Jadi model lagi

05012013Hari Sabtu kemarin saya didaulat menjadi model lagi oleh ponakan saya yang sedang belajar jadi penata rias pengantin. Seperti biasa, saya yang “duduk di bangku cadangan”, harus maju karena dua orang yang biasa jadi modelnya berhalangan, yaitu anak saya dan pegawai salon tempatnya kursus.

Ini untuk ke sekian kalinya saya jadi modelnya, dan tumben merasa begitu capek, padahal hanya duduk dan berdiri:-). Mungkin kondisi saya yang memang agak drop, karena dari Jumat kemarinnya, kegiatan saya agak banyak, dan kebetulan jadwalnya numpuk. Saya duduk di kepengurusan yayasan yang mengelola sebuah TK, dan menjabat sebagai Sekretaris Yayasan.Β  Jumat pagi sampai siangnya ada rapat yayasan dengan agenda yang cukup penting yaitu restrukturasi kepengurusan yayasan dan membuat rencana kerja untuk pengembangan TK ke depannya, dan cukup menyita waktu dan pikiran. Sorenya ada arisan se-kompleks perumahan yang diadakan sebulan sekali (setiap tanggal 4), dan kebetulan juga saya sedang kebagian jadi bendahara (yang berganti setiap periodenya), sehingga cukup puyeng mencatat keluar-masuknya uang. (NB:Β  saya sama sekali tidak berbakat jadi bendahara, stress menghitung uang orang, dan, duluuuu setiap jadi bendahara pasti norokin deh).

Sok sibuk ama sih. πŸ˜› Ngga juga, saya hanya berusaha balance dengan tidak melupakan kehidupan sosial di tengah-tengah masyarakat. Karena sehari-harinya, saya bisa 12 jam lebih di depan komputer.

Kembali ke ponakan, les hari ini tidak pake make-up wajah karena untuk make-up sudah dinyatakan lulus. Begitu juga rias pengantin Payas Agung, sudah dinyatakan lulus baik untuk tata rias wajah atau pun penataan busananya. Rias pengantin Payas Agung sudah punya pakem tersendiri dan tidak boleh diubah-ubah, hanya bermain di di kombinasi warna busana saja.

Tapi untuk Tata Rias Modifikasi, ponakan saya yang jegeg bin imut, πŸ˜‰ Gung Inten, merasa belum puas dan ingin bereksperimen. Gadis imut ini, walau kesehariannya bergelut dengan angka-angka karena pekerjaannya sebagai Kepala Bagian Keuangan di sebuah Sekolah Tinggi Kesehatan, mempunyai ketertarikan yang besar terhadap dunia rias-merias. Dia suka merias dan mempercantik orang. Untuk itulah dia belajar tata rias pengantin dengan serius untuk menyalurkan kegemarannya.

Tata rias modifikasi memang memberi peluang yang seluas-luasnya untuk bereksperimen dan menciptakan kreasi-kreasi baru yang cantik. Tata rias ini biasanya digunakan saat Pre-Wedding atau resepsi-resepsi. Karena untuk tata rias wajah sudah OK, jadi hari ini fokus di penataan rambut dan busana. Mulailah rambut saya diuyel-uyel untuk membentuk berbagai macam sanggul, dijepit, dipasangi bunga dan sirkam. Terkadang saya sedikit meringis, karena terasa sakit di kulit kepala kena tusuk jepitan ketika ponakan salah cara memasangnya.Β  Tapi dia selalu sadar dengan kesalahannya dan segera mengulanginya.

“Aduh, Bu, maaaff, sakit yaa?” tanyanya dengan nada bersalah.

“Ngga kok, sakit dikiiit aja, tapi sudah hilang, lanjut deh,” jawab saya.

Saya tidak mau dia merasa bersalah dan bertindak ragu-ragu. Namanya juga belajar, pastilah harus melalui proses. Sejak awal jadi modelnya, saya memang tidak pernah komplain soal sakit, sehingga saya mungkin termasuk modelnya yang tidak pernah mengeluh. πŸ˜€

Tata rambut beres sudah. Dilanjutkan dengan pemakaian busana. Setelah memakai kain, dilanjutkan dengan pemakaian stagen yang dililitkan di tubuh dari dada bagian atas sampai pinggul. Ada dua jenis stagen, lapisan pertama warna hitam, lapisan kedua stagen dari prada keemasan. Nah, saat pemasangan stagen inilah ponakan mulai kerepotan dan hampir putus asa. Menurutnya, dia agak susah ketika melilitkan stagen peralihan dari pinggang ke pinggul. Sempat diulang dari awal karena kurang rapi.

“Aduuhh, kenapa sih Aya selalu bermasalah setiap memakaikan stagen sama Ibu? Ibu sih, lingkar pinggang Ibu mempunyai perbedaan yang ekstrim dengan lingkar pinggul,” katanya dengan sedikit cemberut. Tampaknya dia cukup kesal juga, setelah capek berputar-putar, eh, hasil tidak memuaskan sehingga harus diulang.

“Eh, jangan salahkan Ibu lho, salahkanlah orang yang melahirkan Ibu,” jawab saya sambil ngakak.

Gurunya ikut tertawa dan menimpali, “Gung, mendandani orang yang mempunyai body gitar spanyol emang susah, harus tahu teknik, tapi kalau berhasil akan kelihatan bagus sekali.”

“Lagi pula, kalau Jung benar-benar sudah turun ke lapangan, Jung kan ngga tahu jenis klien yang akan datang. Masa Jung menolak klien karena tubuhnya sulit didandani?” Kata saya masih dengan tertawa.

Ponakan saya tertawa meringis. “Iya juga sih.” Ayooo, semangat!

Pemasangan stagen pun diulangi dari awal, dan itu mungkin yang menyebabkan saya agak capek, berdiri lama dan diputar-putar. πŸ˜€ Tapi saya berusaha tidak memperlihatkan rasa capek, khawatir ponakan kehilangan semangat dan merasa bersalah.

Akhirnya, hampir pukul delapan malam, selesai sudah. Gurunya tampak puas dengan pekerjaan muridnya, apalagi sang murid berhasil menciptakan satu kreasi baru pemasangan selendang yang tampak cantik dan unik. Walaupun awalnya saya yang mengusulkan agar ponakan mengganti cara pemasangan selendang dan membuat kreasi sendiri, karena sekian kali jadi modelnya, bentuk pemasangan selendangnya masih tetap sama seperti contoh yang diberikan gurunya dulu.

“Nah, gitu dong, kan bagus. Untung punya Ibu yang mau jadi ‘korban’ dan bersedia ‘dikerjain’ oleh ponakannya,” kata gurunya becanda. Saya ikut tertawa.

“Dalam tata rias modifikasi kita boleh menciptakan kreasi apa saja. Jangan terpaku pada contoh yang saya berikan,” lanjut gurunya. “Dengan hasil pekerjaan seperti ini, Gung harusnya sudah berani lho mencari klien langsung.”

“Ah, tante…saya belum pede,” jawab ponakan.

“Kalau tidak dicoba, kapan pedenya? Lain halnya Gung belum bisa. Lha, ini sudah bagus kok,” lanjut gurunya sambil mengelilingi saya memperhatikan hasil pekerjaan muridnya dengan cermat. Dan, saya sependapat dengan sang guru πŸ™‚

Setelah ngobrol-ngobrol sebentar dengan gurunya, kami pamit pulang. Sampai di rumah, saya tepar. Hanya sempat makan, buka email dan FB sebentar untuk melihat kalau ada pesan penting yang harus segera dijawab. Setelah itu, langsung tidur. Mata tidak bisa diajak kompromi, betul-betul lengket dan tak bisa dibuka. πŸ˜€

Advertisements

4 thoughts on “Jadi model lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s