Suasana di sebuah acara pernikahan

Beberapa hari yang lalu saya menghadiri upacara pernikahan salah satu keponakan perempuan saya. Acara dilakukan di rumah mempelai pria yang terletak di daerah Sanur.

Kami disambut oleh tuan rumah dengan amat ramah dan hangat. Setelah menikmati minuman dan jajanan, beberapa saat kemudian acara puncak dimulai yang dilaksanakan di natar Merajan. Saya mengikuti setiap acara dengan serius. Di sebelah kanan saya berdiri seorang ibu berbaju biru yang juga memperhatikan dengan saksama setiap langkah upacara tersebut. Kadang ibu ini memberi pengarahan apa-apa langkah berikutnya. Tampaknya dia salah satu “tetua” di keluarga ini. Di sebelah kiri saya berdiri anak saya yang juga mengikuti semua acara dengan serius. .

Sesekali saya juga ngobrol dengan ibu ini. Rupanya dia sudah tahu bahwa saya adalah tante dari si pengantin wanita. Tiba-tiba dia berbisik.

“Siapa yang berdiri di sebelah Ibu?”

“Oh, anak saya, Bu.”

“Hm, sudah punya pacar?” bisiknya lagi.

“Belum,” jawab saya sambil tersenyum. Teringat anak saya sampai detik ini memang belum punya niat untuk pacaran. Masih ingin fokus di kuliahnya.

“Tyang “ngamprah”, nggih,” katanya masih berbisik.

Saya tak bisa menjawab, saya pikir dia pasti hanya bercanda. Saya pun hanya bisa menjawab dengan senyum. 

“Saya serius, Bu,” lanjutnya. “Saya mau kenalkan dengan keponakan saya, namanya Gung Ngurah, itu orangnya.” Dia menunjuk seorang pemuda berwajah kalem yang sedang sibuk dengan kamera DSLR-nya.  “Mudah-mudahan berjodoh,” sambungnya penuh harap sambil tersenyum manis.

Kemudian si ibu ini bercerita sedikit tentang si pemuda yang kini bekerja di Jakarta. Menceritakan kebaikan-kebaikannya, tentu saja. 

“Orangnya baik banget, Bu, patuh dan hormat pada orangtua.”

Hm, promosi yang menarik. 😉

Saya memperhatikan si pemuda yang masih sibuk memotret kedua pengantin yang sedang mengikuti ritual “Widhi Widana.” Berperawakan sedang dengan wajah yang  tenang.  

Setelah itu saya kembali mengalihkan perhatian kepada kedua pengantin yang saat itu sedang melakukan ritual “masak-masakan” dengan mengikuti arahan dari para tetua.

Tiba-tiba ibu di sebelah saya menggamit lengan saya.

“Bu, lihat ke depan, kita dipotret oleh Gung Ngurah,” serunya. Jelas terlihat si ibu ini amat bangga pada keponakannya.

Tepat saat saya memandang ke depan, pemuda itu sedang membidikkan lensanya ke arah kami. Klik. 

Wah, boleh juga nih jadi calon menantu. Tampaknya sih emang baik orangnya, semoga berjodoh. Lho?  Hehehe. 😀

Tapi sejujurnya, kalau soal pasangan hidup saya serahkan sepenuhnya kepada si anak. Saya tak mungkin memaksanya dengan pilihan saya. Yang bisa saya lakukan hanyalah memberi petuah, nasehat dan masukan demi masa depannya dan tentu saja akan melakukan “screening” untuk  bakal calon pendamping hidupnya. Bila perlu saya akan jadi agen spionase untuk menyelidiki sang bakal calon. 😀

Advertisements

2 thoughts on “Suasana di sebuah acara pernikahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s