Tag Archive | Arjuna

Pudarnya “taksu” Arjuna

Shaheer-SheikhMalam itu anak saya tampak sebal sekali. Dia sedang duduk di atas tempat tidurnya sambil memegang remote TV. Saya kebetulan memang mau masuk ke kamarnya

“Lihat nih, Bu… Ajung malu nonton acara ini.”

“Acara apa?”

“Tuh, Ibu lihat aja sendiri.”

Di layar TV sedang ada tayangan iklan acara “Panah Asmara Arjuna”. Oh, ini rupanya yang membuat dia mencak-mencak. Kalau saya perhatikan sekilas, konsep acara ini seperti acara “Rumah Petir” yang pernah ditayangkan oleh Anteve sekian tahun silam. Ada beberapa kontestan yang sudah lolos audisi kemudian tinggal bersama (diasramakan) di satu rumah. Selanjutnya para kontestan akan mengikuti serangkaian acara atau tantangan. Tiap minggu akan ada kontestan yang dieliminasi hingga tinggal satu orang. Nah, yang tersisa itulah yang keluar sebagai pemenang dan berhak mendapatkan rumah yang mereka tempati itu sebagai Penghuni Terakhir (Petir). Secara garis besarnya demikian.

Konsep Panah Asmara Arjuna (PPA) ini saya rasa agak mirip seperti itu (kalau dilihat dari cuplikan iklannya yang terpaksa saya tonton karena tak ingin ketinggalan Mahabharata).  Gadis-gadis peserta PPA ini dikarantina di satu tempat dan Arjuna akan mendatangi mereka setiap hari untuk memberikan serangkaian tantangan. Para gadis tersebut wajib melakukannya dan bersaing untuk keluar sebagai pemenang dan mendapatkan hadiah tertentu (saya tak tahu hadiahnya).

Saya sendiri tak tertarik menonton acara ini. Acara yang saya tunggu di Anteve hanyalah Jodha Akbar, Mahabharata, Ramayana dan Mahadewa.  Tak saya sangka ternyata anak saya juga tak suka acara PPA, yang menurutnya mengubah imej Arjuna.

“Yah, kalau ngga suka pindah aja salurannya, jangan lihat yang itu.”

“Tapi Ajung nunggu Mahabharata, ntar kalau dipindah bisa kelewatan,” jawabnya, namun tak urung dipindahnya juga saluran TV ke NetTV (saluran TV favoritnya sekarang ini).

“Ibu tahu ngga, acara ini membuat taksu Arjuna jadi hilang. Ajung jadi ilfil nih,” lanjutnya kesal.

Saya tahu persis, anak saya sangat menyukai karakter Arjuna sejak Arjuna masih kecil (sebelum diperankan oleh Shaheer Sheikh).  Dia sangat menyukai perlakuan Arjuna terhadap ibunya. Dari kelima Pandawa, menurutnya Arjunalah yang paling besar perhatian dan sayangnya kepada ibunya. Ketika Arjuna dewasa diperankan oleh Shaheer Sheikh, dia lebih senang lagi (karena wajahnya yang rupawan dan aktingnya yang menawan). Apalagi ketika adegan Arjuna menadah air mata ibunya yang kemudian diusapkan ke wajah dan rambutnya. Dia sangat terkesan. Tokoh Arjuna (di matanya) termasuk cukup jaim dan tidak cengengesan walaupun dia digambarkan amat tampan. Dia suka karakter itu.

Nah, ketika ada acara Panah Asmara Arjuna, tiba-tiba “nilai” Arjuna jadi turun drastis di matanya. Langsung kebanting! Ditambah lagi para peserta PAA yang dianggapnya terlalu agresif dan (maaf) agak genit. Dia merasa para peserta tersebut tidak mewakili karakter perempuan Indonesia pada umumnya. Lengkaplah sudah kekecewaannya.

Ini memang masalah selera. Mungkin banyak yang menyukai acara PAA tersebut, mungkin hanya dia yang tak suka. Bukan hanya tak suka, dia bahkan malu melihatnya. Parah yah, anak ini?

Dia lupa bahwa itu adalah dunia bisnis. Dia lupa bahwa Shaheer Sheikh juga hanya berakting di sana. Tapi dia sudah terlanjur ilfil dan tak lagi mengidolakan Sang Arjuna. Dia sudah pindah ke lain hati. Ke hati siapa? Abimanyu!  Sekarang, setiap saat dia membicarakan Abimanyu. Katanya, Abimanyu cakep sekali. Abimanyu sangat cocok dengan Uttari, pasangan yang serasi. Cakep dan cantik!

Ah, dasar anak-anak! 😀

Tapi, ketika dia teringat bahwa Abimanyu akan gugur secara mengenaskan di medan Kuruksetra, wajahnya tiba-tiba amat sedih. Dia tak rela dan menyesal kenapa Abimanyu mesti gugur. Kasihan Uttari, baru juga mereka menikah dan belum sempat menikmati kebahagiaan, katanya.

Yah, kau harus tahu, Nak, apa yang kita hadapi tak selalu sama seperti apa yang kita harapkan.

Advertisements