…kalau ngga? Wassalam!

Beberapa hari terakhir ini, saya melihat anak saya  sangat sibuk. Di samping mengerjakan tugas-tugas tetapnya (kuliah, praktikum, membuat jurnal, membuat laporan-laporan praktikum dan tugas-tugas lainnya), sekarang ditambah lagi aktivitas lain yang berkaitan dengan Dies Natalis kampusnya.  Ada berbagai macam lomba dan pertandingan olah raga dalam rangka Dies Natalis ini.

Sebagai salah satu anggota tim lomba debat Bahasa Inggris, dia harus latihan intensif  bersama timnya. Kemudian harus juga mempersiapkan diri sebagai dancer untuk acara puncak perayaan.  Ini penunjukan yang tidak bisa ditolaknya. Harus juga menjadi supporter ketika teman-temannya bertanding. Di satu sisi, tugas-tugas kuliah tak boleh ditinggalkan dan harus kumpul tepat waktu. Tak ada dispensasi. Dia merasa benar-benar kekurangan waktu.

Semalam, hampir tengah malam, saya melihat dia ketiduran di depan PC. Saya membangunkannya dan menyuruh pindah ke kamar supaya tidur aja dulu.  “Tapi tugas untuk besok belum selesai, Bu,” katanya. Saya jawab, “Lebih baik lanjutkan besok pagi, bangun lebih awal. Nanti Ibu bangunin.”

Pagi tadi, saya bangun pukul 4, melihat tidurnya yang begitu nyenyak dan tampak kelelahan, saya tidak tega membangunkannya. Saya membiarkannya dulu dan lanjut menerjemah. Tapi, karena dia harus melanjutkan membuat tugasnya, saya harus membangunkannya. Begitu saya bangunkan, dia terloncat dan ucapan pertama yang terlontar adalah: “Aduh, tugas Ajung belum selesai.” Hampir nangis. Saya berusaha menenangkannya. “Iyaa, kerjakan sekarang aja, pasti selesai kok. Masih ada waktu.”

Saya tahu dia sudah berusaha mengatur waktu dan memanfaatkan setiap waktu yang ada. Saya juga tidak bisa banyak membantu, paling yang bisa dibantu hanya nge-print tugas yang telah selesai dibuat. Itu pun kalau tugasnya boleh diketik, karena sebagian tugasnya harus ditulis tangan.

Untuk mengurangi bebannya, saya selalu berusaha merespon dan memberi perhatian penuh setiap dia bercerita, tentang apa pun. Menjadi pendengar yang baik dan memberi masukan sesekali. Di sela-sela percakapan itu, saya berusaha memancing canda untuk membuatnya tertawa, atau minimal tersenyum, agar wajahnya tidak tertekuk begitu. Karena pada dasarnya dia memang periang (sekaligus juga sangat perasa), beberapa kali saya berhasil membuatnya ngakak. Saya percaya, tertawa adalah obat stress terbaik.

Semangat, Nak. Kamu pasti bisa!

Tapi dia sendiri tampaknya juga sudah sadar, bahwa anak-anak Analis Kesehatan harus kuat dan tahan banting, kalau ngga… wassalam! 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s