Tag Archive | Indonesia Hebat

Negara apa yang memiliki segalanya? Indonesia Hebat!

27022014(001)Kita semua pasti pernah mendengar lagu-lagunya Koes Plus yang berjudul Nusantara. Koes Plus sampai harus menciptakan beberapa lagu yang berjudul “Nusantara”, dari Nusantara 1, Nusantara 2, Nusantara 3 dan seterusnya untuk menggambarkan betapa beruntungnya kita hidup di Bumi Nusantara ini. Pulau nan indah dengan aneka flora dan fauna yang tak terhitung jumlahnya.

Coba bayangkan apa yang tidak dimiliki oleh negara kita? Tanah yang subur dan luas, pertanian, perikanan, pertambangan, pemandangan indah tiada tara, lautan luas dengan ikan-ikannya yang tiada habisnya. Sumber daya manusia yang melimpah. Hangatnya sinar mentari yang bersinar sepanjang tahun. Tidak ada iklim yang menyebabkan perbedaan suhu yang ekstrim. Ribuan pulau bagai untaian permata yang indah. Beragam suku bangsa dengan adat budayanya yang mempesona. Sungguh karunia Tuhan yang luar biasa.

Dengarlah apa kata Koes Plus di salah satu lagu Nusantara-nya:

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan menghampiri
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Negara mana yang tidak iri dengan apa yang dimiliki oleh Indonesia Hebat ini?

Kalau boleh komplain kepada Sang Pencipta, Negara Jepang akan berkata: “Saya tidak terima diberi daerah seperti itu, pulau kecil tidak karuan, dikelilingi gunung berapi, gempa setiap saat, musim yang tidak karuan, ada 4 musim ada 2 musim. Bagaimana ini?”

Negara Finlandia juga akan protes: “Saya bagaimana, coba? Kebanyakan es! Beku semua! Apa enaknya?”

Begitu juga negara-negara lain kalau diberi kesempatan komplain semua akan mengeluarkan uneg-unegnya dan mengeluh. Mereka akan serempak merasa iri kepada Indonesia dan berkata:

“Kok dia enak banget? Apa-apa tersedia. Pertanian, perkebunan, pertambangan. Udara hangat setiap saat. Tidak perlu beku kebanyakan es. Tongkat ditanam tumbuh kayu. Kolamnya semua dari susu. Ikan tidak dipancing muncul sendiri. Kami iri!”

Iya, mereka memang pantas iri. Kalau kita renungkan, di Asia Tenggara, sumber daya alam Indonesia tak terkalahkan, barangkali di Asia Pasifik juga. Lalu, apa sebenarnya yang kurang dari negara kita? Dengan sedih harus kita akui bahwa sebagian dari saudara-saudara kita masih hidup di bawah garis kemiskinan. Sungguh ironis, bagaimana mungkin ada rakyat yang hidup miskin di negara yang kaya raya dan memiliki segalanya?

Bagaimana cara mengatasi hal ini? Kata kuncinya adalah pemerintah yang bersih dan adil. Kemudian pemerintah betul-betul harus peduli dengan pendidikan warganya. Buka wawasan mereka, beri motivasi agar mereka benar-benar cinta tanah air. Bangkitkan semangat mereka. Pemerintah juga harus memberi contoh bagaimana sikap yang taat hukum dan menunjukkan bahwa semua orang adalah sama di mata hukum. Semua orang mendapat perlindungan hukum yang sama. Tidak ada perkecualian.

Bayangkanlah, negara yang kaya raya, rakyat yang berpendidikan dan cinta tanah air, pemerintah yang adil dan bijaksana. Semua orang mempunyai disiplin tinggi dan taat hukum. Kalau begitu halnya, siapakah atau apakah yang bisa menandingi negara kita? Sungguh kita harus berterima kasih kepada Tuhan yang telah menganugrahi kita alam yang begini sempurna. Sungguh, kita pantas berbangga karena hidup di Indonesia,  Indonesia Hebat!

 

Advertisements

Nyepi dan “Earth Hour” untuk Indonesia Hebat

Tak bisa dipungkiri Indonesia memang negara yang kaya dengan beraneka adat dan budaya. Walaupun harus diakui juga bahwa adat dan budaya tak terpisahkan dengan pelaksanaan upacara agama. Salah satunya adalah pelaksanaan Hari Raya Nyepi di Bali yang amat kental dengan nuansa budaya. Hari Raya Nyepi yang baru saja kita lewati adalah perayaan Tahun Baru bagi umat Hindu yaitu Tahun Baru Saka, yang tahun ini jatuh pada tanggal 31 Maret 2014. Nyepi memang merupakan hari raya bagi umat Hindu, tapi kalau dicermati makna yang terkandung dalam Nyepi amat dalam dan efeknya tidak hanya bermanfaat bagi umat Hindu. Efek terbesar adalah alam Bali berkesempatan untuk “beristirahat” dari riuh-rendahnya roda kehidupan.

Menjelang Nyepi

Rangkaian Hari Raya Nyepi diawali dengan “Melis” atau “Melasti” yaitu ritual penyucian berbagai simbol-simbol suci atau sarana persembahyangan yang terdapat di Pura yang dilakukan di laut. Kenapa laut, karena laut diyakini merupakan sumber air suci yang akan membersihkan segala kekotoran.

Ogoh-ogoh

Ogoh-ogoh

Sehari sebelum Nyepi adalah hari Pengrupukan yaitu diadakannya upacara Tawur Kesanga atau yadnya suci untuk para Bhuta Kala (segala kekuatan negatif) agar sirna dan tidak mengganggu kehidupan manusia. Rangkaian upacara ini dilaksanakan mulai dari tingkat rumah tangga, dusun, desa sampai ke tingkat provinsi dengan sarana upakara tertentu. Hari Pengrupukan ini biasanya dimeriahkan juga dengan pawai ogoh-ogoh yakni patung yang berwujud Bhuta Kala yang terbuat dari kertas dan bambu atau bahan-bahan lain yang ringan dan mudah terbakar. Ogoh-ogoh ini selanjutnya diarak mengelilingi lingkungan sekitar untuk kemudian dibakar, yang merupakan simbolis sirnanya kekuatan jahat atau kekuatan negatif.

Pelaksanaan Nyepi

Keesokan harinya, tibalah hari raya Nyepi yang jatuh pada tanggal 1 Sasih Kadasa (bulan kesepuluh). Pada saat itu umat Hindu melakukan empat Tapa Brata Penyepian (pengendalian diri) yaitu:

  1. Amati Geni (tidak menyalakan api)
  2. Amati Karya (tidak beraktivitas)
  3. Amati Lelungaan (tidak bepergian)
  4. Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang).

Agak berbeda dengan perayaan tahun baru pada umumnya yang dirayakan dengan pesta-pesta. Umat Hindu membuka tahun barunya dengan menyepi, hening, tidak beraktivitas. Hari untuk berkontemplasi, merenung dan menyiapkan diri untuk menyambut hari-hari berikutnya yang penuh dinamika. Suka dan duka siap menunggu dalam perjalanan ke depannya.

Suasana di jalan raya saat Nyepi

Suasana di jalan raya saat Nyepi

Dengan melaksanakan empat tapa brata itu bisa kita lihat betapa hal itu sangat bermanfaat bagi alam. Selama 24 jam bumi Bali terbebas dari berbagai polusi. Bumi dan alam benar-benar bisa beristirahat setelah “melayani” penduduknya selama 364 hari non-stop dalam setahun. Jalanan lengang, tidak ada kendaraan yang turun ke jalan. Sejenak Bumi bisa bernapas lega. Udara pun bersih. Ibarat tubuh manusia, bumi dan alam berkesempatan melakukan pembersihan diri. Masyarakatnya beristirahat di rumah masing-masing. Ibarat komputer, sang komputer di-shut down sejenak setelah menyala selama 24 jam penuh. Secara ekonomi, pelaksanaan Nyepi juga memberi kontribusi karena terjadi penghematan BBM sampai sekitar 50% atau terjadi penghematan devisa negara sekitar Rp. 52 miliar  (dari berbagai sumber). Tentunya ini cukup hebat, bukan? Jadi, bisa dikatakan, pelaksanaan Nyepi di Bali sangat mendukung gerakan hemat energi, yang artinya Bali sebagai bagian dari negara Indonesia sangat mendukung agar Indonesia menjadi negara yang Hebat dalam ikut serta berpartisipasi mengatasi Global Warming.

Hubungannya dengan “Earth Hour

Terlepas dari konteks keagamaan, kita bisa merenungi manfaat Nyepi, kita bisa membayangkan, bagaimana jadinya alam semesta ini kalau setiap negara mampu melakukan “Nyepi” sehari dalam setahun. Alam semesta akan berterima kasih karena mendapat kesempatan untuk “beristirahat sejenak.” Atmosfir udara akan bersih dan sedikit banyak membantu meringankan efek Global Warming. Tetapi tampaknya hal itu tidak bisa terwujud saat ini, walaupun suatu saat, entah kapan, hal itu bisa saja terjadi. Saat ini dunia baru bisa menerapkan “Earth Hour” atau Jam Bumi, yaitu pemadaman listrik selama satu jam yang dilakukan setahun sekali.

Program Earth Hour pertama kali dicanangkan oleh Wordl Wide Fund for Nature (WWF)  yang pelaksanaannya dilakukan setiap Sabtu terakhir di bulan Maret. Awalnya program Earth Hour hanya dilaksanakan di Sydney, Australia. Tetapi sejak tahun 2008 Earth Hour dilakukan secara global karena beberapa negara di dunia ikut berpartisipasi termasuk Indonesia untuk melaksanakan program ini. Ini berhubungan dengan isu global warming karena dengan mengurangi pemakaian energi listrik selama satu jam dalam setahun, itu cukup memberi arti bagi bumi, sekecil apa pun. Saat Hari Raya Nyepi, umat Hindu (khususnya di Bali) bahkan tidak menyalakan lampu selama 24 jam. Bali gelap gulita selama semalam (kecuali tempat-tempat pelayanan vital seperti rumah sakit). Bukankah itu juga cukup berarti? Bali hebat! Indonesia Hebat! Itu mungkin yang dikatakan oleh orang luar karena Bali mampu melaksanakan Nyepi selama sehari semalam dan memberikan efek yang positif untuk alam dan lingkungan.

Karena Bali merupakan bagian dari negara Indonesia, tentu Indonesia juga hebat. Ada yang lebih indah yaitu, toleransi antar umat beragama di Bali sangat tinggi. Terbukti dari umat non-Hindu yang berada di Bali mendukung pelaksanaan Nyepi dengan jalan ikut berpartisipasi untuk tidak menyalakan lampu, tidak bepergian dan tidak menimbulkan suara-suara yang menganggu hikmatnya pelaksanaan Nyepi. Sungguh, Bali hebat! Sungguh, Indonesia Hebat!