Archive | July 2013

Masa sih selucu itu? :D

Sore itu terdengar suara motor Vario berhenti di depan rumah. Oh, itu pasti anak saya yang pulang kuliah bareng temennya, yang kebetulan rumahnya searah. Biasanya, begitu menurunkan anak saya, si temen langsung pulang. Tapi kali ini mesin motornya malah dimatikan, berarti si temen akan mampir, pikir saya. Setelah sekian lama, tidak ada tanda-tanda anak saya muncul di ambang pintu. Yang ada malah terdengar suara cekikikan, awalnya pelan… kemudian makin keras menjadi suara tawa terpingkal-pingkal. Cukup lama. Saya penasaran dan keluar untuk menemui mereka, sekalian mau kasih tahu supaya masuk aja dulu. Ngga enak ketawa di pinggir jalan.

“Eh, ada apa? Tampaknya ada yang lucu sekali. Yuk, masuk dulu.”

Si temen, yang insialnya R, saya lihat sedang terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya. Wah, pasti ada peristiwa yang sangat lucu. Begitu melihat saya, dia buru-buru menjawab dan berusaha keras menahan tawanya.

“Makasih, tante, saya langsung pulang aja.”
“Lho, ngga masuk dulu?”
“Kapan-kapan aja, tante, saya buru-buru.”

Kentara sekali, R, gadis manis yang bertubuh jangkung dan berkulit putih bersih dengan rambutnya yang hitam panjang sampai ke pinggul, berusaha keras mengendalikan tawanya.

“Pamit, tante. Daag Gayatri….”

Setelah gadis itu hilang dari pandangan, saya dan anak masuk ke halaman rumah. Sambil merangkul bahunya, saya bertanya.
“Emang apa sih yang diketawain tadi? Heboh banget. Sampai kaget Ibu tadi.”
Anak saya cengar-cengir dan menjawab, “Gara-gara Ibu lho.”
“Gara-gara Ibu? Emang apa yang Ibu lakukan?” Saya heran.
“R itu ketawa karena tadi di kampus dia abis baca status-statusnya Ibu di FB dan postingan-postingan Ibu di blog.”
“Ealah, emang apa lucunya sampai ketawa kaya’ gitu?”
“Katanya sih banyak, Ajung sendiri ngga sempat baca semua. Tapi dia udah baca semua tulisan Ibu. Makanya dia ngakak hebat, setiap ingat dengan apa yang dibacanya.”
“Wah, masa sih?” Masih tetap heran.
“Iya, kata R, dia sering kepo’in Ibu. Kalau dia lagi stress membuat tugas-tugas kuliah, dan butuh refreshing, dia pasti buka akunnya Ibu dan blognya Ibu. Abis itu dia pasti deh ngakak.”

Saya masih terheran-heran.

“Tapi dia tak pernah komen atau nge-like status-statusnya Ibu lho.”
“Ya… iyalah, namanya juga kepo, tentu saja tidak akan meninggalkan jejak. Tapi hampir tiap hari Ajung ditanya, eh… ibumu ada buat status baru, ngga? Yah, Ajung bilang ngga tahu, Ajung kan ngga selalu buka profilnya Ibu.”
“Wah, segitunya ya? Perasaan Ibu sih ngga ada yg lucu-lucu banget, kok.”
“Iya, itu kan menurut Ibu, tapi menurut R katanya lucu. Bahkan dia punya pengikut satu lagi, yang juga sering kepo-kepo Ibu.”

Walahhh….

Saya jadi cengar-cengir sendiri. Berarti saya berjasa dong menghilangkan stress-nya? 😀

Ayo, R, sekali-sekali komen dong, jangan cuma kepo-kepo ajah. 😉

Advertisements

Pengalaman ikut acara darat Grup Spiritual Indonesia

Dua bulan yang lalu, tepatnya 25 Mei 2013, saya menghadiri acara darat Grup Spiritual Indonesia (SI) yang diadakan di Denpasar. Awalnya saya tidak kenal grup ini, semuanya terjadi secara kebetulan.

Berawal dari ketika pihak Penerbit Dolphin menghubungi saya dan meminta saya untuk hadir di acara tersebut. Hubungan saya dengan Dolphin berawal ketika Dolphin butuh partner untuk membantu mengedarkan buku Gatholoco karya Mas Damar Shasangka yang tidak dijual di toko-toko buku. Sedangkan peminat buku itu di Bali, khususnya Denpasar amat banyak. Untuk meringakan calon pembeli agar tidak kena ongkos kirim yang cukup mahal dari Jakarta, Dolphin berinisiatif mencari partner yang berdomisili di Denpasar sehingga calon pembeli bisa mendapatkan buku ini dengan mudah.

Di samping buku Gatholoco, Dolphin juga mengirimi saya buku-buku karangan Pak Leonardo Rimba, yang merupakan ketua Grup SI ini. Karena itulah ketika SI akan mengadakan acara darat di Denpasar, pihak Dolphin menghubungi saya agar ikut hadir. Tadinya saya menolak karena merasa “tidak pantas” dan keder duluan. Bayangan saya, grup SI ini beranggotakan orang-orang “sakti” dengan berbagai kemampuan supranaturalnya. Secara moral dan etika. pihak Dolphin merasa berkewajiban untuk hadir dan membawa buku-buku Pak Leo. Tapi berhubung semua personil Dolphin sedang sibuk di Jakarta, untuk itulah mereka minta supaya saya yang mewakilinya.

Setelah mendengar penjelasan mereka, saya jadi tidak hati menolak, merasa jahat kalau tidak mau hadir. Akhirnya saya menyanggupi. Masalah berikutnya adalah, tidak ada yang saya kenal di anggota SI tersebut, apakah saya akan jadi kambing congek di sana? 😀 Beruntung, salah seorang sahabat FB saya, Mbak Piet Poeja, menyatakan akan hadir juga. Sekalipun saya belum pernah ketemu langsung dengan Mbak Piet, saya cukup senang, setidaknya ada yg saya kenal nanti. Yang juga menggembirakan adalah tempat acaranya di SMA Negeri 2 Denpasar, tempat yang amat saya kenal karena selama tiga tahun terakhir wara-wiri ke sana antar jemput anak yang sekolah di SMA tersebut. Setidaknya, saya tidak usah khawatir tersesat (maklum, tukang nyasar). 😀

Hari H, saya hadir tepat waktu, pukul sembilan sudah di tempat. Tapi ternyata tempat acara masih sepi. Belakangan saya baru tahu, acara diundur sejam. Makin siang satu per satu para spiritualis berdatangangan, yang berasal dari beberapa kota di Indonesia. Agak siangan Mbak Piet baru datang, dan begitu melihatnya saya langsung mengenalinya, begitu juga dia, langsung mengenali saya. Seketika kami bisa akrab seolah-olah sudah kenal bertahun-tahun. Sebenarnya saya juga menunggu-nunggu kedatangan Bapak Leonardo Rimba, sang ketua Grup SI ini. Tapi belakangan baru ada kabar bahwa Pak Leo berhalangan hadir.

Acara segera dimulai. Setelah pembukaan oleh beberapa pembicara, acara utama pun dimulai, yang mereka sebut “buka lapak” yang sesuai dengan keahlian masing-masing. Ada demo dari seorang ahli hipnoterapi. Ada ahli baca kartu tarot, ada ramalan dengan kartu Cina, ada lapak pembacaan garis tangan dan beberapa yang lainnya.
Saya memperhatikan dengan takjub semua acara itu. Saat itu semua peserta duduk di lantai yang beralaskan karpet dalam posisi melingkar. Di sebelah kiri saya duduk Mbak Piet, di sebelah kanan saya duduk seorang ibu, di sebelah kanan ibu ini duduk bapak-bapak yang berpakaian serba hitam.

Dari tadinya saya merasa bapak-bapak itu memandang saya beberapa kali, karena merasa dipandangin, saya pun menoleh dan tersenyum ramah. Begitu beberapa kali. Sampai akhirnya beberapa saat kemudian, dia mendekati saya dan bertanya sesuatu.
“Bu, kenapa masih menolak juga?” Tanya bapak itu tiba-tiba.
Tadinya saya pikir bukan saya yang diajak bicara. Tapi kemudian saya yakin sayalah yang diajak bicara.
“Saya? Saya menolak apa?” Saya menjawab dengan bingung.
“Iya, saya bertanya, kenapa Ibu masih menolak juga?” Dia menekankan pertanyaannya.
“Tapi, saya tidak mengerti, apa yang saya tolak?” Tetap bingung.
“Ibu harus segera ‘ngiring’, harus lho.”
Waduh!
“Kenapa Bapak bisa bilang begitu.”
“Saya bisa melihat dengan jelas dari wajah Ibu.”
Wah, saya ‘dibaca’ nih.
“Memangnya saya harus jadi apa? Saya harus bagaimana?” Jadi ingin tahu.
“Jadi healer.”
“Healer? Apa yang saya tahu?” Heran.
“Ibu tidak perlu belajar apa pun, semuanya sudah ada, semuanya datang sendiri, karena Ibu sudah terpilih untuk itu,” lanjutnya. Saya bengong.
“Dan saya bukan orang pertama yang bicara soal ini pada Ibu. Saya adalah orang ketiga.”
Saya tambah bengong, teringat memang sebelumnya ada orang yang berkata sejenis seperti ini, tapi saya tidak pernah memikirkannya.
“Tapi saya benar-benar tidak mengerti, saya tidak punya kemampuan apa pun untuk itu.”
“Apa yang Ibu tidak mengerti? Saya bisa melihat dengan jelas ada beberapa barang gaib yang datang ke rumah Ibu. Itu adalah sarana,” lanjutnya.
Terdiam.
“Sekarang tinggal kesediaan Ibu saja. Saya juga bisa melihat bahwa Ibu adalah orang yang sangat logis. Tidak mudah percaya pada sesuatu tanpa ada bukti.” Lagi-lagi bapak ini menebak sifat saya.
Masih diam.
“Saya tahu karena saya juga begitu,” katanya lagi.

Mbak Piet yang sedari tadi duduk di sebelah saya dan ikut mendengar percakapan kami, berkata, “Jadi, Mbok Desak ke sini bukan kebetulan, lho. Mbok memang harus datang ke sini, apa pun caranya.”

Saya masih diam. Terbayang beberapa benda ‘gaib’ yang datang ke rumah saya. Saya sendiri tidak tahu untuk apa benda-benda tersebut. Sementara disimpan saja dulu.
Di akhir percakapan, bapak itu memberi saya nomor HP dan berkata bila butuh bantuan atau bertanya sesuatu, bisa menghubungi dia. Tapi sampai saat ini saya belum pernah menghubunginya. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi dengan jalan hidup saya ke depan. Untuk saat ini saya jalani saja dulu apa tugas dan kewajiban saya. Sebagai seorang ibu, sebagai seorang istri, sebagai makhluk sosial. Walaupun saya tidak bisa sempurna menjalankan semua peran tersebut. Kalau pun nanti ada tambahan peran lain, nanti saja dipikirkan. Untuk saat ini, saya meminjam kalimat sakti Pak Leo: “Enjoy aja….”

Belakangan ini anak saya sering menggoda saya. “Wah, jangan-jangan Ibu beneran mau jadi ‘dukun’. Tuh, sekarang aja Ibu sudah mirip seperti orang Gypsy, sudah mulai suka pake banyak asesoris kristal.” Katanya sambil menunjuk kalung dan dua gelang kristal yg saya pake.

Walah, itu sih ngga ada hubungannya, saya suka kristal-kristal ini, yaa, karena emang cantik. Walaupun sebelumnya saya termasuk orang yang tidak suka pakai asesoris, merasa gerak saya terganggu.

Sudahlah, pokoknya… enjoy aja (kata Pak Leo) 😀

This entry was posted on July 27, 2013. 6 Comments

Kecoa Pinter

Pagi itu anak saya baru selesai sarapan, seperti biasa setiap habis makan dia langsung cuci piring sendiri. Kebiasaan itu sudah dilakukannya sejak kelas IV SD sampai sekarang. Saat dia sedang mencuci piringnya, saya masih di dapur mempersiapkan bahan masakan, sambil menunggu dia selesai bersiap-siap, sebelum saya antar dia ke kampusnya.
Sambil cuci piring itulah, dia curhat tentang kegiatan kampusnya. Waktu itu tugas kuliahnya sedang numpuk-numpuknya dan dan dia nyaris kekurangan waktu. Mungkin juga dia belum sepenuhnya bisa menyesuaikan diri dengan sistem perkuliahannya.

“Lama-lama bisa gila nih Ajung, Bu.”
“Kenapa, emang?” tanya saya.
“Tiap malam Ajung hanya mimpi buat tugas terus.”
“Ah, orang kuliah emang gitu kok.” jawab saya tenang.
“Nggaaa, tuh… temen-temennya Ajung yang kuliah di tempat lain, ngga ada tuh kaya’ Ajung. Mereka cukup santai, setidaknya mereka punya waktu istirahat.”
“Iyah, kan jurusannya beda. Sitem kuliahnya juga beda. Emang teman-teman sekelas gimana? Hampir gila juga?” Tanya saya sambil senyum-senyum.
“Wah, kalau Ibu melihat mereka, Ibu pasti bengong, sudah seperti orang gila semuanya.”
“Yah, setidaknya… ada banyak teman yang diajak gila,” kata saya masih tenang.
“Ihh, apa sih Ibu!” Dia mulai kesal. Saya tertawa.
Saya tahu persis, setiap mau tidur dia mau nangis karena teringat tugasnya yang belum selesai. Tiap bangun tidur, juga mau nangis karena merasa bangun kesiangan sehingga tidak sempat mengerjakan tugasnya yang belum selesai.

“Sudah, jalani semuanya dengan tenang, suatu saat nanti Ajung akan merindukan saat-saat ini. Jadi, sekarang dinikmati aja dulu. Jangan dibawa mengeluh” Saya berusaha menghiburnya. Saya tahu persis anak ini bukan tipe pengeluh. Tapi kali ini bebannya memang agak berat, mukanya sering tertekuk, dan bawaannya mau nangis aja.
“Buu, kalau Ajung tidak mengeluh atau tidak nangis, Ajung bisa gila beneran!”
“Ya, udah, kalau gitu nangis aja,” jawab saya tetap tenang.
“Huh!’
Matanya sudah mulai berair, suaranya mulai parau, alamat sudah mau nangis lagi, hehe. Tapi tangannya tetap sibuk mencuci piring.

Tiba-tiba ada kecoa yang terbang ke arah saya, entah dari mana datangnya. Refleks saya menepisnya dengan gerakan tangan yang bergerak kesana-sini. Rupanya gerakan saya begitu lucunya, sehingga anak saya tertawa ngakak, lupa dengan air matanya yang hampir jatuh. 😀
“Hahaha… Ibu lucuuuu, tangannya kaya’ mau ngapain aja,” katanya sambil tertawa. Sang kecoa sudah terlempar ke luar dapur, ke halaman dan saya tidak berusaha mengejarnya.
Baru saja saya bergerak sedikit, kecoa itu tiba-tiba meluncur lagi ke arah saya. Hah, nekad amat nih kecoa! Ngga mau dikasih hidup. Saya menepisnya lagi dan jatuh di dekat kaki saya. Kalau saja dia lari menjauh, saya tidak akan mengejarnya. Eh, ini malah mendekat mencari kaki saya. Ya, sudah, tanpa ampun saya menginjaknya dengan keras, berharap langsung mati dalam sekali injak. Dalam hati mengucap: “Maaf, aku harus membunuhmu karena kamu memang ingin mati.”

Tiba-tiba anak saya ketawa ngakak. Keras sekali. Terpingkal-pingkal sampai terbungkuk-bungkuk memegang perutnya.
“Kenapa?” Saya bertanya heran, melihat ketawanya yang super heboh begitu.
Dia tidak bisa menjawab, tidak bisa bicara karena ketawanya tak bisa dihentikannya. Saya memandangnya dengan heran, bertanya-tanya, apa kira-kira yang membuatnya tertawa sampai segitunya.
“Kenapaaa??” Saya penasaran sekali.
Akhirnya dengan terbata-bata, di antara derai tawanya dia berusaha menjawab.
“Kecoanya pinter!”
“Pinter?” Masih tidak mengerti.
“Iya, kecoa itu tahu sorga ada di bawah telapak kaki Ibu, makanya dia ingin mati di bawah telapak kaki Ibu!”
Ketawanya masih belum berhenti.
Mendengarnya jawabannya, giliran saya yang ngakak tak tertahan. Kreatif juga anak ini. LOL!
Jadilah kami berdua balapan ngakak di dapur.
Setidaknya, kejadian itu mampu mengalihkan perhatiannya sejenak sehingga tidak jadi nangis, malah ngakak. 😀

Ular yang muncul di kamar

Saat itu, Sabtu malam, saya tidur di kamar anak saya. Setelah ngobrol ngalor-ngidul tentang berbagai hal, tentang kuliahnya, tentang teman-temannya, tentang dosen-dosennya dan sebagainya, kami pun tertidur. Esok paginya, seperti biasa saya bangun jam lima. Anak saya masih tidur nyenyak. Karena hari itu hari Minggu, saya tidak membangunkannya dan membiarkan dia tidur lebih lama.

Saya langsung melakukan kegiatan rutin di pagi hari. Membuat air panas dan menyiapkan sarapan. Setelah agak siang, saya bermaksud membangunkan anak dan langsung menuju kamarnya. Saat itulah, ketika membuka pintu saya merasa ada yang mengganjel dari dalam. Oh, apa ini? Saya tarik lagi pintunya, kemudian mendorong kembali pelan-pelan. Ada benda kenyal yang menahannya. Saya deg-degan, entah kenapa, dari sentuhan daun pintu itu, saya merasa yakin itu adalah ular, karena terasa agak kenyal. Dengan penuh kewaspadaan saya mendorong dengan pelan dan pandangan saya fokus ke bawah. Benar saja, itu ular! Ya, Tuhan! Makluk yang paling saya takuti di muka bumi ini adalah ular! Nyawa saya serasa melayang separuh. Tubuh saya gemetar. Jantung berdebar kencang sehingga dada saya bergetar hebat.

Tapi, setakut-takutnya saya, sepanik-paniknya saya, bersyukur masih ada akal sehat yang tersisa. Saya tidak mungkin lari menyelamatkan diri sementara anak saya ada di dalam, masih tidur! Dengan menguatkan diri saya membuka pintu lebih lebar agar saya bisa masuk, dan ular itu pun terdorong oleh daun pintu. Si ular masuk ke bawah kursi rotan yang ada di kamar dan melilitkan diri di kaki kursi tersebut. Dalam keadaan takut campur panik, saya berteriak memanggil suami yang masih tidur di kamar sebelah.

“Ajiiiiiikkkkk!! Ada ulaaaarrrrrrrrr!!” Jeritan saya mungkin terdengar sampai radius beberapa puluh meter.
Dalam banyak hal saya termasuk perempuan mandiri, tidak gampang takut, tidak mudah jijik. Saya tidak takut tikus atau kecoa. Saya tidak takut kegelapan, saya juga tidak takut suara geledek atau guntur. Menghadapi semua itu saya masih bisa tenang. Tapi, menghadapi ular yang besarnya tidak lebih dari jari telunjuk saya, mampu membuat pikiran saya kacau-balau.

Anak saya yang mendengar jeritan saya terbangun dengan kaget. Masih setengah sadar dia duduk di atas tempat tidur dan memandang saya dengan bingung.
“Ibu kenapa??” Dia bingung melihat saya jongkok menghadap kursi rotan.
“Ada ular! Ajung cepet keluar, bangunin Ajik! Sekarang! Cepatt!!” Saya memberi instruksi tanpa sedikit pun melepaskan pandangan dari si ular. Saya tidak mau dia menghilang dari pandangan. Saya ingin memastikan dia tidak akan lari ke mana-mana, apalagi kalau sampai masuk kolong tempat tidur, atau lari ke bawah lemari pakaian yang berat dan tinggi. Itu akan sangat menyusahkan. Anak saya langsung turun dari tempat tidur dan beringsut pelan-pelan menuju pintu. Saya memastikan si ular tidak mendekati anak saya.

Tiba-tiba si ular bergerak, tujuannya ke arah lemari. Oh! Saya tidak mungkin menghalanginya dengan tangan kosong. Tidak mungkin juga saya pergi meninggalkannya untuk mengambil sebuah benda. Dalam waktu sekian detik, saya melirik benda yang ada dalam jangkauan saya tanpa harus melepaskan pandangan dari si ular. Benda terdekat yang bisa saya raih adalah keset. Saya meraih keset itu dan mulai menghalagi pergerakan si ular. Tentu jarak saya dengan si ular amat dekat karena panjang keset itu hanya setengan meter. Sambil menunggu suami datang, saya menekan rasa takut saya dan mendorongnya setiap dia ingin bergerak, sampai akhirnya saya bisa menggiringnya ke pojok ruangan kembali ke bawah kursi rotan. Saya menatapnya dengan kewaspadaan tinggi, kalau-kalau dia meloncat ke arah saya. Saya menatapnya lekat-lekat.

Entah kenapa, tiba-tiba muncul rasa iba dalam hati saya. Dia tidak lagi berusaha lari, hanya menggeliat-geliat di tempat. Perasaan kasihan muncul tiba-tiba yang membuat saya hampir menangis. Dia kelihatan begitu tak berdaya sekarang. Saya tahu sebentar lagi dia akan mati di tangan suami. Itu pasti. Suami pasti akan membunuhnya. Saya menyesali kedatangannya ke rumah saya. Dengan sedih saya berbisik dalam hati: “Maafkan, kamu harus mati di sini. Mestinya kamu jangan masuk ke rumahku.”

Begitu suami saya datang, saya langsung menyingkir dan tidak ingin melihatnya dibunuh. Saya hanya berpesan singkat pada suami: “Usahakan dia mati secepat mungkin sehingga tidak sempat tersiksa oleh rasa sakit.”
Saya keluar kamar sambil menarik napas dalam-dalam, menekan perasaan sedih, berdoa.dan mohon ampun kepada Tuhan, Sang Pencipta segala makhluk.
“Tuhan, ampuni kami harus membunuh salah satu makhluk-Mu. Semoga dia terlahir menjadi makhluk yang lebih tinggi nantinya.”

Itu yang pertama. Masih ada ular yang kedua. Hampir sebulan setelah kejadian yang pertama.

Kali ini ular muncul di dapur. Hari Minggu juga, agak siang. Saat itu saya pergi ke dapur berniat membuat kopi. Begitu masuk dapur, pandangan saya langsung jatuh di pojok ruangan. Seekor ular melingkar di dekat piring makan si Shiro. Aduh, ular lagi! Saya spontan berteriak tanpa kontrol. Untung suami masih ada di rumah. Kalau tidak, saya tidak tahu apakah akan sanggup membunuhnya. Kalau tidak dibunuh, mau diapain? 😦

Saya menceritakan semua kejadian itu pada ibu saya. Ibu bilang, kalau ada ular masuk ke rumah, ada dua kemungkinan. Pertama, ada janji-janji tertentu (janji niskala) yang belum dibayar dan harus segera dilaksanakan. Ular itu utusan Ibu Pertiwi untuk mengingatkan kita. Kemungkinan kedua, ada orang jahat yang mengirim “kekuatan jahat” untuk menyakiti, tapi tidak bisa tembus dan mewujud jadi ular yang akhirnya terbunuh.

Yang jelas memang ada “hutang” dan kami memang sedang menyiapkan diri untuk membayar “hutang” tersebut.

Believe it or not.

Doa saya, jangan sampai ada ular ketiga dan seterusnya.

This entry was posted on July 11, 2013. 5 Comments