Archive | June 2013

Bibit “Bullying”

Saya beberapa kali membaca kasus ‘bullying’ yang terjadi di sekolah-sekolah, baik yang dilakukan oleh guru atau pun oleh sesama murid. Sebagai orang tua semestinya kita tahu lebih awal kalau anak-anak kita di-bully. Mungkin awalnya hanya kecil-kecilan, kalau dibiarkan tidak tertutup kemungkinan akan berkembang menjadi lebih besar.

Saya teringat dengan sebuah kejadian ketika anak saya masih kelas lima SD. Dia bercerita bahwa ada temannya yang nakal sekali dan sering menganggunya. Saya mendengarkan ceritanya dengan saksama. Saya memang menciptakan kondisi supaya anak selalu bercerita tentang apa pun yang dialaminya di luar rumah terutama di sekolah. Tentang apa saja. Saya ingin anak menjadikan ibunya sebagai tempat pertama untuk bercerita atau bertanya atau sekadar curhat. Dan saya selalu mendengarkan dengan penuh perhatian apa pun yang diceritakannya, tidak peduli itu masalah yang sangat sepele.

Siang itu, pulang sekolah dia cerita rambutnya sering dijambak oleh seorang teman lelakinya yang memang nakal.
Saya tanya.
“Sering?”
“Iya.”
“Kenapa baru bilang?”
“Tadinya Ajung pikir dia akan berhenti.”

Wah, tidak bisa dibiarkan ini. Saya memutuskan keesokan harinya harus datang ke sekolah untuk menemui si anak nakal. Saya kesal membayangkan rambut anak saya yang hitam tebal, yang waktu itu panjangnya sampai di pinggul, dijambak-jambak seenaknya!

Esoknya, saat menjemput dia, saya berangkat lebih awal. Sampai di sekolah, anak-anak masih bermain-main di halaman. Saya duduk di pinggir taman sambil mencari-cari orang yang kemarin disebutkan ciri-cirinya oleh anak saya. Namanya Raka. Tinggi besar. Bongsor. Akhirnya pandangan saya jatuh pada seorang lelaki yang besar tubuhnya sangat menonjol dibandingkan dengan teman-temannya. Kalau saja dia memakai seragam SMA, orang-orang pasti percaya kalau dia anak SMA. Anak saya belum kelihatan, mungkin masih di kelas.

Saya memanggil seorang anak yang posisinya paling dekat dengan saya yang kebetulan memang saya kenal juga.
“Dik, tolong panggilkan Raka, ya.”
“Iya, tante.”

Dari tempat saya duduk, saya bisa melihat si Raka agak bingung, mungkin heran kenapa dia dipanggil oleh orang yang tak dikenalnya. Tapi akhirnya dia datang juga. Saya masih duduk dan mulai menanyainya.
“Kamu yang namanya Raka?”
“Iya, tante.”
“Kamu yang sering menjambak rambutnya Gayatri?”
Dia kaget, dan tidak menjawab.
“Bener kamu yang sering menjambak rambutnya Gayatri?” ulang saya.
Dia tetap diam, tapi kali ini menunduk. Tidak berani memandang wajah saya.
“Kenapa kamu sering menjambak rambutnya?”
Diam. Dia berdiri di depan saya. Saya masih tetap duduk. Suara saya tidak keras, tidak kasar. Malah terkesan halus, tapi tegas. Orang Bali bilang “nyangket.”
Karena dia tetap diam, akhirnya saya bicara lagi.
“Gini ya, Raka. Kali ini tante maafkan, tapi jangan coba-coba mengulangi lagi. Sekali lagi tante denger Raka menjambak atau mengganggu Gayatri, tante ngga akan memaafkan.”
Dia memandang saya sebentar, tapi segera menunduk lagi. Tampaknya dia benar-benar takut melihat mata saya. Beberapa orang murid berdiri di belakangnya dalam posisi melingkar.
“Raka denger omongan tante?”
“Iya, tante.”
“Ya, sudah, Raka boleh pergi sekarang, tapi inget omongan tante ya.”
Dia mengangguk dan segera menjauh.

Anak-anak yang tadi berdiri di belakangnya, langsung mengikutinya bertanya-tanya dan memberi berbagai macam komentar .
“Eh, kudyang ci?” (Eh, diapain kamu?)
“Ci masih nakal,Ā  ci pelih nyambak-nyambak Gayatri.” (Kamu juga nakal, kamu yang salah jambak-jambak Gayatri).
“Galak jan ibunya Gayatri aee.” (Galak sekali ibunya Gayatri yaa.)

Saya senyum-senyum sendiri mendengar komentar bocah-bocah itu.

Semenjak kejadian itu, Raka benar-benar menepati janjinya dan tidak berani lagi mengganggu anak saya. šŸ˜€

Advertisements

TK Para Profesor :-)

15062013(004)Sabtu,Ā  16 Juni 2013 kemarin, saya menghadiri acara perpisahan TK Dharma Santi Denpasar. TK ini didirikan oleh ibu-ibu PKK diĀ  kompleks perumahan saya, di bawah naungan sebuah yayasan. Bisa dibilang, mungkin Sekolah TK ini satu-satunya TK yang diurus oleh para Guru Besar. šŸ™‚ Pada awal berdirinya, yayasan ini dipimpin oleh seorang Guru Besar Unud (Prof. Indayati), tiga orang pembinanya pun guru besar di Unud yaitu Prof. Netera, Prof. Saka dan Prof. Ngurah Bagus. Saya sendiri menjabat sebagai Sekretaris Yayasan sampai sekarang (tapi bukan profesorĀ  lho :D).

15062013(007)Dalam waktu singkat, TK ini berkembang pesat. Niat awal pendirian TK ini adalah untuk menampung anak-anak usia TK di kompleks perumahan dan sekitarnya agar tidak terlalu jauh bersekolah. Ternyata dalam perkembangannya, TK ‘dusun’ ini malah diminati oleh orang-orang di luar kompleks perumahan karena perkembangannya yang sangat bagus.

Dalam acara perpisahan kemarin, Stasiun TV lokal, BaliTV, ikut meliput acaranya. Berbagai atraksi dipentaskan oleh anak-anak ini. Mulai dari tari Bali, tari modern, deklamasi sampai drum band. 15062013(009)Sayangnya, saya tidak sempatĀ  motret semua atraksi karena kelupaan. Saya bengong nonton mereka dan lupa jepret-jepret. šŸ˜€Ā  Sungguh menyenangkan dan bangga rasanya melihat anak-anak binaan kami ini bergembira ria menampilkan segala kemampuannya.Ā  Acara ini dihadiri oleh seluruh orang tua murid dan beberapa undangan. Ah, dunia anak-anak memang indah dan takkan terulang lagi.

Tidak jadi sakit

Dari hari Selasa, badan sudah mulai terasa tidak enak. Gejala flu dan tampaknya masuk angin. Napas agak sesak, ada rasa sakit di dada seperti di tusuk-tusuk. Sesekali ditingkahi batuk. Saya sudah hapal dengan isyarat dari tubuh saya. Itu artinya saya mau flu dan demam. Penyebabnya pun saya tahu, kurang istrahat dan kurang tidur, karena ada deadline yang cukup mendesak.

Sedangkan Kamis adalah jadwal yoga, saya sempat punya niat untuk absen saja karena kondisi tubuh yang terasa tidak enak ini. Tapi, rasanya kok sayang kalau saya bolos. Akhirnya saya datang juga ke kelas yoga.Ā  Berusaha konsentrasi penuh dan mengikuti semua instruksi sang guru dengan sebaik-baiknya. Terutama dalam pengaturan napas, saya berusaha fokus. Saya bisa mengikuti semuanya dengan baik tanpa terganggu oleh kondisi tubuh.

Di akhir sesi yoga, ada pemijatan diri sendiri,Ā  kemudian dilanjutkan denganĀ  meditasi. Saya juga menyukai bagian yg ini, terasa tenang dan damai serta ringan. Setelah selesai yoga, saya merasakan ada perubahan dalam tubuh saya. Napas lancar, sakit di dada hilang, napas terasa ringan, tubuh terasa lebih enak. Maka, saya pun tidak jadi sakit.

Ah, manfaat yoga memang luar biasa šŸ™‚

Sahabat sejati

Bagi sebagian orang persahabatan di atas segala-galanya.Ā  Demi kebaikan sahabatnya, seseorang rela berkorban. Tapi ada juga sebagian orang demi kepentingan dan kesenangannya sendiri rela mengorbankan persahabatan. Saya pernah mengalami yang kedua. Orang yang saya anggap sahabat sejati, orang yang sudah saya anggap keluarga sendiri, ternyata mampu menikam dari belakang. Menyakitkan memang, tapi itu sebuah fakta. Karena sebuah fakta tidak bisa diubah, satu-satunya cara harus menerima kenyataan tersebut agar sakit hati tak berlanjut dan menjadikannya pelajaran hidup.

Di samping itu, saya juga melihat tipe yang pertama. Tak jauh-jauh, orang itu adalah anak saya sendiri. Saya beberapa kali menjadi saksi bagaimana setianya anak ini pada sahabat-sahabatnya. Salah satu kejadiannya terjadi hampir setahun lalu menjelang ujian tulis SMPTN 2012. Ini cukup parah. Saat itu seorang sahabatnya sedang mengalami masalah dan inginĀ  mengangkhiri hidupnya. Kalau saja saya tidak melihat dan tidak mengenal orangnya, saya akan susah percaya.

Cerita singkatnya, sang sahabat sedang patah hati, ditinggal pacarnya dan tidak bisa menerima kenyataan. Begitu besarnya rasa cintanya pada sang pacar, sampai-sampai dia tidakĀ  ingin hidup lagi. Sinetron banget ya? Si sahabat sampai melukai dirinya dengan menyilet-nyilet lengannya.Ā  Mendengar ceritanya, saya sempat tersenyum dan teringat dengan cerita-cerita dalam sinetron.Ā  Sebenarnya saya tidak bermaksud menertawaiĀ  temannya, sama sekali tidak. Tapi rupanya anak saya cukup ‘tersinggung’ dan berkata: “Ibu jangan ketawa, ini masalah serius dan sama sekali tidak lucu.” Ups!

Saya jawab, “Bukan gitu, Ibu agak heran saja, ternyata cerita-cerita dalam sinetron itu memang banyak terjadi dalam kehidupan nyata, dan Ibu susah percaya ada yang berani menyilet tangannya sendiri. Apa ngga sakit ya?”

Anak saya banyak cerita tentang masalah sahabatnya itu dan saya berusaha memberi saran serta masukan pada anak, bagaimana caranya menghadapi sang sahabat agar sadar dan kembali ke jalan yang benar. Karena si sahabat ini hanya mau terbuka pada anak, maka saya membekali anak apa-apa yang harus dikatakan,Ā  supaya menyadarkannya bahwa dunia belum berakhir, bahwa dia masih punya orangtua dan keluarga yang harus diingat, bahwa dia punya banyak sahabat yang peduli. Kalau sampai mau bunuh diri, berarti dia mengabaikan orangtua dan keluarganya dan menganggapnya tidak ada.Ā  Bunuh diri demi seorang (mantan) pacar yang kini sudah punya pacar baru, trus, apa arti orangtua dan keluarganya?

Anak saya bilang, cara halus tidak mempan lagi, maka saya katakan, boleh pakai cara yang sedikit “kasar”. Bangkitkan harga dirinya sebagai lelaki, katakan, apa tidak malu mengambil tindakan itu? Iya kalau mati beneran, kalau tidak? Kalau setengah mati dan setengah hidup? Apa ngga malu sama orang-orang? Kalau memang tidak kasihan sama diri sendiri, setidaknya, kasihanilah orangtua yang telah bersusah payah membesarkannya sampai saat ini.

Sekian hari anak saya sibuk “mengurus” sahabatnya, sampai tidak punya waktuĀ  mempersiapkan diri untuk ujian tulis SMNPTN. Setiap saat sang sahabat datang ke rumah dan bercerita berjam-jam. Anak saya dengan setia mendengarkan, dan beberapa kali saya lihat anak saya menangis karena kasihan melihat sahabatnya yang begitu terpuruk.

Sebenarnya saat itu saya sangat khawatir, karena anak saya sama sekali tidak punya waktu untuk belajar sedangkan SMNPTN tinggal beberapa hari lagi. Dia ikut seleksi ujian tulis di dua tempat yaitu jalur SMNPTN (ngambil Psikologi di UNUD), dan satu lagi di POLTEKKES KEMENKES (ngambil Analis Kesehatan). Pelaksanaan kedua ujian tulis itu hanya selisih beberapa hari. Saya sudah meminjamkan setumpuk contoh-contoh soal untuk dipelajari, tapi selembar pun tidak sempat dia baca. Saat saya mengingatkannya untukĀ  belajar, dia bilang:

“Iya, Bu, Nanti Ajung belajar, sekarang ngga bisa… ada temen.”

“Boleh mikirin temen, tapi pikirkan juga masa depanmu. Hasil ujian ini akan menentukan masa depanmu.”

Dia memandang saya dengan sinar mata memohon pengertian dan minta maaf. Dia mengerti, tapi dia juga tidak bisa meninggalkan sahabatnya dalam kondisi demikian.

“Iya, Bu. Ajung ngerti. Tapi…. ini masalah nyawa,Ā  dia bener-bener melukai dirinya. Ajung khawatir… kalau dia nanti bener2 nekad, Ajung akan menyesal. Dia hanya mau mendengarkan omongan Ajung. Ajung mau bantu dia.”

Itu terjadi beberapa kali, akhirnya saya tidak bisa berkata-kata lagi, hanya menghela napas panjang dan berdoa semoga saat ujian nanti bisa berhasil dengan baik. Tapi memang saya juga kasihan sama temannya itu. Kelihatan sekali mentalnya down, menurut saya, dia terlalu lemah.

Akhir kata, setelah sekian lama, anak saya berhasil menunaikan ‘tugasnya’. Sedikit demi sedikit berhasil menyadarkan si sahabat, membangkitkan semangat hidupnya dan mendorongnya serta memanas-manasi agar segera mencari pacar baru. “Masa kalah sih sama mantanmu? Awas ya, kalau kamu macam-macam lagi, pakai acara mencoba bunuh diri segala. Kalau sampai terulang lagi, jangan panggil aku sebagai temanmu. Kita ngga usah berteman lagi. Aku malu punya temen cemen kaya’ kamu.”

Saya ikut senang, pelan-pelan si sahabat tampak mulai normal. Dan, saya lebih senang lagi, ketiba tiba pengumuman kelulusan di Poltekkes, anak saya dinyatakan lulus. Trus, beberapa hari kemudian diikuti oleh pengumuman kelulusan SMNPTN, dan dinyatakan lulus juga di jurusan Psikologi Unud.

Saat itu saya merasa lega, walaupun sebelumnya khawatir bukan alang kepalang, menunggu dengan harap-harap cemas pengumuman tersebut, mengingat anak yang sama sekali tidak belajar.Ā  Dia lebih memikirkan kondisi sahabatnya yang dianggap kritis ketimbang kepentingan dirinya sendiri.