Tag Archive | Putriku

Gembel teriak gembel

Sejak masuk SD anak saya sudah terbiasa menceritakan kejadian apa pun yang dialaminya di sekolah. Apakah kejadian itu menyangkut dirinya atau kejadian yang menimpa teman-temannya, dia selalu cerita. Entah ada temennya yang berantem, entah ada teman yang dimarahi guru, entah ada teman yang mengejeknya, semua dia ceritakan. Apakah itu tentang guru-gurunya, sifat dan sikap guru-gurunya, semua dia ceritakan. Saking mendetailnya dia cerita, saya sampai merasa ada di TKP, saya sampai merasa mengenal mereka semua. Kebiasaanya yang selalu bercerita apa saja, membuat saya mengenal hampir semua teman-teman dekatnya.

Dari apa yang diceritakannya, saya bisa mengetahui situasi di sekolahnya. Kalau saya merasa ada situasi yang berbahaya, saya akan mengambil tindakan yang saya rasa perlu. Waktu SD dia pernah bercerita ada teman cowoknya yang nakal sekali dan sering menjambak rambut panjangnya tanpa alasan. Karena kejadiannya berkali-kali, saya merasa harus mendatangi si anak nakal itu ke sekolah. Cerita lengkapnya saya tulis di sini.

Sampai sekarang, sampai dia sudah kuliah, kebiasaannya itu masih tetap berlangsung. Kali ini dia bercerita tentang temannya yang mengatainya gembel. 😀 Seperti biasa, gaya berceritanya yang ekspresif plus bahasa tubuh dan gerak-geriknya yang sangat mendukung ceritanya, membuat saya merasa ada di TKP dan merasakan suasana saat kejadian.

Ceritanya dimulai ketika salah satu temannya, cewek, sebut saja bernama G, tanpa ba-bi-bu tiba-tiba saja menarik pinggangnya dan berkata dengan keras. Kejadiannya di tengah ruang kuliah ketika dosen tidak ada.

“Eh, gembel, kau benar-benar gembel… lihat bajumu robek seperti ini masih kau pakai juga? Dasar gembel!”

Anak saya kaget dan otomatis meraba pinggangnya. Ternyata benar, baju seragam putihnya robek di bagian sana, tepatnya, jahitannya terlepas, persis di pinggir sakunya. Baju seragamnya di bagian depan memang ada dua saku, kiri dan kanan. Anak saya tak bisa berkata apa-apa, hanya bisa meringis sambil berusaha menghindari incaran G yang terus berusaha menarik seragamnya.

“Kau benar-benar gembel. Sungguh tak tahu malu memakai baju robek!” Si G menudingkan telunjuknya ke arah muka anak saya karena tak bisa menyentuh bajunya lagi. Dia tampak benar-benar puas mengerjai anak saya. Setelah berkali-kali mengatai gembel, dia kemudian tertawa ngakak dengan puasnya.

Anak saya hanya tersenyum kecut. Sementara teman-temannya yang lain hanya bisa bengong menyaksikan ulah mereka berdua.

Karma kadang memang tak mau menunggu lama. 😀

Esok harinya, anak saya mendapat kesempatan untuk membayar lunas perlakuan G. Hari itu hari Rabu, mereka menggunakan seragam warna biru, dan… G tidak sadar bajunya juga robek, persis di tempat yang sama seperti baju anak saya. Anak saya melihatnya tanpa sengaja. Tentu saja dia tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Hahaha!

Tanpa berpikir panjang, dengan cepat anak saya menyambar pinggang si G dan menarik bajunya tepat di tempat yang robek itu.

“Hai, gembel! Sungguh kau tak tahu malu! Memakai baju robek seperti ini. Dasar gembel!” Anak saya mengulangi kata-kata G kemarinnya. Si G tak sempat menghindar, dia berusaha melepaskan diri dari cengkeraman anak saya, tapi tak bisa.

“Mau kemana kau, gembel?” Si G berhasil melepaskan diri tapi anak saya mengejarnya, hingga dia terpojok di sudut ruangan kelasnya.

“Waduh, diam kamu, eeee, sialan… aku tak tahu bajuku robek. Udaah… diem dong,” dia memohon agar anak saya mau melepaskannya. Anak saya tentu saja tak mau melepaskan “korbannya”.

“Gembel macam apa kau ini, hah? Sesama gembel mestinya saling mendukung, bukannya saling menjatuhkan!” Dengan penuh drama anak saya menuding-nudingkan telunjuknya ke depan wajah G, persis seperti yang dilakukannya kemarin pada anak saya.

Sesekali anak saya membuat gerakan seolah-olah hendak menyerang pinggang G. Si G bergerak kesana-kemari berusaha “menyelamatkan” pinggangnya.

“Gembel kok teriak gembel! Dasar gembel tak tahu diri!”

Anak saya ngakak puasss sekali dan sangat menikmati melihat G yang kelabakan lari kesana-kesini dalam kejarannya. Teman-teman sekelasnya semua melongo melihat pertunjukan “drama” itu.

Semua kejadian tersebut diceritakan oleh anak saya lengkap dengan ekspresi dan peragaannya. Bagaimana dia menuding temannya, bagaimana dia mengatai-ngatainya gembel. Semua itu diperagakan dengan amat baik. Daannn… sepanjang dia bercerita (plus memperagakannya) membuat saya tertawa tak putus-putus. Perut saya nyaris kram karena lama terpingkal-pingkal. Mulut saya sampai sakit karena tak henti-henti tertawa. Waduh.

Tapi… jangan kira mereka berdua, G dan anak saya, bermusuhan. Tidak. Mereka adalah dua sahabat. Mungkin model sahabatan mereka yang agak aneh. Teman-teman sekelasnya sudah biasa melihat mereka yang (sepertinya) bertengkar hebat. Tapi di hari lain mereka juga biasa melihat G curhat sambil nangis-nangis kalau lagi ada masalah. Dan biasanya, hanya anak saya yang bisa memberinya solusi. Sungguh, persahabatan yang aneh, bukan? 😀

Tapi, kalau soal nilai-nilai persahabatan, saya tak meragukan anak saya. Saya pernah menulis sebuah kisah yang cukup memilukan tentang salah satu sahabatnya di sini.

Dasar anak-anak. 😉

Advertisements

Pudarnya “taksu” Arjuna

Shaheer-SheikhMalam itu anak saya tampak sebal sekali. Dia sedang duduk di atas tempat tidurnya sambil memegang remote TV. Saya kebetulan memang mau masuk ke kamarnya

“Lihat nih, Bu… Ajung malu nonton acara ini.”

“Acara apa?”

“Tuh, Ibu lihat aja sendiri.”

Di layar TV sedang ada tayangan iklan acara “Panah Asmara Arjuna”. Oh, ini rupanya yang membuat dia mencak-mencak. Kalau saya perhatikan sekilas, konsep acara ini seperti acara “Rumah Petir” yang pernah ditayangkan oleh Anteve sekian tahun silam. Ada beberapa kontestan yang sudah lolos audisi kemudian tinggal bersama (diasramakan) di satu rumah. Selanjutnya para kontestan akan mengikuti serangkaian acara atau tantangan. Tiap minggu akan ada kontestan yang dieliminasi hingga tinggal satu orang. Nah, yang tersisa itulah yang keluar sebagai pemenang dan berhak mendapatkan rumah yang mereka tempati itu sebagai Penghuni Terakhir (Petir). Secara garis besarnya demikian.

Konsep Panah Asmara Arjuna (PPA) ini saya rasa agak mirip seperti itu (kalau dilihat dari cuplikan iklannya yang terpaksa saya tonton karena tak ingin ketinggalan Mahabharata).  Gadis-gadis peserta PPA ini dikarantina di satu tempat dan Arjuna akan mendatangi mereka setiap hari untuk memberikan serangkaian tantangan. Para gadis tersebut wajib melakukannya dan bersaing untuk keluar sebagai pemenang dan mendapatkan hadiah tertentu (saya tak tahu hadiahnya).

Saya sendiri tak tertarik menonton acara ini. Acara yang saya tunggu di Anteve hanyalah Jodha Akbar, Mahabharata, Ramayana dan Mahadewa.  Tak saya sangka ternyata anak saya juga tak suka acara PPA, yang menurutnya mengubah imej Arjuna.

“Yah, kalau ngga suka pindah aja salurannya, jangan lihat yang itu.”

“Tapi Ajung nunggu Mahabharata, ntar kalau dipindah bisa kelewatan,” jawabnya, namun tak urung dipindahnya juga saluran TV ke NetTV (saluran TV favoritnya sekarang ini).

“Ibu tahu ngga, acara ini membuat taksu Arjuna jadi hilang. Ajung jadi ilfil nih,” lanjutnya kesal.

Saya tahu persis, anak saya sangat menyukai karakter Arjuna sejak Arjuna masih kecil (sebelum diperankan oleh Shaheer Sheikh).  Dia sangat menyukai perlakuan Arjuna terhadap ibunya. Dari kelima Pandawa, menurutnya Arjunalah yang paling besar perhatian dan sayangnya kepada ibunya. Ketika Arjuna dewasa diperankan oleh Shaheer Sheikh, dia lebih senang lagi (karena wajahnya yang rupawan dan aktingnya yang menawan). Apalagi ketika adegan Arjuna menadah air mata ibunya yang kemudian diusapkan ke wajah dan rambutnya. Dia sangat terkesan. Tokoh Arjuna (di matanya) termasuk cukup jaim dan tidak cengengesan walaupun dia digambarkan amat tampan. Dia suka karakter itu.

Nah, ketika ada acara Panah Asmara Arjuna, tiba-tiba “nilai” Arjuna jadi turun drastis di matanya. Langsung kebanting! Ditambah lagi para peserta PAA yang dianggapnya terlalu agresif dan (maaf) agak genit. Dia merasa para peserta tersebut tidak mewakili karakter perempuan Indonesia pada umumnya. Lengkaplah sudah kekecewaannya.

Ini memang masalah selera. Mungkin banyak yang menyukai acara PAA tersebut, mungkin hanya dia yang tak suka. Bukan hanya tak suka, dia bahkan malu melihatnya. Parah yah, anak ini?

Dia lupa bahwa itu adalah dunia bisnis. Dia lupa bahwa Shaheer Sheikh juga hanya berakting di sana. Tapi dia sudah terlanjur ilfil dan tak lagi mengidolakan Sang Arjuna. Dia sudah pindah ke lain hati. Ke hati siapa? Abimanyu!  Sekarang, setiap saat dia membicarakan Abimanyu. Katanya, Abimanyu cakep sekali. Abimanyu sangat cocok dengan Uttari, pasangan yang serasi. Cakep dan cantik!

Ah, dasar anak-anak! 😀

Tapi, ketika dia teringat bahwa Abimanyu akan gugur secara mengenaskan di medan Kuruksetra, wajahnya tiba-tiba amat sedih. Dia tak rela dan menyesal kenapa Abimanyu mesti gugur. Kasihan Uttari, baru juga mereka menikah dan belum sempat menikmati kebahagiaan, katanya.

Yah, kau harus tahu, Nak, apa yang kita hadapi tak selalu sama seperti apa yang kita harapkan.

Suasana di sebuah acara pernikahan

Beberapa hari yang lalu saya menghadiri upacara pernikahan salah satu keponakan perempuan saya. Acara dilakukan di rumah mempelai pria yang terletak di daerah Sanur.

Kami disambut oleh tuan rumah dengan amat ramah dan hangat. Setelah menikmati minuman dan jajanan, beberapa saat kemudian acara puncak dimulai yang dilaksanakan di natar Merajan. Saya mengikuti setiap acara dengan serius. Di sebelah kanan saya berdiri seorang ibu berbaju biru yang juga memperhatikan dengan saksama setiap langkah upacara tersebut. Kadang ibu ini memberi pengarahan apa-apa langkah berikutnya. Tampaknya dia salah satu “tetua” di keluarga ini. Di sebelah kiri saya berdiri anak saya yang juga mengikuti semua acara dengan serius. .

Sesekali saya juga ngobrol dengan ibu ini. Rupanya dia sudah tahu bahwa saya adalah tante dari si pengantin wanita. Tiba-tiba dia berbisik.

“Siapa yang berdiri di sebelah Ibu?”

“Oh, anak saya, Bu.”

“Hm, sudah punya pacar?” bisiknya lagi.

“Belum,” jawab saya sambil tersenyum. Teringat anak saya sampai detik ini memang belum punya niat untuk pacaran. Masih ingin fokus di kuliahnya.

“Tyang “ngamprah”, nggih,” katanya masih berbisik.

Saya tak bisa menjawab, saya pikir dia pasti hanya bercanda. Saya pun hanya bisa menjawab dengan senyum. 

“Saya serius, Bu,” lanjutnya. “Saya mau kenalkan dengan keponakan saya, namanya Gung Ngurah, itu orangnya.” Dia menunjuk seorang pemuda berwajah kalem yang sedang sibuk dengan kamera DSLR-nya.  “Mudah-mudahan berjodoh,” sambungnya penuh harap sambil tersenyum manis.

Kemudian si ibu ini bercerita sedikit tentang si pemuda yang kini bekerja di Jakarta. Menceritakan kebaikan-kebaikannya, tentu saja. 

“Orangnya baik banget, Bu, patuh dan hormat pada orangtua.”

Hm, promosi yang menarik. 😉

Saya memperhatikan si pemuda yang masih sibuk memotret kedua pengantin yang sedang mengikuti ritual “Widhi Widana.” Berperawakan sedang dengan wajah yang  tenang.  

Setelah itu saya kembali mengalihkan perhatian kepada kedua pengantin yang saat itu sedang melakukan ritual “masak-masakan” dengan mengikuti arahan dari para tetua.

Tiba-tiba ibu di sebelah saya menggamit lengan saya.

“Bu, lihat ke depan, kita dipotret oleh Gung Ngurah,” serunya. Jelas terlihat si ibu ini amat bangga pada keponakannya.

Tepat saat saya memandang ke depan, pemuda itu sedang membidikkan lensanya ke arah kami. Klik. 

Wah, boleh juga nih jadi calon menantu. Tampaknya sih emang baik orangnya, semoga berjodoh. Lho?  Hehehe. 😀

Tapi sejujurnya, kalau soal pasangan hidup saya serahkan sepenuhnya kepada si anak. Saya tak mungkin memaksanya dengan pilihan saya. Yang bisa saya lakukan hanyalah memberi petuah, nasehat dan masukan demi masa depannya dan tentu saja akan melakukan “screening” untuk  bakal calon pendamping hidupnya. Bila perlu saya akan jadi agen spionase untuk menyelidiki sang bakal calon. 😀

“Meceki”

Masih seputar cerita selama berada di kampung.

Sebelum hari H atau puncak pelaksanaan upacara ngaben ada beberapa ritual yang harus dilakukan. Di sela-sela ritual tersebut ada juga waktu-waktu kosong sambil menunggu acara berikutnya. Tak dipungkiri dalam acara adat seperti ini memang banyak menguras energi dan harus pandai-pandai memanfaatkan waktu luang untuk istirahat dan menyegarkan otak.

IMG_0016Ada berbagai cara yang dipakai untuk mengisi waktu luang sambil mengendorkan urat saraf. Salah satunya adalah “meceki” bagi orang yang bisa meceki. Mereka bilang permainan ini amat efektif untuk mengendorkan urat saraf yang tegang akibat kelelahan atau karena sering begadang.

Saya yang tidak bisa meceki hanya bisa jadi penonton. Kakak-kakak ipar membujuk saya agar ikut main dan mau belajar tapi saya benar-benar tidak mengerti. Saya sama sekali tak kebayang cara memainkannya.

“Gampang kok, tidak lebih susah dari menerjemahkan novel,” gurau salah satunya.

“Aduh, susah amat tampaknya, melihat macam-macam rupa kartu itu aja udah bikin bingung,” jawab saya.

“Ah, itu kan karena memang tidak ingin belajar,” jawabnya lagi.

Saya hanya bisa tersenyum karena terus-terang saya memang tak tertarik untuk meceki.

Tiba-tiba anak saya berseru.

“Ajung mau ikut, kaya’nya ini menyenangkan deh. Tapi ajarin,yaa!”

Tak sangka anak saya tertarik dan ingin belajar. Dengan senang hati kakak ipar mengajarinya. Pertama dia dikenalkan dengan nama-nama kartu itu dan aturan mainnya. Setelah sedikit mengerti dia langsung ikut main, tentu awalnya dengan didampingi gurunya.

IMG_0015Ternyata, oh, ternyata, anak saya bisa dengan cepat menyerap pelajarannya. Dengan segera dia bisa main dan itu membuatnya “bangga.” Dengan cepat dia mengerti istilah “mecari,” “soca” dan “ngandang.” Dan entah apalagi. Dia begitu senang karena dalam beberapa kali perputaran dia keluar sebagai pemenangnya. Sebagai pemain anyar tentu saja hal itu membuatnya senang.

Ketika saya memotret dan merekam permainan mereka anak saya berujar dengan kocaknya, “Jangan direkam, Ibuu, jangaaan, nanti Ajung digerebek polisi!”

Lebay nian nih anak. 😀

 

NB: Artikel ini juga dijadikan status di FB, 8 Agustus 2014

Memasuki dasa warsa kedua

Ibu dan Ajung baju kembarSulit dipercaya bahwa besok, 21 Mei 2014, yang bertepatan dengan Hari Raya Galungan, makhluk mungil di sebelah saya ini genap berusia dua puluh tahun. Dua puluh tahun! Rasanya baru kemarin saya menimangnya, menyusuinya sambil menyanyikan lagu Nina Bobok atau Putri Cening Ayu.

Baru kemarin rasanya saya mendongeng untuknya sebagai pengantar tidurnya, setiap malam. Dan baru kemarin rasanya saya mendengar suara tawanya yang terpingkal-pingkal karena menertawakan dongeng saya yang tidak nyambung. Iya, beberapa kali ketika saya mendongeng, saya kecapekan dan keburu ngantuk. Sedangkan dia, setiap selesai satu dongeng selalu minta lagi, lagi dan lagi. “Lagi, Buu, dongeng yang lain.”

Ajung (1 tahun)Karena kelewat ngantuk saya jatuh tertidur sementara si anak yang didongengi masih segar-bugar. Nah, ketika saya tak sadarkan diri (karena tertidur), rupanya ada “kesadaran” lain yang mengambil alih kesadaran saya dan melanjutkan dongengnya. Tapi, cerita dongengnya sudah tak sinkron lagi dengan cerita semula. Yang semula saya mendongeng tentang “I Belog” entah bagaimana, saat saya tertidur tokoh dalam dongeng berubah menjadi “Ikan Paus.” Hal ini tentu saja membuat si anak heran kemudian tertawa terpingkal-pingkal. Katanya, “Buu, dari mana datangnya Ikan Paus?” Dan, saya pun tersadar setelah mendengar suaranya yang ditingkahi oleh tawa kerasnya. Hal itu sering terjadi. Bukan sekali dua kali.

Anak ini dari kecil sudah mempunyai sifat jahil. Ketika duduk di bangku TK, dia beberapa kali ngerjain saya. Bayangkan, seorang anak TK bisa ngerjain emaknya? Kasihan banget emaknya!

Ceritanya, saat itu saya mengenalkan beberapa suku kata untuk membentuk sebuah kata. Kata-kata yang sederhana yaitu benda-benda yang ada di sekitarnya atau benda-benda yang sering dipakai mainan atau pun bagian dari tubuhnya. Misalnya, bo-la, ba-ju, ka-ki, ku-ku dan lainnya. Awalnya dia menjawab dengan tepat. Bo-la dibaca bola, ba-ju dibaca baju dan seterusnya. Tapi entah kenapa, beberapa saat kemudian ketika saya mengulangi lagi, “bo-la” dibaca “suli.” Saya heran, saya ulangi lagi, tetap saja dia jawab “suli”.

“Kok jadi ‘suli’? Boo-laa jadinya apa, sayang?”

“Suli!” jawabnya yakin. Setelah sekian kali, saya menatapnya dengan heran. Tiba-tiba dia tertawa ngakak, terpingkal-pingkal, keras sekali. Dia memandang saya dengan pandangan jahil dan penuh kemenangan. Ya, ampun! Dia ngerjain saya! Dan itu bukan yang terakhir!

Saya juga masih menyimpan surat-surat cinta yang dia tulis untuk saya sejak dia baru bisa menulis. Dia sering mengungkapkan rasa sayangnya, rasa cintanya pada saya di selembar kertas atau di sesobek kertas dan ditulis tangan lengkap dengan gambar jantung. Tentu saja sebagian tulisannya masih seperti cakar bebek, eh, cakar ayam. 😀

Dan, si jahil itu kini sudah hampir dewasa. Sifat jahilnya terbawa sampai sekarang.

Saya bahagia bisa menyaksikan pertumbuhannya detik demi detik. Dari bayi merah, anak-anak, dan kini jadi gadis remaja menjelang dewasa. Bisa dikatakan saya selalu ada untuknya, 24/7, karena begitu ia terlahir saya memutuskan untuk tetap berada di sisinya. Artinya, saya menghentikan semua kegiatan di luar rumah. Saya yang terbiasa bekerja sejak masih kuliah sampai menjelang saat-saat kelahirannya, dengan sadar memutuskan untuk merawat dan mengasuhnya sendiri karena saya tak tega meninggalkannya. Kebetulan suami juga menginginkan hal yang sama.

Karena saya selalu ada di sisinya setiap saat, dia tidak membutuhkan susu formula. Saya memberinya ASI eksklusif sampai dia berusia 3 tahun. Ekstra eksklusif? 😀  Namun masalah timbul ketika saya ingin menyapihnya. Berbagai cara saya coba tapi gagal. Saya memang tidak mau memakai cara yang keras atau main paksa. Saya pikir, karena dia sudah cukup mengerti (sudah masuk Play Group) saya yakin dia bisa dikasih pengertian. Akhirnya, saya bekerja sama dengan gurunya. Suatu hari di tengah kelas gurunya bertanya siapa yang masih menyusu dari ibunya.  Kalau ada disuruh angkat tangan. Tidak ada yang mengaku. Kemudian gurunya secara halus memberi tahu bahwa mereka sudah besar dan harus berhenti menyusu.  Sejak itu dia tidak mau lagi menyusu. Program sapih pun sukses tanpa harus main paksa. 😀

Kini usianya sudah kepala dua. Sebentar lagi dia akan menjadi wanita dewasa. Sebentar lagi dia akan mempunyai kehidupan sendiri. Tapi, ada yang aneh. Kenapa emaknya tak pernah merasa tua? Itu masalah lain. 😉

Akhirnya, selamat ulang tahun, sayang. Semoga segala kebaikan selalu menyertaimu. Kau tahu betapa ibumu ini menyayangimu lebih dari apa pun. ❤

 

Salah didik?

Pemilu legislatif tinggal beberapa hari lagi. Gambar-gambar para caleg masih banyak yang nangkring di pinggir-pinggir jalan dengan berbagai pose yang hampir semuanya meminta doa restu. Begitu juga di sekitar kompleks perumahan saya. Memang sebagian sudah dicopot tapi banyak juga yang masih dibiarkan di tempat.

Saya teringat pemilu sebelumnya. Saat itu anak saya masih duduk di bangku SMP. Pagi-pagi ketika hendak mengantar dia ke sekolah, pas di depan rumah, dia kaget melihat ada poster caleg yang dipaku di batang pohon cempaka di depan rumah. Saya masih ingat betapa anak saya marah sekali waktu itu.

“Bu, siapa yang memasang gambar ini?!” tanyanya.

“Yah, mana Ibu tahu, mungkin tim sukses si caleg.”

“Kok dipasang di pohon, sih? Dipaku pula, kapan sih mereka masangnya? Kasihan pohonnya, Bu!”

“Mungkin mereka masangnya pas malam hari, makanya kita ngga tahu,” jawab saya.

“Cabut, Bu! Kasihan pohonnya, coba kalau tubuh mereka dipaku kaya’ gitu, mau ngga?!” suaranya bergetar karena sedih dan marah.

Saya mengerti perasaannya. Dia sedih karena kasihan melihat batang cempaka tersebut dipaku seperti itu. Bekas-bekas tetesan getah batang cempaka yang mulai mengering masih kelihatan. Itu yang membuat perasaannya nelangsa. Dia membayangkan pohon itu menangis. Bayangkan, dia bahkan menyamakan batang pohon itu dengan batang tubuh manusia!

Apakah saya yang salah mendidiknya dari kecil sehingga dia menjadi sensitif begini? Entahlah. Getah pohon itu dianggapnya air mata. Dia merasa pohon tersebut kesakitan karena dipaku. Orang yang tidak mengerti perasaannya akan menganggap dia lebay, tapi mau gimana lagi? Begitulah dia.

Perasaan sedih bercampur kesalnya masih terbawa sepanjang perjalanan menuju sekolahnya. Dia bahkan berdoa semoga caleg-caleg yang menyakiti pepohonan itu tidak terpilih.

Beruntung pemilu kali ini tidak ada gambar caleg yang dipaku di pohon cempaka depan rumah. Kalau ada, saya juga yang akan repot membujuk dan menghiburnya. Terima kasih untuk para caleg yang sudah tidak memaku poster-posternya di dua pohon cempaka saya. 😀

Sepatu yang kekecilan

​Suatu pagi, ketika anak bersiap-siap hendak berangkat kuliah….

A. “Aduh, sepatunya kekecilan, sakit nih kakinya Ajung” (Sedikit cemberut)
I. “Lho, kemarin kan udah dicoba waktu mau beli itu? (Ini sepatu baru, baru beli kemarin *pengumuman* :D)
A. “Iyaa, kemarin waktu nyoba itu emang pas banget, Buuu. Pas banget!”
I. “Lha, kalau sudah pas, berarti ngga ada masalah dong?”
A. “Terlalu pas, Buuu, terlalu ketat.”
I. “Kalau gitu kenapa ambil yang ini?”
A. “Kan Ibu kemarin yang bilang, ngga apa2 agak pas, nanti akan melar setelah sekian kali pakai?” (Eh, Ibu lagi yang salah!)
I. “Yaa, namanya juga sepatu baru, nanti juga biasa kok. Udah pakai kaos kaki kan? Itu bisa mengurangi rasa sakit.”
A. “Udah pakai, tetap aja sakit nih.”
I. “Ya, sudah, jangan terlalu banyak mengeluh. Yang penting masih bisa dipakai. Lagipula, ngga mungkin ‘kan kalau kita mau tukar sekarang?” (Berusaha memberi pengertian dan realistis menghadapi kenyataan.)
A. “Iya sih, tapi jari-jarinya Ajung bisa mengecil semua karena kegencet ujung sepatu.”
I. “Lho… bagus dong, kan katanya jarinya jempol semua, kalau mengecil bagus dong.” (Mulai ketawa-ketiwi)
A. “Tapi… bukan berarti Ajung mau semua jari berubah jadi kelingking!” (Masih cemberut).

(Melihat mimik dan mendengar ucapannya, ketawa-ketiwi saya berubah jadi ngakak).

A. “Apa sih, Ibu?? Seneng banget!” (Dengan wajah sebel).

(Hey girl, pagi-pagi ngga boleh cemberut.Sambutlah dunia dengan ceria dan penuh senyum! *Cieeeh*. Ngakak saya makin menjadi-jadi dan susah berhenti, coba… semua jari (jempol) berubah jadi kelingking? Apa ngga lucu? Akhirnya, dia sendiri ikut ngakak). Sampai dalam perjalanan ke kampus masih senyam-senyum). 😀

*Pag-pagi udah dapat alasan ngakak*

NB: Tulisan ini pernah dijadikan status di FB.