Baju Pinjaman

Kejadian ini sudah terjadi cukup lama. Ceritanya, sore itu saya ke warung sebelah rumah dengan niat untuk membeli kripik singkong (camilan favorit saya). Anak dari si pemilik warung ini membuka studio musik, jadi, warung ini sebenarnya lebih untuk anak-anak yang antri menunggu gilirannya menggunakan studio.
Begitu masuk ke warung itu, saya mendengar seorang anak berbisik pada temannya.

“Eh, ibunya Gayatri memakai baju anaknya!”

Jleb! Niatnya berbisik tapi suaranya terlalu keras untuk sebuah bisikan.
Saya langsung menoleh sumber suara itu. Terlihat sekelompok anak muda yang tampaknya sedang menunggu giliran untuk masuk studio. Saya memandang mereka dengan wajah datar, tanpa ekspresi sambil berkata dalam hati “berani-beraninya ngrasani orang tua yah!”
Seketika mereka terdiam begitu melihat mimik saya.

“Ci demen je ngomong, sing ngelah gae ci,” bisik salah seorang dari mereka sambil menyikut temennya yang bicara tadi.

“Cang be kisi-kisi, sanget munyin cang busan?” bisik anak itu.

“Sanget ajan, ci!”

Saya tak bicara sepatah kata pun, hanya menatap mereka dengan mimik wajah yang barangkali tampak ‘menyeramkan’ sampai-sampai mereka tak berkutik. Semua menunduk. Tanpa suara.
Iya, hari itu saya memang memakai T-Shirt anak saya. Baju kaosnya waktu SMP yang ada tulisan “Teater Panca.” Waktu SMP anak saya ikut ekstrakurikuler teater dan seperti pada umumnya, tiap-tiap ekstrakurikuler pasti punya kaos sendiri. Nah, berhubung baju itu nganggur dan masih bagus, udah gitu kainnya juga bagus, katun yang sejuk, nyaman di badan, yaa udah, saya pakai aja. Apalagi waktu itu sedang musim panas dan saya butuh kaos-kaos yang sejuk dan nyaman.

Rupanya beberapa di antara anak-anak tadi adalah alumni SMPN 5 yang mungkin ikut ekstra teater juga sehingga amat mengenali baju yang saya pakai. Masalahnya, kenapa mesti ngrasani orang di depan orangnya langsung? Ngga sopan banget kan? 😛

Untuk teman-temannya Gayatri yang kebetulan membaca ini, saya ‘peringatkan’ agar jangan kaget karena kami memang biasa saling tukar pakai baju dari T-Shirt sampai kebaya. So, kalau toh mau ngrasani, tunggulah sampai orangnya lenyap dari pandangan, OK? 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s