Gembel teriak gembel

Sejak masuk SD anak saya sudah terbiasa menceritakan kejadian apa pun yang dialaminya di sekolah. Apakah kejadian itu menyangkut dirinya atau kejadian yang menimpa teman-temannya, dia selalu cerita. Entah ada temennya yang berantem, entah ada teman yang dimarahi guru, entah ada teman yang mengejeknya, semua dia ceritakan. Apakah itu tentang guru-gurunya, sifat dan sikap guru-gurunya, semua dia ceritakan. Saking mendetailnya dia cerita, saya sampai merasa ada di TKP, saya sampai merasa mengenal mereka semua. Kebiasaanya yang selalu bercerita apa saja, membuat saya mengenal hampir semua teman-teman dekatnya.

Dari apa yang diceritakannya, saya bisa mengetahui situasi di sekolahnya. Kalau saya merasa ada situasi yang berbahaya, saya akan mengambil tindakan yang saya rasa perlu. Waktu SD dia pernah bercerita ada teman cowoknya yang nakal sekali dan sering menjambak rambut panjangnya tanpa alasan. Karena kejadiannya berkali-kali, saya merasa harus mendatangi si anak nakal itu ke sekolah. Cerita lengkapnya saya tulis di sini.

Sampai sekarang, sampai dia sudah kuliah, kebiasaannya itu masih tetap berlangsung. Kali ini dia bercerita tentang temannya yang mengatainya gembel. 😀 Seperti biasa, gaya berceritanya yang ekspresif plus bahasa tubuh dan gerak-geriknya yang sangat mendukung ceritanya, membuat saya merasa ada di TKP dan merasakan suasana saat kejadian.

Ceritanya dimulai ketika salah satu temannya, cewek, sebut saja bernama G, tanpa ba-bi-bu tiba-tiba saja menarik pinggangnya dan berkata dengan keras. Kejadiannya di tengah ruang kuliah ketika dosen tidak ada.

“Eh, gembel, kau benar-benar gembel… lihat bajumu robek seperti ini masih kau pakai juga? Dasar gembel!”

Anak saya kaget dan otomatis meraba pinggangnya. Ternyata benar, baju seragam putihnya robek di bagian sana, tepatnya, jahitannya terlepas, persis di pinggir sakunya. Baju seragamnya di bagian depan memang ada dua saku, kiri dan kanan. Anak saya tak bisa berkata apa-apa, hanya bisa meringis sambil berusaha menghindari incaran G yang terus berusaha menarik seragamnya.

“Kau benar-benar gembel. Sungguh tak tahu malu memakai baju robek!” Si G menudingkan telunjuknya ke arah muka anak saya karena tak bisa menyentuh bajunya lagi. Dia tampak benar-benar puas mengerjai anak saya. Setelah berkali-kali mengatai gembel, dia kemudian tertawa ngakak dengan puasnya.

Anak saya hanya tersenyum kecut. Sementara teman-temannya yang lain hanya bisa bengong menyaksikan ulah mereka berdua.

Karma kadang memang tak mau menunggu lama. 😀

Esok harinya, anak saya mendapat kesempatan untuk membayar lunas perlakuan G. Hari itu hari Rabu, mereka menggunakan seragam warna biru, dan… G tidak sadar bajunya juga robek, persis di tempat yang sama seperti baju anak saya. Anak saya melihatnya tanpa sengaja. Tentu saja dia tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Hahaha!

Tanpa berpikir panjang, dengan cepat anak saya menyambar pinggang si G dan menarik bajunya tepat di tempat yang robek itu.

“Hai, gembel! Sungguh kau tak tahu malu! Memakai baju robek seperti ini. Dasar gembel!” Anak saya mengulangi kata-kata G kemarinnya. Si G tak sempat menghindar, dia berusaha melepaskan diri dari cengkeraman anak saya, tapi tak bisa.

“Mau kemana kau, gembel?” Si G berhasil melepaskan diri tapi anak saya mengejarnya, hingga dia terpojok di sudut ruangan kelasnya.

“Waduh, diam kamu, eeee, sialan… aku tak tahu bajuku robek. Udaah… diem dong,” dia memohon agar anak saya mau melepaskannya. Anak saya tentu saja tak mau melepaskan “korbannya”.

“Gembel macam apa kau ini, hah? Sesama gembel mestinya saling mendukung, bukannya saling menjatuhkan!” Dengan penuh drama anak saya menuding-nudingkan telunjuknya ke depan wajah G, persis seperti yang dilakukannya kemarin pada anak saya.

Sesekali anak saya membuat gerakan seolah-olah hendak menyerang pinggang G. Si G bergerak kesana-kemari berusaha “menyelamatkan” pinggangnya.

“Gembel kok teriak gembel! Dasar gembel tak tahu diri!”

Anak saya ngakak puasss sekali dan sangat menikmati melihat G yang kelabakan lari kesana-kesini dalam kejarannya. Teman-teman sekelasnya semua melongo melihat pertunjukan “drama” itu.

Semua kejadian tersebut diceritakan oleh anak saya lengkap dengan ekspresi dan peragaannya. Bagaimana dia menuding temannya, bagaimana dia mengatai-ngatainya gembel. Semua itu diperagakan dengan amat baik. Daannn… sepanjang dia bercerita (plus memperagakannya) membuat saya tertawa tak putus-putus. Perut saya nyaris kram karena lama terpingkal-pingkal. Mulut saya sampai sakit karena tak henti-henti tertawa. Waduh.

Tapi… jangan kira mereka berdua, G dan anak saya, bermusuhan. Tidak. Mereka adalah dua sahabat. Mungkin model sahabatan mereka yang agak aneh. Teman-teman sekelasnya sudah biasa melihat mereka yang (sepertinya) bertengkar hebat. Tapi di hari lain mereka juga biasa melihat G curhat sambil nangis-nangis kalau lagi ada masalah. Dan biasanya, hanya anak saya yang bisa memberinya solusi. Sungguh, persahabatan yang aneh, bukan? 😀

Tapi, kalau soal nilai-nilai persahabatan, saya tak meragukan anak saya. Saya pernah menulis sebuah kisah yang cukup memilukan tentang salah satu sahabatnya di sini.

Dasar anak-anak. 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s