Tag Archive | Capres

Belajar dari pengalaman

Akhirnya, hanya ada dua capres dengan cawapresnya masing-masing yang siap bertarung di ajang pilpres  Juli nanti. Tentu dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kita tahu persis tidak ada manusia yang sempurna, begitu juga dengan kedua capres ini. Menurut saya yang awam ini keduanya memiliki peluang yang sama, fifty-fifty. Bagi saya yang rakyat jelata, siapa pun yang terpilih sebagai presiden nanti harapan saya semoga sang terpilih mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik dari saat ini. Dalam segala hal.

Mau bagaimana lagi? Suka tidak suka, salah satunya akan menjadi presiden kita.

Mungkin banyak yang kecewa karena capres A yang tadinya diidolakan ternyata memilih cawapres yang tak diinginkannya. Banyak juga yang kecewa bahkan ilfil karena capres B yang tadinya amat dijagokan ternyata berkoalisi dengan partai-partai yang membuat kecewa. Yah, keinginan kita memang tak selalu terkabul seperti apa yang kita inginkan.

Besar harapan saya semoga kedua capres (plus pendukungnya masing-masing) menyadari sepenuhnya bahwa ini adalah sebuah kompetisi. Dan sebagaimana layaknya sebuah kompetisi pastilah ada yang menang dan ada yang kalah. Tidak mungkin semuanya menjadi pemenang. Siapa pun yang kalah nanti agar bisa menerima dengan jiwa besar dan mengakui kemenangan rivalnya. Begitu juga siapa pun yang menang agar rendah hati dan tetap menghargai rivalnya, tidak seketika sombong dan bersikap merendahkan rivalnya.

Khusus untuk semeton ring Bali, mari kita berkaca pada pilpres tahun 1999 silam ketika terjadi amuk massa karena capres yang dijagokannya tidak terpilih. Jangan sampai hal itu terulang kembali. Kita tentu sangat ingat bagaimana kerusuhan terjadi, tepatnya tanggal 21 Oktober 1999, terjadi amuk massa di beberapa daerah di Bali yaitu Buleleng, Badung, Denpasar, Jembrana dan Tabanan. Pemicunya adalah massa pendukung sang capres yang kecewa karena calonnya tidak terpilih.

Saat itu Bali sempat lumpuh total. Beberapa gedung pemerintah diamuk dan dibakar massa. Pohon-pohon besar perindang jalan ditebang untuk menutup jalanan. Ban-ban bekas dibakar di tengah jalan. Kerusuhan terparah terjadi di Pusat Pemerintahan (Puspem) Kabupaten Badung yang terletak di daerah Lumintang. Hampir semua gedung perkantoran di Puspem ini terbakar hangus. Rumah saya yang jaraknya tak terlalu jauh dari puspem ini merasa cukup tegang dan berdoa semoga kerusuhan tak semakin menjalar. Orang tua dan saudara-saudara saya, juga kakak-kakak ipar menelpon saya dan menanyakan keadaan saya. Mereka wajar amat khawatir karena lokasi kerusuhan cukup dekat dan peristiwa kerusuhan 1998 di Jakarta belum hilang dari ingatan.

Waktu itu anak saya masih duduk di TK Besar. Saya baru saja sampai di rumah sepulang dari sekolahnya ketika kerusuhan meledak. Saat itu tempat kerja suami saya di daerah Tuban. Begitu mendengar kerusuhan, suami dan teman-temannya pulang lebih cepat. Karena jalan-jalan utama diblokir oleh pelaku kerusuhan dengan menumbangkan pepohonan besar dan membakar ban-ban bekas, suami berusaha mencari jalan-jalan tikus (jalan-jalan kecil) untuk sampai di rumah. Hari itu suasana amat mencekam. Tapi syukurlah kerusuhan tak sampai menyerang penduduk sipil.

Saya sangat berharap dalam pilpres mendatang semoga semeton Bali tidak lagi melakukan tindakan “bunuh diri” seperti itu seandainya kandidatnya tidak terpilih. Bukankah itu sama dengan merusak rumah sendiri? Yang rugi siapa? Kita juga kan? Mari bersatu padu untuk menjaga Bali agar tetap aman dan terhindar dari kerusuhan dan tindakan anarkis lainnya. Mari berdoa, agar siapa pun yang terpilih nanti benar-benar menjalankan pemerintahan dengan sebaik-baiknya sehingga tidak mengecewakan banyak pihak.

Semoga segala kebaikan datang dari segala arah. Semoga damai senantiasa. Astungkara.

 

Advertisements