Tag Archive | bahasa

Pesona Penyingkap Makna: Sebuah Kado Spesial

AImagekhirnya, buku Bahtera ke-3 yang lama ditunggu-tunggu kini sudah siap terbit, siap edar. Buku antologi yang diberi judul Pesona Penyingkap Makna (PPM) ini memuat tulisan beberapa  penerjemah yang menuliskan berbagai hal tentang dunia penerjemahan. Di buku ini saya menyumbang dua tulisan seperti juga pada buku sebelumnya, Buku Bahtera ke-2 yang berjudul Menatah Makna.

Saya tidak akan berpanjang kata tentang buku keren ini. Isi selengkapnya bisa dibaca di sini. Tapi ada satu hal yang membuat saya senang dan akan tercatat dalam sejarah hidup saya *halah* ;-), karena buku ini akan diluncurkan secara resmi  pada tanggal 20 April 2013, yang bertepatan dengan hari ulang tahun saya, dan bertempat di Almamater saya, kampus Universitas Warmadewa Denpasar. Hari itu bertepatan juga dengan peresmian Komda HPI Bali-Nusra dan Seminar bertajuk “Not Lost in Translation”. Sebuah kebetulan yang menyenangkan, bukan? 😀

Jadi, boleh dong saya merasa buku ini sebagai kado ulang tahun spesial bagi saya. 😀

Oh, ya, buku PPM ini dibandrol dengan harga Rp. 65.000,- plus ongkos kirim. Untuk pemesanan silakan hubungi Ibu Sofia F. Mansoor di alamat email sofiamansoor@gmail.com.

(Ssst, saya masih belajar menjadi penulis, dan sampai saat ini masih menyimpan obsesi untuk menulis sebuah novel. Tema sudah ada, kerangka sudah ada, tinggal menulis saja, tapiiii… kapan mulainya yaa). 😀

Advertisements

Artikel untuk Buku Bahtera 3

Hampir dua bulan yang lalu Ibu Sofia Mansoor mengumumkan bahwa Buku Bahtera 3 akan segera dibuat, dan sejak itu saya sudah berniat untuk menyumbang dua tulisan. Ide untuk kedua tulisan itu sudah ada tetapi saya tidak bisa langsung menulisnya. Deadline terjemahan yang sudah mepet membuat saya tidak konsentrasi untuk menulis. Saya sudah mencobanya karena khawatir ide yang ada akan terkubur, atau batas waktu pengiriman tulisan sudah ditutup. Hanya saja, setiap memulai menulis teringat dengan deadline, akhirnya saya tidak jadi menyelesaikan tulisan itu. Untuk berjaga-jaga agar ide tersebut tidak hilang, saya ketik konsepnya saja dulu dengan harapan, begitu deadline terpenuhi, saya akan menyelesaikannya segera.

Akhirnya, dua minggu yang lalu artikel pertama bisa saya selesaikan dan langsung dikirim ke panitia. Penulisan artikel kedua tidak bisa langsung diselesaikan karena ada pekerjaan mendesak. Diselingi mengajar dan pekerjaan kecil-kecil (pendek), dan… hari ini selesai sudah artikel kedua. Sekarang tinggal berdoa saja semoga kedua artikel tersebut lolos seleksi dan bisa dimuat di Buku Bahtera 3 bersama penerjemah-penerjemah lainnya yang hebat-hebat. 🙂

Dalam buku Bahtera 2 yang diberi judul Menatah Makna (MM), yang terbit pada bulan Februari 2011, saya menyumbang dua artikel juga. Sedangkan pada buku Bahtera 1 yang diberi judul Tersesat Membawa Nikmat (TMN) saya tidak menyumbang tulisan, tentu saja tidak karena saya belum jadi anggota milis Bahtera saat itu. 😉 Buku TMN ini terbit pada bulan Juli 2009, sedangkan saya baru jadi anggota milis Bahtera sebulan kemudian, tepatnya Agustus 2009.

Jayalah, Bahteraku! 🙂

 

 

 

 

Status Keren!

Hari ini, tanggal 28 Oktober 2011 di jejaring sosial Facebook ada banyak status tentang Hari Sumpah Pemuda. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah status dari Gramedia Pustaka Utama yaitu: “Bisa berbahasa asing itu keren, tapi bisa berbahasa Indonesia dengan baik & benar itu lebih keren! Selamat Hari Sumpah Pemuda”.

Harus diakui bahwa banyak di antara kita yang masih kurang bagus dalam pemakaian Bahasa Indonesia, bahkan seorang dosen (maaf) tidak luput dari kekurangan ini. Seperti yang saya alami beberapa hari yang lalu, ketika mengedit tulisan seorang teman, yang juga seorang dosen. Teman saya ini, seorang ibu yang hampir sebaya dengan saya, minta tolong agar saya menyunting tulisannya. Dulu, saya juga pernah membantu menyunting tesisnya dan beberapa makalahnya sebelum dipresentasikan. Dan anehnya, kesalahan yang sama terjadi lagi. 

Seperti biasa,  sebelum memulai menyunting secara mendetail terlebih dahulu saya membaca secara global dari awal sampai akhir. Rasanya mau menangis ketika melihat tulisannya. Betapa tidak, amat banyak kesalahan-kesalahan mendasar yang seharusnya tidak perlu terjadi. Si ibu ini sepertinya tidak bisa membedakan penggunaan “di” sebagai awalan atau sebagai penunjuk tempat. Hampir semuanya salah. Penggunaan tanda titik dan koma yang disambung saja dengan kata berikutnya. Penulisan titel kesarjanaan juga salah semua, begitu juga penggunaan huruf kapital. Bisa dibayangkan, betapa kacaunya tulisan ini.

Saya sempat bingung mesti mulai dari mana, mood saya sempat hilang. Ada rasa kecewa karena tulisan ini dibuat oleh seorang dosen, bukan oleh siswa SD atau SMP. Harus diakui anak saya yang duduk di bangku SMA, jauh lebih tertib bahasanya dari pada si ibu ini. Sambil menatap layar komputer dengan nanar, tangan kiri menyangga dagu dan tangan kanan memainkan mouse untuk menggulung layar naik turun. Sungguh acak kadut. Berkali-kali saya menarik napas panjang. Akhirnya, komputer saya tinggal sebentar, membuat kopi,  untuk menyegarkan otak. 

Saya bukan ahli bahasa, sama sekali bukan dan juga tidak jago bahasa. Tapi… kesalahan-kesalahan yang terjadi ini bukan kesalahan kecil, tapi sangat mendasar.  Saya ingat, sebelumnya sempat ngobrol dengan Mas Ivan Lanin di YM dengan topik ini.  Ternyata Mas Ivan sendiri juga mengalami hal yang sama ketika dimintai tolong mengoreksi draft tesis tiga temannya, banyak terjadi kesalahan-kesalahan yang senada seperti yang saya alami. 

Terbersit pertanyaan, kira-kira apa sebabnya kesalahan-kesalahan “besar” ini bisa terjadi pada orang-orang yang bukan “orang kebanyakan?” Apakah karena mereka kurang peduli dengan Bahasa Indonesia atau menganggap kurang penting, yang terpenting adalah materi atau isi dari tulisan itu? 

Ketika saya menanyakan hal ini,  Mas Ivan menjawab: “Entahlah, Mbak. Saya tidak ingin menghakimi. Saya hanya ingin mengubah keadaan” 🙂

Iya iya iya, tentu saja, saya juga tidak ingin menghakimi, karena saya bukan “hakim bahasa”, hehehe.  Saya hanyalah orang yang suka dengan bahasa, dan tidak tertutup kemungkinan saya melakukan banyak kesalahan juga 😀

 

Proyek “Minta Tolong”

Seminggu yang lalu ada kerabat minta tolong saya untuk menyunting tesisnya. Sudah beberapa kali saya menyunting tesis dan sebenarnya saya menyukai pekerjaan ini. Karena selama menyunting, secara tidak langsung saya menyerap isi dari tesis tersebut dan selalu ada pengetahuan yang bisa saya ambil. Tetapi yang jadi masalah adalah: waktu. Kenapa ya, si pemilik tesis selalu memberikan tenggat waktu yang sangat mepet? Dan kenapa pula saya tidak bisa menolaknya, padahal di waktu yang bersamaan saya sedang mengerjakan terjemahan yang harus segera diselesaikan sesuai janji saya. Sebenarnya, saya sangat ingin menolak atau  minimal minta tenggat waktu yang lebih panjang, tetapi ternyata situasi tidak memungkinkan. Si pemilik tesis yang baru saja selesai ujian tesis dan sudah dinyatakan lulus, namun ada beberapa perbaikan terutama sekali dalam tata penulisannya. Saat itu dia datang hari Senin, dan hari Rabu berikutnya adalah pendaftaran terakhir untuk wisuda. Sedangkan persyaratan untuk wisuda adalah harus menyertakan tesis yang sudah diperbaiki.

Saya bilang, kenapa mendadak? Kenapa tidak dari kemarin-kemarin saja sehingga saya punya waktu yang cukup? Dia bilang, dia sudah berusaha memperbaiki sendiri, tetapi ternyata kurang memuaskan sang dosen pembimbing. Akhirnya, karena kepepet dia mencari saya. Dia pernah mendengar dari beberapa temannya bahwa tesis yang saya sunting hampir semuanya lolos dari penilaian dosen pembimbing. Bisa jadi hanya kebetulan, atau gaya penulisan saya cocok dengan selera sang dosen. Saya masih berusaha menawar waktu, karena untuk menolak saya tidak sanggup. Tetapi dengan pandangan memelas dan penuh permintaan tolong, dia bilang, waktu tidak bisa diundur, atau dia terpaksa tidak bisa ikut wisuda periode ini dan harus menunggu periode berikutnya lagi sekian bulan. Untuk itulah dia minta tolong dengan amat sangat. Si pemilik tesis, seorang ibu, guru SMA, kalau menunggu periode berikutnya berarti dia harus bayar SPP lagi disamping rugi waktu. 

Akhir kata, saya pun tidak bisa berkata-kata lagi. Saya selalu tidak sanggup menolak permintaan tolong orang yang betul-betul butuh. Saya merasa jadi orang jahat ketika menolak orang yang butuh bantuan.  Si pemilik menunggui saya kerja. Saya berusaha fokus dan bertekad untuk langsung menyelesaikannya malam itu. Karena esoknya, saya harus fokus ke terjemahan supaya selesai tepat waktu karena sudah berjanji sebelumnya.  Tepat pukul dua subuh, pekerjaan saya selesai. Saya melihat betapa leganya ibu itu. Saya walaupun capek, tapi ikut senang melihat wajahnya yang lega. 

Syukur dan Terima Kasih

Pengumuman hasil UAS periode 2010.2 yang saya tunggu-tunggu akhirnya keluar juga. Yang membuat saya was-was adalah mata kuliah Instroduction to Linguistic dan Semantic, yang saya tunda-tunda terus pengambilannya. Seharusnya mata kuliah ini diambil di semester-semester sebelumnya, tetapi berhubung saya agak kurang menyukainya a.k.a males mempelajarinya, maka akhirnya selalu ditunda. Saya malah menghabiskan mata kuliah Translation yang jumlahnya sepuluh yaitu dari Translation I sampai dengan Translation X, yang seharusnya diambil belakangan.

Tetapi, akhirnya mau tidak mau, suka tidak suka saya harus mengambil mata kuliah tersebut, karena mata kuliah yang lain belum ditawarkan di semester itu. Yang jadi masalah kemudian adalah, pada saat yang bersamaan saya menerima terjemahan dan tenggat waktunya sudah mepet sekali. Saya mulai bingung membagi waktu antara mempelajari materi Introduction to Linguistic dan Semantic tersebut dengan mengerjakan terjemahan yang sudah saya janjikan. Sebagai orang yang baru mulai memasuki dunia penerjemahan, saya tidak ingin klien kehilangan kepercayaan kepada saya bila saya telat mengirimkan hasil terjemahannya.

Semua modul kuliah yang saya punya berupa e-book, dan….ternyata, modul untuk kedua mata kuliah tersebut tidak ada, alias saya tidak mempunyainya. Tambah panik, karena ujiannya dua hari lagi. Saya tahu di internet pasti banyak ada materi tentang itu, hanya saja kembali ke masalah waktu untuk mengubek-ubek di google. Saya menyesali diri yang kurang pandai dalam membagi waktu kemarin-kemarinnya, dasarnya sih…karena emang kurang interes dengan mata kuliah tersebut.
Dalam kebingungan saya ingat dengan seorang teman Bahterawan, seorang pencinta bahasa, yang baik hati dan tidak sombong :-), yang saya yakin pasti bisa memberikan tautan di internet untuk materi tersebut. Sehingga, saya ngga usah berlama-lama mencarinya. Sehari sebelum hari ujian, saya kirim email dan minta bantuannya. Bener saja, beliau langsung memberikan sebuah tautan, dan……..ternyata artikel itu super lengkap membahas materi yang saya butuhkan. Saya membacanya dengan cepat dan mencatat  poin-poinnya, maka jadilah saya belajar dengan sistem SKS alias Sistem Kebut Semalam 🙂

Esoknya, saya berangkat ujian dengan cukup lega, karena setidaknya ada “sedikit bekal” yang saya bawa. Dan, saya merasa Tuhan begitu baik, karena soal-soal yang keluar hampir semuanya ada di materi yang saya pelajari malam sebelumnya. Wah, bisa dibayangkan, kalau saja saya tidak dapat tautan dari Bahterawan dermawan tersebut (terima kasih, lho… ) sudah dipastikan saya pasti akan planga-plongo, dan hanya bisa menatap soal-soal dengan bengong.

Dan hasilnya? Kemarin sudah diumumkan, syukurlah… ternyata lulus, walaupun tidak dengan nilai sempurna, tetapi itu sudah sangat cukup bagi saya mengingat histori menjelang ujian 🙂