Berjibaku menghilangkan noda lunturan

Sabtu pagi kemarin, ketika saya sedang masak, anak saya tiba-tiba muncul di dapur dengan wajah panik dan agak pucat.

“Ibuu, seragamnya Ajung kena lunturan.”

“Kok bisa? Seragam yang mana?” (Saya tetap tenang dan tidak terbawa oleh sikap paniknya).

“Seragam putihnya kena lunturan celana jins.”

“Celana jins? Kok bisa? Emang Jung rendam bersamaan itu?”

“Iyaa, soalnya kemarin tuh tampaknya celana jins-nya ngga luntur.”

“Yaaa, ampunnn, kok mendadak bodoh sih? Jins dimana-mana juga pasti luntur apalagi baru dicuci pertama kali.” (Saya mulai agak kesal dengan kecerobohannya).

“Iyaa, ngga tahu juga kok kemarin Ajung rendam bersamaan sih.” (Dia menjawab dengan nada penuh penyesalan).

“Ya, udah, coba nanti Ibu yang nyuci, keras ngga kena lunturan?” (Maunya ngomel lagi tapi ngga tega juga melihat wajahnya yang memelas begitu).

“Yaaahh, lumayan sih, Bu, Ajung sudah coba nyuci tapi ngga mau hilang lunturannya.” (Oh, cuma ‘lumayan’, berarti tidak terlalu parah kondisinya).

“Iyah, nanti setelah selesai masak, biar Ibu yang nyuci.”

Walaupun anak tunggal, setelah cukup besar, saya melatih dia untuk terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga, misalnya nyuci, minimal untuk dirinya sendiri. Atau nyapu (minimal di kamarnya sendiri), begitu juga cuci piring. Masak pun dia sudah mulai bisa dikit-dikit. Kecuali dia sibuk sekali karena banyak tugas, saya yang mengambil alih pekerjaannya. Ini saya lakukan agar kelak, dia tidak canggung dengan berbagai jenis pekerjaan rumah tangga. Saat berumah tangga nanti, ada atau tidak ART, tidak akan menjadi masalah bagi dia. Kalau ada ART, dia akan lebih bisa menghargai pekerjaan orang karena sudah tahu rasanya mengambil pekerjaan tersebut. Kalau pun tidak ada ART, dia bisa menangani dan mengatur pekerjaannya.

Setelah selesai masak, saya langsung melihat cuciannya. Apa yang saya lihat benar-benar membuat kaget. Alamak! Ini sih bukan lagi seragam putih-putih, tapi seragam batik! Kain batik dengan warna dasar putih bercorak abstrak biru. Yaa, ampun. Saya hampir mau ngomel lagi, tapi segera sadar, walaupun ngomel tujuh hari tujuh malam, baju seragam ini tak akan mau berubah putih bersih. Saya hampir putus asa, sempat mikir lebih baik beli baju yang baru saja. Tapi detik itu juga saya sadar, bahwa itu tidak mungkin.

Baju seragam ini dibuat khusus dengan model yang dirancang khusus untuk kampusnya. Sudah tentu tidak ada yang menjual kecuali buat sendiri dan itu pasti memerlukan waktu (mesti beli kainnya dulu, trus ke penjahit). Lain halnya kalau ini hanya kemeja biasa atau seragam SMA/SMP, pasti dengan mudah bisa didapatkan di banyak toko. Mau bawa ke laundry, saya ragu hasilnya bisa bersih. Terakhir ke laundry (seragam putih juga), hasilnya sangat mengecewakan, noda-noda kotornya sama sekali tidak hilang. Masih utuh seperti sebelum dicuci, bagaimana pula kalau nodanya lunturan begini?

Tidak ada jalan lain, dengan bekal bayclin, saya melanjutkan mengucek-ucek baju itu. Kemudian merendamnya sebentar. Belum berhasil. Dikucek-kucek lagi. Direndam lagi. Begitu berulang-ulang, sambil menahan diri untuk tidak ngomel-ngomel. Belum lagi sorenya saya harus ke undangan sebuah acara adat. Jadi, cucian ini harus beres secepat mungkin.

Akhirnya, sekian menit kemudian… voila! Setelah melalui perjuangan yang cukup berat, saya berhasil mengembalikan warna putih seragam putih ini. Bersih dan putih sempurna! Ketika saya tunjukkan ke anak saya, dia tercengang dan takjub, “Kok bisa yaa?”

Tentu saja bisa, untung aja kamu punya emak ‘sakti’, Nak. *halah* Kalau ngga? Bisa-bisa kamu harus pakai baju seragam ‘batik’ Senin besok. 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s