Bibit “Bullying”

Saya beberapa kali membaca kasus ‘bullying’ yang terjadi di sekolah-sekolah, baik yang dilakukan oleh guru atau pun oleh sesama murid. Sebagai orang tua semestinya kita tahu lebih awal kalau anak-anak kita di-bully. Mungkin awalnya hanya kecil-kecilan, kalau dibiarkan tidak tertutup kemungkinan akan berkembang menjadi lebih besar.

Saya teringat dengan sebuah kejadian ketika anak saya masih kelas lima SD. Dia bercerita bahwa ada temannya yang nakal sekali dan sering menganggunya. Saya mendengarkan ceritanya dengan saksama. Saya memang menciptakan kondisi supaya anak selalu bercerita tentang apa pun yang dialaminya di luar rumah terutama di sekolah. Tentang apa saja. Saya ingin anak menjadikan ibunya sebagai tempat pertama untuk bercerita atau bertanya atau sekadar curhat. Dan saya selalu mendengarkan dengan penuh perhatian apa pun yang diceritakannya, tidak peduli itu masalah yang sangat sepele.

Siang itu, pulang sekolah dia cerita rambutnya sering dijambak oleh seorang teman lelakinya yang memang nakal.
Saya tanya.
“Sering?”
“Iya.”
“Kenapa baru bilang?”
“Tadinya Ajung pikir dia akan berhenti.”

Wah, tidak bisa dibiarkan ini. Saya memutuskan keesokan harinya harus datang ke sekolah untuk menemui si anak nakal. Saya kesal membayangkan rambut anak saya yang hitam tebal, yang waktu itu panjangnya sampai di pinggul, dijambak-jambak seenaknya!

Esoknya, saat menjemput dia, saya berangkat lebih awal. Sampai di sekolah, anak-anak masih bermain-main di halaman. Saya duduk di pinggir taman sambil mencari-cari orang yang kemarin disebutkan ciri-cirinya oleh anak saya. Namanya Raka. Tinggi besar. Bongsor. Akhirnya pandangan saya jatuh pada seorang lelaki yang besar tubuhnya sangat menonjol dibandingkan dengan teman-temannya. Kalau saja dia memakai seragam SMA, orang-orang pasti percaya kalau dia anak SMA. Anak saya belum kelihatan, mungkin masih di kelas.

Saya memanggil seorang anak yang posisinya paling dekat dengan saya yang kebetulan memang saya kenal juga.
“Dik, tolong panggilkan Raka, ya.”
“Iya, tante.”

Dari tempat saya duduk, saya bisa melihat si Raka agak bingung, mungkin heran kenapa dia dipanggil oleh orang yang tak dikenalnya. Tapi akhirnya dia datang juga. Saya masih duduk dan mulai menanyainya.
“Kamu yang namanya Raka?”
“Iya, tante.”
“Kamu yang sering menjambak rambutnya Gayatri?”
Dia kaget, dan tidak menjawab.
“Bener kamu yang sering menjambak rambutnya Gayatri?” ulang saya.
Dia tetap diam, tapi kali ini menunduk. Tidak berani memandang wajah saya.
“Kenapa kamu sering menjambak rambutnya?”
Diam. Dia berdiri di depan saya. Saya masih tetap duduk. Suara saya tidak keras, tidak kasar. Malah terkesan halus, tapi tegas. Orang Bali bilang “nyangket.”
Karena dia tetap diam, akhirnya saya bicara lagi.
“Gini ya, Raka. Kali ini tante maafkan, tapi jangan coba-coba mengulangi lagi. Sekali lagi tante denger Raka menjambak atau mengganggu Gayatri, tante ngga akan memaafkan.”
Dia memandang saya sebentar, tapi segera menunduk lagi. Tampaknya dia benar-benar takut melihat mata saya. Beberapa orang murid berdiri di belakangnya dalam posisi melingkar.
“Raka denger omongan tante?”
“Iya, tante.”
“Ya, sudah, Raka boleh pergi sekarang, tapi inget omongan tante ya.”
Dia mengangguk dan segera menjauh.

Anak-anak yang tadi berdiri di belakangnya, langsung mengikutinya bertanya-tanya dan memberi berbagai macam komentar .
“Eh, kudyang ci?” (Eh, diapain kamu?)
“Ci masih nakal,  ci pelih nyambak-nyambak Gayatri.” (Kamu juga nakal, kamu yang salah jambak-jambak Gayatri).
“Galak jan ibunya Gayatri aee.” (Galak sekali ibunya Gayatri yaa.)

Saya senyum-senyum sendiri mendengar komentar bocah-bocah itu.

Semenjak kejadian itu, Raka benar-benar menepati janjinya dan tidak berani lagi mengganggu anak saya. 😀

Advertisements

One thought on “Bibit “Bullying”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s