Burung Tekukur

23072013
23072013(001)

23072013(003)

23072013(002)

23072013(004)

Burung ini saya temukan di depan pintu gerbang pada suatu pagi. Udara masih lembab oleh sisa-sisa hujan deras semalaman. Waktu saya temukan, sayapnya terluka (saya duga kena tembak), bulunya banyak rontok dan tubuhnya menggigil kedinginan. Perkiraan saya, burung ini terdampar di depan pintu gerbang rumah saya karena tidak bisa terbang lagi.  Akibatnya, dia kehujanan semalaman karena tidak bisa bergerak mencari tempat berteduh.

Saya ambil dan berusaha merawat lukanya semaksimal mungkin. Beberapa hari kemudian, saya mencoba melepasnya ketika dia kelihatan sudah sehat. Tapi ternyata dia tetap tidak bisa terbang. Saya coba lagi beberapa kali, selalu jatuh kembali. Akhirnya, saya putuskan untuk memeliharanya.

Sekian bulan kemudian, dia terlepas dari sangkarnya, karena alas sangkarnya bergeser sehingga ada lubang yang cukup untuk dia keluar. Saya baru menyadarinya ketika hendak member makan. Sangkarnya kosong. Paniklah saya, karena saya tahu dia tidak bisa terbang. Bayangan terburuk saya adalah dia akan diterkam kucing atau anjing-anjing saya. Saya berusaha mencarinya ke seluruh pelosok halaman belakang yang cukup luas. Tidak ada. Mulai putus asa. Akhirnya, saya melihat dia di dahan pohon jepun (kamboja), nangkring di dahannya yang paling rendah. Saya berusaha menangkapnya, tidak bisa, dia terbang ke dahan yang lebih tinggi. Sangat jelas kentara, cara terbangnya pincang dan kelihatan berat. Karena tidak berhasil menangkapnya, akhirnya saya pasrah saja dan hanya bisa berdoa semoga dia tidak diterkam kucing tetangga yang sering berkeliaran di rumah atau jangan sampai tertangkap oleh anjing-anjing saya.

Beberapa hari setelahnya, saya melihat dia mulai berani turun ke tanah, berusaha mencari makan. Semenjak itu, saya selalu menaburkan jagung di halaman belakang, berharap saat dia turun, tidak kesulitan mencari makanan. Setelah saya perhatikan, ternyata dia tidak pergi jauh dari rumah. Paling jauh hanya sampai di atap rumah tetangga. Tentu saja, karena sayapnya yang cacat tidak memungkinkan dia untuk terbang jauh. Kasihan sekali. Setiap hari saya tidak pernah lupa ‘menyiapkan’ jagung di halaman. Untuk minum juga tidak masalah, karena di halaman belakang ada kolam kecil sehingga dia leluasa untuk minum.

Suatu hari saya melihatnya sedang nangkring di atas pot pohon Kamboja Jepang di tembok ‘Merajan’ dan kelihatan santai. Saya bergegas mengambil HP berniat untuk memotretnya. Kemudian pelan-pelan saya dekati dia. Tadinya saya pikir dia akan terbang, ternyata tidak. Saya maju lebih dekat lagi, dia tetap diam dan hanya melirik saya. Saya berhasil memotretnya dalam jarak yang cukup dekat. Hm, rupanya dia tidak takut saya akan menangkapnya. Tampaknya dia tahu saya tidak akan menyakitinya. Sampai sekian kali jepret dia tetap staycool. 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s