Archive | November 2013

Ibu yang fasih bercerita tentang Sabda Palon

Seharian ini saya berada di rumah ortu di Dalung untuk mengikuti acara ‘melaspas’ Merajan yang baru direnovasi. Setelah pemelaspasan, acara dilanjutkan dengan acara ‘mewinten’ yang diikuti oleh tiga saudara lak-laki saya beserta istri masing-masing (akan saya ceritakan dalam tulisan tersendiri nanti).

Setelah semua acara selesai, tibalah saat santai dan saya ngobrol-ngobrol ringan dengan Ibu. Ibu bertanya tentang buku-buku Sabda Palon (rupanya beliau mendengar dari adik-adik saya bahwa saya menjual buku-buku tersebut).

“Coba ceritakan tentang isi buku Sabda Palon itu. Gimana ceritanya? Sama ngga dengan yang Ibu tahu?”

“Sama, Bu. Isi buku ini diambil dari menjelang runtuhnya Majapahit.” Saya kemudian bercerita secara ringkas tentang buku Sabda Palon ini.

“Bukunya tebal, ya?”

“Tebal, Bu. Karena semua peristiwa selama rentang waktu itu diceritakan secara mendetail. Yang sudah terbit ada 3 jilid. Jilid keempat akan terbit akhir bulan ini.”

Ibu kemudian bercerita panjang lebar tentang kisah Sabda Palon. Wah, tidak saya sangka, Ibu begitu fasih dan tahu banyak tentang Sabda Palon. Saya serius mendengarkan sambil mencocokkan isi cerita Ibu dengan isi buku yang sudah saya baca. Sesekali saya nyeletuk, “Iya, Bu, di buku ini juga ada disebutkan tentang hal itu.”

Ibu tampaknya antusias sekali. Iya iya, tentu saja Ibu tahu banyak. Tampaknya kakek sering bercerita pada Ibu tentang kisah Sabda Palon. Saya tahu kakek punya banyak koleksi lontar yang mungkin saja di sana ada cerita tentang itu. Saya juga tahu di Merajan di kampung (rumah asal Ibu), dari belasan pelinggih yang ada, terdapat satu pelinggih ‘rong dua’ dan di sana yang distanakan adalah Betara ring Majapahit. Tidak heran kalau Ibu tahu banyak tentang masa-masa akhir Majapahit. Ibu kelihatan sedikit emosional saat bercerita tentang Raden Patah yang tega ‘menghukum’ ayahandanya.

Ibu juga sangat ingat dengan kalimat “tunggulah kedatanganku lima ratus tahun lagi” 🙂

Di akhir obrolan kami, saya berjanji akan membawakan beliau buku-buku Sabda Palon pada kunjungan saya berikutnya.

*Teriring doa semoga Ibu dan Ajik senantiasa diberi kesehatan dan ketenangan batin*

Advertisements