Archive | February 2014

Perjuangan berat untuk mendapatkan sekotak ‘terang bulan’

Sore itu, dalam perjalanan pulang setelah berkunjung ke rumah kakak, anak saya ingin membeli jajan terang bulan. Di sepanjang jalan Ahmad Yani yang biasanya bertaburan dagang terang bulan dan gorengan, sore itu mendadak susah dicari.

“Kalau lagi butuh, tak ada satu pun dagangnya. Kalau tak butuh, ‘mekacakan’ dagangnya.” Anak saya ngomel-ngomel sendiri karena sudah hampir mendekati belokan menuju rumah belum juga tampak dagang yang dicari.

Pas di depan Indomaret, tiba-tiba anak saya berseru, “Itu ada dagangnya, Bu!”
Benar, di areal parkir Indomaret tampak dagang ‘Terang Bulan’ yang sedang bersiap-siap. Kami langsung menuju ke sana.

Si dagang sedang menata dagangannya. “Tunggu sebentar, ya,” katanya. Kami mengangguk dan duduk di sebuah kursi kayu panjang sambil memperhatikan setiap gerakannya dan berharap agar dia segera membuatkan pesanan kami. Tapi apa yang terjadi? Gerakan bapak itu lambat banget. Sangat lambat malah. Mestinya kalau ada pembeli yang sudah menunggu dia harus lebih cepat bergerak agar si pembeli tak menunggu terlalu lama. Selain kami berdua, ternyata sudah ada juga pembeli lain yang menunggu. Duapuluh menit berlalu dan belum ada tanda-tanda pesanan kami akan dibuat. Si dagang masih sibuk menata ini-itu. Menata barang-barang di mejanya, menata cabe hijau, menata telor dan sebagainya dengan gerakan lambat. Super lambat! Anak saya mulai tak sabar. Ponsel di tangannya mulai tak menarik lagi, yang tadinya dia pakai mainan. Dia duduk gelisah di kursinya dengan kesal.

“Dagang apaan nih, lambat banget pelayanannya!”

“Gimana kalau kita pulang aja?” tawar saya.

“Pulang?! Setelah menunggu lebih dari setengah jam, kita pulang dengan tangan hampa?” jeritnya tertahan.

“Ya, sudah, kalau gitu tunggu aja sampai dia selesai bersiap-siap,” jawab saya santai, karena memang tak ada yang bisa dilakukan lagi. Untuk membuang rasa jemu saya mengalihkan perhatian ke keramaian jalan A.Yani sambil bersenandung kecil.

“Eh, Bu, dia sudah menghidupkan kompor,” kata anak saya dengan nada senang. Oh, berarti pesanan kami siap dibuat.
Tapi beberapa detik kemudian anak saya menjerit tertahan. Kekesalannya jelas terlihat.

“Kenapa lagi??” saya bertanya heran.

“Gasnya habisssss!”

“Oh….”

Kemudian anak saya menunjuk ke si bapak yang menenteng tabung gas ukuran 3 kg yang hendak menyeberang untuk membeli gas. Kebetulan di seberang ada mini market yang juga menjual gas. Saya tersenyum masam.

“Sebeeeeellllllll!” anak saya melampiaskan kekesalannya dengan memukul-mukul bahu saya, walaupun tak keras. Beberapa menit kemudian si bapak menyeberang kembali dengan tabung gas baru di tangannya.

“Tuh, udah dateng dia, bentar lagi jadi kok pesanannya,” kata saya. Anak saya diam. Saya kembali mengalihkan pandangan ke jalan raya. Masih tetap dengan bersenandung kecil. Entah berapa menit berlalu ketika anak saya menjerit kesal lagi. Menjerit pelan tentu saja.

“Ibuuuuuuuu!”

“Apa lagi?”

“Pak dagang masuk ke dalam sana dengan membawa baskom. Udah sekian menit lalu tapi belum balik lagi!” Anak saya menunjuk ke arah dalam Indomaret.

“Oh, tampaknya dia perlu air tuh. Tunggu aja,” kata saya dengan tenang. Kemudian, secara tiba-tiba muncul pikiran jahil di kepala.

“Eh, jangan-jangan dia mengambil air di toiletnya Indomaret, yaa.”

“Apaaaa?” anak saya menjerit lagi. “Jadi, adonannya dibuat dengan air dari toilet??”

“Iyaa, ada kemungkinan kan?”

Anak saya tampak bimbang dan bingung. Saya cepat-cepat menyambung omongan saya.
“Ah, ngga juga, kok. Mungkin ada kran air PAM di dalam sana, di dapurnya Indomaret.” Ini asli saya ngasal, ngga tahu apakah emang ada dapur di dalam sana. 😀

Tak lama kemudian, muncullah bapak itu dengan sebaskom air. Masih dengan gerakan lambat dia menyiapkan segala sesuatunya untuk membuat ‘terang bulan.’ Jelas terlihat dia tidak berusaha untuk mempercepat gerakannya. Dia tak peduli dengan calon pembeli yang sudah menunggu dari tadi dengan gelisah. Sikapnya seolah-olah berbicara: “Kalau loe mau beli, ya, tunggu aja kapan gue siap, kalau ngga mau nunggu, ya, pulang sono!”

Tiba-tiba anak saya berkata.

“Lihat, Bu, ada tulisan di dahinya!” katanya dengan kesal.

“Tulisan apa??” tanya saya heran.

“‘Tabok gue dong!’”

“Hah?!”

“Iyaaa, beda banget sama A’a yang jualan di Cokroaminoto, yang di punggungnya juga ada tulisan.”

“Tulisan apa??”

“‘Peluk gue dong…’”

“Hahhh?”

Saya setengah mati menahan tawa agar tak meledak.
(Siapa yang dimaksud dengan “a’a yang di Cokroaminoto” itu? Nanti saya akan tulis dalam postingan tersendiri). 😀

Akhirnyaaaa, sekotak ‘terang bulan’ bisa kami bawa pulang setelah melalui perjuangan yang berat.

“Coba dari awal dia bilang bahwa kita akan menunggu lama, kita kan bisa mengambil keputusan. Mau nunggu atau ngga usah beli. Kalau gini caranya, itu namanya dia memaksa kita untuk menunggu.” Anak saya masih ngomel. Rupanya dia masih tidak puas dengan sikap dagang itu.

“Ya, sudah, toh sekarang ‘terang bulan’ sudah di tangan, ngga usah dipikir lagi.”

Saya senyam-senyum sendiri setiap teringat kejadian tersebut.

Advertisements

Ajaran yang harus direvisi

“Ibu mau ke pasar?” tanya anak saya ketika dilihatnya saya siap-siap hendak ke pasar.

“Iya, ikut?”

“Ikuuuttt!” serunya.

“Ayooo.”

Dia selalu suka kalau diajak ke pasar yang jarang-jarang bisa dikunjunginya. Pasar tradisional yang akan kami tuju hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumah saya. Pasar ini amat bersih dan beberapa kali mendapat perhatian dan bantuan dari Pemkot karena kebersihannya. Kami menyusuri lorong-lorong pasar yang hari itu tampak tidak begitu ramai. Tiba-tiba anak saya yang berada di belakang saya berteriak tertahan.

“Aduh, Ibuuuu!”

Saya kaget dan seketika membalikkan badan. “Kenapaaa??”

“Mau copot jantungnya Ajung!” katanya, wajahnya agak pucat memutih.

“Tapi, kenapaaaa?”

Saya tidak melihat ada yang aneh. Hanya kedua tangannya mendekap dadanya. Saking penasarannya, saya memperhatikannya dengan saksama. Dia tampak baik-baik saja. Tadinya saya pikir dia terluka kena gores apa, gitu. Tapi dia masih belum bisa bicara. Saya bergeser agak ke pinggir supaya tidak mengganggu lalu-lalang orang. Karena saya tidak menemukan sesuatu yang aneh pada dirinya, saya diam, menatapnya dan menunggu penjelasannya.

Beberapa saat kemudian dia berkata dengan suara pelan.

“Ajung membunuh sesuatu… Ajung menginjaknya sampai mati, Ajung tidak bisa menghindar.” Kedua tangannya masih tetap di dadanya.

“Membunuh apaaa?”

“Kecoa.”

Ya, ampunnn! Saya hampir tertawa, tapi melihat raut wajahnya yang tampak prihatin, saya hanya tersenyum, tidak jadi tertawa dan bertanya untuk menunjukkan empati belaka, “Kok bisa?”

“Ajung betul-betul tidak bisa menghindar, Bu, kakinya Ajung sudah melayang, sudah terayun melangkah, tiba-tiba kecoa itu datang dan diam persis di bawah telapak kakinya Ajung. Yah, Ajung ngga bisa lagi mengangkat kaki yang sudah siap dijejakkan itu,” jelasnya panjang lebar.

“Ya, sudah, jangan dipikirkan lagi. Sudah takdirnya dia mati seperti itu, mungkin sorganya dia ada di bawah telapak kaki Ajung,” canda saya untuk menghiburnya.

Tapi di luar itu ada yang menjadi pikiran saya. Saya jadi berpikir jangan-jangan ada yang salah dengan ‘ajaran’ saya selama ini. Memang dari dulu, dari semenjak dia mengerti, saya sering menekankan bahwa kita tidak boleh menyakiti makhluk apa pun. Tak saya sangka, ajaran ini menjadi ‘bumerang’. Dia selalu merasa bersalah setiap merasa menyakiti atau membunuh makhluk hidup tertentu. Padahal memang ada beberapa makhluk yang harus dibunuh demi keselamatan manusia.

Yah, ini PR bagi saya untuk meluruskan ‘ajaran’ lama yang ‘kurang bener’ itu.

Sebuah episode kehidupan

Hari itu saya kedatangan seorang gadis belia yang manis, namanya Vivi. Kulitnya putih bersih, perawakannya mungil, tidak terlalu tinggi. Usianya setahun di atas usia anak saya.

Dia datang ke rumah saya disuruh oleh kakeknya untuk membawa file yang harus saya edit. Perkenalan saya dengan gadis ini berawal dari kakeknya (saya sebut saja namanya SA) yang mantan Ketua Pengadilan Tinggi di beberapa daerah. Setelah pensiun dia membuka biro konsultan hukum bersama anak perempuannya, sebut saja namanya AF (ibu dari si Vivi). Saya dengan AF juga dikenalkan oleh Pak SA. Saat itu Pak SA sedang menangani beberapa kasus. Sebagai pembela untuk beberapa kasus, dia harus membuat beberapa pledoi. Anak buahnya sudah mengetik draft pledoi tersebut tapi ternyata banyak salah tik. Entah siapa yang memberi tahu yang jelas Pak SA sampai di rumah saya dan minta tolong untuk mengedit dan merapikan naskah tersebut. Sejak itu dia sering berhubungan dengan saya, kemudian saya dikenalkan dengan putrinya, AF ini.

Singkat cerita, karena sering kontak dan ketemu, saya pun jadi cukup akrab dengan Bu AF. Orangnya ramah dan ceria, banyak tertawa. Dari Bu AF inilah saya jadi tahu banyak tentang situasi di pengadilan dan proses peradilan. Wawasan saya tentang dunia hukum makin bertambah karena dia juga sering mengajak saya ngobrol-ngobrol tentang materi kuliahnya ketika dia masih kuliah mengambil Master Hukum di Unud. Dari pengamatan saya, kasus terbanyak yang ditangani oleh Bu AF adalah kasus perceraian. Beda dengan bapaknya yang lebih banyak menangani kasus sengketa tanah dan politik.

Walaupun saya cukup akrab dengan Bu AF, tapi keakraban kami tidak sampai membicarakan hal-hal yang amat pribadi seperti masalah dalam pernikahan, misalnya. Begitu juga saya yang tak pernah bercerita masalah pribadi. Selalu ada banyak hal yang bisa kami jadikan topik pembicaraan setiap kami ketemu dan selalu ada bahan yang membuat kami tertawa. Semuanya di luar masalah pribadi.

Setelah gadis itu menyerahkan file dan menyampaikan pesan kakeknya, saya berbasa-basi sejenak,  menanyakan kabar mamanya.

“Mama apa kabar, Vi? Lama Mama ngga mampir ke sini, titip salam ya. Kangen lama ngga ngobrol.”

“Mama sekarang tinggal di rumah suami barunya, tante. Ngga sama Vivi lagi. Vivi masih tinggal di rumah kakek.”

“Oh!”

Mendengar  jawaban Vivi seperti itu saya agak kaget dan tidak tahu mesti berkata apa.  Vivi masih berdiri di depan saya. Wajahnya setengah menunduk mempermainkan HP. Raut wajahnya kelihatan datar, hampir tanpa ekspresi bahkan terkesan dingin dan cuek. Sebagai seorang ibu saya bisa melihat ada ekspresi terluka di wajahnya yang berusaha ditutupi dengan sikap cuek. Entah kenapa, saya tiba-tiba merasa sangat sedih melihat gadis ini.

Setelah berhasil menguasai diri saya segera mengalihkan pembicaraan.

“Vivi kuliah di mana? Kaya’nya lama deh tante ngga lihat Vivi. Terakhir ketemu waktu Vivi baru selesai UAN.”

“Vivi kuliah di Fak. Hukum, tante.”

“Wah, sama dong dengan Mama. Mau mengikuti jejak Mama yaa?” balas saya sambil tersenyum.

Sebelum sempat menjawab pertanyaan saya, HP-nya berdering. Dia langsung menjawab panggilan telpon itu.

Haloo… iya, Oom. Iya iya. Iyaaa.  Ini masih di temennya Mama, Oom. Iyaaa.

“Dari suaminya Mama,” katanya tanpa saya bertanya. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. Walau demikian dia berusaha ramah dengan saya.

Oh. Oom? Dia memanggil papa barunya dengan sebutan ‘Oom’, bukannya papa?

Saya menarik napas panjang menahan rasa perih membayangkan perasaan anak ini. Atau, saya yang lebay?

Setelah urusannya selesai dengan saya, dia langsung pamit.

“Salam untuk adik ya, tante,” dia berusaha tersenyum sebelum pergi meninggalkan saya.

Adik yang dia maksud adalah anak saya. Sebelum ini mereka memang sempat bertemu dan beberapa kali ngobrol.

“Makasih, Vivi,” saya mengantarnya sampai ke pintu depan.

*Inilah hidup*