Tag Archive | Nyepi

Nyepi dan “Earth Hour” untuk Indonesia Hebat

Tak bisa dipungkiri Indonesia memang negara yang kaya dengan beraneka adat dan budaya. Walaupun harus diakui juga bahwa adat dan budaya tak terpisahkan dengan pelaksanaan upacara agama. Salah satunya adalah pelaksanaan Hari Raya Nyepi di Bali yang amat kental dengan nuansa budaya. Hari Raya Nyepi yang baru saja kita lewati adalah perayaan Tahun Baru bagi umat Hindu yaitu Tahun Baru Saka, yang tahun ini jatuh pada tanggal 31 Maret 2014. Nyepi memang merupakan hari raya bagi umat Hindu, tapi kalau dicermati makna yang terkandung dalam Nyepi amat dalam dan efeknya tidak hanya bermanfaat bagi umat Hindu. Efek terbesar adalah alam Bali berkesempatan untuk “beristirahat” dari riuh-rendahnya roda kehidupan.

Menjelang Nyepi

Rangkaian Hari Raya Nyepi diawali dengan “Melis” atau “Melasti” yaitu ritual penyucian berbagai simbol-simbol suci atau sarana persembahyangan yang terdapat di Pura yang dilakukan di laut. Kenapa laut, karena laut diyakini merupakan sumber air suci yang akan membersihkan segala kekotoran.

Ogoh-ogoh

Ogoh-ogoh

Sehari sebelum Nyepi adalah hari Pengrupukan yaitu diadakannya upacara Tawur Kesanga atau yadnya suci untuk para Bhuta Kala (segala kekuatan negatif) agar sirna dan tidak mengganggu kehidupan manusia. Rangkaian upacara ini dilaksanakan mulai dari tingkat rumah tangga, dusun, desa sampai ke tingkat provinsi dengan sarana upakara tertentu. Hari Pengrupukan ini biasanya dimeriahkan juga dengan pawai ogoh-ogoh yakni patung yang berwujud Bhuta Kala yang terbuat dari kertas dan bambu atau bahan-bahan lain yang ringan dan mudah terbakar. Ogoh-ogoh ini selanjutnya diarak mengelilingi lingkungan sekitar untuk kemudian dibakar, yang merupakan simbolis sirnanya kekuatan jahat atau kekuatan negatif.

Pelaksanaan Nyepi

Keesokan harinya, tibalah hari raya Nyepi yang jatuh pada tanggal 1 Sasih Kadasa (bulan kesepuluh). Pada saat itu umat Hindu melakukan empat Tapa Brata Penyepian (pengendalian diri) yaitu:

  1. Amati Geni (tidak menyalakan api)
  2. Amati Karya (tidak beraktivitas)
  3. Amati Lelungaan (tidak bepergian)
  4. Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang).

Agak berbeda dengan perayaan tahun baru pada umumnya yang dirayakan dengan pesta-pesta. Umat Hindu membuka tahun barunya dengan menyepi, hening, tidak beraktivitas. Hari untuk berkontemplasi, merenung dan menyiapkan diri untuk menyambut hari-hari berikutnya yang penuh dinamika. Suka dan duka siap menunggu dalam perjalanan ke depannya.

Suasana di jalan raya saat Nyepi

Suasana di jalan raya saat Nyepi

Dengan melaksanakan empat tapa brata itu bisa kita lihat betapa hal itu sangat bermanfaat bagi alam. Selama 24 jam bumi Bali terbebas dari berbagai polusi. Bumi dan alam benar-benar bisa beristirahat setelah “melayani” penduduknya selama 364 hari non-stop dalam setahun. Jalanan lengang, tidak ada kendaraan yang turun ke jalan. Sejenak Bumi bisa bernapas lega. Udara pun bersih. Ibarat tubuh manusia, bumi dan alam berkesempatan melakukan pembersihan diri. Masyarakatnya beristirahat di rumah masing-masing. Ibarat komputer, sang komputer di-shut down sejenak setelah menyala selama 24 jam penuh. Secara ekonomi, pelaksanaan Nyepi juga memberi kontribusi karena terjadi penghematan BBM sampai sekitar 50% atau terjadi penghematan devisa negara sekitar Rp. 52 miliar  (dari berbagai sumber). Tentunya ini cukup hebat, bukan? Jadi, bisa dikatakan, pelaksanaan Nyepi di Bali sangat mendukung gerakan hemat energi, yang artinya Bali sebagai bagian dari negara Indonesia sangat mendukung agar Indonesia menjadi negara yang Hebat dalam ikut serta berpartisipasi mengatasi Global Warming.

Hubungannya dengan “Earth Hour

Terlepas dari konteks keagamaan, kita bisa merenungi manfaat Nyepi, kita bisa membayangkan, bagaimana jadinya alam semesta ini kalau setiap negara mampu melakukan “Nyepi” sehari dalam setahun. Alam semesta akan berterima kasih karena mendapat kesempatan untuk “beristirahat sejenak.” Atmosfir udara akan bersih dan sedikit banyak membantu meringankan efek Global Warming. Tetapi tampaknya hal itu tidak bisa terwujud saat ini, walaupun suatu saat, entah kapan, hal itu bisa saja terjadi. Saat ini dunia baru bisa menerapkan “Earth Hour” atau Jam Bumi, yaitu pemadaman listrik selama satu jam yang dilakukan setahun sekali.

Program Earth Hour pertama kali dicanangkan oleh Wordl Wide Fund for Nature (WWF)  yang pelaksanaannya dilakukan setiap Sabtu terakhir di bulan Maret. Awalnya program Earth Hour hanya dilaksanakan di Sydney, Australia. Tetapi sejak tahun 2008 Earth Hour dilakukan secara global karena beberapa negara di dunia ikut berpartisipasi termasuk Indonesia untuk melaksanakan program ini. Ini berhubungan dengan isu global warming karena dengan mengurangi pemakaian energi listrik selama satu jam dalam setahun, itu cukup memberi arti bagi bumi, sekecil apa pun. Saat Hari Raya Nyepi, umat Hindu (khususnya di Bali) bahkan tidak menyalakan lampu selama 24 jam. Bali gelap gulita selama semalam (kecuali tempat-tempat pelayanan vital seperti rumah sakit). Bukankah itu juga cukup berarti? Bali hebat! Indonesia Hebat! Itu mungkin yang dikatakan oleh orang luar karena Bali mampu melaksanakan Nyepi selama sehari semalam dan memberikan efek yang positif untuk alam dan lingkungan.

Karena Bali merupakan bagian dari negara Indonesia, tentu Indonesia juga hebat. Ada yang lebih indah yaitu, toleransi antar umat beragama di Bali sangat tinggi. Terbukti dari umat non-Hindu yang berada di Bali mendukung pelaksanaan Nyepi dengan jalan ikut berpartisipasi untuk tidak menyalakan lampu, tidak bepergian dan tidak menimbulkan suara-suara yang menganggu hikmatnya pelaksanaan Nyepi. Sungguh, Bali hebat! Sungguh, Indonesia Hebat!

Advertisements