Archive | May 2014

Belajar dari pengalaman

Akhirnya, hanya ada dua capres dengan cawapresnya masing-masing yang siap bertarung di ajang pilpres  Juli nanti. Tentu dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kita tahu persis tidak ada manusia yang sempurna, begitu juga dengan kedua capres ini. Menurut saya yang awam ini keduanya memiliki peluang yang sama, fifty-fifty. Bagi saya yang rakyat jelata, siapa pun yang terpilih sebagai presiden nanti harapan saya semoga sang terpilih mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik dari saat ini. Dalam segala hal.

Mau bagaimana lagi? Suka tidak suka, salah satunya akan menjadi presiden kita.

Mungkin banyak yang kecewa karena capres A yang tadinya diidolakan ternyata memilih cawapres yang tak diinginkannya. Banyak juga yang kecewa bahkan ilfil karena capres B yang tadinya amat dijagokan ternyata berkoalisi dengan partai-partai yang membuat kecewa. Yah, keinginan kita memang tak selalu terkabul seperti apa yang kita inginkan.

Besar harapan saya semoga kedua capres (plus pendukungnya masing-masing) menyadari sepenuhnya bahwa ini adalah sebuah kompetisi. Dan sebagaimana layaknya sebuah kompetisi pastilah ada yang menang dan ada yang kalah. Tidak mungkin semuanya menjadi pemenang. Siapa pun yang kalah nanti agar bisa menerima dengan jiwa besar dan mengakui kemenangan rivalnya. Begitu juga siapa pun yang menang agar rendah hati dan tetap menghargai rivalnya, tidak seketika sombong dan bersikap merendahkan rivalnya.

Khusus untuk semeton ring Bali, mari kita berkaca pada pilpres tahun 1999 silam ketika terjadi amuk massa karena capres yang dijagokannya tidak terpilih. Jangan sampai hal itu terulang kembali. Kita tentu sangat ingat bagaimana kerusuhan terjadi, tepatnya tanggal 21 Oktober 1999, terjadi amuk massa di beberapa daerah di Bali yaitu Buleleng, Badung, Denpasar, Jembrana dan Tabanan. Pemicunya adalah massa pendukung sang capres yang kecewa karena calonnya tidak terpilih.

Saat itu Bali sempat lumpuh total. Beberapa gedung pemerintah diamuk dan dibakar massa. Pohon-pohon besar perindang jalan ditebang untuk menutup jalanan. Ban-ban bekas dibakar di tengah jalan. Kerusuhan terparah terjadi di Pusat Pemerintahan (Puspem) Kabupaten Badung yang terletak di daerah Lumintang. Hampir semua gedung perkantoran di Puspem ini terbakar hangus. Rumah saya yang jaraknya tak terlalu jauh dari puspem ini merasa cukup tegang dan berdoa semoga kerusuhan tak semakin menjalar. Orang tua dan saudara-saudara saya, juga kakak-kakak ipar menelpon saya dan menanyakan keadaan saya. Mereka wajar amat khawatir karena lokasi kerusuhan cukup dekat dan peristiwa kerusuhan 1998 di Jakarta belum hilang dari ingatan.

Waktu itu anak saya masih duduk di TK Besar. Saya baru saja sampai di rumah sepulang dari sekolahnya ketika kerusuhan meledak. Saat itu tempat kerja suami saya di daerah Tuban. Begitu mendengar kerusuhan, suami dan teman-temannya pulang lebih cepat. Karena jalan-jalan utama diblokir oleh pelaku kerusuhan dengan menumbangkan pepohonan besar dan membakar ban-ban bekas, suami berusaha mencari jalan-jalan tikus (jalan-jalan kecil) untuk sampai di rumah. Hari itu suasana amat mencekam. Tapi syukurlah kerusuhan tak sampai menyerang penduduk sipil.

Saya sangat berharap dalam pilpres mendatang semoga semeton Bali tidak lagi melakukan tindakan “bunuh diri” seperti itu seandainya kandidatnya tidak terpilih. Bukankah itu sama dengan merusak rumah sendiri? Yang rugi siapa? Kita juga kan? Mari bersatu padu untuk menjaga Bali agar tetap aman dan terhindar dari kerusuhan dan tindakan anarkis lainnya. Mari berdoa, agar siapa pun yang terpilih nanti benar-benar menjalankan pemerintahan dengan sebaik-baiknya sehingga tidak mengecewakan banyak pihak.

Semoga segala kebaikan datang dari segala arah. Semoga damai senantiasa. Astungkara.

 

Advertisements

Memasuki dasa warsa kedua

Ibu dan Ajung baju kembarSulit dipercaya bahwa besok, 21 Mei 2014, yang bertepatan dengan Hari Raya Galungan, makhluk mungil di sebelah saya ini genap berusia dua puluh tahun. Dua puluh tahun! Rasanya baru kemarin saya menimangnya, menyusuinya sambil menyanyikan lagu Nina Bobok atau Putri Cening Ayu.

Baru kemarin rasanya saya mendongeng untuknya sebagai pengantar tidurnya, setiap malam. Dan baru kemarin rasanya saya mendengar suara tawanya yang terpingkal-pingkal karena menertawakan dongeng saya yang tidak nyambung. Iya, beberapa kali ketika saya mendongeng, saya kecapekan dan keburu ngantuk. Sedangkan dia, setiap selesai satu dongeng selalu minta lagi, lagi dan lagi. “Lagi, Buu, dongeng yang lain.”

Ajung (1 tahun)Karena kelewat ngantuk saya jatuh tertidur sementara si anak yang didongengi masih segar-bugar. Nah, ketika saya tak sadarkan diri (karena tertidur), rupanya ada “kesadaran” lain yang mengambil alih kesadaran saya dan melanjutkan dongengnya. Tapi, cerita dongengnya sudah tak sinkron lagi dengan cerita semula. Yang semula saya mendongeng tentang “I Belog” entah bagaimana, saat saya tertidur tokoh dalam dongeng berubah menjadi “Ikan Paus.” Hal ini tentu saja membuat si anak heran kemudian tertawa terpingkal-pingkal. Katanya, “Buu, dari mana datangnya Ikan Paus?” Dan, saya pun tersadar setelah mendengar suaranya yang ditingkahi oleh tawa kerasnya. Hal itu sering terjadi. Bukan sekali dua kali.

Anak ini dari kecil sudah mempunyai sifat jahil. Ketika duduk di bangku TK, dia beberapa kali ngerjain saya. Bayangkan, seorang anak TK bisa ngerjain emaknya? Kasihan banget emaknya!

Ceritanya, saat itu saya mengenalkan beberapa suku kata untuk membentuk sebuah kata. Kata-kata yang sederhana yaitu benda-benda yang ada di sekitarnya atau benda-benda yang sering dipakai mainan atau pun bagian dari tubuhnya. Misalnya, bo-la, ba-ju, ka-ki, ku-ku dan lainnya. Awalnya dia menjawab dengan tepat. Bo-la dibaca bola, ba-ju dibaca baju dan seterusnya. Tapi entah kenapa, beberapa saat kemudian ketika saya mengulangi lagi, “bo-la” dibaca “suli.” Saya heran, saya ulangi lagi, tetap saja dia jawab “suli”.

“Kok jadi ‘suli’? Boo-laa jadinya apa, sayang?”

“Suli!” jawabnya yakin. Setelah sekian kali, saya menatapnya dengan heran. Tiba-tiba dia tertawa ngakak, terpingkal-pingkal, keras sekali. Dia memandang saya dengan pandangan jahil dan penuh kemenangan. Ya, ampun! Dia ngerjain saya! Dan itu bukan yang terakhir!

Saya juga masih menyimpan surat-surat cinta yang dia tulis untuk saya sejak dia baru bisa menulis. Dia sering mengungkapkan rasa sayangnya, rasa cintanya pada saya di selembar kertas atau di sesobek kertas dan ditulis tangan lengkap dengan gambar jantung. Tentu saja sebagian tulisannya masih seperti cakar bebek, eh, cakar ayam. 😀

Dan, si jahil itu kini sudah hampir dewasa. Sifat jahilnya terbawa sampai sekarang.

Saya bahagia bisa menyaksikan pertumbuhannya detik demi detik. Dari bayi merah, anak-anak, dan kini jadi gadis remaja menjelang dewasa. Bisa dikatakan saya selalu ada untuknya, 24/7, karena begitu ia terlahir saya memutuskan untuk tetap berada di sisinya. Artinya, saya menghentikan semua kegiatan di luar rumah. Saya yang terbiasa bekerja sejak masih kuliah sampai menjelang saat-saat kelahirannya, dengan sadar memutuskan untuk merawat dan mengasuhnya sendiri karena saya tak tega meninggalkannya. Kebetulan suami juga menginginkan hal yang sama.

Karena saya selalu ada di sisinya setiap saat, dia tidak membutuhkan susu formula. Saya memberinya ASI eksklusif sampai dia berusia 3 tahun. Ekstra eksklusif? 😀  Namun masalah timbul ketika saya ingin menyapihnya. Berbagai cara saya coba tapi gagal. Saya memang tidak mau memakai cara yang keras atau main paksa. Saya pikir, karena dia sudah cukup mengerti (sudah masuk Play Group) saya yakin dia bisa dikasih pengertian. Akhirnya, saya bekerja sama dengan gurunya. Suatu hari di tengah kelas gurunya bertanya siapa yang masih menyusu dari ibunya.  Kalau ada disuruh angkat tangan. Tidak ada yang mengaku. Kemudian gurunya secara halus memberi tahu bahwa mereka sudah besar dan harus berhenti menyusu.  Sejak itu dia tidak mau lagi menyusu. Program sapih pun sukses tanpa harus main paksa. 😀

Kini usianya sudah kepala dua. Sebentar lagi dia akan menjadi wanita dewasa. Sebentar lagi dia akan mempunyai kehidupan sendiri. Tapi, ada yang aneh. Kenapa emaknya tak pernah merasa tua? Itu masalah lain. 😉

Akhirnya, selamat ulang tahun, sayang. Semoga segala kebaikan selalu menyertaimu. Kau tahu betapa ibumu ini menyayangimu lebih dari apa pun. ❤

 

Pizza Bayam Keju Ramah Deadline

Selviya Hanna

C360_2014-05-04-11-41-53-466

Baca judulnya saja mungkin sudah bertanya-tanya, apa yang dimaksud dengan “ramah deadline”?

Sederhana, ini resep pizza yang pembuatannya tidak makan waktu lama dan tidak “buang-buang” tenaga karena pizza spesial ini tidak perlu diuleni. Tahu sendiri, kan, susahnya ulen-mengulen itu bagi newbie di dapur seperti saya. Dulu saya pernah nekad menguleni adonan roti kentang, dan butuh jam-jaman baru adonannya kalis. Meskipun hasilnya bisa dibilang gemilang dan suami rekues lagi, saya ogah memenuhi keinginannya karena gak kuat bok, keringat rasanya membanjir dari semua pori-pori. *Membayangkannya saja malas*

Akan tetapi, saat menerjemahkan artikel tentang Italia beberapa hari lalu, saya jadi kepingin bikin pizza (padahal di artikel sama sekali tidak disinggung tentang pizza, lho!). Sekitar bulan lalu saya pernah bikin pizza jagung manis dan tomat yang sausnya bikin sendiri *bangga*. Tapi, base rotinya beli yang instan di Superindo :p Namanya beli instan ya, pasti kurang memenuhi harapan. Rotinya kelewat garing dan menjurus keras…

View original post 648 more words