Archive | January 2014

Hukum karma pun berlaku di dunia hewan

Dulu, si Bingo sebagai pendatang baru, dia betul-betul ingin berkuasa dan berani mem-bully Shiro, si penghuni lama. Shiro yang pada dasarnya memang baik hati selalu mengalah. Makananya selalu direbut, dia diam. Tidurnya selalu diganggu, dia juga tidak berani galak. Bukan karena dia takut pada si Bingo, tapi karena nurut apa kata tuannya yang telah memerintahnya agar tidak galak pada si pendatang baru.

Akibatnya, si Bingo makin menjadi-jadi. Terkadang, sang majikan terpaksa mengevakuasi Shiro dan diajak masuk ke ruangan dalam. Sebab, selama dia masih di serambi belakang dia akan selalu jadi bulan-bulanan si Bingo seperti yg tampak pada video di bawah ini.

Nah, sekian bulan kemudian, ketika Shiro sudah meninggal, datang penghuni baru, namanya Lala. Si Lala ini sebenarnya anjing liar tak bertuan yang entah dibuang oleh siapa di depan rumah saya. Waktu itu dia masih keciiiil banget. Saya tak tega melihatnya di pinggir jalan, kelaparan, kehausan dan khawatir ketabrak mobil. Akhirnya, saya bawa masuk ke halaman belakang.

Apa yang terjadi? Ternyata kedatangan si Lala ini ada tujuannya, yaitu untuk memberi pelajaran kepada si Bingo yang dulu selalu mem-bully Shiro. Nah, sekarang gantian, si Lala yang sering mengganggu Bingo, tak pernah dikasih duduk tenang, persis seperti perlakuan yang diterima oleh Shiro dulu. Dan Bingo juga tidak berani terlalu keras pada ‘adiknya’ karena instruksi sang majikan adalah agar mengayomi yang lebih kecil. 🙂

Video di bawah ini hanyalah salah satu contoh bagaimana si Lala tidak membiarkan Bingo duduk santai.

Ternyata, hukum karma juga berlaku di dunia binatang. 😀

Advertisements

Mother, how are you today? (I miss you)

Lagu ini direkam minggu lalu dengan Samsung Galaxy, benar-benar perekam ala kadarnya.
Saya unggah segera sebelum file-nya hilang dan nyasar kemana-mana 😀

Power vokal masih kurang banget. Ngga apa-apa deh, sekadar untuk senang-senang aja.

Akhirnya, nyanyi lagi setelah bertahun-tahun ngga nyanyi 😀

Andaikan Kau Datang

Lagu ini direkam tahun 2007, saat sedang seneng-senengnya nyanyi dan main keyboard.  Ada beberapa lagu sebenarnya tapi baru ketemu satu file ini saja. Supaya ngga keburu hlang lagi, buruan deh di-upload. 🙂

Mohon dimaklumi kalau vokal dan power vokalnya kurang bagus. Sekadar untuk seneng-seneng aja 🙂

Bungan Sandat

Bungan Sandat, sebuah lagu pop Bali. Direkam dengan HP Samsung Galaxy

Musik pengiring: Keyboard Korg PA50

Pemain keyboard: Gayatri

Tanggal rekaman: 13 Januari 2014

Saya ingin ini, saya ingin itu, ingin ini-itu…

Renungan 2013 dan Harapan di tahun 2014

Hidup tak selalu indah, itu pasti…
Hidup tak selalu seperti yang diinginkan, itu pasti…
Hidup harus memilih, itu pasti…

right or wrongTerkadang kita menghadapi dilema, ketika apa yang kita pilih ternyata menyakitkan dan membuat orang terluka, maka, terjadilah kompromi-kompromi. Saya harus mengakui, kelemahan terbesar saya adalah tidak sanggup melihat orang terluka karena keputusan yang saya ambil. Akibatnya, saya pun sering mengalah. Artinya? Sering kali saya berada di pihak yang terluka karena ketidaksanggupan saya melihat orang lain yang menderita karena pilihan saya, walaupun keputusan itu secara umum adalah benar. Ini menyebabkan saya bimbang, benarkah keputusan yang saya ambil? Salahkah? Benarkah? Right? Wrong? Saya sering menyesali kelemahan saya ini, tapi apa hendak dikata?

Tidak apa, semua pasti ada hikmahnya karena Tuhan tak pernah tidur dan pasti ada sebuah rencana di sini. Saya percaya dengan sebuah skenario Tuhan. Saya yakin, hidup adalah menjalankan karma. (Seorang sahabat saya yang membaca ini bisa jadi menertawakan saya, menertawakan kebodohan saya karena dianggap terlalu mengagung-agungkan karma). 🙂 Tidak apa, sebisanya, dalam hidup ini saya berusaha berbuat baik, sedapat mungkin, berusaha tidak menyakiti makhluk lain, semaksimal mungkin. Walaupun usaha saya ini belum tentu selalu berhasil.

Beberapa teman yang cukup mengenal saya secara iseng bilang, “You’re really like an angel.” Saya jawab: “Eh, jangan salah, saya bisa jadi demon yang maha dahsyat, kalau kepepet.” 😀

Sekarang masalah pekerjaan.

Di tahun ini saya harus menata ulang cara kerja saya. Dua tahun terakhir ini saya tenggelam dan kejar-kejaran dengan deadline. Dan ini ada ‘bayarannya’. Saya harus meminggirkan atau mengabaikan hobi saya yang lain karena kejar-kejaran ini. Ini murni kesalahan saya yang barangkali tidak bisa mengatur waktu. Setiap orang mempunyai waktu yang sama, yaitu 24 jam dalam sehari. Lalu, kenapa saya selalu merasa kekurangan waktu? Berarti, masalah ada di saya, bukan? Bisa jadi saya terlalu gampang ‘terditraksi’ oleh sesuatu yang mestinya tidak perlu yang menyebabkan waktu saya terbuang. Di sini saya harus mengoreksi diri.

My Korg PA50Tahun ini saya berusaha menata waktu dengan lebih baik. Saya ingin punya waktu lagi untuk hobi yang lama dikesampingkan karena terdesak oleh ‘singa mati’. Saya ingin mengakrabi lagi keyboard/piano yang lama tak disentuh. Saya ingin menyanyi lagi. Dulu, sempat nyanyi (duet sama anak) di beberapa wedding dan di acara-acara tak resmi. Sekadar menyalurkan hobi dan just having fun.

Saya juga punya hutang baca beberapa buku yang belum sempat saya selesaikan tahun kemarin. Saya juga ingin menulis lebih banyak lagi. Untuk menyalurkan hobi menulis, selama ini saya hanya menulis di blog pribadi dan juga menulis beberapa cerpen (untuk konsumsi pribadi). Oh ya, saya juga punya obsesi untuk menulis sebuah buku. Entah kapan akan tercapai. Saya harus bisa membagi waktu dengan baik untuk semua hal tersebut. Tapi, porsi waktu terbanyak pastilah untuk menerjemah dengan tetap mempertimbangkan kemampuan diri dan ketercukupan waktu. Akhir bulan lalu saya melimpahkan satu materi terjemahan dari seorang yang telah menjadi klien tetap sejak sekian tahun lalu kepada seorang teman, karena saya sadar, waktu saya tak memungkinkan untuk itu.

Iya iya, saya benar-benar harus menata waktu dan menata diri dengan baik.

Saya ingin ini, saya ingin itu, saya ingin ini-itu…. (banyak amat sih yang diinginkan?) 😀

Sumber gambar: http://www.shutterstock.com/pic-82192213/stock-photo-wrong-or-right-dilemma-or-ethical-question-handwriting-on-colorful-sticky-notes.html

Berjibaku menghilangkan noda lunturan

Sabtu pagi kemarin, ketika saya sedang masak, anak saya tiba-tiba muncul di dapur dengan wajah panik dan agak pucat.

“Ibuu, seragamnya Ajung kena lunturan.”

“Kok bisa? Seragam yang mana?” (Saya tetap tenang dan tidak terbawa oleh sikap paniknya).

“Seragam putihnya kena lunturan celana jins.”

“Celana jins? Kok bisa? Emang Jung rendam bersamaan itu?”

“Iyaa, soalnya kemarin tuh tampaknya celana jins-nya ngga luntur.”

“Yaaa, ampunnn, kok mendadak bodoh sih? Jins dimana-mana juga pasti luntur apalagi baru dicuci pertama kali.” (Saya mulai agak kesal dengan kecerobohannya).

“Iyaa, ngga tahu juga kok kemarin Ajung rendam bersamaan sih.” (Dia menjawab dengan nada penuh penyesalan).

“Ya, udah, coba nanti Ibu yang nyuci, keras ngga kena lunturan?” (Maunya ngomel lagi tapi ngga tega juga melihat wajahnya yang memelas begitu).

“Yaaahh, lumayan sih, Bu, Ajung sudah coba nyuci tapi ngga mau hilang lunturannya.” (Oh, cuma ‘lumayan’, berarti tidak terlalu parah kondisinya).

“Iyah, nanti setelah selesai masak, biar Ibu yang nyuci.”

Walaupun anak tunggal, setelah cukup besar, saya melatih dia untuk terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga, misalnya nyuci, minimal untuk dirinya sendiri. Atau nyapu (minimal di kamarnya sendiri), begitu juga cuci piring. Masak pun dia sudah mulai bisa dikit-dikit. Kecuali dia sibuk sekali karena banyak tugas, saya yang mengambil alih pekerjaannya. Ini saya lakukan agar kelak, dia tidak canggung dengan berbagai jenis pekerjaan rumah tangga. Saat berumah tangga nanti, ada atau tidak ART, tidak akan menjadi masalah bagi dia. Kalau ada ART, dia akan lebih bisa menghargai pekerjaan orang karena sudah tahu rasanya mengambil pekerjaan tersebut. Kalau pun tidak ada ART, dia bisa menangani dan mengatur pekerjaannya.

Setelah selesai masak, saya langsung melihat cuciannya. Apa yang saya lihat benar-benar membuat kaget. Alamak! Ini sih bukan lagi seragam putih-putih, tapi seragam batik! Kain batik dengan warna dasar putih bercorak abstrak biru. Yaa, ampun. Saya hampir mau ngomel lagi, tapi segera sadar, walaupun ngomel tujuh hari tujuh malam, baju seragam ini tak akan mau berubah putih bersih. Saya hampir putus asa, sempat mikir lebih baik beli baju yang baru saja. Tapi detik itu juga saya sadar, bahwa itu tidak mungkin.

Baju seragam ini dibuat khusus dengan model yang dirancang khusus untuk kampusnya. Sudah tentu tidak ada yang menjual kecuali buat sendiri dan itu pasti memerlukan waktu (mesti beli kainnya dulu, trus ke penjahit). Lain halnya kalau ini hanya kemeja biasa atau seragam SMA/SMP, pasti dengan mudah bisa didapatkan di banyak toko. Mau bawa ke laundry, saya ragu hasilnya bisa bersih. Terakhir ke laundry (seragam putih juga), hasilnya sangat mengecewakan, noda-noda kotornya sama sekali tidak hilang. Masih utuh seperti sebelum dicuci, bagaimana pula kalau nodanya lunturan begini?

Tidak ada jalan lain, dengan bekal bayclin, saya melanjutkan mengucek-ucek baju itu. Kemudian merendamnya sebentar. Belum berhasil. Dikucek-kucek lagi. Direndam lagi. Begitu berulang-ulang, sambil menahan diri untuk tidak ngomel-ngomel. Belum lagi sorenya saya harus ke undangan sebuah acara adat. Jadi, cucian ini harus beres secepat mungkin.

Akhirnya, sekian menit kemudian… voila! Setelah melalui perjuangan yang cukup berat, saya berhasil mengembalikan warna putih seragam putih ini. Bersih dan putih sempurna! Ketika saya tunjukkan ke anak saya, dia tercengang dan takjub, “Kok bisa yaa?”

Tentu saja bisa, untung aja kamu punya emak ‘sakti’, Nak. *halah* Kalau ngga? Bisa-bisa kamu harus pakai baju seragam ‘batik’ Senin besok. 😉