Hidup rukun, apa susahnya, ya?

Saya terlahir di keluarga Hindu yang bisa dikatakan moderat alias tidak terlalu fanatik. Sejak kecil saya tidak pernah mendengar kata-kata bahwa agama saya adalah yang paling baik dan agama lain kurang baik. Sama sekali tidak. Yang ada malah saya diajarkan bahwa semua agama baik, semua agama mengajarkan kebaikan hanya cara dan jalannya yang berbeda. Seperti kata pepatah, banyak jalan menuju Roma.

Saya ingat ketika kakak perempuan saya sekolah di di Bunka School of Fashion dan tinggal di Jakarta, dia pernah punya pacar seorang muslim. Ketika orang tua saya mengetahuinya, beliau tidak serta-merta memarahi atau melarangnya atau memaksanya untuk putus. Karena sadar, kalau sudah jodoh tidak ada kekuatan apa pun yang bisa mencegahnya. Jadi, orang tua hanya memberi bayangan. Ibu bilang: “Kamu serius? Kamu yakin dengan pilihanmu? Kalau kalian jadian, besar kemungkinan dia akan memintamu untuk mengikuti agamanya dan kamu tidak bisa menolak.” Entah karena memang tidak jodoh, kakak akhirnya putus dengan pacarnya.

Lalu bagaimana kalau lelaki Hindu mempunyai pasangan non-Hindu? Apakah pasangannya harus dipaksa memeluk Hindu? Hindu menganut asas patrilineal yang kuat. Di keluarga Hindu, kedudukan anak lelaki memegang peranan penting untuk melanjutkan keturunan dan melaksanakan berbagai kewajiban termasuk melakukan berbagai yadnya untuk para leluhurnya. Dan setiap anak lelaki sudah menyadari hal tersebut. Maka dari itu, kalau pun mereka mempunyai calon pasangan non-Hindu, biasanya dari awal mereka sudah menyampaikan hal tersebut pada pasangannya. Bahwa dia tidak akan pindah keyakinan. Dengan kata lain, kalau si calon pasangan tetap ingin bersamanya, dia harus masuk ke agama suaminya. Kalau si calon merasa siap, hubungan bisa berlanjut sampai jenjang pernikahan. Kalau si calon pasangan merasa tidak sanggup, maka (biasanya) mereka akan berpisah secara baik-baik. Jadi, di sini sama sekali tidak ada pemaksaan. Tidak ada istilah mereka tidak tahu atau kaget ketika dilaksanakan upacara Suddhi Wadani saat mereka menikah. Mereka sudah tahu dari awal. Dengan kata lain, selalu ada pilihan untuk melanjutkan hubungan atau tidak.

Begitu juga kalau ada perempuan Hindu yang memutuskan menikah dengan lelaki non-Hindu, mereka juga pasti sudah siap dengan konsekuensinya ketika sang calon suami memintanya untuk mengikuti agamanya. Karena mereka yakin, dalam satu kapal kurang baik kalau ada dua nakhoda. Kalau mereka merasa tidak siap, mereka pun tidak akan memaksakan diri dan memilih berpisah. Seperti contoh kasus kakak perempuan saya.

Begitu juga ketika lelaki Hindu memiliki pasangan non-Hindu, mereka akan meminta pasangannya untuk menganut agamanya, dan menjalani upacara Suddhi Wadani. Jadi, kami cukup fair, bukan?

Itu adalah kejadian pada umumnya. Dalam beberapa kasus, ada juga pasangan yang tetap menikah dengan mempertahankan agamanya masing-masing. Dalam kasus seperti ini tentu kedua belah pihak sudah memiliki tingkat kedewasaan yang tinggi, saling pengertian dan tingkat toleransi yang tinggi. Saya punya tetangga yang seperti ini. Mereka sudah menikah puluhan tahun dan tetap baik-baik saja. Dua-duanya guru besar di Unud. Saya cukup akrab dengan sang istri (yang muslim). Karena dari awal sudah dibicarakan, dan mereka sepakat, ke depannya mereka tidak pernah ada masalah. Dalam beberapa kesempatan dia menceritakan kebaikan suaminya yang tetap konsisten dengan perjanjian semula sebelum menikah yaitu tetap menganut agama masing-masing tanpa berusaha mengintimidasi satu sama lainnya. Begitu juga si istri, tidak berusaha mempengaruhi suaminya. Saya salut dan hormat kepada ibu profesor ini. Dia sangat bisa menempatkan diri. Kalau di daerah kami ada upacara adat (Hindu), dia menyesuaikan penampilannya dengan ikut mengenakan kebaya. Hal ini membuat kami tambah hormat.

KASUS LAIN.
Saya sudah terbiasa dengan lingkungan yang heterogen dan terbiasa hidup rukun dengan antar umat beragama dan saling menghargai. Dulu, ketika ayah mertua saya meninggal, kami didatangi oleh wakil dari komunitas muslim. Mereka ingin mengadakan tahlilan di rumah kami, di samping jenazah ayah mertua. Mereka ingin ikut mendoakan almarhum yang semasa hidupnya memang sangat dihormati dan disegani karena kebaikan dan kedermawanannya. Sebelum menjawab, keluarga besar kami mengadakan pertemuan untuk membahas permintaan tersebut. Akhirnya diputuskan kami menerima permintaan tersebut, dengan pertimbangan tujuan mereka baik yaitu mendoakan almarhum, walaupun dengan cara yang berbeda. Alhasil, selama tiga malam berturut-turut, berkumandanglah ayat-ayat tahlilan di rumah kami.

Di keluarga besar saya sendiri juga ada banyak agama. Semua agama ada. Selain Hindu, juga ada Katolik, Islam dan Budha. Lengkap banget 😀

KATOLIK
Ayah saya berasal dari keluarga besar, bersaudara 12 orang, 10 lelaki dan 2 perempuan. Ayah saya nomor empat. Paman yang pertama masuk Katolik ketika sedang kuliah di Cheko (dulu namanya masih Cheko) saat mendapat beasiswa (program Colombo Plan) dari pemerintah. Ditugaskan untuk belajar Roket dan Pancar Gas. Dari Cheko kemudian ke Jerman dan di sana sempat tinggal bersama Bapak Habibie di satu apartemen. Paman ini menikah dengan perempuan Cheko dan mempunyai seorang anak perempuan yang terlahir pada tahun yang sama dengan saya. Ketika tiba saatnya untuk pulang karena sudah dipanggil oleh pemerintah, Paman pun harus balik ke Indonesia. Sayangnya, si istri tidak diizinkan ikut ke Indonesia oleh orangtuanya karena dia satu-satunya anak yang masih ada setelah saudara laki-lakinyai meninggal dalam peperangan. Sementara Paman juga tidak mungkin menetap selamanya di sana. Tidak ada jalan lain, demi Negara, dengan mengorbankan perasaan dan meninggalkan istri serta anak tercinta, Paman kembali pulang memenuhi panggilan Negara. Sungguh pengorbanan yang tiada tara. Setelah menduda sekian tahun, Paman menikah lagi, dengan perempuan Katolik juga dan memiliki tiga orang anak. Artinya, saya punya sepupu Katolik dan kami tidak pernah merasa itu sebuah masalah. Kami saling menghormati.

ISLAM
1. Salah satu adik perempuan Ayah menikah dengan seorang muslim dari Banten. Dan atas kesadarannya ikut memeluk agama suaminya. Memiliki enam orang anak dan sampai kini hidup bahagia di Banten. Setiap ada upacara besar di Bali, selalu menyempatkan pulang dan mengikuti jalannya upacara. Sang suami tidak mempermasalahkan.

2. Salah satu adik sepupu saya, perempuan, (anak dari Paman nomor dua), yang dari kecil menetap di Jakarta, setelah dewasa memutuskan untuk memeluk Islam. Dia seorang presenter terkenal (saya tidak akan menyebut namanya di sini, takut dikira numpang tenar). 😉 Dia juga pernah mendapat beasiswa dari negara Amerika untuk mendalami ‘Human Trafficking’. Dia bahkan berjilbab. Bagi kami agama adalah hak asasi dan tidak boleh dipaksakan. Kami pun tidak berusaha mempengaruhinya karena dia merasa itulah yang terbaik bagi dia. Hubungan kami juga baik-baik saja.

3. Salah satu kakak ipar saya (perempuan) tadinya adalam muslim. Tapi karena menikah dengan lelaki Bali, dia pun menganut agama suaminya. Hubungannya dengan keluarga asalnya tetap harmonis dan saling mengunjungi. Tak pernah ada masalah sedikit pun yang berhubungan dengan agama.

4. Saya juga memiliki adik sepupu (perempuan) yang menikah dengan seorang lelaki muslim. Tetapi suaminya ini ingin memeluk Hindu sehingga dia pun menganut Hindu. Tidak ada paksaan sedikit pun. Mereka kini hidup bahagia dengan dua orang anak yang meningkat remaja.

BUDHA
1. Paman saya yang paling kecil menikah dengan perempuan Budha keturunan etnis Cina. Si istri kini memeluk Hindu. Sampai sekarang, sampai dikaruniai cucu mereka hidup bahagia dan tak pernah ada konflik sehubungan agama. Sekali pun sudah memeluk Hindu, tante saya ini masih tetap merayakan adat/budaya aslinya di etnis Cina. Paman tidak melarangnya.

2. Adik lelaki saya yang nomor empat juga menikah dengan perempuan keturunan etnis Cina yang tadinya beragama Budha. Setelah menikah jadi penganut Hindu yang taat tapi dengan tidak melupakan budaya aslinya. Kalau ada perayaan di rumah asalnya, misalnya tahun baru Cina, dia tetap pulang ikut merayakan bersama orang tuanya.

Jadi, sampai detik ini saya sungguh tidak mengerti kenapa ada keributan dan peperangan karena agama. Menurut saya yang awam ini, mestinya kita bisa hidup tenang berdampingan dengan antar umat beragama sepanjang kita saling menghargai, saling menghormati dan tidak melecehkan atau menghina ajaran agama lain. Saya merasa tidak perlu gembira atau bangga berlebihan bila ada non-Hindu yang masuk Hindu. Begitu juga sebaliknya, saya merasa tidak perlu sedih atau marah atau kecewa kalau ada saudara yang masuk ke agama lain karena sesuatu hal. Biasa saja. Saya tidak pernah menilai orang dari agamanya, tapi dari perilakunya. Saya juga yakin Tuhan tidak membeda-bedakan umatnya berdasarkan agamanya semata, melainkan berdasarkan perbuatannya. Bagi saya tidak ada agama yang mengajarkan kejahatan. Kalaupun ada oknum seperti itu, itu pasti karena mereka salah dalam menafsirkan ajaran agamanya. Bukan agamanya yang salah.

Apa yang kita dapatkan dengan ribut-ribut dan saling menghujat ajaran agama orang lain? *Masih bingung*

(Duh, tidak terasa, tulisan saya jadi panjang begini, postingan terpanjang yang pernah saya buat) 😀

Advertisements

6 thoughts on “Hidup rukun, apa susahnya, ya?

  1. Bagus banget tulisannya, Bu..very inspiring..Keluarga besar sy juga sangat beragam, ada muslim, Buddha, Kristen dan Katolik (belum tau ada yg Hindu apa tidak :D) Dan so far so good aja. Beberapa waktu lalu ada salah seorang kerabat yang meninggal dan dikremasi. Pada acara itu malah hampir semua anggota keluarga besar hadir. Tidak masalah juga untuk sy dan keluarga kecil sy datang, meskipun sy sendiri berjilbab. Benar-benar perwujudan toleransi yg sangat luar biasa. Bagaimanapun kami adalah keluarga. Agama apapun yang kami anut meskipun berbeda-beda, tidak membatasi kedekatan kami sebagai keluarga. 😀

    • Bener, Mbak. Mestinya agama tidak boleh memisahkan atau membatasi kita sebagai keluarga. Kita tetap bisa menjalankan agama kita tanpa dengan tetap menghargai dan menghormati agama yang lain. Bukankah demikian? 😀

  2. suka(k) banget dengan tulisan ini ! Bener banget Mbak Desak, keluarga tiang juga heterogen, dan bahkan keluarga yang non-hindu, jika ada upacara adat di rumah selalu tetap ikut berpatisipasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s