Tag Archive | Olah raga

Yoga (#4)

Segarrrr. Itu yang saya rasakan ketika baru selesai latihan yoga.

Hari ini hari keempat. Masih gerakan dasar dan mengulang gerakan-gerakan sebelumnya. Kemudian ditambah beberapa pose baru. Yang jelas, tetap menyenangkan. Manfaat yoga makin saya rasakan di samping tubuh terasa lebih ringan, juga tidak cepat capek. Biasanya kalau naik tangga menuju lantai dua, itu cukup membuat saya agak terengah-engah. Tetapi sekarang tidak lagi.

vajrasana_090511045318Satu lagi yang terpenting adalah pose bajrasana sangat membantu saya, karena dalam keseharian, dalam bersembahyang umat Hindu (perempuan) akan duduk dalam  pose bajrasana (bersimpuh). Biasanya saya tidak kuat bersimpuh lama-lama, cepat pegal dan sakit di lutut.  Tetapi sekarang pose bajrasana terasa menyenangkan.

Hari ini sesi yoga ditutup dengan tarian yoga (yang lagi-lagi saya lupa namanya). Kemudian dilanjutkan dengan pendinginan dan relaksasi dan pemijatan sendiri. Ah, senangnya.

Ketika masih gadis saya ikut beladiri kempo, saya suka olahraga yang berbau macho. Waktu SMA saya juga sering mendaki gunung.  Setelah menikah dan menjadi ibu, saya ikut senam aerobic, dan di rumah senam sendiri dengan mengikuti panduan video dari Berty Tilarso. Saya memilih video senam Taebo, yang mengkombinasikan gerakan aerobic dan Thai Boxing. Seru. Tetapi belakangan saya agak kurang olah raga karena beberapa kesibukan yang membuat saya keasyikan.

Nah, tampaknya yoga sekarang bisa membuat saya lebih asyik lagi, karena sudah sejak lama saya menginginkannya.

Advertisements

Akhirnya, bisa juga ikut kelas yoga (#1)

Sudah sejak lama saya ingin sekali mengikuti kelas yoga, bermula dari membaca artikel tentang yoga, kemudian diperkuat oleh tayangan acara yoga di TV lokal yang tampil reguler setiap minggu. Acaranya dipandu oleh orang India, yang ashramnya terletak di Renon. Saat itu anak saya masih kelas 4 SD dan saya rajin nonton acara tersebut sehingga keinginan saya makin menggebu-gebu. Saya sempat menghubungi ashram itu yang nomor teleponnya ditampilkan di layar setiap acara menjelang selesai.

Saya sudah menanyakan hari dan biaya untuk ikut kelas yoga bagi pemula. Kendala terbesarnya adalah tempatnya yang jauh dari rumah. Membayangkan untuk pergi ke sana membuat saya jadi malas. Pelan-pelan keinginan itu terkubur, tapi saya masih sering membaca-baca artikel tentang yoga, manfaatnya bagi kesehatan dan tubuh kita. Ada juga yang mengatakan bahwa yoga bisa dipelajari sendiri dengan membeli VCD/DVD tentang yoga dan mengikuti petunjuknya. Saya pernah membeli salah satu buku + VCD karya Anand Khrisna, tapi terus terang saya tidak berani mencoba sendiri tanpa instruktur yang berpengalaman.

Sekian tahun kemudian, tepatnya minggu lalu, ketika sedang menghadiri arisan ibu-ibu di kompleks perumahan kami yang diadakan di Balai Dusun (Balai Pertemuan), saya didekati oleh Ibu Rusmala, seorang dosen Ekonomi di Udayana. Ibu dosen itu bertanya pada saya apakah berminat ikut kelas yoga. Hah? Yoga? Mendengar kata yoga telinga saya langsung berdiri dan menghentikan kegiatan tulis menulis sejenak. Sebagai bendahara arisan, saat itu saya sedang sibuk menerima uang dan mencatat nama ibu-ibu yang membayar arisan.

“Yoga? Kapan? Di mana?” saya begitu antusias.

“Tempatnya di sini, kita akan manggil guru yoga untuk mengajar kita, sekarang kita data dulu siapa-siapa yang mau ikut.”

“Mauuuu, catat nama saya Bu,” kata saya penuh semangat.

(Nah, siapa bilang arisan hanya ajang untuk bergosip?) 😀

Akhirnya, datanglah hari itu. Hari pertama kelas yoga, instrukturnya seorang pria yang berusia kira-kira di akhir tigapuluhan atau awal empatpuluhan. Sebelum sesi yoga dimulai, setiap peserta ditanya apa yang menjadi harapannya setelah mengikuti yoga. Saya sendiri tidak muluk-muluk, intinya saya ingin menjaga dan meningkatkan kesehatan tubuh. Mengingat saya termasuk orang yang malas berolah raga. Kalaupun nanti ada hasil lain yang mengikuti, itu hanyalah bonus. Saya tidak muluk-muluk akan bisa berpose yang (tampaknya) sulit sekali seperti Mbak Dina Begum. Apalagi mengingat usia saya yang tidak muda untuk memulai yoga, dan sebelumnya saya sempat ragu-ragu apakah saya akan bisa mengikutinya. Tetapi sang guru meyakinkan tidak ada istilah terlambat untuk memulai yoga.  Saya semangat lagi, apalagi sebagian besar peserta lainnya rata-rata berusia kepala lima, setidaknya saya masih kepala empat. 😉

Sebelum sesi yoga dimulai, sang guru menjelaskan secara singkat apa itu yoga, dan apa manfaatnya bagi tubuh kita. Persis seperti apa yang pernah saya baca di sebuah website. Yoga telah dipraktekkan selama lebih dari 5.000 tahun dan kelas yoga yang paling diminati adalah mempelajari berbagai macam  fisik pose, yang disebut asana. Ini juga biasanya mencakup beberapa bentuk teknik pernapasan dan mungkin suatu teknik meditasi juga. Beberapa kelas yoga dirancang murni untuk relaksasi. Tapi ada gaya yoga yang mengajarkan cara untuk menggerakkan tubuh dengan cara baru. Memilih salah satu dari gaya ini menawarkan begitu banyak manfaat kesehatan terbesar dan memungkinkan kita untuk mengembangkan fleksibilitas, kekuatan, dan keseimbangan.

Secara garis besar yoga bisa memberikan manfaat yang besar untuk menambah fleksibilitas, dapat memperbaiki postur, menambah kinerja organ-organ pernapasan, meningkatkan konsentrasi dan mood, mengurangi stress dan meningkatkan ketenangan, membantu mengatur tekanan darah sehingga otomatis membantu jantung.

Beberapa penelitian juga memberi kesan bahwa yoga memiliki efek positif pada pembelajaran dan memori. Peneliti lain telah mempelajari apakah yoga dapat memperlambat proses penuaan, meningkatkan rasa seseorang dari penerimaan diri, atau meningkatkan tingkat energi. Beberapa potensi manfaat yoga mungkin sulit untuk dipelajari secara ilmiah. Misalnya, yoga telah dikatakan dapat meningkatkan kesadaran rohani.

Kelas yoga hari pertama berjalan dengan sangat menyenangkan. Sang guru membimbing kami dengan sabar dan perlahan-lahan, mulai dari dasar sekali. Mulai dari teknik bernapas, pemanasan, kemudian mulai dengan pose-pose yang ringan. Kami mengikuti semua aba-abanya, dan beberapa kali sang guru berucap: “Jangan dipaksa, jangan memaksakan diri, kalau memang tidak kuat atau terasa sakit, lepaskan.” Kalimat itu diucapkan berulang-ulang. Saya teringat dengan salah satu artikel yang pernah saya baca, yang antara lain menyebutkan bahwa melakukan yoga tubuh tidak boleh terasa sakit dan tidak ada istilah kompetisi dalam yoga.

Kami melakukan semua gerakan yang diajarkan, sampai pada suatu pose yang disebut mudra yoga. Saya exciting sekali ketika ternyata saya bisa melakukannya. Tadinya saya pikir saya tidak akan bisa menyentuhkan kepala ke lantai dalam posisi duduk seperti itu. Wah, senangnya, maklum newbie, hihihi.

Sesi yoga hari itu ditutup dengan pendinginan dan pemijatan diri sendiri. Asyik dan seru, dan… tak sabar menunggu hari Selasa berikutnya. 🙂

NB: ilustrasi gambar di atas diambil di sini dan di sini.