Tag Archive | Pilpres

Pilpres, oh, pilpres

Misalnya saya memilih Prabowo-Hatta apakah itu lantas membuat saya tiba-tiba jadi penjahat di mata teman-teman yang mendukung Jokowi-JK? Atau di mata kaum golput? Apakah itu artinya saya sama sekali tidak tahu makna pemimpin? Di mana letak kejahatan saya? Apakah karena menurut sebagian orang Prabowo itu “penjahat HAM” sehingga saya pun ikut jadi penjahat? Kalau benar dia penjahat, kenapa KPU meloloskannya menjadi salah satu kandidat? Kalau benar demikian kenapa Ibu Megawati menjadikan Prabowo sebagai cawapresnya saat pilpres tahun 2009? Kenapa Ibu Megawati yang amat konsen dengan masalah HAM sudi bercawapreskan Prabowo yang “penjahat HAM?”

Kalau benar demikian kenapa Prabowo tidak diseret ke pengadilan? Kalau ada bukti-bukti yang demikian kuat apa susahnya menyeretnya ke pengadilan?

Sedangkan seorang Tommy Soeharto yang putra kesayangan Soeharto saja bisa diseret ke pengadilan dan bahkan dikirim ke Nusa Kambangan, lalu kenapa tidak bisa menyeret Prabowo yang hanya (mantan) menantu Soeharto, kalau memang ada bukti kuat untuk itu? Apa mungkin ada pihak-pihak atau kelompok-kelompok tertentu yang tidak ingin masalah tersebut terbuka jelas di mata publik dan sengaja membiarkannya mengambang seperti ini untuk memanfaatkan ketidaktahuan publik?

Rasa pertemanan dan persahabatan saya tak pernah berubah terhadap teman-teman yang mendukunng Jokowi-JK atau pun yang memilih golput. Saya amat amat menghargai dan menghormati sikap mereka yang pasti sudah dipikirkannya dengan matang. Saya tak pernah sedikit pun berusaha memengaruhi atau memberi pandangan saya pada mereka karena saya yakin mereka sudah dewasa dan ini masalah kata hati dan nurani yang tidak bisa dipaksakan. Saya amat menghargai perbedaan karena sadar sepenuhnya dunia ini tak bisa diseragamkan.

Saya cukup sedih ketika seorang sahabat yang amat saya percayai dan hormati memborbardir saya dengan menunjukkan segala “kejahatan” Prabowo yang tentu saja masih “katanya” karena kita tidak tahu persis kejadian yang sebenarnya. Saya akan menganggap biasa-biasa saja kalau ia hanya sekadar meng-copy-paste link-link yang memuat berita kejahatan Prabowo. Saya masih menganggap itu sebatas kampanye (hitam). Tapi yang membuat sedih ketika ada kata-katanya yang menyinggung perasaan dan mengarah ke pribadi saya.

Saya berusaha tak terpancing dan tak ingin berdebat karena lebih menghargai hubungan persahabatan dan juga sadar tak ada gunanya mendebatkan hal itu. Saya masih bisa menjawabnya dengan penuh senyum walaupun dalam hati sedih.

Tapi hal ini kemudian membuat saya berpikir, kalau benar pilihan saya itu adalah sebuah kejahatan, siapa sebenarnya yang paling jahat? Siapa yang menyediakan pilihan ini? KPU, bukan? Apakah KPU sebodoh itu sehingga meloloskan orang jahat menjadi salah satu kandidat? Menurut saya pribadi, kedua kandidat sama-sama hebat dan sama-sama punya peluang. Sama-sama punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi berhubung tidak boleh memilih keduanya, maka saya harus memilih salah satu dari mereka. Saya telah menetapkan pilihan sejak awal tapi tak pernah bermaksud ikut kampanye.

Dalam keluarga besar saya sendiri pun pilihannya tidak sama. Bahkan ada seorang ipar yang menjadi tim sukses Jokowi-JK dan amat dekat dengan elit partai pengusung pasangan ini. Tidak ada masalah. Biasa-biasa saja. Sama sekali tidak mengganggu hubungan kekerabatan.

Bagi saya, siapa pun yang terpilih dari kedua pasangan ini, memang itulah yang terbaik bagi Indonesia saat ini.

Saya bingung kalau ada orang yang ngenyek pilihan orang lain, sementara pilihan-pilihan itu sah adanya. Apa coba untungnya menyakiti perasaan teman hanya karena perbedaan pilihan?

*asli bingung*

Advertisements

Belajar dari pengalaman

Akhirnya, hanya ada dua capres dengan cawapresnya masing-masing yang siap bertarung di ajang pilpres  Juli nanti. Tentu dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kita tahu persis tidak ada manusia yang sempurna, begitu juga dengan kedua capres ini. Menurut saya yang awam ini keduanya memiliki peluang yang sama, fifty-fifty. Bagi saya yang rakyat jelata, siapa pun yang terpilih sebagai presiden nanti harapan saya semoga sang terpilih mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik dari saat ini. Dalam segala hal.

Mau bagaimana lagi? Suka tidak suka, salah satunya akan menjadi presiden kita.

Mungkin banyak yang kecewa karena capres A yang tadinya diidolakan ternyata memilih cawapres yang tak diinginkannya. Banyak juga yang kecewa bahkan ilfil karena capres B yang tadinya amat dijagokan ternyata berkoalisi dengan partai-partai yang membuat kecewa. Yah, keinginan kita memang tak selalu terkabul seperti apa yang kita inginkan.

Besar harapan saya semoga kedua capres (plus pendukungnya masing-masing) menyadari sepenuhnya bahwa ini adalah sebuah kompetisi. Dan sebagaimana layaknya sebuah kompetisi pastilah ada yang menang dan ada yang kalah. Tidak mungkin semuanya menjadi pemenang. Siapa pun yang kalah nanti agar bisa menerima dengan jiwa besar dan mengakui kemenangan rivalnya. Begitu juga siapa pun yang menang agar rendah hati dan tetap menghargai rivalnya, tidak seketika sombong dan bersikap merendahkan rivalnya.

Khusus untuk semeton ring Bali, mari kita berkaca pada pilpres tahun 1999 silam ketika terjadi amuk massa karena capres yang dijagokannya tidak terpilih. Jangan sampai hal itu terulang kembali. Kita tentu sangat ingat bagaimana kerusuhan terjadi, tepatnya tanggal 21 Oktober 1999, terjadi amuk massa di beberapa daerah di Bali yaitu Buleleng, Badung, Denpasar, Jembrana dan Tabanan. Pemicunya adalah massa pendukung sang capres yang kecewa karena calonnya tidak terpilih.

Saat itu Bali sempat lumpuh total. Beberapa gedung pemerintah diamuk dan dibakar massa. Pohon-pohon besar perindang jalan ditebang untuk menutup jalanan. Ban-ban bekas dibakar di tengah jalan. Kerusuhan terparah terjadi di Pusat Pemerintahan (Puspem) Kabupaten Badung yang terletak di daerah Lumintang. Hampir semua gedung perkantoran di Puspem ini terbakar hangus. Rumah saya yang jaraknya tak terlalu jauh dari puspem ini merasa cukup tegang dan berdoa semoga kerusuhan tak semakin menjalar. Orang tua dan saudara-saudara saya, juga kakak-kakak ipar menelpon saya dan menanyakan keadaan saya. Mereka wajar amat khawatir karena lokasi kerusuhan cukup dekat dan peristiwa kerusuhan 1998 di Jakarta belum hilang dari ingatan.

Waktu itu anak saya masih duduk di TK Besar. Saya baru saja sampai di rumah sepulang dari sekolahnya ketika kerusuhan meledak. Saat itu tempat kerja suami saya di daerah Tuban. Begitu mendengar kerusuhan, suami dan teman-temannya pulang lebih cepat. Karena jalan-jalan utama diblokir oleh pelaku kerusuhan dengan menumbangkan pepohonan besar dan membakar ban-ban bekas, suami berusaha mencari jalan-jalan tikus (jalan-jalan kecil) untuk sampai di rumah. Hari itu suasana amat mencekam. Tapi syukurlah kerusuhan tak sampai menyerang penduduk sipil.

Saya sangat berharap dalam pilpres mendatang semoga semeton Bali tidak lagi melakukan tindakan “bunuh diri” seperti itu seandainya kandidatnya tidak terpilih. Bukankah itu sama dengan merusak rumah sendiri? Yang rugi siapa? Kita juga kan? Mari bersatu padu untuk menjaga Bali agar tetap aman dan terhindar dari kerusuhan dan tindakan anarkis lainnya. Mari berdoa, agar siapa pun yang terpilih nanti benar-benar menjalankan pemerintahan dengan sebaik-baiknya sehingga tidak mengecewakan banyak pihak.

Semoga segala kebaikan datang dari segala arah. Semoga damai senantiasa. Astungkara.