Archive | June 2014

Pilpres, oh, pilpres

Misalnya saya memilih Prabowo-Hatta apakah itu lantas membuat saya tiba-tiba jadi penjahat di mata teman-teman yang mendukung Jokowi-JK? Atau di mata kaum golput? Apakah itu artinya saya sama sekali tidak tahu makna pemimpin? Di mana letak kejahatan saya? Apakah karena menurut sebagian orang Prabowo itu “penjahat HAM” sehingga saya pun ikut jadi penjahat? Kalau benar dia penjahat, kenapa KPU meloloskannya menjadi salah satu kandidat? Kalau benar demikian kenapa Ibu Megawati menjadikan Prabowo sebagai cawapresnya saat pilpres tahun 2009? Kenapa Ibu Megawati yang amat konsen dengan masalah HAM sudi bercawapreskan Prabowo yang “penjahat HAM?”

Kalau benar demikian kenapa Prabowo tidak diseret ke pengadilan? Kalau ada bukti-bukti yang demikian kuat apa susahnya menyeretnya ke pengadilan?

Sedangkan seorang Tommy Soeharto yang putra kesayangan Soeharto saja bisa diseret ke pengadilan dan bahkan dikirim ke Nusa Kambangan, lalu kenapa tidak bisa menyeret Prabowo yang hanya (mantan) menantu Soeharto, kalau memang ada bukti kuat untuk itu? Apa mungkin ada pihak-pihak atau kelompok-kelompok tertentu yang tidak ingin masalah tersebut terbuka jelas di mata publik dan sengaja membiarkannya mengambang seperti ini untuk memanfaatkan ketidaktahuan publik?

Rasa pertemanan dan persahabatan saya tak pernah berubah terhadap teman-teman yang mendukunng Jokowi-JK atau pun yang memilih golput. Saya amat amat menghargai dan menghormati sikap mereka yang pasti sudah dipikirkannya dengan matang. Saya tak pernah sedikit pun berusaha memengaruhi atau memberi pandangan saya pada mereka karena saya yakin mereka sudah dewasa dan ini masalah kata hati dan nurani yang tidak bisa dipaksakan. Saya amat menghargai perbedaan karena sadar sepenuhnya dunia ini tak bisa diseragamkan.

Saya cukup sedih ketika seorang sahabat yang amat saya percayai dan hormati memborbardir saya dengan menunjukkan segala “kejahatan” Prabowo yang tentu saja masih “katanya” karena kita tidak tahu persis kejadian yang sebenarnya. Saya akan menganggap biasa-biasa saja kalau ia hanya sekadar meng-copy-paste link-link yang memuat berita kejahatan Prabowo. Saya masih menganggap itu sebatas kampanye (hitam). Tapi yang membuat sedih ketika ada kata-katanya yang menyinggung perasaan dan mengarah ke pribadi saya.

Saya berusaha tak terpancing dan tak ingin berdebat karena lebih menghargai hubungan persahabatan dan juga sadar tak ada gunanya mendebatkan hal itu. Saya masih bisa menjawabnya dengan penuh senyum walaupun dalam hati sedih.

Tapi hal ini kemudian membuat saya berpikir, kalau benar pilihan saya itu adalah sebuah kejahatan, siapa sebenarnya yang paling jahat? Siapa yang menyediakan pilihan ini? KPU, bukan? Apakah KPU sebodoh itu sehingga meloloskan orang jahat menjadi salah satu kandidat? Menurut saya pribadi, kedua kandidat sama-sama hebat dan sama-sama punya peluang. Sama-sama punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi berhubung tidak boleh memilih keduanya, maka saya harus memilih salah satu dari mereka. Saya telah menetapkan pilihan sejak awal tapi tak pernah bermaksud ikut kampanye.

Dalam keluarga besar saya sendiri pun pilihannya tidak sama. Bahkan ada seorang ipar yang menjadi tim sukses Jokowi-JK dan amat dekat dengan elit partai pengusung pasangan ini. Tidak ada masalah. Biasa-biasa saja. Sama sekali tidak mengganggu hubungan kekerabatan.

Bagi saya, siapa pun yang terpilih dari kedua pasangan ini, memang itulah yang terbaik bagi Indonesia saat ini.

Saya bingung kalau ada orang yang ngenyek pilihan orang lain, sementara pilihan-pilihan itu sah adanya. Apa coba untungnya menyakiti perasaan teman hanya karena perbedaan pilihan?

*asli bingung*

Advertisements