Ular yang muncul di kamar

Saat itu, Sabtu malam, saya tidur di kamar anak saya. Setelah ngobrol ngalor-ngidul tentang berbagai hal, tentang kuliahnya, tentang teman-temannya, tentang dosen-dosennya dan sebagainya, kami pun tertidur. Esok paginya, seperti biasa saya bangun jam lima. Anak saya masih tidur nyenyak. Karena hari itu hari Minggu, saya tidak membangunkannya dan membiarkan dia tidur lebih lama.

Saya langsung melakukan kegiatan rutin di pagi hari. Membuat air panas dan menyiapkan sarapan. Setelah agak siang, saya bermaksud membangunkan anak dan langsung menuju kamarnya. Saat itulah, ketika membuka pintu saya merasa ada yang mengganjel dari dalam. Oh, apa ini? Saya tarik lagi pintunya, kemudian mendorong kembali pelan-pelan. Ada benda kenyal yang menahannya. Saya deg-degan, entah kenapa, dari sentuhan daun pintu itu, saya merasa yakin itu adalah ular, karena terasa agak kenyal. Dengan penuh kewaspadaan saya mendorong dengan pelan dan pandangan saya fokus ke bawah. Benar saja, itu ular! Ya, Tuhan! Makluk yang paling saya takuti di muka bumi ini adalah ular! Nyawa saya serasa melayang separuh. Tubuh saya gemetar. Jantung berdebar kencang sehingga dada saya bergetar hebat.

Tapi, setakut-takutnya saya, sepanik-paniknya saya, bersyukur masih ada akal sehat yang tersisa. Saya tidak mungkin lari menyelamatkan diri sementara anak saya ada di dalam, masih tidur! Dengan menguatkan diri saya membuka pintu lebih lebar agar saya bisa masuk, dan ular itu pun terdorong oleh daun pintu. Si ular masuk ke bawah kursi rotan yang ada di kamar dan melilitkan diri di kaki kursi tersebut. Dalam keadaan takut campur panik, saya berteriak memanggil suami yang masih tidur di kamar sebelah.

“Ajiiiiiikkkkk!! Ada ulaaaarrrrrrrrr!!” Jeritan saya mungkin terdengar sampai radius beberapa puluh meter.
Dalam banyak hal saya termasuk perempuan mandiri, tidak gampang takut, tidak mudah jijik. Saya tidak takut tikus atau kecoa. Saya tidak takut kegelapan, saya juga tidak takut suara geledek atau guntur. Menghadapi semua itu saya masih bisa tenang. Tapi, menghadapi ular yang besarnya tidak lebih dari jari telunjuk saya, mampu membuat pikiran saya kacau-balau.

Anak saya yang mendengar jeritan saya terbangun dengan kaget. Masih setengah sadar dia duduk di atas tempat tidur dan memandang saya dengan bingung.
“Ibu kenapa??” Dia bingung melihat saya jongkok menghadap kursi rotan.
“Ada ular! Ajung cepet keluar, bangunin Ajik! Sekarang! Cepatt!!” Saya memberi instruksi tanpa sedikit pun melepaskan pandangan dari si ular. Saya tidak mau dia menghilang dari pandangan. Saya ingin memastikan dia tidak akan lari ke mana-mana, apalagi kalau sampai masuk kolong tempat tidur, atau lari ke bawah lemari pakaian yang berat dan tinggi. Itu akan sangat menyusahkan. Anak saya langsung turun dari tempat tidur dan beringsut pelan-pelan menuju pintu. Saya memastikan si ular tidak mendekati anak saya.

Tiba-tiba si ular bergerak, tujuannya ke arah lemari. Oh! Saya tidak mungkin menghalanginya dengan tangan kosong. Tidak mungkin juga saya pergi meninggalkannya untuk mengambil sebuah benda. Dalam waktu sekian detik, saya melirik benda yang ada dalam jangkauan saya tanpa harus melepaskan pandangan dari si ular. Benda terdekat yang bisa saya raih adalah keset. Saya meraih keset itu dan mulai menghalagi pergerakan si ular. Tentu jarak saya dengan si ular amat dekat karena panjang keset itu hanya setengan meter. Sambil menunggu suami datang, saya menekan rasa takut saya dan mendorongnya setiap dia ingin bergerak, sampai akhirnya saya bisa menggiringnya ke pojok ruangan kembali ke bawah kursi rotan. Saya menatapnya dengan kewaspadaan tinggi, kalau-kalau dia meloncat ke arah saya. Saya menatapnya lekat-lekat.

Entah kenapa, tiba-tiba muncul rasa iba dalam hati saya. Dia tidak lagi berusaha lari, hanya menggeliat-geliat di tempat. Perasaan kasihan muncul tiba-tiba yang membuat saya hampir menangis. Dia kelihatan begitu tak berdaya sekarang. Saya tahu sebentar lagi dia akan mati di tangan suami. Itu pasti. Suami pasti akan membunuhnya. Saya menyesali kedatangannya ke rumah saya. Dengan sedih saya berbisik dalam hati: “Maafkan, kamu harus mati di sini. Mestinya kamu jangan masuk ke rumahku.”

Begitu suami saya datang, saya langsung menyingkir dan tidak ingin melihatnya dibunuh. Saya hanya berpesan singkat pada suami: “Usahakan dia mati secepat mungkin sehingga tidak sempat tersiksa oleh rasa sakit.”
Saya keluar kamar sambil menarik napas dalam-dalam, menekan perasaan sedih, berdoa.dan mohon ampun kepada Tuhan, Sang Pencipta segala makhluk.
“Tuhan, ampuni kami harus membunuh salah satu makhluk-Mu. Semoga dia terlahir menjadi makhluk yang lebih tinggi nantinya.”

Itu yang pertama. Masih ada ular yang kedua. Hampir sebulan setelah kejadian yang pertama.

Kali ini ular muncul di dapur. Hari Minggu juga, agak siang. Saat itu saya pergi ke dapur berniat membuat kopi. Begitu masuk dapur, pandangan saya langsung jatuh di pojok ruangan. Seekor ular melingkar di dekat piring makan si Shiro. Aduh, ular lagi! Saya spontan berteriak tanpa kontrol. Untung suami masih ada di rumah. Kalau tidak, saya tidak tahu apakah akan sanggup membunuhnya. Kalau tidak dibunuh, mau diapain? 😦

Saya menceritakan semua kejadian itu pada ibu saya. Ibu bilang, kalau ada ular masuk ke rumah, ada dua kemungkinan. Pertama, ada janji-janji tertentu (janji niskala) yang belum dibayar dan harus segera dilaksanakan. Ular itu utusan Ibu Pertiwi untuk mengingatkan kita. Kemungkinan kedua, ada orang jahat yang mengirim “kekuatan jahat” untuk menyakiti, tapi tidak bisa tembus dan mewujud jadi ular yang akhirnya terbunuh.

Yang jelas memang ada “hutang” dan kami memang sedang menyiapkan diri untuk membayar “hutang” tersebut.

Believe it or not.

Doa saya, jangan sampai ada ular ketiga dan seterusnya.

Advertisements

5 thoughts on “Ular yang muncul di kamar

  1. Dulu, waktu aku masih di kontrakan lama, pernah ada ular juga masuk ke rumahku. Di sekitar rumah sering banjir dan masih ada beberapa petak sawah. Ada perbedaan kepercayaan kalau di Jawa Barat mbok, katanya kalau ular masuk rumah, itu tandanya rumah sudah tidak layak huni/kita harus segera pindah (kepercayaan tentang kekuatan jahat masih sama, cuma sebaliknya jika wujudnya ular maka harus hati-hati sekali karena tandanya niatnya benar-benar tidak baik). Aku menjerit minta tolong ke tetangga tapi aku minta ularnya tidak boleh dibunuh, hehehe, buang saja yang jauh dan aku doakan dia tidak kembali. Untuk sekadar informasi keselamatan mbok, yang dilakukan sudah benar (menutup dengan keset), cuma mungkin kepanikannya bisa dikurangi karena ular tidak akan pernah bisa menyerang jika dia berada di atas permukaan licin (lantai ubin, marmer, kaca) – aku pernah lihat sendiri kok, ular dilepaskan di atas permukaan licin dan dia tidak bisa bergerak maju, hanya berdiri-berdiri saja, hihihi. Samaaaaa aku juga takut ular!! Tapi kalau masih bisa dilepaskan jauh-jauh, aku akan memilih itu πŸ˜€

    By the way, fabulous writing πŸ™‚

    • Mbak Maria, terima kasih sudah komen πŸ™‚ Iya iya, saya akui, kalau yg berhubungan dengan ular, ketenangan saya menguap entah ke mana. Tapi syukurnya masih ada sedikit akal sehat. Saya sependapat, sebenarnya ular agak susah bergerak di lantai keramik yang licin. Itu juga yang membuar saya heran sebenarnya. Untuk sampai masuk ke dalam kamar, dia harus melewati lantai licin yang cukup luas. Mulai dari serambi belakang kamar tidur itu, dia harus melewati celah sempit di antara pintu kaca. Kemudian masuk dan melintasi ruang rias. Untuk masuk ke ruang tidur dia harus naik ke lantai yang lebih tinggi (ada perbedaan ketinggian lantai antara di ruang ruas dan ruang tidur). Setelah itu dia harus melintasi ruangan yang cukup luas untuk sampai di posisi tempat saya melihatnya. Dan… semua itu adalah lantai keramik yang licin. Kebayang perjuangannya untuk bisa sampai di sana. Itu kalau saya berasumsi dia masuk lewat pintu samping kamar. Kalau lewat pintu depan kamar, lebih berat lagi, karena harus melintasi ruang tengah dan ruang tamu yang lebih luas. Bingung juga membayangkannya. πŸ™‚

  2. waahhhh,,,,,mungkin saya juga akan berbuat hal yang sama klo melihat ular di rumah..bedanya kalo mbak desak teriak suami,saya akan teriak istri heeee……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s