Archive | August 2014

Suasana di sebuah acara pernikahan

Beberapa hari yang lalu saya menghadiri upacara pernikahan salah satu keponakan perempuan saya. Acara dilakukan di rumah mempelai pria yang terletak di daerah Sanur.

Kami disambut oleh tuan rumah dengan amat ramah dan hangat. Setelah menikmati minuman dan jajanan, beberapa saat kemudian acara puncak dimulai yang dilaksanakan di natar Merajan. Saya mengikuti setiap acara dengan serius. Di sebelah kanan saya berdiri seorang ibu berbaju biru yang juga memperhatikan dengan saksama setiap langkah upacara tersebut. Kadang ibu ini memberi pengarahan apa-apa langkah berikutnya. Tampaknya dia salah satu “tetua” di keluarga ini. Di sebelah kiri saya berdiri anak saya yang juga mengikuti semua acara dengan serius. .

Sesekali saya juga ngobrol dengan ibu ini. Rupanya dia sudah tahu bahwa saya adalah tante dari si pengantin wanita. Tiba-tiba dia berbisik.

“Siapa yang berdiri di sebelah Ibu?”

“Oh, anak saya, Bu.”

“Hm, sudah punya pacar?” bisiknya lagi.

“Belum,” jawab saya sambil tersenyum. Teringat anak saya sampai detik ini memang belum punya niat untuk pacaran. Masih ingin fokus di kuliahnya.

“Tyang “ngamprah”, nggih,” katanya masih berbisik.

Saya tak bisa menjawab, saya pikir dia pasti hanya bercanda. Saya pun hanya bisa menjawab dengan senyum. 

“Saya serius, Bu,” lanjutnya. “Saya mau kenalkan dengan keponakan saya, namanya Gung Ngurah, itu orangnya.” Dia menunjuk seorang pemuda berwajah kalem yang sedang sibuk dengan kamera DSLR-nya.  “Mudah-mudahan berjodoh,” sambungnya penuh harap sambil tersenyum manis.

Kemudian si ibu ini bercerita sedikit tentang si pemuda yang kini bekerja di Jakarta. Menceritakan kebaikan-kebaikannya, tentu saja. 

“Orangnya baik banget, Bu, patuh dan hormat pada orangtua.”

Hm, promosi yang menarik. 😉

Saya memperhatikan si pemuda yang masih sibuk memotret kedua pengantin yang sedang mengikuti ritual “Widhi Widana.” Berperawakan sedang dengan wajah yang  tenang.  

Setelah itu saya kembali mengalihkan perhatian kepada kedua pengantin yang saat itu sedang melakukan ritual “masak-masakan” dengan mengikuti arahan dari para tetua.

Tiba-tiba ibu di sebelah saya menggamit lengan saya.

“Bu, lihat ke depan, kita dipotret oleh Gung Ngurah,” serunya. Jelas terlihat si ibu ini amat bangga pada keponakannya.

Tepat saat saya memandang ke depan, pemuda itu sedang membidikkan lensanya ke arah kami. Klik. 

Wah, boleh juga nih jadi calon menantu. Tampaknya sih emang baik orangnya, semoga berjodoh. Lho?  Hehehe. 😀

Tapi sejujurnya, kalau soal pasangan hidup saya serahkan sepenuhnya kepada si anak. Saya tak mungkin memaksanya dengan pilihan saya. Yang bisa saya lakukan hanyalah memberi petuah, nasehat dan masukan demi masa depannya dan tentu saja akan melakukan “screening” untuk  bakal calon pendamping hidupnya. Bila perlu saya akan jadi agen spionase untuk menyelidiki sang bakal calon. 😀

Advertisements

Megedong-gedongan

Kemarin, Minggu, tanggal 10 Agustus, saya menghadiri upacara adat “Megedong-gedongan” untuk yang ke sekian kalinya. Sang calon ibu adalah mantu-ponakan (istri dari keponakan saya). Ini adalah kehamilan pertamanya yang ditunggu-tunggunya cukup lama.

Megedong-gedongan adalah suatu ritual untuk ibu hamil, pada saat  kehamilan sudah memasuki usia kurang lebih tujuh bulan. Ritual ini dilakukan di halaman Merajan (di ajeng Betara-Betari/ Leluhur) dengan permohonan khusus agar proses kelahiran nanti berlangsung lancar tanpa hambatan dan sang ibu serta bayinya berada dalam keadaan sehat, selamat tak kurang suatu apa pun.

Salah satu sesi yang paling menarik dalam acara ini adalah ketika sang calon ayah menusuk sebuah bungkusan cukup besar dengan bambu runcing. Bungkusan itu terbuat dari daun talas dan di dalamnya berisi air plus beberapa ekor ikan dan belut. Setelah ditusuk, bila yang keluar/jatuh pertama kali adalah ikan, maka diyakini sang bayi yang terlahir nanti adalah perempuan. Bila yang keluar adalah belut, maka dipercaya jenis kelamin sang bayi  yang terlahir adalah laki-laki.

Dan, saat itu ketika sang calon ayah menusuk bungkusan itu, yang keluar pertama adalah belut. Maka, menurut kepercayaan, mestinya sang bayi yang terlahir nanti berjenis kelamin laki-laki

Oh, ya, upacara ini agak terlambat dilaksanakan (usia kehamilan sudah lebih dari tujuh bulan), sebab kami harus menunggu selesainya masa  “cuntaka”  karena kami baru selesai melaksanakan upacara pelebon/ngaben ibu mertua saya. Dua belas hari setelah upacara ngaben, barulah “cuntaka” berakhir dan upacara ini baru bisa digelar.

Dan, saat itu ketika sang calon ayah menusuk bungkusan tersebut, yang keluar pertama adalah belut. Maka, menurut kepercayaan, mestinya sang bayi yang terlahir nanti berjenis kelamin laki-laki. Selama ini dari sekian kali saya menyaksikan upacara Megedong-gedongan, jenis kelamin bayi yang terlahir selalu sesuai dengan “ramalan” saat pelaksanaan Megedong-gedongan. Apakah kali ini akan sesuai juga? Mari kita tunggu hasilnya.

Tapi di atas segala-galanya, yang kami mohonkan adalah keselamatan sang ibu dan bayinya. Apa pun jenis kelaminnya, yang penting mereka selamat dan sehat lahir-batin. 

“Meceki”

Masih seputar cerita selama berada di kampung.

Sebelum hari H atau puncak pelaksanaan upacara ngaben ada beberapa ritual yang harus dilakukan. Di sela-sela ritual tersebut ada juga waktu-waktu kosong sambil menunggu acara berikutnya. Tak dipungkiri dalam acara adat seperti ini memang banyak menguras energi dan harus pandai-pandai memanfaatkan waktu luang untuk istirahat dan menyegarkan otak.

IMG_0016Ada berbagai cara yang dipakai untuk mengisi waktu luang sambil mengendorkan urat saraf. Salah satunya adalah “meceki” bagi orang yang bisa meceki. Mereka bilang permainan ini amat efektif untuk mengendorkan urat saraf yang tegang akibat kelelahan atau karena sering begadang.

Saya yang tidak bisa meceki hanya bisa jadi penonton. Kakak-kakak ipar membujuk saya agar ikut main dan mau belajar tapi saya benar-benar tidak mengerti. Saya sama sekali tak kebayang cara memainkannya.

“Gampang kok, tidak lebih susah dari menerjemahkan novel,” gurau salah satunya.

“Aduh, susah amat tampaknya, melihat macam-macam rupa kartu itu aja udah bikin bingung,” jawab saya.

“Ah, itu kan karena memang tidak ingin belajar,” jawabnya lagi.

Saya hanya bisa tersenyum karena terus-terang saya memang tak tertarik untuk meceki.

Tiba-tiba anak saya berseru.

“Ajung mau ikut, kaya’nya ini menyenangkan deh. Tapi ajarin,yaa!”

Tak sangka anak saya tertarik dan ingin belajar. Dengan senang hati kakak ipar mengajarinya. Pertama dia dikenalkan dengan nama-nama kartu itu dan aturan mainnya. Setelah sedikit mengerti dia langsung ikut main, tentu awalnya dengan didampingi gurunya.

IMG_0015Ternyata, oh, ternyata, anak saya bisa dengan cepat menyerap pelajarannya. Dengan segera dia bisa main dan itu membuatnya “bangga.” Dengan cepat dia mengerti istilah “mecari,” “soca” dan “ngandang.” Dan entah apalagi. Dia begitu senang karena dalam beberapa kali perputaran dia keluar sebagai pemenangnya. Sebagai pemain anyar tentu saja hal itu membuatnya senang.

Ketika saya memotret dan merekam permainan mereka anak saya berujar dengan kocaknya, “Jangan direkam, Ibuu, jangaaan, nanti Ajung digerebek polisi!”

Lebay nian nih anak. 😀

 

NB: Artikel ini juga dijadikan status di FB, 8 Agustus 2014

Bukan air mata buaya

Roaming! Mungkin ini istilah yang cukup tepat untuk menggambarkan pikiran saya ketika baru balik ke Denpasar setelah cukup lama berada di kampung. Pagi-pagi ketika baru bangun saya sempat blank dan bertanya-tanya saya ada di mana.

Kalau di kampung, saat baru bangun dan membuka mata, pandangan langsung tertuju ke jendela karena kebetulan tempat tidurnya menghadap jendela. Sedangkan di Denpasar, ketika baru bangun pandangan langsung jatuh ke lemari pakaian. Hal itu sempat membuat saya terdiam sejenak dan menyadar-nyadarkan diri bahwa saya ada di rumah di Denpasar.

Ada-ada saja. 😀

Saya berada di kampung cukup lama dalam rangka persiapan upacara ngaben sampai selesai pelaksanaannya. Ada banyak rangkaian ritual sebelum acara puncak pelebon atau ngaben. Dalam rangkaian ritual tersebut, ada peristiwa lucu terjadi pada saya, tepatnya, agak “memalukan.”

Ceritanya, hari itu ada ritual “Narpana” yang bertepatan dengan hari Tilem (bulan mati). Saat itu ada tiga orang yang “ngaturang” kidung/kekawin (macapat?) mengiringi ritual. Kebetulan saya yang mendampingi mereka (satu bapak dan dua orang ibu-ibu). Sesi kidung pertama dibawakan oleh salah satu ibu dan uraiannya (penjelasan isi kidung) dibawakan oleh si bapak. Ibu yang satu lagi duduk berdampingan dengan saya menunggu gilirannya.

Suara sang pelantun kidung itu benar-benar merdu dan bikin merinding. Saya mendengarkan dan menikmati kidung mereka plus uraiannya yang disampaikan oleh si bapak dalam Bahasa Bali halus.
Tapi sayangnya, walaupun saya menikmati alunan kidung tersebut, kantuk tetap menyerang. Memang selama di kampung jam tidur saya amat pendek, tak lebih dari dari 3-4 jam sehari. Saya berusaha setengah mati menahan kantuk dan berusaha jangan sampai menguap. Saya berhasil menahan diri untuk tidak menguap tetapi akibatnya air mata saya bercucuran karena menahan kantuk yang amat sangat.

Tentu saya ingin segera menghapus air mata yang berurai sebelum terlihat oleh para pelantun kidung terutama oleh ibu yang duduk di samping saya. Karena tidak membawa tisu, saya meraih ujung selendang yang saya pakai untuk menghapus air mata saya.

Sialnya, tepat saat saya mengangkat ujung selendang dan menghapus air mata, sang ibu di dekat saya menoleh. Saya tak bisa membatalkan gerakan saya. Si ibu menatap saya dengan heran kemudian tersenyum. Saya tahu dia melihat mata saya yang memerah dengan air mata yang bercucuran. Duh, apa yang harus saya katakan? Malu nian, sungguh!

Tiba-tiba ibu itu berkata sambil tetap tersenyum.

“Cerita kidungnya memang sedih, pasti terbawa perasaan, nggih? Tyang juga sering nangis kalau mendengar kekawin yang isinya mengharukan.”
Oh! Dia mengira saya benar-benar menangis karena isi kidungitu. Memang is kidung yang dilantunkan mereka bercerita tentang kesedihan Dewi Uttari ketika mendengar Abimanyu gugur di medan Kurusetra karena dikeroyok oleh pasukan Kurawa.

Saya bersyukur sangat mengenal kisah ini sehingga saya bisa “nyambung” dengan pembicaraan si ibu. Saya pun terlibat diskusi kecil dengan ibu itu membahas isi kidung. Saya terpaksa mengakui bahwa saya memang “nangis” karena kisah itu. Sebab sungguh tidak mungkin kalau saya bilang bahwa air mata ini keluar karena ngantuk yang amat sangat. Entahlah, apakah si ibu berkata jujur atau hanya kasihan agar saya tak salah tingkah?

Tapi yang jelas, itu bukan air mata buaya. 😉