sendiri, karena sekian kali jadi modelnya, bentuk pemasangan selendangnya masih tetap sama seperti contoh yang diberikan gurunya dulu.

“Nah, gitu dong, kan bagus. Untung punya Ibu yang mau jadi ‘korban’ dan bersedia ‘dikerjain’ oleh ponakannya,” kata gurunya becanda. Saya ikut tertawa.

“Dalam tata rias modifikasi kita boleh menciptakan kreasi apa saja. Jangan terpaku pada contoh yang saya berikan,” lanjut gurunya. “Dengan hasil pekerjaan seperti ini, Gung harusnya sudah berani lho mencari klien langsung.”

“Ah, tante…saya belum pede,” jawab ponakan.

“Kalau tidak dicoba, kapan pedenya? Lain halnya Gung belum bisa. Lha, ini sudah bagus kok,” lanjut gurunya sambil mengelilingi saya memperhatikan hasil pekerjaan muridnya dengan cermat. Dan, saya sependapat dengan sang guru ๐Ÿ™‚

Setelah ngobrol-ngobrol sebentar dengan gurunya, kami pamit pulang. Sampai di rumah, saya tepar. Hanya sempat makan, buka email dan FB sebentar untuk melihat kalau ada pesan penting yang harus segera dijawab. Setelah itu, langsung tidur. Mata tidak bisa diajak kompromi, betul-betul lengket dan tak bisa dibuka. ๐Ÿ˜€

This entry was posted on January 6, 2013. 4 Comments