Archive | September 2013

Hidup rukun, apa susahnya, ya?

Saya terlahir di keluarga Hindu yang bisa dikatakan moderat alias tidak terlalu fanatik. Sejak kecil saya tidak pernah mendengar kata-kata bahwa agama saya adalah yang paling baik dan agama lain kurang baik. Sama sekali tidak. Yang ada malah saya diajarkan bahwa semua agama baik, semua agama mengajarkan kebaikan hanya cara dan jalannya yang berbeda. Seperti kata pepatah, banyak jalan menuju Roma.

Saya ingat ketika kakak perempuan saya sekolah di di Bunka School of Fashion dan tinggal di Jakarta, dia pernah punya pacar seorang muslim. Ketika orang tua saya mengetahuinya, beliau tidak serta-merta memarahi atau melarangnya atau memaksanya untuk putus. Karena sadar, kalau sudah jodoh tidak ada kekuatan apa pun yang bisa mencegahnya. Jadi, orang tua hanya memberi bayangan. Ibu bilang: “Kamu serius? Kamu yakin dengan pilihanmu? Kalau kalian jadian, besar kemungkinan dia akan memintamu untuk mengikuti agamanya dan kamu tidak bisa menolak.” Entah karena memang tidak jodoh, kakak akhirnya putus dengan pacarnya.

Lalu bagaimana kalau lelaki Hindu mempunyai pasangan non-Hindu? Apakah pasangannya harus dipaksa memeluk Hindu? Hindu menganut asas patrilineal yang kuat. Di keluarga Hindu, kedudukan anak lelaki memegang peranan penting untuk melanjutkan keturunan dan melaksanakan berbagai kewajiban termasuk melakukan berbagai yadnya untuk para leluhurnya. Dan setiap anak lelaki sudah menyadari hal tersebut. Maka dari itu, kalau pun mereka mempunyai calon pasangan non-Hindu, biasanya dari awal mereka sudah menyampaikan hal tersebut pada pasangannya. Bahwa dia tidak akan pindah keyakinan. Dengan kata lain, kalau si calon pasangan tetap ingin bersamanya, dia harus masuk ke agama suaminya. Kalau si calon merasa siap, hubungan bisa berlanjut sampai jenjang pernikahan. Kalau si calon pasangan merasa tidak sanggup, maka (biasanya) mereka akan berpisah secara baik-baik. Jadi, di sini sama sekali tidak ada pemaksaan. Tidak ada istilah mereka tidak tahu atau kaget ketika dilaksanakan upacara Suddhi Wadani saat mereka menikah. Mereka sudah tahu dari awal. Dengan kata lain, selalu ada pilihan untuk melanjutkan hubungan atau tidak.

Begitu juga kalau ada perempuan Hindu yang memutuskan menikah dengan lelaki non-Hindu, mereka juga pasti sudah siap dengan konsekuensinya ketika sang calon suami memintanya untuk mengikuti agamanya. Karena mereka yakin, dalam satu kapal kurang baik kalau ada dua nakhoda. Kalau mereka merasa tidak siap, mereka pun tidak akan memaksakan diri dan memilih berpisah. Seperti contoh kasus kakak perempuan saya.

Begitu juga ketika lelaki Hindu memiliki pasangan non-Hindu, mereka akan meminta pasangannya untuk menganut agamanya, dan menjalani upacara Suddhi Wadani. Jadi, kami cukup fair, bukan?

Itu adalah kejadian pada umumnya. Dalam beberapa kasus, ada juga pasangan yang tetap menikah dengan mempertahankan agamanya masing-masing. Dalam kasus seperti ini tentu kedua belah pihak sudah memiliki tingkat kedewasaan yang tinggi, saling pengertian dan tingkat toleransi yang tinggi. Saya punya tetangga yang seperti ini. Mereka sudah menikah puluhan tahun dan tetap baik-baik saja. Dua-duanya guru besar di Unud. Saya cukup akrab dengan sang istri (yang muslim). Karena dari awal sudah dibicarakan, dan mereka sepakat, ke depannya mereka tidak pernah ada masalah. Dalam beberapa kesempatan dia menceritakan kebaikan suaminya yang tetap konsisten dengan perjanjian semula sebelum menikah yaitu tetap menganut agama masing-masing tanpa berusaha mengintimidasi satu sama lainnya. Begitu juga si istri, tidak berusaha mempengaruhi suaminya. Saya salut dan hormat kepada ibu profesor ini. Dia sangat bisa menempatkan diri. Kalau di daerah kami ada upacara adat (Hindu), dia menyesuaikan penampilannya dengan ikut mengenakan kebaya. Hal ini membuat kami tambah hormat.

KASUS LAIN.
Saya sudah terbiasa dengan lingkungan yang heterogen dan terbiasa hidup rukun dengan antar umat beragama dan saling menghargai. Dulu, ketika ayah mertua saya meninggal, kami didatangi oleh wakil dari komunitas muslim. Mereka ingin mengadakan tahlilan di rumah kami, di samping jenazah ayah mertua. Mereka ingin ikut mendoakan almarhum yang semasa hidupnya memang sangat dihormati dan disegani karena kebaikan dan kedermawanannya. Sebelum menjawab, keluarga besar kami mengadakan pertemuan untuk membahas permintaan tersebut. Akhirnya diputuskan kami menerima permintaan tersebut, dengan pertimbangan tujuan mereka baik yaitu mendoakan almarhum, walaupun dengan cara yang berbeda. Alhasil, selama tiga malam berturut-turut, berkumandanglah ayat-ayat tahlilan di rumah kami.

Di keluarga besar saya sendiri juga ada banyak agama. Semua agama ada. Selain Hindu, juga ada Katolik, Islam dan Budha. Lengkap banget 😀

KATOLIK
Ayah saya berasal dari keluarga besar, bersaudara 12 orang, 10 lelaki dan 2 perempuan. Ayah saya nomor empat. Paman yang pertama masuk Katolik ketika sedang kuliah di Cheko (dulu namanya masih Cheko) saat mendapat beasiswa (program Colombo Plan) dari pemerintah. Ditugaskan untuk belajar Roket dan Pancar Gas. Dari Cheko kemudian ke Jerman dan di sana sempat tinggal bersama Bapak Habibie di satu apartemen. Paman ini menikah dengan perempuan Cheko dan mempunyai seorang anak perempuan yang terlahir pada tahun yang sama dengan saya. Ketika tiba saatnya untuk pulang karena sudah dipanggil oleh pemerintah, Paman pun harus balik ke Indonesia. Sayangnya, si istri tidak diizinkan ikut ke Indonesia oleh orangtuanya karena dia satu-satunya anak yang masih ada setelah saudara laki-lakinyai meninggal dalam peperangan. Sementara Paman juga tidak mungkin menetap selamanya di sana. Tidak ada jalan lain, demi Negara, dengan mengorbankan perasaan dan meninggalkan istri serta anak tercinta, Paman kembali pulang memenuhi panggilan Negara. Sungguh pengorbanan yang tiada tara. Setelah menduda sekian tahun, Paman menikah lagi, dengan perempuan Katolik juga dan memiliki tiga orang anak. Artinya, saya punya sepupu Katolik dan kami tidak pernah merasa itu sebuah masalah. Kami saling menghormati.

ISLAM
1. Salah satu adik perempuan Ayah menikah dengan seorang muslim dari Banten. Dan atas kesadarannya ikut memeluk agama suaminya. Memiliki enam orang anak dan sampai kini hidup bahagia di Banten. Setiap ada upacara besar di Bali, selalu menyempatkan pulang dan mengikuti jalannya upacara. Sang suami tidak mempermasalahkan.

2. Salah satu adik sepupu saya, perempuan, (anak dari Paman nomor dua), yang dari kecil menetap di Jakarta, setelah dewasa memutuskan untuk memeluk Islam. Dia seorang presenter terkenal (saya tidak akan menyebut namanya di sini, takut dikira numpang tenar). 😉 Dia juga pernah mendapat beasiswa dari negara Amerika untuk mendalami ‘Human Trafficking’. Dia bahkan berjilbab. Bagi kami agama adalah hak asasi dan tidak boleh dipaksakan. Kami pun tidak berusaha mempengaruhinya karena dia merasa itulah yang terbaik bagi dia. Hubungan kami juga baik-baik saja.

3. Salah satu kakak ipar saya (perempuan) tadinya adalam muslim. Tapi karena menikah dengan lelaki Bali, dia pun menganut agama suaminya. Hubungannya dengan keluarga asalnya tetap harmonis dan saling mengunjungi. Tak pernah ada masalah sedikit pun yang berhubungan dengan agama.

4. Saya juga memiliki adik sepupu (perempuan) yang menikah dengan seorang lelaki muslim. Tetapi suaminya ini ingin memeluk Hindu sehingga dia pun menganut Hindu. Tidak ada paksaan sedikit pun. Mereka kini hidup bahagia dengan dua orang anak yang meningkat remaja.

BUDHA
1. Paman saya yang paling kecil menikah dengan perempuan Budha keturunan etnis Cina. Si istri kini memeluk Hindu. Sampai sekarang, sampai dikaruniai cucu mereka hidup bahagia dan tak pernah ada konflik sehubungan agama. Sekali pun sudah memeluk Hindu, tante saya ini masih tetap merayakan adat/budaya aslinya di etnis Cina. Paman tidak melarangnya.

2. Adik lelaki saya yang nomor empat juga menikah dengan perempuan keturunan etnis Cina yang tadinya beragama Budha. Setelah menikah jadi penganut Hindu yang taat tapi dengan tidak melupakan budaya aslinya. Kalau ada perayaan di rumah asalnya, misalnya tahun baru Cina, dia tetap pulang ikut merayakan bersama orang tuanya.

Jadi, sampai detik ini saya sungguh tidak mengerti kenapa ada keributan dan peperangan karena agama. Menurut saya yang awam ini, mestinya kita bisa hidup tenang berdampingan dengan antar umat beragama sepanjang kita saling menghargai, saling menghormati dan tidak melecehkan atau menghina ajaran agama lain. Saya merasa tidak perlu gembira atau bangga berlebihan bila ada non-Hindu yang masuk Hindu. Begitu juga sebaliknya, saya merasa tidak perlu sedih atau marah atau kecewa kalau ada saudara yang masuk ke agama lain karena sesuatu hal. Biasa saja. Saya tidak pernah menilai orang dari agamanya, tapi dari perilakunya. Saya juga yakin Tuhan tidak membeda-bedakan umatnya berdasarkan agamanya semata, melainkan berdasarkan perbuatannya. Bagi saya tidak ada agama yang mengajarkan kejahatan. Kalaupun ada oknum seperti itu, itu pasti karena mereka salah dalam menafsirkan ajaran agamanya. Bukan agamanya yang salah.

Apa yang kita dapatkan dengan ribut-ribut dan saling menghujat ajaran agama orang lain? *Masih bingung*

(Duh, tidak terasa, tulisan saya jadi panjang begini, postingan terpanjang yang pernah saya buat) 😀

Advertisements

Tirta Yatra Dalam Rangkaian Upacara Rsi Ghana (3)

16092013Senin, 16 September 2013, tujuan Tirta Yatra kami adalah ke Pura Luhur Batukaru dan Pura Pucaksari yang terletak di lereng Gunung Batukartu, Kabupaten Tabanan. Kedua pura ini terletak di sisi lereng yang berseberangan. Pertama kami menuju Pura Pucaksari.  Medan tidak terlalu sulit, hanya jalannya yang agak menanjak. Yah, namanya juga lereng gunung tentu saja menanjak.

Ketika sampai di areal pura, kami disambut oleh Pemangku (suami istri) yang ramah. Kami dipersilakan menunggu karena saat itu kebetulan ada serombongan orang sedang melakukan ritual juga. Setelah mereka selesai, kami pun memulai persembahyangan dengan dipimpin oleh Pemangku. Seperti di pura-pura sebelumnya, permohonan utama kami adalah mohon restu sehubungan dengan upacara Pecaruan Rsi Ghana yang akan kami lakukan.

Setelah selesai, kami ngobrol-ngobrol sejenak dengan dua Pemangku tersebut. Kami bercerita ngalor ngidul dengan akrabnya seolah-olah sudah kenal lama.  Kami merasa beruntung karena selalu ketemu Pemangku yang ramah, baik dan bersikap melayani pemedek. Hal itu membuat kami sangat respek pada mereka.

16092013(004)_2Dari Pura Pucaksari, kami meluncur ke Pura Batukaru yang terletak di lereng yang berseberangan dengan Pura Pucaksari.  Di pura ini kami melihat ada banyak turis mancanegara yang berkunjung. Tentu saja pada areal batas yang diizinkan dan memang sudah ada batas yang jelas areal mana yang boleh dimasuki oleh turis. Cuaca cukup bersahabat walaupun agak berkabut. Udaranya dingin.

Di pura ini kami tidak bertemu dengan Pemangku sehingga ritual kami lakukan sendiri. Setelah muspa dan nunas tirtha, kami mepamit dan langsung pulang. Kabut mulai menebal sore itu. Makin sore kabut akan makin tebal.

Tirta Yatra Dalam Rangkaian Upacara Rsi Ghana (2)

15092013(002)Perjalanan hari ini merupakan kelanjutan dari perjalanan pertama dan tujuan kami adalah Pura Luhur Uluwatu dan Pura Dalem Segara. Pura Uluwatu dipercaya oleh umat Hindu sebagai penyangga salah satu mata angin dan terletak di ujung barat daya Pulau Bali.  Pura ini tampak begitu spektakuler karena berdiri di atas sebuah tebing setinggi kurang lebih 97 meter di atas permukaan laut. Di bawahnya terhampar Pantai Pecatu yang terkenal sebagai tempat berselancar.

Saat terakhir ‘tangkil’ ke pura ini, saya agak was-was karena ada banyak kera yang nakal, yang suka mengambil barang apa saja yang kita bawa yang bisa diraihnya. Waktu itu saya melihat seorang ibu yang ditarik sanggulnya, kemudian ada juga orang lain yang dijambret kaca matanya. Karena pengalaman itu, saat saya ke sana lagi saya begitu ekstra hati-hati. Dengan membawa Banten Pejati, saya berjalan dengan kewaspadaan tinggi. Mata saya awas ke segala arah mengantisipasi pergerakan kera, jangan sampai mendekati saya.  Ada banyak wisatawan yang berkunjung saat itu, tentu sampai areal yang diperbolehkan untuk itu. Tidak sampai masuk ke tempat persembahyangan.

Ternyata hari itu semua kera tampak tenang, tidak ada yang berulah. Mereka hanya duduk di pinggir jalan, tidak ada yang berusaha untuk menganggu pengunjung. Ada yang sedang makan, ada yang hanya duduk manis.

Sampai di dalam pura, kami disambut oleh Pemangku yang sangat ramah. Beliau mempersilakan kami memgambil tempat. Saya pun mulai menata Pejati yang kemudian dihaturkan oleh Pemangku. Permohonan kami tetap sama yaitu mohon keselamatan dan matur uning  serta nunas tirtha untuk keperluan upacara Rsi Ghana. Setelah selesai, kami langsung pamit. Saya sangat terkesan dengan keramahan Pemangku di sana dan sikapnya yang melayani pemedek.

Selesai di Pura Uluwatu, kami langsung meluncur ke Sanur, menuju Pura Dalem Segara Pengembak yang terletak di pinggir pantai. Di sini kami tidak menemui Pemangku. Seorang pemedek mengatakan Pemangku baru saja pulang karena agak tidak enak badan. Karena tidak ada Pemangku kami melakukan ritual sendiri, dengan permohonan yang sama yaitu mohon keselamatan lahir-batin dan dimudahkan segala jalan kami. Setelah selesai, kami langsung pulang mempersiapkan segala sesuatunya untuk perjalanan esok harinya.

Pukul setengah empat sore kami sampai di rumah. Besok, astungkara, kami akan menuju Pura Pucaksari dan Pura Luhur Batukaru yang terletak di Kabupaten Tabanan.

(Bersambung)

Tirta Yatra Dalam Rangkaian Upacara Rsi Ghana (1)

Hari ini, Sabtu, 14 Sept 2013,  rangkaian upacara Rsi Ghana dan Odalan di rumah saya yang di Denpasar dimulai. Puncak acaranya sendiri pada tanggal 18 Sept 2013, yaitu Buda Kliwon Gumbreg yang bertepatan dengan tegak Odalan di Merajan.

Tujuan pertama hari ini adalah ke Pura Bukit, yang terletak di Desa Bukit Karangasem. Yang melingga di pura ini adalah Bhatara Alit Sakti yang merupakan keturunan dari Kerajaan Karangasem  dan Ida Bhatara Lingsir Gunung Agung (sejarah tentang Pura Bukit ini akan saya ceritakan dalam tulisan tersendiri nanti).

Pura BukitKami berangkat dari Denpasar kira-kira pukul sembilan pagi. Singgah ke Tohpati untuk menjemput kakak yang juga ikut  ke Pura Bukit, perjalanan agak terlambat karena kakak ini kesulitan meninggalkan cucunya yang nangis terus. Akhirnya pukul satu lewat kami sampai di Pura Bukit. Ini agak terlambat dari jadwal semula. Kami segera memulai melakukan ritual ‘matur uning’ dan nunas ‘tirtha’ (air suci) untuk keperluan upacara nanti. Sarana yang kami pergunakan adalah Pejati. Dilanjutkan dengan ‘muspa’.

Selesai ritual di Pura Bukit, kami langsung meluncur ke rumah di Karangasem, yaitu  Puri Agung Karangasem (Puri Kanginan), untuk ‘tangkil’ di Merajan Agung dengan tujuan sama yaitu ‘matur uning” dan nunas ‘tirtha’ sehubungan karya nanti.  Kami mohon agar para leluhur merestui pekerjaan yang akan kami lakukan dan memberi segala kemudahan.

Setelah selesai di merajan, setelah ngobrol sejenak dengan para semeton, kami langsung menuju Pura Penataran Gunung Agung (Pura Dasar Gunung Agung) yang terletak di Desa Nangka, Karangasem, sehingga sering juga disebut Pura Nangka. Pura ini terletak di kaki Gunung Agung dan ada keterkaitan erat dengan Pura Bukit (yang akan kami ceritakan nanti).  Medannya tidak terlalu sulit, tetapi jalannya sempit dan di kiri-kanan curam. Kami juga melewati beberapa areal Galian-C (tambang pasir dan batu) yang merupakan sisa-sisa material saat Gunung Agung meletus lima puluh tahun silam. Kalau yang tidak mahir nyetir mobil, tidak disarankan mengemudikan mobil sendiri ke daerah ini. Di samping jalanan yang sempit, kami juga  sering berpapasan dengan truk-truk pengangkut pasir.

Jalan makin menanjak, kabut mulai turun dan jarak pandang makin dekat. Benar-benar membutuhkan kemampuan mengemudi yang tinggi. Saya ingat, duluuu  banget waktu mendaki Gunung Agung, jalan inilah  yang dilalui untuk mencapai kaki Gunung Agung sebelum mencapai kaki gunung yang sebenarnya dan mulai mendaki.

Pura Dasar G. AgungKurang lebih jam setengah lima sore, kami sampai di tempat. Di samping kabut yang makin pekat, kami juga disambut oleh gerimis. Dingin? Tentu saja, sudah kabut tebal, gerimis pula. Pura ini sedang dalam proses perbaikan dan belum selesai pengerjaannya. Tembok penyengker belum ada, rupa ‘bencingah’ juga belum kelihatan. Tanpa membuang waktu, kami langsung memulai ritual karena kami berpikir kalau hari makin sore kabut akan makin tebal dan akan menyulitkan kami untuk mencari jalan pulang. Di bawah gerimis, kami menggelar Pejati dan menghaturkan canang, dilanjutkan dengan ‘muspa’ (sembahyang dengan sarana bunga wangi dan dupa). Permohonan kami juga sama yaitu ‘nunas tirtha’ dan memohon kelancaran dalam melakukan upacara Rsi Gana & Odalan nantinya.

Setelah selesai melakukan ritual persembahyangan, gerimis perlahan berhenti. Cuaca pun sedikit terang, kabut sedikit menipis seolah-olah memberikan jalan pada kami agar bisa pulang tanpa kesulitan. Dalam hati saya amat bersyukur dan matur suksma yang begitu besar pada Ida Bhatara yang melingga di sana.

Kami langsung pulang ke Denpasar tanpa hambatan dan sampai di rumah kira-kira pukul setengah sembilan malam. Esoknya (Minggu, 15 Sept 2013), kami berencana untuk tangkil ke Pura Uluwatu dan Pura Dalem Segara. Semoga dimudahkan segalanya. Astungkara.

(Bersambung)