Tag Archive | buku

Ibu yang fasih bercerita tentang Sabda Palon

Seharian ini saya berada di rumah ortu di Dalung untuk mengikuti acara ‘melaspas’ Merajan yang baru direnovasi. Setelah pemelaspasan, acara dilanjutkan dengan acara ‘mewinten’ yang diikuti oleh tiga saudara lak-laki saya beserta istri masing-masing (akan saya ceritakan dalam tulisan tersendiri nanti).

Setelah semua acara selesai, tibalah saat santai dan saya ngobrol-ngobrol ringan dengan Ibu. Ibu bertanya tentang buku-buku Sabda Palon (rupanya beliau mendengar dari adik-adik saya bahwa saya menjual buku-buku tersebut).

“Coba ceritakan tentang isi buku Sabda Palon itu. Gimana ceritanya? Sama ngga dengan yang Ibu tahu?”

“Sama, Bu. Isi buku ini diambil dari menjelang runtuhnya Majapahit.” Saya kemudian bercerita secara ringkas tentang buku Sabda Palon ini.

“Bukunya tebal, ya?”

“Tebal, Bu. Karena semua peristiwa selama rentang waktu itu diceritakan secara mendetail. Yang sudah terbit ada 3 jilid. Jilid keempat akan terbit akhir bulan ini.”

Ibu kemudian bercerita panjang lebar tentang kisah Sabda Palon. Wah, tidak saya sangka, Ibu begitu fasih dan tahu banyak tentang Sabda Palon. Saya serius mendengarkan sambil mencocokkan isi cerita Ibu dengan isi buku yang sudah saya baca. Sesekali saya nyeletuk, “Iya, Bu, di buku ini juga ada disebutkan tentang hal itu.”

Ibu tampaknya antusias sekali. Iya iya, tentu saja Ibu tahu banyak. Tampaknya kakek sering bercerita pada Ibu tentang kisah Sabda Palon. Saya tahu kakek punya banyak koleksi lontar yang mungkin saja di sana ada cerita tentang itu. Saya juga tahu di Merajan di kampung (rumah asal Ibu), dari belasan pelinggih yang ada, terdapat satu pelinggih ‘rong dua’ dan di sana yang distanakan adalah Betara ring Majapahit. Tidak heran kalau Ibu tahu banyak tentang masa-masa akhir Majapahit. Ibu kelihatan sedikit emosional saat bercerita tentang Raden Patah yang tega ‘menghukum’ ayahandanya.

Ibu juga sangat ingat dengan kalimat “tunggulah kedatanganku lima ratus tahun lagi” 🙂

Di akhir obrolan kami, saya berjanji akan membawakan beliau buku-buku Sabda Palon pada kunjungan saya berikutnya.

*Teriring doa semoga Ibu dan Ajik senantiasa diberi kesehatan dan ketenangan batin*

Advertisements

Pesona Penyingkap Makna: Sebuah Kado Spesial

AImagekhirnya, buku Bahtera ke-3 yang lama ditunggu-tunggu kini sudah siap terbit, siap edar. Buku antologi yang diberi judul Pesona Penyingkap Makna (PPM) ini memuat tulisan beberapa  penerjemah yang menuliskan berbagai hal tentang dunia penerjemahan. Di buku ini saya menyumbang dua tulisan seperti juga pada buku sebelumnya, Buku Bahtera ke-2 yang berjudul Menatah Makna.

Saya tidak akan berpanjang kata tentang buku keren ini. Isi selengkapnya bisa dibaca di sini. Tapi ada satu hal yang membuat saya senang dan akan tercatat dalam sejarah hidup saya *halah* ;-), karena buku ini akan diluncurkan secara resmi  pada tanggal 20 April 2013, yang bertepatan dengan hari ulang tahun saya, dan bertempat di Almamater saya, kampus Universitas Warmadewa Denpasar. Hari itu bertepatan juga dengan peresmian Komda HPI Bali-Nusra dan Seminar bertajuk “Not Lost in Translation”. Sebuah kebetulan yang menyenangkan, bukan? 😀

Jadi, boleh dong saya merasa buku ini sebagai kado ulang tahun spesial bagi saya. 😀

Oh, ya, buku PPM ini dibandrol dengan harga Rp. 65.000,- plus ongkos kirim. Untuk pemesanan silakan hubungi Ibu Sofia F. Mansoor di alamat email sofiamansoor@gmail.com.

(Ssst, saya masih belajar menjadi penulis, dan sampai saat ini masih menyimpan obsesi untuk menulis sebuah novel. Tema sudah ada, kerangka sudah ada, tinggal menulis saja, tapiiii… kapan mulainya yaa). 😀

Artikel untuk Buku Bahtera 3

Hampir dua bulan yang lalu Ibu Sofia Mansoor mengumumkan bahwa Buku Bahtera 3 akan segera dibuat, dan sejak itu saya sudah berniat untuk menyumbang dua tulisan. Ide untuk kedua tulisan itu sudah ada tetapi saya tidak bisa langsung menulisnya. Deadline terjemahan yang sudah mepet membuat saya tidak konsentrasi untuk menulis. Saya sudah mencobanya karena khawatir ide yang ada akan terkubur, atau batas waktu pengiriman tulisan sudah ditutup. Hanya saja, setiap memulai menulis teringat dengan deadline, akhirnya saya tidak jadi menyelesaikan tulisan itu. Untuk berjaga-jaga agar ide tersebut tidak hilang, saya ketik konsepnya saja dulu dengan harapan, begitu deadline terpenuhi, saya akan menyelesaikannya segera.

Akhirnya, dua minggu yang lalu artikel pertama bisa saya selesaikan dan langsung dikirim ke panitia. Penulisan artikel kedua tidak bisa langsung diselesaikan karena ada pekerjaan mendesak. Diselingi mengajar dan pekerjaan kecil-kecil (pendek), dan… hari ini selesai sudah artikel kedua. Sekarang tinggal berdoa saja semoga kedua artikel tersebut lolos seleksi dan bisa dimuat di Buku Bahtera 3 bersama penerjemah-penerjemah lainnya yang hebat-hebat. 🙂

Dalam buku Bahtera 2 yang diberi judul Menatah Makna (MM), yang terbit pada bulan Februari 2011, saya menyumbang dua artikel juga. Sedangkan pada buku Bahtera 1 yang diberi judul Tersesat Membawa Nikmat (TMN) saya tidak menyumbang tulisan, tentu saja tidak karena saya belum jadi anggota milis Bahtera saat itu. 😉 Buku TMN ini terbit pada bulan Juli 2009, sedangkan saya baru jadi anggota milis Bahtera sebulan kemudian, tepatnya Agustus 2009.

Jayalah, Bahteraku! 🙂