Tag Archive | kehidupan

Lucid Dream

Lucid DreamKemarin saya membaca sinopsis sebuah buku yang muncul di Beranda FB saya, yang dijual secara online. Judulnya “Lucid Dream.” Kebiasaan saya adalah membaca semua sinopsis buku yang muncul di Beranda, begitu juga buku ini. Nah, setelah membaca semuanya, saya terkaget-kaget karena saya sering mengalami apa yang diuraikan di sana. Karena tertarik dan penasaran, saya langsung googling dan mencari penjelasan yang lebih mendetail.
Dari hasil googling sana-sini, saya mendapatkan beberapa fakta tentang Lucid Dream yaitu:

1. Lucid Dream adalah suatu kondisi saat kita bermimpi dan sadar sepenuhnya bahwa kita sedang bermimpi.
2. Mimpi yang kita alami terasa begitu nyata dan jelas.
3. Kita bisa mengontrol jalannya mimpi dan mengarahkan ending-nya.
4. Semua indria aktif.

Lalu apa perbedaan Lucid Dream (LD) dengan mimpi biasa? Kata kuncinya adalah: kesadaran. Dalam LD kita mengalami segala sesuatu yang terjadi dalam mimpi dengan sadar, dan saat terbangun kita mengingat semuanya dengan amat jelas. Sedangkan mimpi biasa, kita seolah-olah hanya melihat atau menyaksikan suatu kejadian dan saat terbangun kita tidak mengingat semua kejadian dalam mimpi itu, alias ada sebagian ingatan yang hilang.

Saya beberapa kali bahkan bisa dikatakan sering mengalami mimpi seperti itu. Hanya saja, saya tidak tahu bahwa itu yang namanya Lucid Dream. Terkadang saat terbangun saya bertanya-tanya, apakah yang saya alami tadi sebuah mimpi atau sebuah realitas. Begitu nyatanya sampai saya ragu-ragu sendiri. Saya sering berpikir dan merasa heran, kok mimpi saya aneh, sih. Sekarang, apa yang sebelumnya saya anggap aneh ternyata ada jawabannya, ternyata memang ada fenomena demikian.

Sering kali ketika sedang mimpi, saya berkata sendiri, “oh, saya ini sedang bermimpi.”

Salah satu mimpi saya yang terasa begitu nyata adalah ketika saya mimpi didatangi seseorang, bersalaman dan berkomunikasi dengan intens. Sangat jelas, saya benar-benar bisa merasakan sentuhannya ketika berjabat tangan. Tapi sekaligus juga saya tahu bahwa saya ada di alam mimpi. Saya bahkan sempat membuka mata sedikit dan melihat dengan jelas benda-benda di sekitar saya (lemari, meja, kursi, dsb.) Ibaratnya, kalau dalam LD kita makan makanan yang pedas, misalnya, kita benar-benar merasa kepedasan bahkan rasa pedas itu seolah-olah masih terasa di lidah ketika kita terbangun. Ini untuk menggambarkan betapa nyatanya terasa sebuah LD.

Di waktu yang lain, saya bermimpi dikejar seseorang (saya sebut saja penjahat). Saya berlari kesana-kemari dan ketika si penjahat sudah sedemikian dekatnya, saya “mengatur” diri supaya bisa terbang. Dan memang, seketika saya bisa terbang dengan mengepakkan kedua lengan (berfungsi sebagai sayap), maka selamatlah saya dari si penjahat. Mimpi seram seperti ini beberapa kali saya alami, dan tepat pada waktunya tiba-tiba saja saya bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan diri, yang di dunia realitas tidak mungkin bisa saya lakukan.

Lucid Dream bisa dilatih

Satu fakta lagi yang tak pernah terbayangkan oleh saya adalah, ternyata kita bisa melatih diri agar bisa mengalami LD. Ini juga membuat saya takjub, karena kita bisa merencanakan sebuah mimpi. Merencanakan? Sedangkan selama ini saya sering mengalami LD tanpa pernah memikirkannya sebelumnya, apalagi merencanakannya. Bahkan istilah LD baru saya kenal. Lalu apa manfaat LD sehingga ada orang yang mau bersusah-susah melakukan latihan tertentu untuk bisa mengalami LD?

Beberapa manfaat LD yang saya dapatkan dari hasil googling sana-sini adalah:
1. Meningkatkan kemampuan dalam memecahkan masalah
2. Mengatasi fobia dan trauma
3. Meningkatkan kreativitas
4. Menambah rasa percaya diri
5. Tanya jawab dengan alam bawah sadar kita
6. Sebagai sumber inspirasi (percayakah kita bahwa film “Avatar” yang menghebohkan itu berawal dari sebuah Lucid Dream?)
7. Melatih sesuatu yang di dunia realitas belum bisa dilakukan
8. Mampu menghentikan mimpi yang menyeramkan (mungkin semacam mimpi saya di atas, yang bisa menghindar dari penjahat).

Nah, tampaknya saya harus membaca bukunya selengkapnya agar bisa memahami kenapa dikatakan LD mempunyai manfaat seperti di atas.
Memang keberadaan LD sudah diakui keberadaannya oleh para ahli dan sudah dilakukan penelitian ilmiah tentang hal itu.

Mimpi nyata vs mimpi yang jadi kenyataan

Lucid Dream mungkin bisa juga dikatakan sebagai “mimpi yang begitu nyata” tapi tentu berbeda dengan “mimpi yang jadi kenyataan.”
Perlu diingat bahwa LD tetaplah sebuah mimpi dan apa yang terjadi di sana dan apa yang betul-betul kita rasakan di sana, tetap bukanlah sebuah realitas. Sehingga disarankan, untuk yang sudah benar-benar mahir melakukan LD jangan sampai ketagihan (ternyata ada yang ketagihan, lho). 😀

Mimpi yang jadi kenyataan adalah semacam firasat atau isyarat atau peringatan yang diberikan lewat mimpi, bahwa akan terjadi sesuatu di dunia nyata kita. Isyarat tersebut bisa membuat kita untuk lebih berhati-hati dan waspada.

Ibu saya termasuk orang yang paling sering mengalami mimpi seperti itu. Saya ingat, dulu waktu masih kuliah, pernah suatu pagi Ibu berpesan: “Nanti hati-hati di jalan ya, kemarin malam Ibu mimpi kamu jatuh saat naik motor.”
Dan benar, sore itu saya jatuh di depan kampus. Tapi karena selalu teringat dengan pesan Ibu, saya memang ekstra hati-hati. Sehingga detik-detik saya akan jatuh, saya sangat sadar dan masih bisa mengontrol diri sehingga kondisi jatuh saya tidak parah.

Contoh lain, dulu Bapak saya bekerja di bidang pariwisata. Sebelum mendapat “rezeki nomplok”, Ibu selalu tahu lebih awal. Pagi-pagi, sebelum Bapak berangkat kerja, Ibu akan berkata: “Nanti akan dapat komisi banyak dari seorang tamu yang belanja banyak di sebuah Art Shop.” Bapak yang merasa tidak punya tamu seperti itu akan menjawab: “Ngga mungkinlah, saya ngga punya tamu hari ini.”
Apa yang terjadi? Apa yang dikatakan Ibu memang menjadi kenyataan. Itu terjadi berulang-ulang. Dalam banyak hal, Ibu selalu tahu lebih awal kalau akan terjadi sesuatu. Rupanya pesan-pesan tersebut didapatnya lewat mimpi.

Saya pernah mengalami hal serupa. Dalam mimpi saya didatangi oleh seseorang yang kemudian menyerahkan sebuah benda kepada saya. Benda itu diletakkan begitu saja di atas telapak tangan. Mimpi yang persis sama terulang dua kali dalam minggu itu. Dan? Beberapa hari kemudian ada seseorang yang tak saya kenal datang membawa benda yang persis sama dengan benda yang saya terima dalam mimpi. Tak beda sedikit pun. Benda itu masih saya simpan sampai sekarang.

Beberapa kali saya mengalami mimpi yang sejenis.
Kenapa bisa demikian? Saya pernah membaca di sebuah forum diskusi, bahwa mimpi yang saya alami itu adalah semacam “bocoran informasi” dari alam. Alam sepertinya memberi info bahwa saya akan mengalami hal itu dan bawah sadar saya “menangkap” gelombang bocoran tersebut, menyimpannya, kemudian menyampaikannya lewat mimpi. Kira-kira demikian. Begitu juga yang dialami oleh ibu saya.

Contoh-contoh yang terakhir itu jelas bukan Lucid Dream tapi mimpi yang jadi kenyataan. 😀

Wah, ternyata dunia mimpi itu memang penuh misteri. Atau, otak manusiakah yang penuh misteri?

 

Sumber gambar: https://www.google.co.id/search?q=Lucid+Dream&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ei=7QAUU4_nOobGrAfXmIG4Aw&ved=0CAcQ_AUoAQ&biw=1252&bih=609#facrc=_&imgdii=_&imgrc=khp1bjzYleRPSM%253A%3BfEWIjsXI_mLOYM%3Bhttp%253A%252F%252Fwww.lucid-mind-center.com%252Fimages%252Fgirl-flying-lucid650.jpg%3Bhttp%253A%252F%252Fwww.lucid-mind-center.com%252Fwhat-is-lucid-dreaming.html%3B650%3B650

Advertisements

Ajaran yang harus direvisi

“Ibu mau ke pasar?” tanya anak saya ketika dilihatnya saya siap-siap hendak ke pasar.

“Iya, ikut?”

“Ikuuuttt!” serunya.

“Ayooo.”

Dia selalu suka kalau diajak ke pasar yang jarang-jarang bisa dikunjunginya. Pasar tradisional yang akan kami tuju hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumah saya. Pasar ini amat bersih dan beberapa kali mendapat perhatian dan bantuan dari Pemkot karena kebersihannya. Kami menyusuri lorong-lorong pasar yang hari itu tampak tidak begitu ramai. Tiba-tiba anak saya yang berada di belakang saya berteriak tertahan.

“Aduh, Ibuuuu!”

Saya kaget dan seketika membalikkan badan. “Kenapaaa??”

“Mau copot jantungnya Ajung!” katanya, wajahnya agak pucat memutih.

“Tapi, kenapaaaa?”

Saya tidak melihat ada yang aneh. Hanya kedua tangannya mendekap dadanya. Saking penasarannya, saya memperhatikannya dengan saksama. Dia tampak baik-baik saja. Tadinya saya pikir dia terluka kena gores apa, gitu. Tapi dia masih belum bisa bicara. Saya bergeser agak ke pinggir supaya tidak mengganggu lalu-lalang orang. Karena saya tidak menemukan sesuatu yang aneh pada dirinya, saya diam, menatapnya dan menunggu penjelasannya.

Beberapa saat kemudian dia berkata dengan suara pelan.

“Ajung membunuh sesuatu… Ajung menginjaknya sampai mati, Ajung tidak bisa menghindar.” Kedua tangannya masih tetap di dadanya.

“Membunuh apaaa?”

“Kecoa.”

Ya, ampunnn! Saya hampir tertawa, tapi melihat raut wajahnya yang tampak prihatin, saya hanya tersenyum, tidak jadi tertawa dan bertanya untuk menunjukkan empati belaka, “Kok bisa?”

“Ajung betul-betul tidak bisa menghindar, Bu, kakinya Ajung sudah melayang, sudah terayun melangkah, tiba-tiba kecoa itu datang dan diam persis di bawah telapak kakinya Ajung. Yah, Ajung ngga bisa lagi mengangkat kaki yang sudah siap dijejakkan itu,” jelasnya panjang lebar.

“Ya, sudah, jangan dipikirkan lagi. Sudah takdirnya dia mati seperti itu, mungkin sorganya dia ada di bawah telapak kaki Ajung,” canda saya untuk menghiburnya.

Tapi di luar itu ada yang menjadi pikiran saya. Saya jadi berpikir jangan-jangan ada yang salah dengan ‘ajaran’ saya selama ini. Memang dari dulu, dari semenjak dia mengerti, saya sering menekankan bahwa kita tidak boleh menyakiti makhluk apa pun. Tak saya sangka, ajaran ini menjadi ‘bumerang’. Dia selalu merasa bersalah setiap merasa menyakiti atau membunuh makhluk hidup tertentu. Padahal memang ada beberapa makhluk yang harus dibunuh demi keselamatan manusia.

Yah, ini PR bagi saya untuk meluruskan ‘ajaran’ lama yang ‘kurang bener’ itu.

Sebuah episode kehidupan

Hari itu saya kedatangan seorang gadis belia yang manis, namanya Vivi. Kulitnya putih bersih, perawakannya mungil, tidak terlalu tinggi. Usianya setahun di atas usia anak saya.

Dia datang ke rumah saya disuruh oleh kakeknya untuk membawa file yang harus saya edit. Perkenalan saya dengan gadis ini berawal dari kakeknya (saya sebut saja namanya SA) yang mantan Ketua Pengadilan Tinggi di beberapa daerah. Setelah pensiun dia membuka biro konsultan hukum bersama anak perempuannya, sebut saja namanya AF (ibu dari si Vivi). Saya dengan AF juga dikenalkan oleh Pak SA. Saat itu Pak SA sedang menangani beberapa kasus. Sebagai pembela untuk beberapa kasus, dia harus membuat beberapa pledoi. Anak buahnya sudah mengetik draft pledoi tersebut tapi ternyata banyak salah tik. Entah siapa yang memberi tahu yang jelas Pak SA sampai di rumah saya dan minta tolong untuk mengedit dan merapikan naskah tersebut. Sejak itu dia sering berhubungan dengan saya, kemudian saya dikenalkan dengan putrinya, AF ini.

Singkat cerita, karena sering kontak dan ketemu, saya pun jadi cukup akrab dengan Bu AF. Orangnya ramah dan ceria, banyak tertawa. Dari Bu AF inilah saya jadi tahu banyak tentang situasi di pengadilan dan proses peradilan. Wawasan saya tentang dunia hukum makin bertambah karena dia juga sering mengajak saya ngobrol-ngobrol tentang materi kuliahnya ketika dia masih kuliah mengambil Master Hukum di Unud. Dari pengamatan saya, kasus terbanyak yang ditangani oleh Bu AF adalah kasus perceraian. Beda dengan bapaknya yang lebih banyak menangani kasus sengketa tanah dan politik.

Walaupun saya cukup akrab dengan Bu AF, tapi keakraban kami tidak sampai membicarakan hal-hal yang amat pribadi seperti masalah dalam pernikahan, misalnya. Begitu juga saya yang tak pernah bercerita masalah pribadi. Selalu ada banyak hal yang bisa kami jadikan topik pembicaraan setiap kami ketemu dan selalu ada bahan yang membuat kami tertawa. Semuanya di luar masalah pribadi.

Setelah gadis itu menyerahkan file dan menyampaikan pesan kakeknya, saya berbasa-basi sejenak,  menanyakan kabar mamanya.

“Mama apa kabar, Vi? Lama Mama ngga mampir ke sini, titip salam ya. Kangen lama ngga ngobrol.”

“Mama sekarang tinggal di rumah suami barunya, tante. Ngga sama Vivi lagi. Vivi masih tinggal di rumah kakek.”

“Oh!”

Mendengar  jawaban Vivi seperti itu saya agak kaget dan tidak tahu mesti berkata apa.  Vivi masih berdiri di depan saya. Wajahnya setengah menunduk mempermainkan HP. Raut wajahnya kelihatan datar, hampir tanpa ekspresi bahkan terkesan dingin dan cuek. Sebagai seorang ibu saya bisa melihat ada ekspresi terluka di wajahnya yang berusaha ditutupi dengan sikap cuek. Entah kenapa, saya tiba-tiba merasa sangat sedih melihat gadis ini.

Setelah berhasil menguasai diri saya segera mengalihkan pembicaraan.

“Vivi kuliah di mana? Kaya’nya lama deh tante ngga lihat Vivi. Terakhir ketemu waktu Vivi baru selesai UAN.”

“Vivi kuliah di Fak. Hukum, tante.”

“Wah, sama dong dengan Mama. Mau mengikuti jejak Mama yaa?” balas saya sambil tersenyum.

Sebelum sempat menjawab pertanyaan saya, HP-nya berdering. Dia langsung menjawab panggilan telpon itu.

Haloo… iya, Oom. Iya iya. Iyaaa.  Ini masih di temennya Mama, Oom. Iyaaa.

“Dari suaminya Mama,” katanya tanpa saya bertanya. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. Walau demikian dia berusaha ramah dengan saya.

Oh. Oom? Dia memanggil papa barunya dengan sebutan ‘Oom’, bukannya papa?

Saya menarik napas panjang menahan rasa perih membayangkan perasaan anak ini. Atau, saya yang lebay?

Setelah urusannya selesai dengan saya, dia langsung pamit.

“Salam untuk adik ya, tante,” dia berusaha tersenyum sebelum pergi meninggalkan saya.

Adik yang dia maksud adalah anak saya. Sebelum ini mereka memang sempat bertemu dan beberapa kali ngobrol.

“Makasih, Vivi,” saya mengantarnya sampai ke pintu depan.

*Inilah hidup*

Hidup rukun, apa susahnya, ya?

Saya terlahir di keluarga Hindu yang bisa dikatakan moderat alias tidak terlalu fanatik. Sejak kecil saya tidak pernah mendengar kata-kata bahwa agama saya adalah yang paling baik dan agama lain kurang baik. Sama sekali tidak. Yang ada malah saya diajarkan bahwa semua agama baik, semua agama mengajarkan kebaikan hanya cara dan jalannya yang berbeda. Seperti kata pepatah, banyak jalan menuju Roma.

Saya ingat ketika kakak perempuan saya sekolah di di Bunka School of Fashion dan tinggal di Jakarta, dia pernah punya pacar seorang muslim. Ketika orang tua saya mengetahuinya, beliau tidak serta-merta memarahi atau melarangnya atau memaksanya untuk putus. Karena sadar, kalau sudah jodoh tidak ada kekuatan apa pun yang bisa mencegahnya. Jadi, orang tua hanya memberi bayangan. Ibu bilang: “Kamu serius? Kamu yakin dengan pilihanmu? Kalau kalian jadian, besar kemungkinan dia akan memintamu untuk mengikuti agamanya dan kamu tidak bisa menolak.” Entah karena memang tidak jodoh, kakak akhirnya putus dengan pacarnya.

Lalu bagaimana kalau lelaki Hindu mempunyai pasangan non-Hindu? Apakah pasangannya harus dipaksa memeluk Hindu? Hindu menganut asas patrilineal yang kuat. Di keluarga Hindu, kedudukan anak lelaki memegang peranan penting untuk melanjutkan keturunan dan melaksanakan berbagai kewajiban termasuk melakukan berbagai yadnya untuk para leluhurnya. Dan setiap anak lelaki sudah menyadari hal tersebut. Maka dari itu, kalau pun mereka mempunyai calon pasangan non-Hindu, biasanya dari awal mereka sudah menyampaikan hal tersebut pada pasangannya. Bahwa dia tidak akan pindah keyakinan. Dengan kata lain, kalau si calon pasangan tetap ingin bersamanya, dia harus masuk ke agama suaminya. Kalau si calon merasa siap, hubungan bisa berlanjut sampai jenjang pernikahan. Kalau si calon pasangan merasa tidak sanggup, maka (biasanya) mereka akan berpisah secara baik-baik. Jadi, di sini sama sekali tidak ada pemaksaan. Tidak ada istilah mereka tidak tahu atau kaget ketika dilaksanakan upacara Suddhi Wadani saat mereka menikah. Mereka sudah tahu dari awal. Dengan kata lain, selalu ada pilihan untuk melanjutkan hubungan atau tidak.

Begitu juga kalau ada perempuan Hindu yang memutuskan menikah dengan lelaki non-Hindu, mereka juga pasti sudah siap dengan konsekuensinya ketika sang calon suami memintanya untuk mengikuti agamanya. Karena mereka yakin, dalam satu kapal kurang baik kalau ada dua nakhoda. Kalau mereka merasa tidak siap, mereka pun tidak akan memaksakan diri dan memilih berpisah. Seperti contoh kasus kakak perempuan saya.

Begitu juga ketika lelaki Hindu memiliki pasangan non-Hindu, mereka akan meminta pasangannya untuk menganut agamanya, dan menjalani upacara Suddhi Wadani. Jadi, kami cukup fair, bukan?

Itu adalah kejadian pada umumnya. Dalam beberapa kasus, ada juga pasangan yang tetap menikah dengan mempertahankan agamanya masing-masing. Dalam kasus seperti ini tentu kedua belah pihak sudah memiliki tingkat kedewasaan yang tinggi, saling pengertian dan tingkat toleransi yang tinggi. Saya punya tetangga yang seperti ini. Mereka sudah menikah puluhan tahun dan tetap baik-baik saja. Dua-duanya guru besar di Unud. Saya cukup akrab dengan sang istri (yang muslim). Karena dari awal sudah dibicarakan, dan mereka sepakat, ke depannya mereka tidak pernah ada masalah. Dalam beberapa kesempatan dia menceritakan kebaikan suaminya yang tetap konsisten dengan perjanjian semula sebelum menikah yaitu tetap menganut agama masing-masing tanpa berusaha mengintimidasi satu sama lainnya. Begitu juga si istri, tidak berusaha mempengaruhi suaminya. Saya salut dan hormat kepada ibu profesor ini. Dia sangat bisa menempatkan diri. Kalau di daerah kami ada upacara adat (Hindu), dia menyesuaikan penampilannya dengan ikut mengenakan kebaya. Hal ini membuat kami tambah hormat.

KASUS LAIN.
Saya sudah terbiasa dengan lingkungan yang heterogen dan terbiasa hidup rukun dengan antar umat beragama dan saling menghargai. Dulu, ketika ayah mertua saya meninggal, kami didatangi oleh wakil dari komunitas muslim. Mereka ingin mengadakan tahlilan di rumah kami, di samping jenazah ayah mertua. Mereka ingin ikut mendoakan almarhum yang semasa hidupnya memang sangat dihormati dan disegani karena kebaikan dan kedermawanannya. Sebelum menjawab, keluarga besar kami mengadakan pertemuan untuk membahas permintaan tersebut. Akhirnya diputuskan kami menerima permintaan tersebut, dengan pertimbangan tujuan mereka baik yaitu mendoakan almarhum, walaupun dengan cara yang berbeda. Alhasil, selama tiga malam berturut-turut, berkumandanglah ayat-ayat tahlilan di rumah kami.

Di keluarga besar saya sendiri juga ada banyak agama. Semua agama ada. Selain Hindu, juga ada Katolik, Islam dan Budha. Lengkap banget 😀

KATOLIK
Ayah saya berasal dari keluarga besar, bersaudara 12 orang, 10 lelaki dan 2 perempuan. Ayah saya nomor empat. Paman yang pertama masuk Katolik ketika sedang kuliah di Cheko (dulu namanya masih Cheko) saat mendapat beasiswa (program Colombo Plan) dari pemerintah. Ditugaskan untuk belajar Roket dan Pancar Gas. Dari Cheko kemudian ke Jerman dan di sana sempat tinggal bersama Bapak Habibie di satu apartemen. Paman ini menikah dengan perempuan Cheko dan mempunyai seorang anak perempuan yang terlahir pada tahun yang sama dengan saya. Ketika tiba saatnya untuk pulang karena sudah dipanggil oleh pemerintah, Paman pun harus balik ke Indonesia. Sayangnya, si istri tidak diizinkan ikut ke Indonesia oleh orangtuanya karena dia satu-satunya anak yang masih ada setelah saudara laki-lakinyai meninggal dalam peperangan. Sementara Paman juga tidak mungkin menetap selamanya di sana. Tidak ada jalan lain, demi Negara, dengan mengorbankan perasaan dan meninggalkan istri serta anak tercinta, Paman kembali pulang memenuhi panggilan Negara. Sungguh pengorbanan yang tiada tara. Setelah menduda sekian tahun, Paman menikah lagi, dengan perempuan Katolik juga dan memiliki tiga orang anak. Artinya, saya punya sepupu Katolik dan kami tidak pernah merasa itu sebuah masalah. Kami saling menghormati.

ISLAM
1. Salah satu adik perempuan Ayah menikah dengan seorang muslim dari Banten. Dan atas kesadarannya ikut memeluk agama suaminya. Memiliki enam orang anak dan sampai kini hidup bahagia di Banten. Setiap ada upacara besar di Bali, selalu menyempatkan pulang dan mengikuti jalannya upacara. Sang suami tidak mempermasalahkan.

2. Salah satu adik sepupu saya, perempuan, (anak dari Paman nomor dua), yang dari kecil menetap di Jakarta, setelah dewasa memutuskan untuk memeluk Islam. Dia seorang presenter terkenal (saya tidak akan menyebut namanya di sini, takut dikira numpang tenar). 😉 Dia juga pernah mendapat beasiswa dari negara Amerika untuk mendalami ‘Human Trafficking’. Dia bahkan berjilbab. Bagi kami agama adalah hak asasi dan tidak boleh dipaksakan. Kami pun tidak berusaha mempengaruhinya karena dia merasa itulah yang terbaik bagi dia. Hubungan kami juga baik-baik saja.

3. Salah satu kakak ipar saya (perempuan) tadinya adalam muslim. Tapi karena menikah dengan lelaki Bali, dia pun menganut agama suaminya. Hubungannya dengan keluarga asalnya tetap harmonis dan saling mengunjungi. Tak pernah ada masalah sedikit pun yang berhubungan dengan agama.

4. Saya juga memiliki adik sepupu (perempuan) yang menikah dengan seorang lelaki muslim. Tetapi suaminya ini ingin memeluk Hindu sehingga dia pun menganut Hindu. Tidak ada paksaan sedikit pun. Mereka kini hidup bahagia dengan dua orang anak yang meningkat remaja.

BUDHA
1. Paman saya yang paling kecil menikah dengan perempuan Budha keturunan etnis Cina. Si istri kini memeluk Hindu. Sampai sekarang, sampai dikaruniai cucu mereka hidup bahagia dan tak pernah ada konflik sehubungan agama. Sekali pun sudah memeluk Hindu, tante saya ini masih tetap merayakan adat/budaya aslinya di etnis Cina. Paman tidak melarangnya.

2. Adik lelaki saya yang nomor empat juga menikah dengan perempuan keturunan etnis Cina yang tadinya beragama Budha. Setelah menikah jadi penganut Hindu yang taat tapi dengan tidak melupakan budaya aslinya. Kalau ada perayaan di rumah asalnya, misalnya tahun baru Cina, dia tetap pulang ikut merayakan bersama orang tuanya.

Jadi, sampai detik ini saya sungguh tidak mengerti kenapa ada keributan dan peperangan karena agama. Menurut saya yang awam ini, mestinya kita bisa hidup tenang berdampingan dengan antar umat beragama sepanjang kita saling menghargai, saling menghormati dan tidak melecehkan atau menghina ajaran agama lain. Saya merasa tidak perlu gembira atau bangga berlebihan bila ada non-Hindu yang masuk Hindu. Begitu juga sebaliknya, saya merasa tidak perlu sedih atau marah atau kecewa kalau ada saudara yang masuk ke agama lain karena sesuatu hal. Biasa saja. Saya tidak pernah menilai orang dari agamanya, tapi dari perilakunya. Saya juga yakin Tuhan tidak membeda-bedakan umatnya berdasarkan agamanya semata, melainkan berdasarkan perbuatannya. Bagi saya tidak ada agama yang mengajarkan kejahatan. Kalaupun ada oknum seperti itu, itu pasti karena mereka salah dalam menafsirkan ajaran agamanya. Bukan agamanya yang salah.

Apa yang kita dapatkan dengan ribut-ribut dan saling menghujat ajaran agama orang lain? *Masih bingung*

(Duh, tidak terasa, tulisan saya jadi panjang begini, postingan terpanjang yang pernah saya buat) 😀

“Korban” Nyentana

Beberapa hari yang lalu saya mendengar kabar putusnya hubungan seorang teman saya dengan pasangannya. Sayang sekali sebenarnya. Memasuki tahun kesembilan, hubungan mereka tidak bisa dipertahankan lagi, padahal  mereka sudah sempat membicarakan pernikahan.

Setelah sekian tahun menjalin hubungan, bukanlah perkara gampang untuk akhirnya memutuskan menutup jalinan kasih mereka. Penyebabnya adalah tidak ada titik temu untuk bisa melanjutkan ke jenjang pernikahan. Kenapa demikian? Pihak keluarga perempuan menginginkan calon mantunya agar  bersedia ‘nyentana’. Sedangkan  orangtua si lelaki, tidak mengizinkan anaknya untuk nyentana. Kedua belah pihak sudah beberapa kali bertemu, tetapi tidak pernah ada kesepakatan. Tentu saja, bagaimana bisa sepakat, karena kedua belah pihak mengeluarkan persyaratan yang bertentangan satu sama lain.

Apa itu nyentana? Secara garis besar, nyentana adalah di mana si gadis yang meminang seorang pria untuk dijadikan suaminya dan selanjutnya diajak tinggal di rumah si gadis. Kemudian keturunannya akan menjadi milik dan melanjutkan ‘klan’ keluarga si gadis.  Dengan kata lain, si gadis di sini mengambil posisi purusha dan si lelaki mengambil posisi pradana.

Nyentana bukanlah kaidah dalam Agama Hindu, tetapi salah satu Hukum Adat dan memang tidak berlaku di seluruh daerah. Misalnya (yang saya tahu), di daerah Karangasem tidak mengenal nyentana, tapi di daerah Tabanan, nyentana lumrah dilakukan. Syarat utama nyentana adalah harus mendapat persetujuan dari kedua belah pihak keluarga, karena si lelaki akan melepaskan hak dan kewajibannya di rumah asalnya untuk masuk ke rumah si gadis dan menerima hak serta kewajiban di rumah si gadis.

Inilah yang menjadi kendala hubungan teman saya itu. Tidak ada persetujuan dari pihak keluarga lelaki. Sedangkan syarat dari pihak orangtua si gadis, mereka hanya boleh menikah kalau si lelaki mau nyentana. Titik. Akhirnya, kandaslah hubungan mereka.

Beberapa hari yang lalu saya sempat berkomunikasi dengan teman saya itu. Dia bilang: “Mbak, berakhir sudah kisah cinta saya.” Saya ikut sedih, dan hanya bisa bilang: “Mungkin kalian memang tidak berjodoh, Tuhan tahu yang terbaik untuk kalian.” Klise ya?

Anak saya yang juga tahu kisah ini, sempat nyeletuk: “Egois sekali sih orangtua mereka, tidak memikirkan perasaan anaknya. Kasihan, mereka jadi korban ambisi orang tua. Ibu, nanti jangan paksa Ajung untuk mencari sentana ya.”

Oh, memaksamu? Never! Tentu saja tidak, sayang. Kalau harus memilih, ibumu lebih memilih mengorbankan kebahagiaan sendiri dari pada harus mengorbankan kebahagiaanmu.