Tag Archive | My pets

Hukum karma pun berlaku di dunia hewan

Dulu, si Bingo sebagai pendatang baru, dia betul-betul ingin berkuasa dan berani mem-bully Shiro, si penghuni lama. Shiro yang pada dasarnya memang baik hati selalu mengalah. Makananya selalu direbut, dia diam. Tidurnya selalu diganggu, dia juga tidak berani galak. Bukan karena dia takut pada si Bingo, tapi karena nurut apa kata tuannya yang telah memerintahnya agar tidak galak pada si pendatang baru.

Akibatnya, si Bingo makin menjadi-jadi. Terkadang, sang majikan terpaksa mengevakuasi Shiro dan diajak masuk ke ruangan dalam. Sebab, selama dia masih di serambi belakang dia akan selalu jadi bulan-bulanan si Bingo seperti yg tampak pada video di bawah ini.

Nah, sekian bulan kemudian, ketika Shiro sudah meninggal, datang penghuni baru, namanya Lala. Si Lala ini sebenarnya anjing liar tak bertuan yang entah dibuang oleh siapa di depan rumah saya. Waktu itu dia masih keciiiil banget. Saya tak tega melihatnya di pinggir jalan, kelaparan, kehausan dan khawatir ketabrak mobil. Akhirnya, saya bawa masuk ke halaman belakang.

Apa yang terjadi? Ternyata kedatangan si Lala ini ada tujuannya, yaitu untuk memberi pelajaran kepada si Bingo yang dulu selalu mem-bully Shiro. Nah, sekarang gantian, si Lala yang sering mengganggu Bingo, tak pernah dikasih duduk tenang, persis seperti perlakuan yang diterima oleh Shiro dulu. Dan Bingo juga tidak berani terlalu keras pada ‘adiknya’ karena instruksi sang majikan adalah agar mengayomi yang lebih kecil. 🙂

Video di bawah ini hanyalah salah satu contoh bagaimana si Lala tidak membiarkan Bingo duduk santai.

Ternyata, hukum karma juga berlaku di dunia binatang. 😀

Advertisements

Tidak rela disamakan dengan asu!

IMG_0671Lagi-lagi KPK menangkap orang, yang kali ini benar-benar membuat kita ternganga lebar, antara percaya dan tidak percaya. Bayangkan, seorang KETUA Mahkamah Konstitusi. Tak heran, hal ini membuat banyak masyarakat yang memaki. Salah satu makian yang sering terlontar adalah ‘asu’. Terkait asu ini, anak saya selalu kesal dan tidak bisa menerima kalau ada kelakuan seorang penjahat atau seseorang yang kelakuannya negatif disamakan dengan ‘asu’.

Katanya dengan meradang:

“Apa sih salahnya asu? Kenapa asu-asu disejajarkan dengan manusia-manusia seperti itu? Kelakuan asu jauh lebih mulia dari mereka. Asu tidak pernah berkhianat. Asu makhluk yang paling setia. Asu tidak pernah menyakiti manusia kecuali dia disakiti terlebih dahulu. Asu tidak pernah makan berlebih, dia hanya makan secukupnya. Asu makluk yang lucu dan sangat menghibur. Asu makhluk yang menggemaskan. Asu makhluk yang paling tahu balas budi. Lha, sedangkan manusia2 itu? Mereka menyakiti rakyat, mereka merampas uang rakyat, mereka mengkhianati sumpah mereka (yang bahkan dilakukan di bawah sebuah kitab suci). Lalu, apanya yang sama dengan asu??”

Saya cukup kaget juga dengan pendapatnya. Tadinya saya pikir dia masih anak kecil.Ternyata tidak, dia jauh lebih dewasa dari yang saya kira. Memang selama ini, sepanjang dia ‘bergaul’ dengan asu, dia tidak pernah melihat ‘kejahatan’ asu, bahkan sangat salut atas kesetiaan mereka terhadap tuannya. Dia rela mengorbankan nyawa demi keselamatan tuannya.

Anak saya juga tahu, bagaimana si Blacky, asu tetangga yang mati meregang nyawa ketika menyelamatkan tuannya dari gigitan ular hijau. Saat itu, si tuan sedang jalan-jalan di halaman rumahnya yang memang rimbun oleh pepohonan. Tiba-tiba ada seekor ular hijau (kita tahu bisa ular hijau sangat mematikan). Si tuan tetap tidak menyadari adanya bahaya yang mengancam. Rupanya si Blacky melihatnya. Tanpa ba-bi-bu, asu itu meloncar menerkam si ular. Bisa dipastikan, si asu langsung tergigit dan terkena bisanya yang mematikan. Si tuan kaget dan baru menyadari dia baru saja diselamatkan oleh si asu dengan mengorbankan nyawanya.

Cerita lain, ketika anak saya sedang sendirian di rumah. Siang hari, dia baru saja masuk kamar, mau tidur siang ketika tiba-tiba dikejutkan oleh gonggongan Shiro dan Chiko yang heboh luar biasa (saat itu keduanya masih hidup). Dia pun keluar untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata, ketika dia keluar kamar, tepat di depan kamarnya ada seekor ‘alu’ (Bahasa Indonesianya apa ya?). Saya menyebutnya buaya darat, karena tampangnya mirip banget dengan buaya, hanya lebih kecil dan warnanya kuning kecoklatan.

Mungkin binatang ini tidak berbahaya, tetapi kalau kena gigit pastilah sangat lumayan. Dilihatnya Shiro dan Chiko sedang menggiring binatang tersebut ke sudut ruangan di ruang tengah, di depan kamar mandi. Dengan menenangkan diri, dia berusaha keluar kamar. Binatang itu cukup besar (tubuhnya sebesar Shiro). Tidak ada yang bisa dilakukannya. Akhirnya, dia pergi ke tetangga sebelah (tuannya si Blacky) untuk minta tolong agar menangkap atau mengusir binatang tersebut. Selama dia pergi, Shiro dan Chiko dengan setia menjaga si alu dan membatasi ruang geraknya, sehingga dia tidak bisa berkutik. Kedua anjing ini cukup mengerti dan sadar diri bahwa mereka tidak bisa menyentuh si alu, karena si alu ini juga cukup galak setiap Shiro dan Chiko mendekat. Jadi, Shiro dan Chiko hanya menjaganya, sampai anak saya datang dengan membawa bala bantuan.

Nah, cukup masuk akal, kalau anak saya meradang dan tidak terima kalau para penjahat itu disamakan dengan asu, bukan? Karena selama ini asu-asu yang dikenalnya selalu bertingkah laku baik. 😀

Selamat jalan, Shiro…

Chiko+ShiroSudah seminggu lebih Shiro pergi, baru sekarang saya sanggup menulis tentang dia. Shiro, anjing berhati paling lembut yang pernah saya miliki telah meninggal tepat di hari Tilem (bulan mati), tanggal 6 Agustus 2013, subuh, karena sakit, pada usia 7 tahun 9 bulan. Saya sudah berusaha sekuat tenaga merawatnya, tapi dokternya bilang kemungkinannya hanya fifty-fifty. Walaupun demikian saya minta pada dokternya untuk melakukan apa pun yang mungkin untuk keselamatannya.

Selama sakit saya menyuapinya seperti bayi karena dia tidak bisa makan sendiri. Hari pertama, kedua dan ketiga makanan (susu) masih bisa masuk, walaupun sedikit. Hari keempat, makanan sama sekali tidak bisa masuk. Keluar terus. Saya hanya bisa mengelus-elus kepalanya dengan lembut, berusaha membujuk dan mengajaknya bicara supaya mau makan. Dia hanya menatap saya, kemudian terpejam lagi.

Hari terakhir sebelum kematiannya, dia sudah begitu lemas tapi berusaha membuka matanya. Dia memandang saya berlama-lama. Ketika anak saya lewat di depan saya, pandangannya mengikuti ke mana arah anak saya berjalan. Saya panggil anak saya.

“Jung, Shiro ngliatin Ajung terus….”

Shiro+Bingo-JrAnak saya kembali dan ikut jongkok di sebelah saya. Mengelus kepalanya dengan lembut sampai dia tidur. Malamnya, saya berusaha lagi memberi dia minum susu. Saya sempat senang, karena semangkok kecil susu bisa habis setelah saya suapin pelan-pelan. Tetapi rasa senang saya tidak berlangsung lama. Sebentar kemudian semuanya keluar lagi. Saya coba lagi, keluar lagi. Saya mulai putus asa dan didera oleh perasaan kasihan yang amat sangat. Mata saya mulai basah dan merasa dia tidak akan bertahan lama. Saya menyelimutinya dengan jaket bekas anak saya yang hangat, karena dia tampak kedinginan. Kemudian saya tinggal pergi karena ada yang harus dikerjakan.

Sebelum tidur, saya menengoknya lagi. Saya mencoba menyuapinya susu lagi, tapi tidak berhasil. Melihat kondisinya yang lemah sungguh membuat saya amat sedih. Shiro yang lucu, yang menggemaskan, yang sangat menghibur, kini tak berdaya. Dengan sedih saya berdoa: “Ya, Tuhan, kalau makhluk-Mu ini bisa sembuh, sembuhkanlah, kalau tidak… ambillah.” Dengan perasaan kasihan yang amat sangat, saya mengelus kepalanya, kemudian saya tinggal tidur.

Malam itu anak saya tidur belakangan. Kata anak saya, setelah saya tidur, Shiro berusaha bangkit dan dengan Shiro+Bingotertatih-tatih berjalan menuju depan pintu kamar anak saya, tempat favoritnya untuk tidur selama ini.

Esoknya, subuh, saya terbangun. Pikiran saya langsung tertuju pada Shiro dan merasa dia sudah tiada. Saya langsung menuju kamar tamu, benar saja… dia sudah terbujur setengah kaku di bawah meja. Tampaknya dia belum lama meninggal, saya perkirakan sekitar jam 3-4 pagi. Tidak ada yang bisa dilakukan lagi. Saya menyentuh dan mengelusnya pelan, dengan mata basah sambil berkata dalam hati: “Pergilah dengan tenang, maafkan kalau aku pernah menyakitimu.”

Pagi itu juga saya ke pasar, membeli kain kafan semeter. Memandikannya, membungkusnya dengan kain kafan, kemudian menguburnya di bawah pohon mangga di halaman belakang.

Orang boleh bilang saya lebay, berlebihan, over-acting atau apalah, tidak apa-apa. Tetapi mereka yang mengalami dan juga memiliki anjing seperti Shiro pasti bisa merasakan perasaan saya. Saya merasa semasa hidupnya Shiro selalu berusaha menyenangkan tuannya. Menghibur tuannya kalau sedang bete dan selalu berhasil membuat senyum atau ketawa dengan tingkahnya yang lucu. Teman bercanda yang baik. Apa salahnya kalau saya membalasnya dengan memperlakukannya dengan baik untuk yang terakhir kalinya?

Saya sedih, tentu saja. Tetapi saya cukup terhibur, setidaknya, selama hidupnya saya memperlakukan dia dengan baik. Merawatnya kalau sakit. Saya tidak hanya menyukainya saat dia sedang lucu-lucunya dan mengabaikannya ketika dia tidak lucu lagi. Seingat saya, saya tidak pernah menyakitinya.

Saya menghibur aRosinak saya dengan mengatakan bahwa dia ‘masuk sorga’ (menghibur diri sendiri juga sebenarnya) dan bertemu dengan induknya, yang bernama Rosi, yang tidak berumur panjang. Rosi, si anjing cantik, sang induk, meninggal mendadak ketika Shiro dan saudara-saudaranya baru berumur sebulan. Meninggal mendadak dalam keadaan sehat. Seolah-olah dia datang ke bumi ini hanya untuk melahirkan lima anaknya, menyusuinya, begitu tugasnya selesai, begitu anak-anaknya berhenti menyusu, dia pun pergi begitu saja. Tanpa sakit. Kematian Rosi dulu juga amat menyedihkan saya. Dulu, ketika Rosi melahirkan kelima anaknya, sayalah yang jadi “bidannya”, dengan berbekal pengetahuan yang diberikan oleh dokternya, sambil menunggu sang dokter hewan datang. Dan, tampang Shiro ini paling mirip dengan induknya.

Selesai mengubur Shiro, suami menawarkan untuk mencari anjing Kintamani. Walaupun saya ingin punya anjing Kintamani lagi (dulu pernah punya beberapa kali), tapi saat ini saya belum ingin punya anjing baru. Masih sedih. Biarlah saya merawat si Bingo Jr, si Mini Piencher aja dulu. Lagipula, belakangan ini saya agak sibuk sampai beberapa bulan ke depan. Saya khawatir tidak bisa maksimal merawat si anjing baru nanti, apalagi kalau dia masih bayi yang pasti perlu perhatian ekstra. Anak saya ternyata pikirannya juga sama. Dia langsung menjawab ayahnya.

“Ngga, Ajik, ngga usah cari anjing baru dulu. Nanti aja.”