Tag Archive | lainnya

Burung Tekukur

23072013
23072013(001)

23072013(003)

23072013(002)

23072013(004)

Burung ini saya temukan di depan pintu gerbang pada suatu pagi. Udara masih lembab oleh sisa-sisa hujan deras semalaman. Waktu saya temukan, sayapnya terluka (saya duga kena tembak), bulunya banyak rontok dan tubuhnya menggigil kedinginan. Perkiraan saya, burung ini terdampar di depan pintu gerbang rumah saya karena tidak bisa terbang lagi.  Akibatnya, dia kehujanan semalaman karena tidak bisa bergerak mencari tempat berteduh.

Saya ambil dan berusaha merawat lukanya semaksimal mungkin. Beberapa hari kemudian, saya mencoba melepasnya ketika dia kelihatan sudah sehat. Tapi ternyata dia tetap tidak bisa terbang. Saya coba lagi beberapa kali, selalu jatuh kembali. Akhirnya, saya putuskan untuk memeliharanya.

Sekian bulan kemudian, dia terlepas dari sangkarnya, karena alas sangkarnya bergeser sehingga ada lubang yang cukup untuk dia keluar. Saya baru menyadarinya ketika hendak member makan. Sangkarnya kosong. Paniklah saya, karena saya tahu dia tidak bisa terbang. Bayangan terburuk saya adalah dia akan diterkam kucing atau anjing-anjing saya. Saya berusaha mencarinya ke seluruh pelosok halaman belakang yang cukup luas. Tidak ada. Mulai putus asa. Akhirnya, saya melihat dia di dahan pohon jepun (kamboja), nangkring di dahannya yang paling rendah. Saya berusaha menangkapnya, tidak bisa, dia terbang ke dahan yang lebih tinggi. Sangat jelas kentara, cara terbangnya pincang dan kelihatan berat. Karena tidak berhasil menangkapnya, akhirnya saya pasrah saja dan hanya bisa berdoa semoga dia tidak diterkam kucing tetangga yang sering berkeliaran di rumah atau jangan sampai tertangkap oleh anjing-anjing saya.

Beberapa hari setelahnya, saya melihat dia mulai berani turun ke tanah, berusaha mencari makan. Semenjak itu, saya selalu menaburkan jagung di halaman belakang, berharap saat dia turun, tidak kesulitan mencari makanan. Setelah saya perhatikan, ternyata dia tidak pergi jauh dari rumah. Paling jauh hanya sampai di atap rumah tetangga. Tentu saja, karena sayapnya yang cacat tidak memungkinkan dia untuk terbang jauh. Kasihan sekali. Setiap hari saya tidak pernah lupa ‘menyiapkan’ jagung di halaman. Untuk minum juga tidak masalah, karena di halaman belakang ada kolam kecil sehingga dia leluasa untuk minum.

Suatu hari saya melihatnya sedang nangkring di atas pot pohon Kamboja Jepang di tembok ‘Merajan’ dan kelihatan santai. Saya bergegas mengambil HP berniat untuk memotretnya. Kemudian pelan-pelan saya dekati dia. Tadinya saya pikir dia akan terbang, ternyata tidak. Saya maju lebih dekat lagi, dia tetap diam dan hanya melirik saya. Saya berhasil memotretnya dalam jarak yang cukup dekat. Hm, rupanya dia tidak takut saya akan menangkapnya. Tampaknya dia tahu saya tidak akan menyakitinya. Sampai sekian kali jepret dia tetap staycool. 😀

Advertisements

Hidup rukun, apa susahnya, ya?

Saya terlahir di keluarga Hindu yang bisa dikatakan moderat alias tidak terlalu fanatik. Sejak kecil saya tidak pernah mendengar kata-kata bahwa agama saya adalah yang paling baik dan agama lain kurang baik. Sama sekali tidak. Yang ada malah saya diajarkan bahwa semua agama baik, semua agama mengajarkan kebaikan hanya cara dan jalannya yang berbeda. Seperti kata pepatah, banyak jalan menuju Roma.

Saya ingat ketika kakak perempuan saya sekolah di di Bunka School of Fashion dan tinggal di Jakarta, dia pernah punya pacar seorang muslim. Ketika orang tua saya mengetahuinya, beliau tidak serta-merta memarahi atau melarangnya atau memaksanya untuk putus. Karena sadar, kalau sudah jodoh tidak ada kekuatan apa pun yang bisa mencegahnya. Jadi, orang tua hanya memberi bayangan. Ibu bilang: “Kamu serius? Kamu yakin dengan pilihanmu? Kalau kalian jadian, besar kemungkinan dia akan memintamu untuk mengikuti agamanya dan kamu tidak bisa menolak.” Entah karena memang tidak jodoh, kakak akhirnya putus dengan pacarnya.

Lalu bagaimana kalau lelaki Hindu mempunyai pasangan non-Hindu? Apakah pasangannya harus dipaksa memeluk Hindu? Hindu menganut asas patrilineal yang kuat. Di keluarga Hindu, kedudukan anak lelaki memegang peranan penting untuk melanjutkan keturunan dan melaksanakan berbagai kewajiban termasuk melakukan berbagai yadnya untuk para leluhurnya. Dan setiap anak lelaki sudah menyadari hal tersebut. Maka dari itu, kalau pun mereka mempunyai calon pasangan non-Hindu, biasanya dari awal mereka sudah menyampaikan hal tersebut pada pasangannya. Bahwa dia tidak akan pindah keyakinan. Dengan kata lain, kalau si calon pasangan tetap ingin bersamanya, dia harus masuk ke agama suaminya. Kalau si calon merasa siap, hubungan bisa berlanjut sampai jenjang pernikahan. Kalau si calon pasangan merasa tidak sanggup, maka (biasanya) mereka akan berpisah secara baik-baik. Jadi, di sini sama sekali tidak ada pemaksaan. Tidak ada istilah mereka tidak tahu atau kaget ketika dilaksanakan upacara Suddhi Wadani saat mereka menikah. Mereka sudah tahu dari awal. Dengan kata lain, selalu ada pilihan untuk melanjutkan hubungan atau tidak.

Begitu juga kalau ada perempuan Hindu yang memutuskan menikah dengan lelaki non-Hindu, mereka juga pasti sudah siap dengan konsekuensinya ketika sang calon suami memintanya untuk mengikuti agamanya. Karena mereka yakin, dalam satu kapal kurang baik kalau ada dua nakhoda. Kalau mereka merasa tidak siap, mereka pun tidak akan memaksakan diri dan memilih berpisah. Seperti contoh kasus kakak perempuan saya.

Begitu juga ketika lelaki Hindu memiliki pasangan non-Hindu, mereka akan meminta pasangannya untuk menganut agamanya, dan menjalani upacara Suddhi Wadani. Jadi, kami cukup fair, bukan?

Itu adalah kejadian pada umumnya. Dalam beberapa kasus, ada juga pasangan yang tetap menikah dengan mempertahankan agamanya masing-masing. Dalam kasus seperti ini tentu kedua belah pihak sudah memiliki tingkat kedewasaan yang tinggi, saling pengertian dan tingkat toleransi yang tinggi. Saya punya tetangga yang seperti ini. Mereka sudah menikah puluhan tahun dan tetap baik-baik saja. Dua-duanya guru besar di Unud. Saya cukup akrab dengan sang istri (yang muslim). Karena dari awal sudah dibicarakan, dan mereka sepakat, ke depannya mereka tidak pernah ada masalah. Dalam beberapa kesempatan dia menceritakan kebaikan suaminya yang tetap konsisten dengan perjanjian semula sebelum menikah yaitu tetap menganut agama masing-masing tanpa berusaha mengintimidasi satu sama lainnya. Begitu juga si istri, tidak berusaha mempengaruhi suaminya. Saya salut dan hormat kepada ibu profesor ini. Dia sangat bisa menempatkan diri. Kalau di daerah kami ada upacara adat (Hindu), dia menyesuaikan penampilannya dengan ikut mengenakan kebaya. Hal ini membuat kami tambah hormat.

KASUS LAIN.
Saya sudah terbiasa dengan lingkungan yang heterogen dan terbiasa hidup rukun dengan antar umat beragama dan saling menghargai. Dulu, ketika ayah mertua saya meninggal, kami didatangi oleh wakil dari komunitas muslim. Mereka ingin mengadakan tahlilan di rumah kami, di samping jenazah ayah mertua. Mereka ingin ikut mendoakan almarhum yang semasa hidupnya memang sangat dihormati dan disegani karena kebaikan dan kedermawanannya. Sebelum menjawab, keluarga besar kami mengadakan pertemuan untuk membahas permintaan tersebut. Akhirnya diputuskan kami menerima permintaan tersebut, dengan pertimbangan tujuan mereka baik yaitu mendoakan almarhum, walaupun dengan cara yang berbeda. Alhasil, selama tiga malam berturut-turut, berkumandanglah ayat-ayat tahlilan di rumah kami.

Di keluarga besar saya sendiri juga ada banyak agama. Semua agama ada. Selain Hindu, juga ada Katolik, Islam dan Budha. Lengkap banget 😀

KATOLIK
Ayah saya berasal dari keluarga besar, bersaudara 12 orang, 10 lelaki dan 2 perempuan. Ayah saya nomor empat. Paman yang pertama masuk Katolik ketika sedang kuliah di Cheko (dulu namanya masih Cheko) saat mendapat beasiswa (program Colombo Plan) dari pemerintah. Ditugaskan untuk belajar Roket dan Pancar Gas. Dari Cheko kemudian ke Jerman dan di sana sempat tinggal bersama Bapak Habibie di satu apartemen. Paman ini menikah dengan perempuan Cheko dan mempunyai seorang anak perempuan yang terlahir pada tahun yang sama dengan saya. Ketika tiba saatnya untuk pulang karena sudah dipanggil oleh pemerintah, Paman pun harus balik ke Indonesia. Sayangnya, si istri tidak diizinkan ikut ke Indonesia oleh orangtuanya karena dia satu-satunya anak yang masih ada setelah saudara laki-lakinyai meninggal dalam peperangan. Sementara Paman juga tidak mungkin menetap selamanya di sana. Tidak ada jalan lain, demi Negara, dengan mengorbankan perasaan dan meninggalkan istri serta anak tercinta, Paman kembali pulang memenuhi panggilan Negara. Sungguh pengorbanan yang tiada tara. Setelah menduda sekian tahun, Paman menikah lagi, dengan perempuan Katolik juga dan memiliki tiga orang anak. Artinya, saya punya sepupu Katolik dan kami tidak pernah merasa itu sebuah masalah. Kami saling menghormati.

ISLAM
1. Salah satu adik perempuan Ayah menikah dengan seorang muslim dari Banten. Dan atas kesadarannya ikut memeluk agama suaminya. Memiliki enam orang anak dan sampai kini hidup bahagia di Banten. Setiap ada upacara besar di Bali, selalu menyempatkan pulang dan mengikuti jalannya upacara. Sang suami tidak mempermasalahkan.

2. Salah satu adik sepupu saya, perempuan, (anak dari Paman nomor dua), yang dari kecil menetap di Jakarta, setelah dewasa memutuskan untuk memeluk Islam. Dia seorang presenter terkenal (saya tidak akan menyebut namanya di sini, takut dikira numpang tenar). 😉 Dia juga pernah mendapat beasiswa dari negara Amerika untuk mendalami ‘Human Trafficking’. Dia bahkan berjilbab. Bagi kami agama adalah hak asasi dan tidak boleh dipaksakan. Kami pun tidak berusaha mempengaruhinya karena dia merasa itulah yang terbaik bagi dia. Hubungan kami juga baik-baik saja.

3. Salah satu kakak ipar saya (perempuan) tadinya adalam muslim. Tapi karena menikah dengan lelaki Bali, dia pun menganut agama suaminya. Hubungannya dengan keluarga asalnya tetap harmonis dan saling mengunjungi. Tak pernah ada masalah sedikit pun yang berhubungan dengan agama.

4. Saya juga memiliki adik sepupu (perempuan) yang menikah dengan seorang lelaki muslim. Tetapi suaminya ini ingin memeluk Hindu sehingga dia pun menganut Hindu. Tidak ada paksaan sedikit pun. Mereka kini hidup bahagia dengan dua orang anak yang meningkat remaja.

BUDHA
1. Paman saya yang paling kecil menikah dengan perempuan Budha keturunan etnis Cina. Si istri kini memeluk Hindu. Sampai sekarang, sampai dikaruniai cucu mereka hidup bahagia dan tak pernah ada konflik sehubungan agama. Sekali pun sudah memeluk Hindu, tante saya ini masih tetap merayakan adat/budaya aslinya di etnis Cina. Paman tidak melarangnya.

2. Adik lelaki saya yang nomor empat juga menikah dengan perempuan keturunan etnis Cina yang tadinya beragama Budha. Setelah menikah jadi penganut Hindu yang taat tapi dengan tidak melupakan budaya aslinya. Kalau ada perayaan di rumah asalnya, misalnya tahun baru Cina, dia tetap pulang ikut merayakan bersama orang tuanya.

Jadi, sampai detik ini saya sungguh tidak mengerti kenapa ada keributan dan peperangan karena agama. Menurut saya yang awam ini, mestinya kita bisa hidup tenang berdampingan dengan antar umat beragama sepanjang kita saling menghargai, saling menghormati dan tidak melecehkan atau menghina ajaran agama lain. Saya merasa tidak perlu gembira atau bangga berlebihan bila ada non-Hindu yang masuk Hindu. Begitu juga sebaliknya, saya merasa tidak perlu sedih atau marah atau kecewa kalau ada saudara yang masuk ke agama lain karena sesuatu hal. Biasa saja. Saya tidak pernah menilai orang dari agamanya, tapi dari perilakunya. Saya juga yakin Tuhan tidak membeda-bedakan umatnya berdasarkan agamanya semata, melainkan berdasarkan perbuatannya. Bagi saya tidak ada agama yang mengajarkan kejahatan. Kalaupun ada oknum seperti itu, itu pasti karena mereka salah dalam menafsirkan ajaran agamanya. Bukan agamanya yang salah.

Apa yang kita dapatkan dengan ribut-ribut dan saling menghujat ajaran agama orang lain? *Masih bingung*

(Duh, tidak terasa, tulisan saya jadi panjang begini, postingan terpanjang yang pernah saya buat) 😀

Selamat jalan, Shiro…

Chiko+ShiroSudah seminggu lebih Shiro pergi, baru sekarang saya sanggup menulis tentang dia. Shiro, anjing berhati paling lembut yang pernah saya miliki telah meninggal tepat di hari Tilem (bulan mati), tanggal 6 Agustus 2013, subuh, karena sakit, pada usia 7 tahun 9 bulan. Saya sudah berusaha sekuat tenaga merawatnya, tapi dokternya bilang kemungkinannya hanya fifty-fifty. Walaupun demikian saya minta pada dokternya untuk melakukan apa pun yang mungkin untuk keselamatannya.

Selama sakit saya menyuapinya seperti bayi karena dia tidak bisa makan sendiri. Hari pertama, kedua dan ketiga makanan (susu) masih bisa masuk, walaupun sedikit. Hari keempat, makanan sama sekali tidak bisa masuk. Keluar terus. Saya hanya bisa mengelus-elus kepalanya dengan lembut, berusaha membujuk dan mengajaknya bicara supaya mau makan. Dia hanya menatap saya, kemudian terpejam lagi.

Hari terakhir sebelum kematiannya, dia sudah begitu lemas tapi berusaha membuka matanya. Dia memandang saya berlama-lama. Ketika anak saya lewat di depan saya, pandangannya mengikuti ke mana arah anak saya berjalan. Saya panggil anak saya.

“Jung, Shiro ngliatin Ajung terus….”

Shiro+Bingo-JrAnak saya kembali dan ikut jongkok di sebelah saya. Mengelus kepalanya dengan lembut sampai dia tidur. Malamnya, saya berusaha lagi memberi dia minum susu. Saya sempat senang, karena semangkok kecil susu bisa habis setelah saya suapin pelan-pelan. Tetapi rasa senang saya tidak berlangsung lama. Sebentar kemudian semuanya keluar lagi. Saya coba lagi, keluar lagi. Saya mulai putus asa dan didera oleh perasaan kasihan yang amat sangat. Mata saya mulai basah dan merasa dia tidak akan bertahan lama. Saya menyelimutinya dengan jaket bekas anak saya yang hangat, karena dia tampak kedinginan. Kemudian saya tinggal pergi karena ada yang harus dikerjakan.

Sebelum tidur, saya menengoknya lagi. Saya mencoba menyuapinya susu lagi, tapi tidak berhasil. Melihat kondisinya yang lemah sungguh membuat saya amat sedih. Shiro yang lucu, yang menggemaskan, yang sangat menghibur, kini tak berdaya. Dengan sedih saya berdoa: “Ya, Tuhan, kalau makhluk-Mu ini bisa sembuh, sembuhkanlah, kalau tidak… ambillah.” Dengan perasaan kasihan yang amat sangat, saya mengelus kepalanya, kemudian saya tinggal tidur.

Malam itu anak saya tidur belakangan. Kata anak saya, setelah saya tidur, Shiro berusaha bangkit dan dengan Shiro+Bingotertatih-tatih berjalan menuju depan pintu kamar anak saya, tempat favoritnya untuk tidur selama ini.

Esoknya, subuh, saya terbangun. Pikiran saya langsung tertuju pada Shiro dan merasa dia sudah tiada. Saya langsung menuju kamar tamu, benar saja… dia sudah terbujur setengah kaku di bawah meja. Tampaknya dia belum lama meninggal, saya perkirakan sekitar jam 3-4 pagi. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi. Saya menyentuh dan mengelusnya pelan, dengan mata basah sambil berkata dalam hati: “Pergilah dengan tenang, maafkan kalau aku pernah menyakitimu.”

Pagi itu juga saya ke pasar, membeli kain kafan semeter. Memandikannya, membungkusnya dengan kain kafan, kemudian menguburnya di bawah pohon mangga di halaman belakang.

Orang boleh bilang saya lebay, berlebihan, over-acting atau apalah, tidak apa-apa. Tetapi mereka yang mengalami dan juga memiliki anjing seperti Shiro pasti bisa merasakan perasaan saya. Saya merasa semasa hidupnya Shiro selalu berusaha menyenangkan tuannya. Menghibur tuannya kalau sedang bete dan selalu berhasil membuat senyum atau ketawa dengan tingkahnya yang lucu. Teman bercanda yang baik. Apa salahnya kalau saya membalasnya dengan memperlakukannya dengan baik untuk yang terakhir kalinya?

Saya sedih, tentu saja. Tetapi saya cukup terhibur, setidaknya, selama hidupnya saya memperlakukan dia dengan baik. Merawatnya kalau sakit. Saya tidak hanya menyukainya saat dia sedang lucu-lucunya dan mengabaikannya ketika dia tidak lucu lagi. Seingat saya, saya tidak pernah menyakitinya.

Saya menghibur aRosinak saya dengan mengatakan bahwa dia ‘masuk sorga’ (menghibur diri sendiri juga sebenarnya) dan bertemu dengan induknya, yang bernama Rosi, yang tidak berumur panjang. Rosi, si anjing cantik, sang induk, meninggal mendadak ketika Shiro dan saudara-saudaranya baru berumur sebulan. Meninggal mendadak dalam keadaan sehat. Seolah-olah dia datang ke bumi ini hanya untuk melahirkan lima anaknya, menyusuinya, begitu tugasnya selesai, begitu anak-anaknya berhenti menyusu, dia pun pergi begitu saja. Tanpa sakit. Kematian Rosi dulu juga amat menyedihkan saya. Dulu, ketika Rosi melahirkan kelima anaknya, sayalah yang jadi “bidannya”, dengan berbekal pengetahuan yang diberikan oleh dokternya, sambil menunggu sang dokter hewan datang. Dan, tampang Shiro ini paling mirip dengan induknya.

Selesai mengubur Shiro, suami menawarkan untuk mencari anjing Kintamani. Walaupun saya ingin punya anjing Kintamani lagi (dulu pernah punya beberapa kali), tapi saat ini saya belum ingin punya anjing baru. Masih sedih. Biarlah saya merawat si Bingo Jr, si Mini Piencher aja dulu. Lagipula, belakangan ini saya agak sibuk sampai beberapa bulan ke depan. Saya khawatir tidak bisa maksimal merawat si anjing baru nanti, apalagi kalau dia masih bayi yang pasti perlu perhatian ekstra. Anak saya ternyata pikirannya juga sama. Dia langsung menjawab ayahnya.

“Ngga, Ajik, ngga usah cari anjing baru dulu. Nanti aja.”

TK Para Profesor :-)

15062013(004)Sabtu,  16 Juni 2013 kemarin, saya menghadiri acara perpisahan TK Dharma Santi Denpasar. TK ini didirikan oleh ibu-ibu PKK di  kompleks perumahan saya, di bawah naungan sebuah yayasan. Bisa dibilang, mungkin Sekolah TK ini satu-satunya TK yang diurus oleh para Guru Besar. 🙂 Pada awal berdirinya, yayasan ini dipimpin oleh seorang Guru Besar Unud (Prof. Indayati), tiga orang pembinanya pun guru besar di Unud yaitu Prof. Netera, Prof. Saka dan Prof. Ngurah Bagus. Saya sendiri menjabat sebagai Sekretaris Yayasan sampai sekarang (tapi bukan profesor  lho :D).

15062013(007)Dalam waktu singkat, TK ini berkembang pesat. Niat awal pendirian TK ini adalah untuk menampung anak-anak usia TK di kompleks perumahan dan sekitarnya agar tidak terlalu jauh bersekolah. Ternyata dalam perkembangannya, TK ‘dusun’ ini malah diminati oleh orang-orang di luar kompleks perumahan karena perkembangannya yang sangat bagus.

Dalam acara perpisahan kemarin, Stasiun TV lokal, BaliTV, ikut meliput acaranya. Berbagai atraksi dipentaskan oleh anak-anak ini. Mulai dari tari Bali, tari modern, deklamasi sampai drum band. 15062013(009)Sayangnya, saya tidak sempat  motret semua atraksi karena kelupaan. Saya bengong nonton mereka dan lupa jepret-jepret. 😀  Sungguh menyenangkan dan bangga rasanya melihat anak-anak binaan kami ini bergembira ria menampilkan segala kemampuannya.  Acara ini dihadiri oleh seluruh orang tua murid dan beberapa undangan. Ah, dunia anak-anak memang indah dan takkan terulang lagi.

Kala Hati Gundah…

Sore itu, saya rehat sejenak dan melepaskan diri sesaat dari terjemahan setelah berkutat dengan beberapa idiom. Untuk menyegarkan otak, saya melihat-lihat foto di FB dan berencana untuk mengatur lokasi beberapa foto agar rapi. Saya ingin memindahkan beberapa foto ke album yang sesuai dengan kategorinya.

Untuk cepatnya, karena malas mencoba-coba saya bertanya pada anak. Terjadilah percakapan sebagai berikut:

Saya : “Ajung, Ibu mau memindahkan beberapa foto ke album, bisa ‘kan?”

Anak: “Bisa. Emang sekarang foto-fotonya ada di mana?”

Saya: “Di wall. Gimana caranya?”

Anak: “Ibu masuk ke album mana yang diinginkan, trus klik ‘Edit’ di pojok kanan atas”

Saya: “Kok ngga mau, Jung?” (Setelah mencoba seperti yang dikatakan anak, tapi tidak berhasil, tidak ada ‘Edit’ yang saya cari.)

Ajung: “Pasti mau, Bu, Ajung sering kok mindahin foto dari satu album ke album lain.” (Sambil tetap asyik dengan PC-nya).

(Saya mencoba lagi, tapi tetap tidak ada perubahan)

Saya: “Ngga mau, Jung, nih coba lihat, mana menu ‘Edit’, ngga ada….” ((Saya mencoba lagi, tapi tetap tidak ada perubahan).

Anak: “Aduh, Ibu ini, masa sih ngga mau. Nih, lihat, punya Ajung mau nih.” (Suaranya mulai terdengar tidak sabar).

Saya: “Tapi di sini tidak mau.” (Saya tetap tidak beranjak dari depan laptop, dan mencoba lagi, dan gagal lagi.)

Anak: “Coba Ibu masuk dulu ke album tempat foto itu berada. Trus Ibu klik album itu.” (Masih tetap serius menatap PC-nya).

Saya: “Udah, Ibu udah masuk ke album nih.”

Anak: “Apa nama albumnya?”

Saya: “Photos of you.”

Anak: “Ibuuuuuuuu!!” (Tiba-tiba dia menjerit kesal)

Saya: “Kenapa?” (Heran!)

Anak: “Itu bukan albumnya Ibuuuu!”

Saya: “Tapi, di situ ada banyak foto-fotonya Ibu….”

Anak: (Wajahnya tampak gemes dan menatap saya seperti ingin mencakar-cakar saya) “Betul di situ ada banyak foto-fotonya Ibu, tapi itu kan bukan Ibu yang upload, emangnya Ibu yang buat album ‘Photos of you’ itu? Ibu cuma di-tag saja kan??”

Saya: “Ya, iya sih emang, tapi kan karena ada foto-fotonya Ibu, mestinya bisa dong dipindah ke album yang Ibu inginkan.”

Anak: “Ibuuuuu!!!” (Sekarang dia beralih dari PC,  gemas tingkat dewa karena melihat saya yang belum juga mengerti. Tangannya mencakar-cakar rambutnya, kepalanya ditempelkan ke dinding, seolah-olah hendak dibenturkan).  Saya masih memandangnya dengan pandangan tidak mengerti.

Anak: “Denger ya, Bu. Foto-foto itu adalah milik temen-temennya Ibu yang masing-masing tersimpan di album mereka. Mereka itu cuman nge-tag Ibu. Semacam memberi izin pada Ibu untuk melihat saja, tapi bukan berarti Ibu bisa ‘memiliki’ foto-foto itu.

Saya: (Masih bengong)

Anak: “Contohnya gini, ya, Bu, Ajung punya pensil dalam kotak pensil, trus kalau Ibu mau minjem, boleh, tapi Ibu ngga boleh nyimpen pensil itu di kotak pensilnya Ibu, karena itu milik Ajung, bukan milik Ibu!” (Sambil menatap saya dengan mimik wajah seperti hendak nangis, saking keselnya).

Sejenak kemudian saya sadar dengan ke-o’onan saya, dan meledaklah ketawa saya. Terpingkal-pingkal sampai tidak bisa bicara dan, tentu saja, sampai berlinang air mata :-D. Anak saya yang gemes tingkat setan (bukan dewa saja), juga ngakak sambil ‘nangis’ saking gemes bin kesel, sambil tetap membentur-benturkan kepalanya ke dinding (tentu saja hanya dibenturkan pelan-pelan). 😀

Waduh, kegundahan hati saya membuat daya pikir saya terganggu. Memang, kala itu saya sedang galau oleh rasa bersalah, karena tidak bisa menepati deadline. Sesuatu yang belum pernah terjadi. Saya juga sudah mengirim pesan menyampaikan permohonan maaf kepada editor karena keterlambatan ini, yang disebabkan oleh sesuatu yang benar-benar di luar dugaan. Saya katakan dengan terus terang apa penyebab keterlambatan ini. Memang saya sudah mengirimkan pekerjaan saya sebagian, karena belum semua, tetap saja namanya terlambat.

Puji Tuhan, sang editor yang manis dan baik hati itu memakluminya dan membalas pesan saya dengan ramah.

“Mbak Desak… gpp, santai aja. saya kasih waktu tambahan 1 minggu ya, biar ngeditnya bisa lebih santai dan teliti. 🙂 ini saya sedang nangani buku yang lain juga kok.”

Oh, terima kasih, Anda sungguh baik hati. Udah baik, ramah, cantik pula. God bless you, always….

Walau demikian perasaan bersalah ini tidak bisa hilang begitu saja.

Semua Karena Internet

Banner-axis-clean-small-300x198

Saat ini hampir tak terbayang kalau kita tidak bisa atau tidak mengenal internet. Bahkan siswa SD pun sudah diberikan tugas oleh guru-gurunya untuk mencari tugas atau data-data di internet. Apalagi siswa di jenjang yang lebih tinggi yaitu SMP dan SMA. Dunia kuliah apalagi. Bisa dipastikan mahasiswa/mahasiswi yang tidak mau belajar internet akan tergilas dan ketinggalan informasi. Sekarang adalah era informasi, bukan era globalisasi saja. Siapa yang mendapatkan informasi lebih awal, dia akan memenangkan kesempatan.

Internet bukan monopoli anak muda saja. Setiap orang yang jeli bisa memanfaatkan internet sesuai dengan kebutuhannya. Seperti saya yang telah memutuskan untuk menjadi penerjemah lepas. Sebagai ibu rumah tangga yang lebih mengutamakan keluarga, dengan kesibukan antar jemput anak sekolah atau les, saya berusaha mencari peluang dan mendapatkan penghasilan tanpa harus meninggalkan rumah dengan memanfaatkan hobi. Saya gemar membaca dan menulis, menyukai Bahasa Inggris dan sejak dulu memang sangat ingin menjadi penerjemah, terutama penerjemah novel. Sebagai orang yang suka membaca novel, tentu kegiatan menerjemah mempunyai keuntungan ganda bagi saya. Di satu sisi hobi membaca novel tersalurkan ketika proses menerjemah, di sisi lain saya tetap mendapatkan penghasilan dari hasil menerjemah ini. Enak, bukan? J

Lalu bagaimanakah caranya mendapatkan order kalau hanya berdiam diri saja di rumah? Jawabannya adalah: internet. Saya bergabung di komunitas penerjemah, rajin menyimak informasi dan pembahasan dunia penerjemahan di milis yang saya ikuti, yang memang membahas seluk-beluk penerjemahan sekaligus menangkap peluang-peluang yang dilempar oleh rekan-rekan penerjemah di sana. Saya mengikuti diskusi berbagai topik tentang penerjemahan di milis ini yang sangat membantu dalam menambah ilmu penerjemahan saya.  Saya juga memanfaatkan jejaring sosial terutama Facebook untuk membangun jaringan dengan sesama penerjemah. Setelah menyelesaikan tugas-tugas sebagai ibu rumah tangga, biasanya saya langsung berlayar di lautan internet yang maha luas itu. Selalu ada informasi berguna yang saya dapatkan setelah berselancar di internet. Saya juga memperhatikan status teman-teman di Facebook, dan sesekali berkomentar ketika ada yang menarik perhatian.

Saya berkenalan dengan beberapa penerjemah senior dan penyunting dari beberapa penerbit di Facebook. Berinteraksi lewat fitur chatting dengan mereka, diawali dengan ngobrol-ngobrol ringan. Bisa dikatakan semua klien online saya berawal dari Facebook. Novel pertama yang saya terjemahkan, informasinya saya dapatkan dari teman Facebook yang menyampaikan bahwa sebuah penerbit sedang mencari penerjemah lepas. Teman itu pun memberi tahu saya apa saja syarat-syaratnya, lengkap dengan alamat email yang harus dituju. Setelah dites, saya dinyatakan lolos kriteria mereka. Begitu pun dengan novel kedua, saya berkenalan dengan seorang penyunting di Facebook juga, yang bekerja di sebuah penerbit dan  akan menerbitkan sebuah novel klasik. Saya mengajukan lamaran ke sana dan mengirim Curriculum Vitae lewat email, setelah dites saya dinyatakan lulus. Demikian juga dengan klien lainnya dari sebuah agensi. Semua  karena internet.

Saya berusaha tetap ‘beredar’ di internet entah lewat jejaring sosial atau pun milis-milis supaya eksistensi kita terjaga. Dengan kita tetap eksis,  para klien akan sadar dengan keberadaan kita dan tidak melupakan kita.  Tentu kita harus tetap menjaga dan meningkatkan kualitas diri dan kualitas pekerjaan kita. Siapa bilang internet hanya untuk chatting tak berguna? Ngalor-ngidul tanpa manfaat? Atau memberi komentar-komentar tak penting di status teman-teman kita?

Manfaat internet begitu luas, ayoo… manfaatkan untuk eksistensi kita di dunia kita masing-masing. Internet itu bagai perpustakaan semesta yang bisa diakses oleh siapa saja, yang penting kita harus pandai-pandai memanfaatkannya untuk kebaikan kita dan sesama.


 

Proyek “Minta Tolong”

Seminggu yang lalu ada kerabat minta tolong saya untuk menyunting tesisnya. Sudah beberapa kali saya menyunting tesis dan sebenarnya saya menyukai pekerjaan ini. Karena selama menyunting, secara tidak langsung saya menyerap isi dari tesis tersebut dan selalu ada pengetahuan yang bisa saya ambil. Tetapi yang jadi masalah adalah: waktu. Kenapa ya, si pemilik tesis selalu memberikan tenggat waktu yang sangat mepet? Dan kenapa pula saya tidak bisa menolaknya, padahal di waktu yang bersamaan saya sedang mengerjakan terjemahan yang harus segera diselesaikan sesuai janji saya. Sebenarnya, saya sangat ingin menolak atau  minimal minta tenggat waktu yang lebih panjang, tetapi ternyata situasi tidak memungkinkan. Si pemilik tesis yang baru saja selesai ujian tesis dan sudah dinyatakan lulus, namun ada beberapa perbaikan terutama sekali dalam tata penulisannya. Saat itu dia datang hari Senin, dan hari Rabu berikutnya adalah pendaftaran terakhir untuk wisuda. Sedangkan persyaratan untuk wisuda adalah harus menyertakan tesis yang sudah diperbaiki.

Saya bilang, kenapa mendadak? Kenapa tidak dari kemarin-kemarin saja sehingga saya punya waktu yang cukup? Dia bilang, dia sudah berusaha memperbaiki sendiri, tetapi ternyata kurang memuaskan sang dosen pembimbing. Akhirnya, karena kepepet dia mencari saya. Dia pernah mendengar dari beberapa temannya bahwa tesis yang saya sunting hampir semuanya lolos dari penilaian dosen pembimbing. Bisa jadi hanya kebetulan, atau gaya penulisan saya cocok dengan selera sang dosen. Saya masih berusaha menawar waktu, karena untuk menolak saya tidak sanggup. Tetapi dengan pandangan memelas dan penuh permintaan tolong, dia bilang, waktu tidak bisa diundur, atau dia terpaksa tidak bisa ikut wisuda periode ini dan harus menunggu periode berikutnya lagi sekian bulan. Untuk itulah dia minta tolong dengan amat sangat. Si pemilik tesis, seorang ibu, guru SMA, kalau menunggu periode berikutnya berarti dia harus bayar SPP lagi disamping rugi waktu. 

Akhir kata, saya pun tidak bisa berkata-kata lagi. Saya selalu tidak sanggup menolak permintaan tolong orang yang betul-betul butuh. Saya merasa jadi orang jahat ketika menolak orang yang butuh bantuan.  Si pemilik menunggui saya kerja. Saya berusaha fokus dan bertekad untuk langsung menyelesaikannya malam itu. Karena esoknya, saya harus fokus ke terjemahan supaya selesai tepat waktu karena sudah berjanji sebelumnya.  Tepat pukul dua subuh, pekerjaan saya selesai. Saya melihat betapa leganya ibu itu. Saya walaupun capek, tapi ikut senang melihat wajahnya yang lega.