Perjuangan berat untuk mendapatkan sekotak ‘terang bulan’

Sore itu, dalam perjalanan pulang setelah berkunjung ke rumah kakak, anak saya ingin membeli jajan terang bulan. Di sepanjang jalan Ahmad Yani yang biasanya bertaburan dagang terang bulan dan gorengan, sore itu mendadak susah dicari.

“Kalau lagi butuh, tak ada satu pun dagangnya. Kalau tak butuh, ‘mekacakan’ dagangnya.” Anak saya ngomel-ngomel sendiri karena sudah hampir mendekati belokan menuju rumah belum juga tampak dagang yang dicari.

Pas di depan Indomaret, tiba-tiba anak saya berseru, “Itu ada dagangnya, Bu!”
Benar, di areal parkir Indomaret tampak dagang ‘Terang Bulan’ yang sedang bersiap-siap. Kami langsung menuju ke sana.

Si dagang sedang menata dagangannya. “Tunggu sebentar, ya,” katanya. Kami mengangguk dan duduk di sebuah kursi kayu panjang sambil memperhatikan setiap gerakannya dan berharap agar dia segera membuatkan pesanan kami. Tapi apa yang terjadi? Gerakan bapak itu lambat banget. Sangat lambat malah. Mestinya kalau ada pembeli yang sudah menunggu dia harus lebih cepat bergerak agar si pembeli tak menunggu terlalu lama. Selain kami berdua, ternyata sudah ada juga pembeli lain yang menunggu. Duapuluh menit berlalu dan belum ada tanda-tanda pesanan kami akan dibuat. Si dagang masih sibuk menata ini-itu. Menata barang-barang di mejanya, menata cabe hijau, menata telor dan sebagainya dengan gerakan lambat. Super lambat! Anak saya mulai tak sabar. Ponsel di tangannya mulai tak menarik lagi, yang tadinya dia pakai mainan. Dia duduk gelisah di kursinya dengan kesal.

“Dagang apaan nih, lambat banget pelayanannya!”

“Gimana kalau kita pulang aja?” tawar saya.

“Pulang?! Setelah menunggu lebih dari setengah jam, kita pulang dengan tangan hampa?” jeritnya tertahan.

“Ya, sudah, kalau gitu tunggu aja sampai dia selesai bersiap-siap,” jawab saya santai, karena memang tak ada yang bisa dilakukan lagi. Untuk membuang rasa jemu saya mengalihkan perhatian ke keramaian jalan A.Yani sambil bersenandung kecil.

“Eh, Bu, dia sudah menghidupkan kompor,” kata anak saya dengan nada senang. Oh, berarti pesanan kami siap dibuat.
Tapi beberapa detik kemudian anak saya menjerit tertahan. Kekesalannya jelas terlihat.

“Kenapa lagi??” saya bertanya heran.

“Gasnya habisssss!”

“Oh….”

Kemudian anak saya menunjuk ke si bapak yang menenteng tabung gas ukuran 3 kg yang hendak menyeberang untuk membeli gas. Kebetulan di seberang ada mini market yang juga menjual gas. Saya tersenyum masam.

“Sebeeeeellllllll!” anak saya melampiaskan kekesalannya dengan memukul-mukul bahu saya, walaupun tak keras. Beberapa menit kemudian si bapak menyeberang kembali dengan tabung gas baru di tangannya.

“Tuh, udah dateng dia, bentar lagi jadi kok pesanannya,” kata saya. Anak saya diam. Saya kembali mengalihkan pandangan ke jalan raya. Masih tetap dengan bersenandung kecil. Entah berapa menit berlalu ketika anak saya menjerit kesal lagi. Menjerit pelan tentu saja.

“Ibuuuuuuuu!”

“Apa lagi?”

“Pak dagang masuk ke dalam sana dengan membawa baskom. Udah sekian menit lalu tapi belum balik lagi!” Anak saya menunjuk ke arah dalam Indomaret.

“Oh, tampaknya dia perlu air tuh. Tunggu aja,” kata saya dengan tenang. Kemudian, secara tiba-tiba muncul pikiran jahil di kepala.

“Eh, jangan-jangan dia mengambil air di toiletnya Indomaret, yaa.”

“Apaaaa?” anak saya menjerit lagi. “Jadi, adonannya dibuat dengan air dari toilet??”

“Iyaa, ada kemungkinan kan?”

Anak saya tampak bimbang dan bingung. Saya cepat-cepat menyambung omongan saya.
“Ah, ngga juga, kok. Mungkin ada kran air PAM di dalam sana, di dapurnya Indomaret.” Ini asli saya ngasal, ngga tahu apakah emang ada dapur di dalam sana. 😀

Tak lama kemudian, muncullah bapak itu dengan sebaskom air. Masih dengan gerakan lambat dia menyiapkan segala sesuatunya untuk membuat ‘terang bulan.’ Jelas terlihat dia tidak berusaha untuk mempercepat gerakannya. Dia tak peduli dengan calon pembeli yang sudah menunggu dari tadi dengan gelisah. Sikapnya seolah-olah berbicara: “Kalau loe mau beli, ya, tunggu aja kapan gue siap, kalau ngga mau nunggu, ya, pulang sono!”

Tiba-tiba anak saya berkata.

“Lihat, Bu, ada tulisan di dahinya!” katanya dengan kesal.

“Tulisan apa??” tanya saya heran.

“‘Tabok gue dong!’”

“Hah?!”

“Iyaaa, beda banget sama A’a yang jualan di Cokroaminoto, yang di punggungnya juga ada tulisan.”

“Tulisan apa??”

“‘Peluk gue dong…’”

“Hahhh?”

Saya setengah mati menahan tawa agar tak meledak.
(Siapa yang dimaksud dengan “a’a yang di Cokroaminoto” itu? Nanti saya akan tulis dalam postingan tersendiri). 😀

Akhirnyaaaa, sekotak ‘terang bulan’ bisa kami bawa pulang setelah melalui perjuangan yang berat.

“Coba dari awal dia bilang bahwa kita akan menunggu lama, kita kan bisa mengambil keputusan. Mau nunggu atau ngga usah beli. Kalau gini caranya, itu namanya dia memaksa kita untuk menunggu.” Anak saya masih ngomel. Rupanya dia masih tidak puas dengan sikap dagang itu.

“Ya, sudah, toh sekarang ‘terang bulan’ sudah di tangan, ngga usah dipikir lagi.”

Saya senyam-senyum sendiri setiap teringat kejadian tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s