Bukan air mata buaya

Roaming! Mungkin ini istilah yang cukup tepat untuk menggambarkan pikiran saya ketika baru balik ke Denpasar setelah cukup lama berada di kampung. Pagi-pagi ketika baru bangun saya sempat blank dan bertanya-tanya saya ada di mana.

Kalau di kampung, saat baru bangun dan membuka mata, pandangan langsung tertuju ke jendela karena kebetulan tempat tidurnya menghadap jendela. Sedangkan di Denpasar, ketika baru bangun pandangan langsung jatuh ke lemari pakaian. Hal itu sempat membuat saya terdiam sejenak dan menyadar-nyadarkan diri bahwa saya ada di rumah di Denpasar.

Ada-ada saja. 😀

Saya berada di kampung cukup lama dalam rangka persiapan upacara ngaben sampai selesai pelaksanaannya. Ada banyak rangkaian ritual sebelum acara puncak pelebon atau ngaben. Dalam rangkaian ritual tersebut, ada peristiwa lucu terjadi pada saya, tepatnya, agak “memalukan.”

Ceritanya, hari itu ada ritual “Narpana” yang bertepatan dengan hari Tilem (bulan mati). Saat itu ada tiga orang yang “ngaturang” kidung/kekawin (macapat?) mengiringi ritual. Kebetulan saya yang mendampingi mereka (satu bapak dan dua orang ibu-ibu). Sesi kidung pertama dibawakan oleh salah satu ibu dan uraiannya (penjelasan isi kidung) dibawakan oleh si bapak. Ibu yang satu lagi duduk berdampingan dengan saya menunggu gilirannya.

Suara sang pelantun kidung itu benar-benar merdu dan bikin merinding. Saya mendengarkan dan menikmati kidung mereka plus uraiannya yang disampaikan oleh si bapak dalam Bahasa Bali halus.
Tapi sayangnya, walaupun saya menikmati alunan kidung tersebut, kantuk tetap menyerang. Memang selama di kampung jam tidur saya amat pendek, tak lebih dari dari 3-4 jam sehari. Saya berusaha setengah mati menahan kantuk dan berusaha jangan sampai menguap. Saya berhasil menahan diri untuk tidak menguap tetapi akibatnya air mata saya bercucuran karena menahan kantuk yang amat sangat.

Tentu saya ingin segera menghapus air mata yang berurai sebelum terlihat oleh para pelantun kidung terutama oleh ibu yang duduk di samping saya. Karena tidak membawa tisu, saya meraih ujung selendang yang saya pakai untuk menghapus air mata saya.

Sialnya, tepat saat saya mengangkat ujung selendang dan menghapus air mata, sang ibu di dekat saya menoleh. Saya tak bisa membatalkan gerakan saya. Si ibu menatap saya dengan heran kemudian tersenyum. Saya tahu dia melihat mata saya yang memerah dengan air mata yang bercucuran. Duh, apa yang harus saya katakan? Malu nian, sungguh!

Tiba-tiba ibu itu berkata sambil tetap tersenyum.

“Cerita kidungnya memang sedih, pasti terbawa perasaan, nggih? Tyang juga sering nangis kalau mendengar kekawin yang isinya mengharukan.”
Oh! Dia mengira saya benar-benar menangis karena isi kidungitu. Memang is kidung yang dilantunkan mereka bercerita tentang kesedihan Dewi Uttari ketika mendengar Abimanyu gugur di medan Kurusetra karena dikeroyok oleh pasukan Kurawa.

Saya bersyukur sangat mengenal kisah ini sehingga saya bisa “nyambung” dengan pembicaraan si ibu. Saya pun terlibat diskusi kecil dengan ibu itu membahas isi kidung. Saya terpaksa mengakui bahwa saya memang “nangis” karena kisah itu. Sebab sungguh tidak mungkin kalau saya bilang bahwa air mata ini keluar karena ngantuk yang amat sangat. Entahlah, apakah si ibu berkata jujur atau hanya kasihan agar saya tak salah tingkah?

Tapi yang jelas, itu bukan air mata buaya. 😉

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s