Tag Archive | Curhat

Jangan buru-buru memuji

Beberapa teman di FB meragukan PP saya dan menanyakan kesahihannya. Beberapa di antaranya anak-anak sepantaran anak saya. Salah satunya bertanya agak mendetail sehingga terjadilah percakapan berikut.

+ Bu, PP ini foto kapan? Seperti umur duapuluhan. “ (Walah, lebay kamu, Nak. Ngasih diskon ngga tanggung2).

– “Oh, ya, ini memang foto seperempat abad yang lalu.” (Becanda)

+ “Ah, Ibu becanda, kalau foto lama pasti kelihatan fotonya jadul.”

– “Iya iya, maaf, ini foto bulan Maret lalu.”

+ “Ibu kelihatan cantik dan muda. Susah dipercaya kalau Ibu sudah punya anak gadis.”

– “Eh, jangan percaya sama PP. Foto ini sengaja dicakep-cakepkan supaya kelihatan cakep dan dimuda-mudakan supaya kelihatan muda.”

+ “Emang bisa?”

– “Bisalah, sekarang kan zaman udah canggih. Jadi, jangan dulu melontarkan pujian bertubi-tubi.”

+ “Masa bisa sih?”

– “Iya, pokoknya jangan percaya sama PP saya sebelum melihat orangnya langsung. Atau minimal mendengar dari orang yang sudah ketemu saya. Jangan sampai setelah kamu melihat aslinya, trus ngedumel dan misuh-misuh: ‘Uh, fotonya aja kelihatan cantik dan muda, aslinya… amit-amit!’

+ “Emang pake aplikasi apa, Bu?”

– (Berpikir sejenak) “Di Android banyak tuh ada program untuk itu.” (Menirukan ucapan seorang teman ketika saya menanyakan pertanyaan yang sama padanya).

+ “Oh, gitu. Trus, Ibu pake aplikasi yang mana supaya kelihatan muda begini?”

Mampus saya! Saya tak tahu satu pun nama aplikasi-aplikasi tersebut. HP saya tak berisi aplikasi apa pun, bahkan FB pun tidak. Saya berusaha tetap stay cool.

– “Saya lupa nama aplikasinya, coba nanti saya inget-inget dulu. Btw, sudah dulu, ya, Nak. Saya mau lanjut kerja lagi.” (Saya ingin segera mengakhiri percakapan sebelum saya kelihatan makin bodoh. Selain itu, saya memang beneran mau melanjutkan kerja).

– “Iya, Bu, selamat bekerja.”

– “Makasih.”

*****

Advertisements

Baju Pinjaman

Kejadian ini sudah terjadi cukup lama. Ceritanya, sore itu saya ke warung sebelah rumah dengan niat untuk membeli kripik singkong (camilan favorit saya). Anak dari si pemilik warung ini membuka studio musik, jadi, warung ini sebenarnya lebih untuk anak-anak yang antri menunggu gilirannya menggunakan studio.
Begitu masuk ke warung itu, saya mendengar seorang anak berbisik pada temannya.

“Eh, ibunya Gayatri memakai baju anaknya!”

Jleb! Niatnya berbisik tapi suaranya terlalu keras untuk sebuah bisikan.
Saya langsung menoleh sumber suara itu. Terlihat sekelompok anak muda yang tampaknya sedang menunggu giliran untuk masuk studio. Saya memandang mereka dengan wajah datar, tanpa ekspresi sambil berkata dalam hati “berani-beraninya ngrasani orang tua yah!”
Seketika mereka terdiam begitu melihat mimik saya.

“Ci demen je ngomong, sing ngelah gae ci,” bisik salah seorang dari mereka sambil menyikut temennya yang bicara tadi.

“Cang be kisi-kisi, sanget munyin cang busan?” bisik anak itu.

“Sanget ajan, ci!”

Saya tak bicara sepatah kata pun, hanya menatap mereka dengan mimik wajah yang barangkali tampak ‘menyeramkan’ sampai-sampai mereka tak berkutik. Semua menunduk. Tanpa suara.
Iya, hari itu saya memang memakai T-Shirt anak saya. Baju kaosnya waktu SMP yang ada tulisan “Teater Panca.” Waktu SMP anak saya ikut ekstrakurikuler teater dan seperti pada umumnya, tiap-tiap ekstrakurikuler pasti punya kaos sendiri. Nah, berhubung baju itu nganggur dan masih bagus, udah gitu kainnya juga bagus, katun yang sejuk, nyaman di badan, yaa udah, saya pakai aja. Apalagi waktu itu sedang musim panas dan saya butuh kaos-kaos yang sejuk dan nyaman.

Rupanya beberapa di antara anak-anak tadi adalah alumni SMPN 5 yang mungkin ikut ekstra teater juga sehingga amat mengenali baju yang saya pakai. Masalahnya, kenapa mesti ngrasani orang di depan orangnya langsung? Ngga sopan banget kan? 😛

Untuk teman-temannya Gayatri yang kebetulan membaca ini, saya ‘peringatkan’ agar jangan kaget karena kami memang biasa saling tukar pakai baju dari T-Shirt sampai kebaya. So, kalau toh mau ngrasani, tunggulah sampai orangnya lenyap dari pandangan, OK? 😀

Kala Hati Gundah…

Sore itu, saya rehat sejenak dan melepaskan diri sesaat dari terjemahan setelah berkutat dengan beberapa idiom. Untuk menyegarkan otak, saya melihat-lihat foto di FB dan berencana untuk mengatur lokasi beberapa foto agar rapi. Saya ingin memindahkan beberapa foto ke album yang sesuai dengan kategorinya.

Untuk cepatnya, karena malas mencoba-coba saya bertanya pada anak. Terjadilah percakapan sebagai berikut:

Saya : “Ajung, Ibu mau memindahkan beberapa foto ke album, bisa ‘kan?”

Anak: “Bisa. Emang sekarang foto-fotonya ada di mana?”

Saya: “Di wall. Gimana caranya?”

Anak: “Ibu masuk ke album mana yang diinginkan, trus klik ‘Edit’ di pojok kanan atas”

Saya: “Kok ngga mau, Jung?” (Setelah mencoba seperti yang dikatakan anak, tapi tidak berhasil, tidak ada ‘Edit’ yang saya cari.)

Ajung: “Pasti mau, Bu, Ajung sering kok mindahin foto dari satu album ke album lain.” (Sambil tetap asyik dengan PC-nya).

(Saya mencoba lagi, tapi tetap tidak ada perubahan)

Saya: “Ngga mau, Jung, nih coba lihat, mana menu ‘Edit’, ngga ada….” ((Saya mencoba lagi, tapi tetap tidak ada perubahan).

Anak: “Aduh, Ibu ini, masa sih ngga mau. Nih, lihat, punya Ajung mau nih.” (Suaranya mulai terdengar tidak sabar).

Saya: “Tapi di sini tidak mau.” (Saya tetap tidak beranjak dari depan laptop, dan mencoba lagi, dan gagal lagi.)

Anak: “Coba Ibu masuk dulu ke album tempat foto itu berada. Trus Ibu klik album itu.” (Masih tetap serius menatap PC-nya).

Saya: “Udah, Ibu udah masuk ke album nih.”

Anak: “Apa nama albumnya?”

Saya: “Photos of you.”

Anak: “Ibuuuuuuuu!!” (Tiba-tiba dia menjerit kesal)

Saya: “Kenapa?” (Heran!)

Anak: “Itu bukan albumnya Ibuuuu!”

Saya: “Tapi, di situ ada banyak foto-fotonya Ibu….”

Anak: (Wajahnya tampak gemes dan menatap saya seperti ingin mencakar-cakar saya) “Betul di situ ada banyak foto-fotonya Ibu, tapi itu kan bukan Ibu yang upload, emangnya Ibu yang buat album ‘Photos of you’ itu? Ibu cuma di-tag saja kan??”

Saya: “Ya, iya sih emang, tapi kan karena ada foto-fotonya Ibu, mestinya bisa dong dipindah ke album yang Ibu inginkan.”

Anak: “Ibuuuuu!!!” (Sekarang dia beralih dari PC,  gemas tingkat dewa karena melihat saya yang belum juga mengerti. Tangannya mencakar-cakar rambutnya, kepalanya ditempelkan ke dinding, seolah-olah hendak dibenturkan).  Saya masih memandangnya dengan pandangan tidak mengerti.

Anak: “Denger ya, Bu. Foto-foto itu adalah milik temen-temennya Ibu yang masing-masing tersimpan di album mereka. Mereka itu cuman nge-tag Ibu. Semacam memberi izin pada Ibu untuk melihat saja, tapi bukan berarti Ibu bisa ‘memiliki’ foto-foto itu.

Saya: (Masih bengong)

Anak: “Contohnya gini, ya, Bu, Ajung punya pensil dalam kotak pensil, trus kalau Ibu mau minjem, boleh, tapi Ibu ngga boleh nyimpen pensil itu di kotak pensilnya Ibu, karena itu milik Ajung, bukan milik Ibu!” (Sambil menatap saya dengan mimik wajah seperti hendak nangis, saking keselnya).

Sejenak kemudian saya sadar dengan ke-o’onan saya, dan meledaklah ketawa saya. Terpingkal-pingkal sampai tidak bisa bicara dan, tentu saja, sampai berlinang air mata :-D. Anak saya yang gemes tingkat setan (bukan dewa saja), juga ngakak sambil ‘nangis’ saking gemes bin kesel, sambil tetap membentur-benturkan kepalanya ke dinding (tentu saja hanya dibenturkan pelan-pelan). 😀

Waduh, kegundahan hati saya membuat daya pikir saya terganggu. Memang, kala itu saya sedang galau oleh rasa bersalah, karena tidak bisa menepati deadline. Sesuatu yang belum pernah terjadi. Saya juga sudah mengirim pesan menyampaikan permohonan maaf kepada editor karena keterlambatan ini, yang disebabkan oleh sesuatu yang benar-benar di luar dugaan. Saya katakan dengan terus terang apa penyebab keterlambatan ini. Memang saya sudah mengirimkan pekerjaan saya sebagian, karena belum semua, tetap saja namanya terlambat.

Puji Tuhan, sang editor yang manis dan baik hati itu memakluminya dan membalas pesan saya dengan ramah.

“Mbak Desak… gpp, santai aja. saya kasih waktu tambahan 1 minggu ya, biar ngeditnya bisa lebih santai dan teliti. 🙂 ini saya sedang nangani buku yang lain juga kok.”

Oh, terima kasih, Anda sungguh baik hati. Udah baik, ramah, cantik pula. God bless you, always….

Walau demikian perasaan bersalah ini tidak bisa hilang begitu saja.

Ular beneran!

Di musim liburan ini begitu banyak ada acara-acara menarik yang layak dikunjungi. Salah satunya adalah Japan Expo yang diadakan pada tanggal 30 Juni 2012, yang penyelenggaraannya bertempat di Lapangan Parkir GOR Lila Bhuana (Ngurah Rai) Denpasar. Pada dasarnya acaranya menampilkan segala sesuatu yang berbau Jepang, pernak-pernik Jepang dan berbagai lomba yang berbau Jepang.  Dimeriahkan juga oleh cosplayer yang berdandan ala tokoh-tokoh manga atau ala tokoh-tokoh kartun Jepang.

Anak saya bersama teman-temannya juga mengunjungi acara ini. Di samping rasa ingin tahunya, juga kebetulan salah satu adik kelasnya ikut sebagai cosplayer.

Sepulang dari sana, seperti biasa setiap datang dari bepergian, dia bercerita dengan heboh apa-apa saja yang dialaminya di sana. Mendengar ceritanya, saya seolah-olah menyaksikan langsung  suasana tersebut. Tapi, yang membuat saya terbelalak ketika dia bilang bahwa dia berfoto dengan seekor ular yang melilit di bahunya! Saya tidak percaya, sampai dia memperlihatkan hasil fotonya. Saya tambah kaget bercampur takjub dan sediki ngeri. Saya tidak habis pikir dan tidak pernah menduga dia berani melakukan itu, sementara teman-teman yang diajaknya tidak ada yang berani.

“Ih, Ajung ngga takut?” tanya saya sambil bergidik melihat fotonya.

“Tadinya sih takut, Bu. Tapi kemudian ngga takut lagi. Ternyata ular itu tidak seperti yang kita duga lho, Bu. Ternyata ular itu cantik!”

“Hah? Cantik?!”

“Iya cantik, Ajung malah kasihan melihatnya, Bu. Diajak joget-joget gitu sama pawangnya, terus dioper-oper kesana kemari. Kaya’nya ular itu udah capek banget.  Ajung bisa lihat dari matanya.”

Hah!

Saya tahu anak ini penyayang binatang. Tidak tega melihat binatang yang menurutnya tersakiti.

Termasuk membunuh tikus dan kecoa pun dia tidak tega. Ini lebay, bukan?  Kalau melihat tikus di rumah, dia akan mengusirnya agar lari sehingga tidak dilihat oleh ayahnya, yang  pasti akan memburu dan membunuhnya.

Pernah ada ulat bulu yang entah bagaimana caranya masuk, tahu-tahu sudah menempel di dinding kamarnya yang memang berdekatan dengan kebun.

Dia buru-buru memanggil saya dan mengatakan ada ulat bulu. Saya segera datang dan bersiap untuk membunuhnya. Pelan-pelan ulat itu saya pindahkan ke selembar kertas bekas dengan bantuan lidi. Niat saya adalah membungkusnya kemudian membuangnya ke tempat sampah. Tapi anak saya keburu berteriak.

“Ibuuu, jangan diremas kertasnya, hati-hati, kasihan….”

HAH? Kasihan? Dia ngga tahu apa bulu ulat tersebut bisa bikin gatal seluruh tubuh?

“Terus? Ibu apain dong ini?” tanya saya.

“Taruh di pepohonan di depan rumah aja, pokoknya jangan dibunuh.”

Ya, ampun anak ini.

Tapi saya mengikuti juga kemauannya. Ulat itu saya buang di antara pepohonan yang cukup lebat di pinggir jalan di depan rumah saya.

Anak yang aneh.

Bukan hanya terhadap binatang dia seperti itu, terhadap tumbuh-tumbuhan juga. Ketika jaman kampanye dulu. dia sering marah dan sedih melihat pohon-pohon di pinggir jalan dipaku seenaknya untuk memasang gambar-gambar para caleg. Dia menyumpahi supaya para caleg itu tidak menang.

“Tega sekali memaku batang-batang pohon untuk memasang gambar-gambar tidak penting itu!” ujarnya kesal dengan mata berkaca-kaca. Seolah-olah dia merasakan sakitnya pohon-pohon tersebut.

Walaupun dia begitu penuh belas kasih terhadap segala makhluk hidup, tapi saya tidak pernah menyangka dia berani melilitkan ular di tubuhnya! Ular beneran! Sementara saya begitu takut dengan ular, dan selalu berdoa agar tidak pernah bertemu ular.