Bukan air mata buaya

Roaming! Mungkin ini istilah yang cukup tepat untuk menggambarkan pikiran saya ketika baru balik ke Denpasar setelah cukup lama berada di kampung. Pagi-pagi ketika baru bangun saya sempat blank dan bertanya-tanya saya ada di mana.

Kalau di kampung, saat baru bangun dan membuka mata, pandangan langsung tertuju ke jendela karena kebetulan tempat tidurnya menghadap jendela. Sedangkan di Denpasar, ketika baru bangun pandangan langsung jatuh ke lemari pakaian. Hal itu sempat membuat saya terdiam sejenak dan menyadar-nyadarkan diri bahwa saya ada di rumah di Denpasar.

Ada-ada saja. 😀

Saya berada di kampung cukup lama dalam rangka persiapan upacara ngaben sampai selesai pelaksanaannya. Ada banyak rangkaian ritual sebelum acara puncak pelebon atau ngaben. Dalam rangkaian ritual tersebut, ada peristiwa lucu terjadi pada saya, tepatnya, agak “memalukan.”

Ceritanya, hari itu ada ritual “Narpana” yang bertepatan dengan hari Tilem (bulan mati). Saat itu ada tiga orang yang “ngaturang” kidung/kekawin (macapat?) mengiringi ritual. Kebetulan saya yang mendampingi mereka (satu bapak dan dua orang ibu-ibu). Sesi kidung pertama dibawakan oleh salah satu ibu dan uraiannya (penjelasan isi kidung) dibawakan oleh si bapak. Ibu yang satu lagi duduk berdampingan dengan saya menunggu gilirannya.

Suara sang pelantun kidung itu benar-benar merdu dan bikin merinding. Saya mendengarkan dan menikmati kidung mereka plus uraiannya yang disampaikan oleh si bapak dalam Bahasa Bali halus.
Tapi sayangnya, walaupun saya menikmati alunan kidung tersebut, kantuk tetap menyerang. Memang selama di kampung jam tidur saya amat pendek, tak lebih dari dari 3-4 jam sehari. Saya berusaha setengah mati menahan kantuk dan berusaha jangan sampai menguap. Saya berhasil menahan diri untuk tidak menguap tetapi akibatnya air mata saya bercucuran karena menahan kantuk yang amat sangat.

Tentu saya ingin segera menghapus air mata yang berurai sebelum terlihat oleh para pelantun kidung terutama oleh ibu yang duduk di samping saya. Karena tidak membawa tisu, saya meraih ujung selendang yang saya pakai untuk menghapus air mata saya.

Sialnya, tepat saat saya mengangkat ujung selendang dan menghapus air mata, sang ibu di dekat saya menoleh. Saya tak bisa membatalkan gerakan saya. Si ibu menatap saya dengan heran kemudian tersenyum. Saya tahu dia melihat mata saya yang memerah dengan air mata yang bercucuran. Duh, apa yang harus saya katakan? Malu nian, sungguh!

Tiba-tiba ibu itu berkata sambil tetap tersenyum.

“Cerita kidungnya memang sedih, pasti terbawa perasaan, nggih? Tyang juga sering nangis kalau mendengar kekawin yang isinya mengharukan.”
Oh! Dia mengira saya benar-benar menangis karena isi kidungitu. Memang is kidung yang dilantunkan mereka bercerita tentang kesedihan Dewi Uttari ketika mendengar Abimanyu gugur di medan Kurusetra karena dikeroyok oleh pasukan Kurawa.

Saya bersyukur sangat mengenal kisah ini sehingga saya bisa “nyambung” dengan pembicaraan si ibu. Saya pun terlibat diskusi kecil dengan ibu itu membahas isi kidung. Saya terpaksa mengakui bahwa saya memang “nangis” karena kisah itu. Sebab sungguh tidak mungkin kalau saya bilang bahwa air mata ini keluar karena ngantuk yang amat sangat. Entahlah, apakah si ibu berkata jujur atau hanya kasihan agar saya tak salah tingkah?

Tapi yang jelas, itu bukan air mata buaya. 😉

 

Advertisements

Pilpres, oh, pilpres

Misalnya saya memilih Prabowo-Hatta apakah itu lantas membuat saya tiba-tiba jadi penjahat di mata teman-teman yang mendukung Jokowi-JK? Atau di mata kaum golput? Apakah itu artinya saya sama sekali tidak tahu makna pemimpin? Di mana letak kejahatan saya? Apakah karena menurut sebagian orang Prabowo itu “penjahat HAM” sehingga saya pun ikut jadi penjahat? Kalau benar dia penjahat, kenapa KPU meloloskannya menjadi salah satu kandidat? Kalau benar demikian kenapa Ibu Megawati menjadikan Prabowo sebagai cawapresnya saat pilpres tahun 2009? Kenapa Ibu Megawati yang amat konsen dengan masalah HAM sudi bercawapreskan Prabowo yang “penjahat HAM?”

Kalau benar demikian kenapa Prabowo tidak diseret ke pengadilan? Kalau ada bukti-bukti yang demikian kuat apa susahnya menyeretnya ke pengadilan?

Sedangkan seorang Tommy Soeharto yang putra kesayangan Soeharto saja bisa diseret ke pengadilan dan bahkan dikirim ke Nusa Kambangan, lalu kenapa tidak bisa menyeret Prabowo yang hanya (mantan) menantu Soeharto, kalau memang ada bukti kuat untuk itu? Apa mungkin ada pihak-pihak atau kelompok-kelompok tertentu yang tidak ingin masalah tersebut terbuka jelas di mata publik dan sengaja membiarkannya mengambang seperti ini untuk memanfaatkan ketidaktahuan publik?

Rasa pertemanan dan persahabatan saya tak pernah berubah terhadap teman-teman yang mendukunng Jokowi-JK atau pun yang memilih golput. Saya amat amat menghargai dan menghormati sikap mereka yang pasti sudah dipikirkannya dengan matang. Saya tak pernah sedikit pun berusaha memengaruhi atau memberi pandangan saya pada mereka karena saya yakin mereka sudah dewasa dan ini masalah kata hati dan nurani yang tidak bisa dipaksakan. Saya amat menghargai perbedaan karena sadar sepenuhnya dunia ini tak bisa diseragamkan.

Saya cukup sedih ketika seorang sahabat yang amat saya percayai dan hormati memborbardir saya dengan menunjukkan segala “kejahatan” Prabowo yang tentu saja masih “katanya” karena kita tidak tahu persis kejadian yang sebenarnya. Saya akan menganggap biasa-biasa saja kalau ia hanya sekadar meng-copy-paste link-link yang memuat berita kejahatan Prabowo. Saya masih menganggap itu sebatas kampanye (hitam). Tapi yang membuat sedih ketika ada kata-katanya yang menyinggung perasaan dan mengarah ke pribadi saya.

Saya berusaha tak terpancing dan tak ingin berdebat karena lebih menghargai hubungan persahabatan dan juga sadar tak ada gunanya mendebatkan hal itu. Saya masih bisa menjawabnya dengan penuh senyum walaupun dalam hati sedih.

Tapi hal ini kemudian membuat saya berpikir, kalau benar pilihan saya itu adalah sebuah kejahatan, siapa sebenarnya yang paling jahat? Siapa yang menyediakan pilihan ini? KPU, bukan? Apakah KPU sebodoh itu sehingga meloloskan orang jahat menjadi salah satu kandidat? Menurut saya pribadi, kedua kandidat sama-sama hebat dan sama-sama punya peluang. Sama-sama punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi berhubung tidak boleh memilih keduanya, maka saya harus memilih salah satu dari mereka. Saya telah menetapkan pilihan sejak awal tapi tak pernah bermaksud ikut kampanye.

Dalam keluarga besar saya sendiri pun pilihannya tidak sama. Bahkan ada seorang ipar yang menjadi tim sukses Jokowi-JK dan amat dekat dengan elit partai pengusung pasangan ini. Tidak ada masalah. Biasa-biasa saja. Sama sekali tidak mengganggu hubungan kekerabatan.

Bagi saya, siapa pun yang terpilih dari kedua pasangan ini, memang itulah yang terbaik bagi Indonesia saat ini.

Saya bingung kalau ada orang yang ngenyek pilihan orang lain, sementara pilihan-pilihan itu sah adanya. Apa coba untungnya menyakiti perasaan teman hanya karena perbedaan pilihan?

*asli bingung*

Belajar dari pengalaman

Akhirnya, hanya ada dua capres dengan cawapresnya masing-masing yang siap bertarung di ajang pilpres  Juli nanti. Tentu dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kita tahu persis tidak ada manusia yang sempurna, begitu juga dengan kedua capres ini. Menurut saya yang awam ini keduanya memiliki peluang yang sama, fifty-fifty. Bagi saya yang rakyat jelata, siapa pun yang terpilih sebagai presiden nanti harapan saya semoga sang terpilih mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik dari saat ini. Dalam segala hal.

Mau bagaimana lagi? Suka tidak suka, salah satunya akan menjadi presiden kita.

Mungkin banyak yang kecewa karena capres A yang tadinya diidolakan ternyata memilih cawapres yang tak diinginkannya. Banyak juga yang kecewa bahkan ilfil karena capres B yang tadinya amat dijagokan ternyata berkoalisi dengan partai-partai yang membuat kecewa. Yah, keinginan kita memang tak selalu terkabul seperti apa yang kita inginkan.

Besar harapan saya semoga kedua capres (plus pendukungnya masing-masing) menyadari sepenuhnya bahwa ini adalah sebuah kompetisi. Dan sebagaimana layaknya sebuah kompetisi pastilah ada yang menang dan ada yang kalah. Tidak mungkin semuanya menjadi pemenang. Siapa pun yang kalah nanti agar bisa menerima dengan jiwa besar dan mengakui kemenangan rivalnya. Begitu juga siapa pun yang menang agar rendah hati dan tetap menghargai rivalnya, tidak seketika sombong dan bersikap merendahkan rivalnya.

Khusus untuk semeton ring Bali, mari kita berkaca pada pilpres tahun 1999 silam ketika terjadi amuk massa karena capres yang dijagokannya tidak terpilih. Jangan sampai hal itu terulang kembali. Kita tentu sangat ingat bagaimana kerusuhan terjadi, tepatnya tanggal 21 Oktober 1999, terjadi amuk massa di beberapa daerah di Bali yaitu Buleleng, Badung, Denpasar, Jembrana dan Tabanan. Pemicunya adalah massa pendukung sang capres yang kecewa karena calonnya tidak terpilih.

Saat itu Bali sempat lumpuh total. Beberapa gedung pemerintah diamuk dan dibakar massa. Pohon-pohon besar perindang jalan ditebang untuk menutup jalanan. Ban-ban bekas dibakar di tengah jalan. Kerusuhan terparah terjadi di Pusat Pemerintahan (Puspem) Kabupaten Badung yang terletak di daerah Lumintang. Hampir semua gedung perkantoran di Puspem ini terbakar hangus. Rumah saya yang jaraknya tak terlalu jauh dari puspem ini merasa cukup tegang dan berdoa semoga kerusuhan tak semakin menjalar. Orang tua dan saudara-saudara saya, juga kakak-kakak ipar menelpon saya dan menanyakan keadaan saya. Mereka wajar amat khawatir karena lokasi kerusuhan cukup dekat dan peristiwa kerusuhan 1998 di Jakarta belum hilang dari ingatan.

Waktu itu anak saya masih duduk di TK Besar. Saya baru saja sampai di rumah sepulang dari sekolahnya ketika kerusuhan meledak. Saat itu tempat kerja suami saya di daerah Tuban. Begitu mendengar kerusuhan, suami dan teman-temannya pulang lebih cepat. Karena jalan-jalan utama diblokir oleh pelaku kerusuhan dengan menumbangkan pepohonan besar dan membakar ban-ban bekas, suami berusaha mencari jalan-jalan tikus (jalan-jalan kecil) untuk sampai di rumah. Hari itu suasana amat mencekam. Tapi syukurlah kerusuhan tak sampai menyerang penduduk sipil.

Saya sangat berharap dalam pilpres mendatang semoga semeton Bali tidak lagi melakukan tindakan “bunuh diri” seperti itu seandainya kandidatnya tidak terpilih. Bukankah itu sama dengan merusak rumah sendiri? Yang rugi siapa? Kita juga kan? Mari bersatu padu untuk menjaga Bali agar tetap aman dan terhindar dari kerusuhan dan tindakan anarkis lainnya. Mari berdoa, agar siapa pun yang terpilih nanti benar-benar menjalankan pemerintahan dengan sebaik-baiknya sehingga tidak mengecewakan banyak pihak.

Semoga segala kebaikan datang dari segala arah. Semoga damai senantiasa. Astungkara.

 

Memasuki dasa warsa kedua

Ibu dan Ajung baju kembarSulit dipercaya bahwa besok, 21 Mei 2014, yang bertepatan dengan Hari Raya Galungan, makhluk mungil di sebelah saya ini genap berusia dua puluh tahun. Dua puluh tahun! Rasanya baru kemarin saya menimangnya, menyusuinya sambil menyanyikan lagu Nina Bobok atau Putri Cening Ayu.

Baru kemarin rasanya saya mendongeng untuknya sebagai pengantar tidurnya, setiap malam. Dan baru kemarin rasanya saya mendengar suara tawanya yang terpingkal-pingkal karena menertawakan dongeng saya yang tidak nyambung. Iya, beberapa kali ketika saya mendongeng, saya kecapekan dan keburu ngantuk. Sedangkan dia, setiap selesai satu dongeng selalu minta lagi, lagi dan lagi. “Lagi, Buu, dongeng yang lain.”

Ajung (1 tahun)Karena kelewat ngantuk saya jatuh tertidur sementara si anak yang didongengi masih segar-bugar. Nah, ketika saya tak sadarkan diri (karena tertidur), rupanya ada “kesadaran” lain yang mengambil alih kesadaran saya dan melanjutkan dongengnya. Tapi, cerita dongengnya sudah tak sinkron lagi dengan cerita semula. Yang semula saya mendongeng tentang “I Belog” entah bagaimana, saat saya tertidur tokoh dalam dongeng berubah menjadi “Ikan Paus.” Hal ini tentu saja membuat si anak heran kemudian tertawa terpingkal-pingkal. Katanya, “Buu, dari mana datangnya Ikan Paus?” Dan, saya pun tersadar setelah mendengar suaranya yang ditingkahi oleh tawa kerasnya. Hal itu sering terjadi. Bukan sekali dua kali.

Anak ini dari kecil sudah mempunyai sifat jahil. Ketika duduk di bangku TK, dia beberapa kali ngerjain saya. Bayangkan, seorang anak TK bisa ngerjain emaknya? Kasihan banget emaknya!

Ceritanya, saat itu saya mengenalkan beberapa suku kata untuk membentuk sebuah kata. Kata-kata yang sederhana yaitu benda-benda yang ada di sekitarnya atau benda-benda yang sering dipakai mainan atau pun bagian dari tubuhnya. Misalnya, bo-la, ba-ju, ka-ki, ku-ku dan lainnya. Awalnya dia menjawab dengan tepat. Bo-la dibaca bola, ba-ju dibaca baju dan seterusnya. Tapi entah kenapa, beberapa saat kemudian ketika saya mengulangi lagi, “bo-la” dibaca “suli.” Saya heran, saya ulangi lagi, tetap saja dia jawab “suli”.

“Kok jadi ‘suli’? Boo-laa jadinya apa, sayang?”

“Suli!” jawabnya yakin. Setelah sekian kali, saya menatapnya dengan heran. Tiba-tiba dia tertawa ngakak, terpingkal-pingkal, keras sekali. Dia memandang saya dengan pandangan jahil dan penuh kemenangan. Ya, ampun! Dia ngerjain saya! Dan itu bukan yang terakhir!

Saya juga masih menyimpan surat-surat cinta yang dia tulis untuk saya sejak dia baru bisa menulis. Dia sering mengungkapkan rasa sayangnya, rasa cintanya pada saya di selembar kertas atau di sesobek kertas dan ditulis tangan lengkap dengan gambar jantung. Tentu saja sebagian tulisannya masih seperti cakar bebek, eh, cakar ayam. 😀

Dan, si jahil itu kini sudah hampir dewasa. Sifat jahilnya terbawa sampai sekarang.

Saya bahagia bisa menyaksikan pertumbuhannya detik demi detik. Dari bayi merah, anak-anak, dan kini jadi gadis remaja menjelang dewasa. Bisa dikatakan saya selalu ada untuknya, 24/7, karena begitu ia terlahir saya memutuskan untuk tetap berada di sisinya. Artinya, saya menghentikan semua kegiatan di luar rumah. Saya yang terbiasa bekerja sejak masih kuliah sampai menjelang saat-saat kelahirannya, dengan sadar memutuskan untuk merawat dan mengasuhnya sendiri karena saya tak tega meninggalkannya. Kebetulan suami juga menginginkan hal yang sama.

Karena saya selalu ada di sisinya setiap saat, dia tidak membutuhkan susu formula. Saya memberinya ASI eksklusif sampai dia berusia 3 tahun. Ekstra eksklusif? 😀  Namun masalah timbul ketika saya ingin menyapihnya. Berbagai cara saya coba tapi gagal. Saya memang tidak mau memakai cara yang keras atau main paksa. Saya pikir, karena dia sudah cukup mengerti (sudah masuk Play Group) saya yakin dia bisa dikasih pengertian. Akhirnya, saya bekerja sama dengan gurunya. Suatu hari di tengah kelas gurunya bertanya siapa yang masih menyusu dari ibunya.  Kalau ada disuruh angkat tangan. Tidak ada yang mengaku. Kemudian gurunya secara halus memberi tahu bahwa mereka sudah besar dan harus berhenti menyusu.  Sejak itu dia tidak mau lagi menyusu. Program sapih pun sukses tanpa harus main paksa. 😀

Kini usianya sudah kepala dua. Sebentar lagi dia akan menjadi wanita dewasa. Sebentar lagi dia akan mempunyai kehidupan sendiri. Tapi, ada yang aneh. Kenapa emaknya tak pernah merasa tua? Itu masalah lain. 😉

Akhirnya, selamat ulang tahun, sayang. Semoga segala kebaikan selalu menyertaimu. Kau tahu betapa ibumu ini menyayangimu lebih dari apa pun. ❤

 

Pizza Bayam Keju Ramah Deadline

Selviya Hanna

C360_2014-05-04-11-41-53-466

Baca judulnya saja mungkin sudah bertanya-tanya, apa yang dimaksud dengan “ramah deadline”?

Sederhana, ini resep pizza yang pembuatannya tidak makan waktu lama dan tidak “buang-buang” tenaga karena pizza spesial ini tidak perlu diuleni. Tahu sendiri, kan, susahnya ulen-mengulen itu bagi newbie di dapur seperti saya. Dulu saya pernah nekad menguleni adonan roti kentang, dan butuh jam-jaman baru adonannya kalis. Meskipun hasilnya bisa dibilang gemilang dan suami rekues lagi, saya ogah memenuhi keinginannya karena gak kuat bok, keringat rasanya membanjir dari semua pori-pori. *Membayangkannya saja malas*

Akan tetapi, saat menerjemahkan artikel tentang Italia beberapa hari lalu, saya jadi kepingin bikin pizza (padahal di artikel sama sekali tidak disinggung tentang pizza, lho!). Sekitar bulan lalu saya pernah bikin pizza jagung manis dan tomat yang sausnya bikin sendiri *bangga*. Tapi, base rotinya beli yang instan di Superindo :p Namanya beli instan ya, pasti kurang memenuhi harapan. Rotinya kelewat garing dan menjurus keras…

View original post 648 more words

Memilih Sudut Pandang (PoV) dalam Novel

Jia Effendie

Ketika menulis fiksi, baik itu cerpen atau novel, kita harus pintar-pintar memilih PoV/Point of View/ Sudut Pandang. Dari sudut pandang siapa cerita itu dituturkan? Ketika kita memilih sudut pandang orang pertama misalnya, ada hal-hal yang tidak seharusnya dia ketahui.

Di tahun pertama saya menjadi editor, saya pernah melakukan hal yang fatal dengan meloloskan “bocor”-nya PoV. Naskah ini ditulis dengan sudut pandang orang pertama. Dan ini berarti, hal-hal lain yang tidak dia alami, tidak dia saksikan, tidak dia dengar, seharusnya tidak masuk ke dalam cerita. Fiksi, sefiktif apa pun, haruslah masuk akal. Bagaimana bisa seseorang yang tidak berada di lokasi kejadian, bisa menceritakan sesuatu yang tidak diketahuinya? Apakah dia cenayang?

Nah, saya belajar dari kesalahan dan semoga tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama. Semoga teman-teman pun, membaca ini, tidak akan melakukan kesalahan serupa.

Paling tidak, ada tiga jenis PoV yang digunakan dalam menulis fiksi, yaitu PoV orang pertama (penutur: aku…

View original post 781 more words

Negara apa yang memiliki segalanya? Indonesia Hebat!

27022014(001)Kita semua pasti pernah mendengar lagu-lagunya Koes Plus yang berjudul Nusantara. Koes Plus sampai harus menciptakan beberapa lagu yang berjudul “Nusantara”, dari Nusantara 1, Nusantara 2, Nusantara 3 dan seterusnya untuk menggambarkan betapa beruntungnya kita hidup di Bumi Nusantara ini. Pulau nan indah dengan aneka flora dan fauna yang tak terhitung jumlahnya.

Coba bayangkan apa yang tidak dimiliki oleh negara kita? Tanah yang subur dan luas, pertanian, perikanan, pertambangan, pemandangan indah tiada tara, lautan luas dengan ikan-ikannya yang tiada habisnya. Sumber daya manusia yang melimpah. Hangatnya sinar mentari yang bersinar sepanjang tahun. Tidak ada iklim yang menyebabkan perbedaan suhu yang ekstrim. Ribuan pulau bagai untaian permata yang indah. Beragam suku bangsa dengan adat budayanya yang mempesona. Sungguh karunia Tuhan yang luar biasa.

Dengarlah apa kata Koes Plus di salah satu lagu Nusantara-nya:

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan menghampiri
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Negara mana yang tidak iri dengan apa yang dimiliki oleh Indonesia Hebat ini?

Kalau boleh komplain kepada Sang Pencipta, Negara Jepang akan berkata: “Saya tidak terima diberi daerah seperti itu, pulau kecil tidak karuan, dikelilingi gunung berapi, gempa setiap saat, musim yang tidak karuan, ada 4 musim ada 2 musim. Bagaimana ini?”

Negara Finlandia juga akan protes: “Saya bagaimana, coba? Kebanyakan es! Beku semua! Apa enaknya?”

Begitu juga negara-negara lain kalau diberi kesempatan komplain semua akan mengeluarkan uneg-unegnya dan mengeluh. Mereka akan serempak merasa iri kepada Indonesia dan berkata:

“Kok dia enak banget? Apa-apa tersedia. Pertanian, perkebunan, pertambangan. Udara hangat setiap saat. Tidak perlu beku kebanyakan es. Tongkat ditanam tumbuh kayu. Kolamnya semua dari susu. Ikan tidak dipancing muncul sendiri. Kami iri!”

Iya, mereka memang pantas iri. Kalau kita renungkan, di Asia Tenggara, sumber daya alam Indonesia tak terkalahkan, barangkali di Asia Pasifik juga. Lalu, apa sebenarnya yang kurang dari negara kita? Dengan sedih harus kita akui bahwa sebagian dari saudara-saudara kita masih hidup di bawah garis kemiskinan. Sungguh ironis, bagaimana mungkin ada rakyat yang hidup miskin di negara yang kaya raya dan memiliki segalanya?

Bagaimana cara mengatasi hal ini? Kata kuncinya adalah pemerintah yang bersih dan adil. Kemudian pemerintah betul-betul harus peduli dengan pendidikan warganya. Buka wawasan mereka, beri motivasi agar mereka benar-benar cinta tanah air. Bangkitkan semangat mereka. Pemerintah juga harus memberi contoh bagaimana sikap yang taat hukum dan menunjukkan bahwa semua orang adalah sama di mata hukum. Semua orang mendapat perlindungan hukum yang sama. Tidak ada perkecualian.

Bayangkanlah, negara yang kaya raya, rakyat yang berpendidikan dan cinta tanah air, pemerintah yang adil dan bijaksana. Semua orang mempunyai disiplin tinggi dan taat hukum. Kalau begitu halnya, siapakah atau apakah yang bisa menandingi negara kita? Sungguh kita harus berterima kasih kepada Tuhan yang telah menganugrahi kita alam yang begini sempurna. Sungguh, kita pantas berbangga karena hidup di Indonesia,  Indonesia Hebat!