Archive | August 2013

“Megedong-gedongan”

Dua hari yang lalu, tepatnya tanggal 17 Agustus 2013, untuk yang kesekian kalinya, saya menghadiri upacara adat ‘Megedong-gedongan”, yaitu suatu ritual untuk ibu yang hamil pertama kali, saat kehamilannya berusia tujuh bulan. Dari sekian sesi acaranya, ada satu sesi yang sangat menarik yaitu saat sang suami menusuk sebuah bungkusan dari daun talas.

Di dalam daun talas itu berisi air dan beberapa ekor ikan serta belut. Setelah ditusuk dengan tombak bambu, kalau yang keluar adalah belut maka jenis kelamin si jabang bayi adalah lelaki. Kalau yang keluar itu ikan, makan jenis kelaminnya adalah perempuan.

Sesaat sebelum upacara dimulai, saya sempat bertanya sama sang calon ibu (istri dari salah satu keponakan saya), apakah sudah melakukan USG. Jawabnya sudah, dan menurut hasil USG jenis kelamin sang calon bayi adalah lelaki. Saat itu saya berpikir, berarti, nanti ketika sesi menusuk bungkusan daun talas, yang keluar pasti belut. Itu keyakinan saya.

Benar saja, ketika sesi itu dilakukan, yang keluar adalah belut, berarti sama dengan hasil USG. Sekarang tinggal menunggu hari kelahiran saja, apakah yang lahir benar-benar bayi lelaki atau tidak. Tetap kuasa Tuhan yang menentukan. Walaupun selama ini, yang saya tahu, hasilnya selalu cocok.

Kebetulan? Bisa jadi, kebetulan yang selalu berulang. 🙂

NB: Artikel ini juga saya muat sebagai status di FB pada tanggal 18 Agustus 2013

Advertisements

Selamat jalan, Shiro…

Chiko+ShiroSudah seminggu lebih Shiro pergi, baru sekarang saya sanggup menulis tentang dia. Shiro, anjing berhati paling lembut yang pernah saya miliki telah meninggal tepat di hari Tilem (bulan mati), tanggal 6 Agustus 2013, subuh, karena sakit, pada usia 7 tahun 9 bulan. Saya sudah berusaha sekuat tenaga merawatnya, tapi dokternya bilang kemungkinannya hanya fifty-fifty. Walaupun demikian saya minta pada dokternya untuk melakukan apa pun yang mungkin untuk keselamatannya.

Selama sakit saya menyuapinya seperti bayi karena dia tidak bisa makan sendiri. Hari pertama, kedua dan ketiga makanan (susu) masih bisa masuk, walaupun sedikit. Hari keempat, makanan sama sekali tidak bisa masuk. Keluar terus. Saya hanya bisa mengelus-elus kepalanya dengan lembut, berusaha membujuk dan mengajaknya bicara supaya mau makan. Dia hanya menatap saya, kemudian terpejam lagi.

Hari terakhir sebelum kematiannya, dia sudah begitu lemas tapi berusaha membuka matanya. Dia memandang saya berlama-lama. Ketika anak saya lewat di depan saya, pandangannya mengikuti ke mana arah anak saya berjalan. Saya panggil anak saya.

“Jung, Shiro ngliatin Ajung terus….”

Shiro+Bingo-JrAnak saya kembali dan ikut jongkok di sebelah saya. Mengelus kepalanya dengan lembut sampai dia tidur. Malamnya, saya berusaha lagi memberi dia minum susu. Saya sempat senang, karena semangkok kecil susu bisa habis setelah saya suapin pelan-pelan. Tetapi rasa senang saya tidak berlangsung lama. Sebentar kemudian semuanya keluar lagi. Saya coba lagi, keluar lagi. Saya mulai putus asa dan didera oleh perasaan kasihan yang amat sangat. Mata saya mulai basah dan merasa dia tidak akan bertahan lama. Saya menyelimutinya dengan jaket bekas anak saya yang hangat, karena dia tampak kedinginan. Kemudian saya tinggal pergi karena ada yang harus dikerjakan.

Sebelum tidur, saya menengoknya lagi. Saya mencoba menyuapinya susu lagi, tapi tidak berhasil. Melihat kondisinya yang lemah sungguh membuat saya amat sedih. Shiro yang lucu, yang menggemaskan, yang sangat menghibur, kini tak berdaya. Dengan sedih saya berdoa: “Ya, Tuhan, kalau makhluk-Mu ini bisa sembuh, sembuhkanlah, kalau tidak… ambillah.” Dengan perasaan kasihan yang amat sangat, saya mengelus kepalanya, kemudian saya tinggal tidur.

Malam itu anak saya tidur belakangan. Kata anak saya, setelah saya tidur, Shiro berusaha bangkit dan dengan Shiro+Bingotertatih-tatih berjalan menuju depan pintu kamar anak saya, tempat favoritnya untuk tidur selama ini.

Esoknya, subuh, saya terbangun. Pikiran saya langsung tertuju pada Shiro dan merasa dia sudah tiada. Saya langsung menuju kamar tamu, benar saja… dia sudah terbujur setengah kaku di bawah meja. Tampaknya dia belum lama meninggal, saya perkirakan sekitar jam 3-4 pagi. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi. Saya menyentuh dan mengelusnya pelan, dengan mata basah sambil berkata dalam hati: “Pergilah dengan tenang, maafkan kalau aku pernah menyakitimu.”

Pagi itu juga saya ke pasar, membeli kain kafan semeter. Memandikannya, membungkusnya dengan kain kafan, kemudian menguburnya di bawah pohon mangga di halaman belakang.

Orang boleh bilang saya lebay, berlebihan, over-acting atau apalah, tidak apa-apa. Tetapi mereka yang mengalami dan juga memiliki anjing seperti Shiro pasti bisa merasakan perasaan saya. Saya merasa semasa hidupnya Shiro selalu berusaha menyenangkan tuannya. Menghibur tuannya kalau sedang bete dan selalu berhasil membuat senyum atau ketawa dengan tingkahnya yang lucu. Teman bercanda yang baik. Apa salahnya kalau saya membalasnya dengan memperlakukannya dengan baik untuk yang terakhir kalinya?

Saya sedih, tentu saja. Tetapi saya cukup terhibur, setidaknya, selama hidupnya saya memperlakukan dia dengan baik. Merawatnya kalau sakit. Saya tidak hanya menyukainya saat dia sedang lucu-lucunya dan mengabaikannya ketika dia tidak lucu lagi. Seingat saya, saya tidak pernah menyakitinya.

Saya menghibur aRosinak saya dengan mengatakan bahwa dia ‘masuk sorga’ (menghibur diri sendiri juga sebenarnya) dan bertemu dengan induknya, yang bernama Rosi, yang tidak berumur panjang. Rosi, si anjing cantik, sang induk, meninggal mendadak ketika Shiro dan saudara-saudaranya baru berumur sebulan. Meninggal mendadak dalam keadaan sehat. Seolah-olah dia datang ke bumi ini hanya untuk melahirkan lima anaknya, menyusuinya, begitu tugasnya selesai, begitu anak-anaknya berhenti menyusu, dia pun pergi begitu saja. Tanpa sakit. Kematian Rosi dulu juga amat menyedihkan saya. Dulu, ketika Rosi melahirkan kelima anaknya, sayalah yang jadi “bidannya”, dengan berbekal pengetahuan yang diberikan oleh dokternya, sambil menunggu sang dokter hewan datang. Dan, tampang Shiro ini paling mirip dengan induknya.

Selesai mengubur Shiro, suami menawarkan untuk mencari anjing Kintamani. Walaupun saya ingin punya anjing Kintamani lagi (dulu pernah punya beberapa kali), tapi saat ini saya belum ingin punya anjing baru. Masih sedih. Biarlah saya merawat si Bingo Jr, si Mini Piencher aja dulu. Lagipula, belakangan ini saya agak sibuk sampai beberapa bulan ke depan. Saya khawatir tidak bisa maksimal merawat si anjing baru nanti, apalagi kalau dia masih bayi yang pasti perlu perhatian ekstra. Anak saya ternyata pikirannya juga sama. Dia langsung menjawab ayahnya.

“Ngga, Ajik, ngga usah cari anjing baru dulu. Nanti aja.”