Memasuki dasa warsa kedua

Ibu dan Ajung baju kembarSulit dipercaya bahwa besok, 21 Mei 2014, yang bertepatan dengan Hari Raya Galungan, makhluk mungil di sebelah saya ini genap berusia dua puluh tahun. Dua puluh tahun! Rasanya baru kemarin saya menimangnya, menyusuinya sambil menyanyikan lagu Nina Bobok atau Putri Cening Ayu.

Baru kemarin rasanya saya mendongeng untuknya sebagai pengantar tidurnya, setiap malam. Dan baru kemarin rasanya saya mendengar suara tawanya yang terpingkal-pingkal karena menertawakan dongeng saya yang tidak nyambung. Iya, beberapa kali ketika saya mendongeng, saya kecapekan dan keburu ngantuk. Sedangkan dia, setiap selesai satu dongeng selalu minta lagi, lagi dan lagi. “Lagi, Buu, dongeng yang lain.”

Ajung (1 tahun)Karena kelewat ngantuk saya jatuh tertidur sementara si anak yang didongengi masih segar-bugar. Nah, ketika saya tak sadarkan diri (karena tertidur), rupanya ada “kesadaran” lain yang mengambil alih kesadaran saya dan melanjutkan dongengnya. Tapi, cerita dongengnya sudah tak sinkron lagi dengan cerita semula. Yang semula saya mendongeng tentang “I Belog” entah bagaimana, saat saya tertidur tokoh dalam dongeng berubah menjadi “Ikan Paus.” Hal ini tentu saja membuat si anak heran kemudian tertawa terpingkal-pingkal. Katanya, “Buu, dari mana datangnya Ikan Paus?” Dan, saya pun tersadar setelah mendengar suaranya yang ditingkahi oleh tawa kerasnya. Hal itu sering terjadi. Bukan sekali dua kali.

Anak ini dari kecil sudah mempunyai sifat jahil. Ketika duduk di bangku TK, dia beberapa kali ngerjain saya. Bayangkan, seorang anak TK bisa ngerjain emaknya? Kasihan banget emaknya!

Ceritanya, saat itu saya mengenalkan beberapa suku kata untuk membentuk sebuah kata. Kata-kata yang sederhana yaitu benda-benda yang ada di sekitarnya atau benda-benda yang sering dipakai mainan atau pun bagian dari tubuhnya. Misalnya, bo-la, ba-ju, ka-ki, ku-ku dan lainnya. Awalnya dia menjawab dengan tepat. Bo-la dibaca bola, ba-ju dibaca baju dan seterusnya. Tapi entah kenapa, beberapa saat kemudian ketika saya mengulangi lagi, “bo-la” dibaca “suli.” Saya heran, saya ulangi lagi, tetap saja dia jawab “suli”.

“Kok jadi ‘suli’? Boo-laa jadinya apa, sayang?”

“Suli!” jawabnya yakin. Setelah sekian kali, saya menatapnya dengan heran. Tiba-tiba dia tertawa ngakak, terpingkal-pingkal, keras sekali. Dia memandang saya dengan pandangan jahil dan penuh kemenangan. Ya, ampun! Dia ngerjain saya! Dan itu bukan yang terakhir!

Saya juga masih menyimpan surat-surat cinta yang dia tulis untuk saya sejak dia baru bisa menulis. Dia sering mengungkapkan rasa sayangnya, rasa cintanya pada saya di selembar kertas atau di sesobek kertas dan ditulis tangan lengkap dengan gambar jantung. Tentu saja sebagian tulisannya masih seperti cakar bebek, eh, cakar ayam. 😀

Dan, si jahil itu kini sudah hampir dewasa. Sifat jahilnya terbawa sampai sekarang.

Saya bahagia bisa menyaksikan pertumbuhannya detik demi detik. Dari bayi merah, anak-anak, dan kini jadi gadis remaja menjelang dewasa. Bisa dikatakan saya selalu ada untuknya, 24/7, karena begitu ia terlahir saya memutuskan untuk tetap berada di sisinya. Artinya, saya menghentikan semua kegiatan di luar rumah. Saya yang terbiasa bekerja sejak masih kuliah sampai menjelang saat-saat kelahirannya, dengan sadar memutuskan untuk merawat dan mengasuhnya sendiri karena saya tak tega meninggalkannya. Kebetulan suami juga menginginkan hal yang sama.

Karena saya selalu ada di sisinya setiap saat, dia tidak membutuhkan susu formula. Saya memberinya ASI eksklusif sampai dia berusia 3 tahun. Ekstra eksklusif? 😀  Namun masalah timbul ketika saya ingin menyapihnya. Berbagai cara saya coba tapi gagal. Saya memang tidak mau memakai cara yang keras atau main paksa. Saya pikir, karena dia sudah cukup mengerti (sudah masuk Play Group) saya yakin dia bisa dikasih pengertian. Akhirnya, saya bekerja sama dengan gurunya. Suatu hari di tengah kelas gurunya bertanya siapa yang masih menyusu dari ibunya.  Kalau ada disuruh angkat tangan. Tidak ada yang mengaku. Kemudian gurunya secara halus memberi tahu bahwa mereka sudah besar dan harus berhenti menyusu.  Sejak itu dia tidak mau lagi menyusu. Program sapih pun sukses tanpa harus main paksa. 😀

Kini usianya sudah kepala dua. Sebentar lagi dia akan menjadi wanita dewasa. Sebentar lagi dia akan mempunyai kehidupan sendiri. Tapi, ada yang aneh. Kenapa emaknya tak pernah merasa tua? Itu masalah lain. 😉

Akhirnya, selamat ulang tahun, sayang. Semoga segala kebaikan selalu menyertaimu. Kau tahu betapa ibumu ini menyayangimu lebih dari apa pun. ❤

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s