Tag Archive | Random

Pudarnya “taksu” Arjuna

Shaheer-SheikhMalam itu anak saya tampak sebal sekali. Dia sedang duduk di atas tempat tidurnya sambil memegang remote TV. Saya kebetulan memang mau masuk ke kamarnya

“Lihat nih, Bu… Ajung malu nonton acara ini.”

“Acara apa?”

“Tuh, Ibu lihat aja sendiri.”

Di layar TV sedang ada tayangan iklan acara “Panah Asmara Arjuna”. Oh, ini rupanya yang membuat dia mencak-mencak. Kalau saya perhatikan sekilas, konsep acara ini seperti acara “Rumah Petir” yang pernah ditayangkan oleh Anteve sekian tahun silam. Ada beberapa kontestan yang sudah lolos audisi kemudian tinggal bersama (diasramakan) di satu rumah. Selanjutnya para kontestan akan mengikuti serangkaian acara atau tantangan. Tiap minggu akan ada kontestan yang dieliminasi hingga tinggal satu orang. Nah, yang tersisa itulah yang keluar sebagai pemenang dan berhak mendapatkan rumah yang mereka tempati itu sebagai Penghuni Terakhir (Petir). Secara garis besarnya demikian.

Konsep Panah Asmara Arjuna (PPA) ini saya rasa agak mirip seperti itu (kalau dilihat dari cuplikan iklannya yang terpaksa saya tonton karena tak ingin ketinggalan Mahabharata).  Gadis-gadis peserta PPA ini dikarantina di satu tempat dan Arjuna akan mendatangi mereka setiap hari untuk memberikan serangkaian tantangan. Para gadis tersebut wajib melakukannya dan bersaing untuk keluar sebagai pemenang dan mendapatkan hadiah tertentu (saya tak tahu hadiahnya).

Saya sendiri tak tertarik menonton acara ini. Acara yang saya tunggu di Anteve hanyalah Jodha Akbar, Mahabharata, Ramayana dan Mahadewa.  Tak saya sangka ternyata anak saya juga tak suka acara PPA, yang menurutnya mengubah imej Arjuna.

“Yah, kalau ngga suka pindah aja salurannya, jangan lihat yang itu.”

“Tapi Ajung nunggu Mahabharata, ntar kalau dipindah bisa kelewatan,” jawabnya, namun tak urung dipindahnya juga saluran TV ke NetTV (saluran TV favoritnya sekarang ini).

“Ibu tahu ngga, acara ini membuat taksu Arjuna jadi hilang. Ajung jadi ilfil nih,” lanjutnya kesal.

Saya tahu persis, anak saya sangat menyukai karakter Arjuna sejak Arjuna masih kecil (sebelum diperankan oleh Shaheer Sheikh).  Dia sangat menyukai perlakuan Arjuna terhadap ibunya. Dari kelima Pandawa, menurutnya Arjunalah yang paling besar perhatian dan sayangnya kepada ibunya. Ketika Arjuna dewasa diperankan oleh Shaheer Sheikh, dia lebih senang lagi (karena wajahnya yang rupawan dan aktingnya yang menawan). Apalagi ketika adegan Arjuna menadah air mata ibunya yang kemudian diusapkan ke wajah dan rambutnya. Dia sangat terkesan. Tokoh Arjuna (di matanya) termasuk cukup jaim dan tidak cengengesan walaupun dia digambarkan amat tampan. Dia suka karakter itu.

Nah, ketika ada acara Panah Asmara Arjuna, tiba-tiba “nilai” Arjuna jadi turun drastis di matanya. Langsung kebanting! Ditambah lagi para peserta PAA yang dianggapnya terlalu agresif dan (maaf) agak genit. Dia merasa para peserta tersebut tidak mewakili karakter perempuan Indonesia pada umumnya. Lengkaplah sudah kekecewaannya.

Ini memang masalah selera. Mungkin banyak yang menyukai acara PAA tersebut, mungkin hanya dia yang tak suka. Bukan hanya tak suka, dia bahkan malu melihatnya. Parah yah, anak ini?

Dia lupa bahwa itu adalah dunia bisnis. Dia lupa bahwa Shaheer Sheikh juga hanya berakting di sana. Tapi dia sudah terlanjur ilfil dan tak lagi mengidolakan Sang Arjuna. Dia sudah pindah ke lain hati. Ke hati siapa? Abimanyu!  Sekarang, setiap saat dia membicarakan Abimanyu. Katanya, Abimanyu cakep sekali. Abimanyu sangat cocok dengan Uttari, pasangan yang serasi. Cakep dan cantik!

Ah, dasar anak-anak! 😀

Tapi, ketika dia teringat bahwa Abimanyu akan gugur secara mengenaskan di medan Kuruksetra, wajahnya tiba-tiba amat sedih. Dia tak rela dan menyesal kenapa Abimanyu mesti gugur. Kasihan Uttari, baru juga mereka menikah dan belum sempat menikmati kebahagiaan, katanya.

Yah, kau harus tahu, Nak, apa yang kita hadapi tak selalu sama seperti apa yang kita harapkan.

Advertisements

Dikenali lewat suara

Suatu pagi di kantor pajak. Hari itu kantor pajak sungguh ramai, bukan hanya dipenuhi oleh wajib pajak yang menyetorkan laporan bulanan, tetapi terutama dipenuhi oleh orang-orang yang hendak menyetorkan SPT Tahunan berhubung deadline telah dekat. Saya duduk di deretan paling depan (hanya itu sih yang kosong) sambil memandangi orang-orang yang hilir-mudik ke depan menuju meja petugas. Saya melihat seorang ibu muda tinggi semampai yang cantik sekali, mirip Maia Estianti, berjalan ke arah saya dengan gelisah dan tampak agak bingung. Dia kemudian duduk di sebelah saya, satu-satunya kursi yang masih kosong. Rupanya dia baru menghadap petugas dan mungkin berkas laporannya dianggap ada yang salah atau kurang lengkap sehingga dikembalikan.

Saya tersenyum ramah ketika dia duduk di sebelah saya.

“Saya bingung, entah apanya lagi yang salah,” katanya pelan sambil membuka-buka berkas laporan pajaknya.

“Pak petugas tadi bilang apa, Bu? Dia ngga bilang salahnya apa?” tanya saya.

“Katanya saya harus membuat surat pernyataan, tapi surat pernyataan apa. Saya baru buka perusahaan, baru beberapa bulan,” lanjutnya.

Setelah bercakap-cakap beberapa saat saya mengerti bahwa ibu muda ini baru membuka laundry, tepatnya sedang dalam masa persiapan. Jadi, perusahaannya belum ada aktivitas. Tapi berhubung sudah ada NPWP, ada atau tidak ada aktivitas, tetap harus membuat laporan. Saya langsung mengerti apa yang dimaksud oleh petugas pajak tadi.

“Begini, Bu, surat pernyataan yang dimaksud oleh petugas tadi adalah sebuah surat yang isinya menyatakan bahwa perusahaan Ibu memang baru dibuat dan belum ada aktivitas sehingga laporan yang Ibu laporkan pun nihil,” saya berusaha menjelaskan apa yang saya tahu.

“Oh,begitu?”

“Iya, Bu, jangan lupa pakai meterai 6000. Walapun nihil, Ibu tetap harus melampirkan neraca dan laporan rugi-laba. Tidak masalah belum ada transaksi atau nilainya nol, yang penting tetap harus dilampirkan,” lanjut saya. Sedapat mungkin saya menyampaikan apa yang saya tahu karena kasihan jangan sampai dia harus bolak-balik disalahkan oleh petugas.

“Oh, makasih, Bu. Saya ngerti sekarang, untung saya ketemu Ibu,” senyumnya. Wajahnya lebih cerah, tidak sebingung tadi.

Setelah itu kami ngobrol santai, saling menanyakan tempat tinggal dan basa-basi lainnya. Kami juga bertukar nomor HP dan akun FB. 😀

Di tengah obrolan santai kami, tiba-tiba seseorang memanggil saya.

“Mbak Desak?” suaranya terdengar ragu. Saya menoleh dan mencari asal suara itu. Di sebelah kiri saya duduk seorang ibu yang sibuk dengan ponselnya. Di sebelah kiri ibu itulah ada seseorang yang sedang menjulurkan lehernya agar bisa melihat saya, sambil menyebut nama saya lagi.

“Iyaaa?” nada suara saya tak kalah ragu.

“Mbak Desak kan? Lupa sama saya, Mbak?” lanjutnya sambil tersenyum.

Saya mencoba mengingatnya. Rasanya kok tidak enak kalau saya langsung bilang lupa. Saya berusaha keras membongkar ingatan saya, berharap saya bisa segera mengenalinya.

“Bukan lupa, aduh… kapan ya kita ketemu terakhir? Rasanya sudah lama sekali, ya?” saya masih berusaha mengulur-ulur waktu.

“Iya, Mbak, lama banget, kita dulu sama-sama di ACC,” lanjutnya. Begitu menyebut nama ‘ACC’ ingatan saya langsung terang-benderang. Iya iya, perempuan ini adalah Yudit, teman sekantor waktu saya masih kerja di sebuah lembaga konsultan dan pendidikan komputer.

“Wah, Yudit! Berapa puluh tahun kita tidak ketemu?” saya merasa gembira dan lega sekali ketika berhasil mengingat namanya. Di tempat kerja saya dulu, saya termasuk karyawan angkatan pertama. Setelah saya sekian tahun bekerja di sana, Yudit baru masuk. Tapi beberapa bulan setelah dia masuk saya resign karena mau buka usaha sendiri bersama adik-adik. Jadi, saya tidak sempat bergaul lama dengan dia.

“Tadi saya tidak melihat ada Mbak Desak duduk di sini sampai saya mendengar Mbak bercakap-cakap dengan ibu itu. Saya langsung mengenali suara Mbak Desak.” Yudit tersenyum lebar.

“Wah, jadi, Yudit mengenali saya karena mendengar suara saya tadi?”

“Iya, Mbak, suara Mbak Desak khas sekali dan mudah dikenal,” katanya sambil tertawa. Kami kemudian ngobrol sebentar, nostalgia ceritanya. Beruntung ibu yang tadi main ponsel itu sudah mendapat giliran maju ke meja petugas sehingga kami bisa ngobrol dengan bebas.

Beberapa saat kemudian, nomot antrian Yudit mendapat giliran maju. Kami pun berpisah.

Hari itu, sepanjang perjalanan pulang saya senyum-senyum sendiri mengingat pertemuan kami. Bayangkan, setelah duapuluh tahun lebih tidak ketemu dia masih mengenali suara saya. Siapa sebenarnya yang hebat? Saya atau ingatannya dia? Saya cenderung pada pilihan yang kedua. Daya ingat Yudit yang luar biasa. 😀

Lucid Dream

Lucid DreamKemarin saya membaca sinopsis sebuah buku yang muncul di Beranda FB saya, yang dijual secara online. Judulnya “Lucid Dream.” Kebiasaan saya adalah membaca semua sinopsis buku yang muncul di Beranda, begitu juga buku ini. Nah, setelah membaca semuanya, saya terkaget-kaget karena saya sering mengalami apa yang diuraikan di sana. Karena tertarik dan penasaran, saya langsung googling dan mencari penjelasan yang lebih mendetail.
Dari hasil googling sana-sini, saya mendapatkan beberapa fakta tentang Lucid Dream yaitu:

1. Lucid Dream adalah suatu kondisi saat kita bermimpi dan sadar sepenuhnya bahwa kita sedang bermimpi.
2. Mimpi yang kita alami terasa begitu nyata dan jelas.
3. Kita bisa mengontrol jalannya mimpi dan mengarahkan ending-nya.
4. Semua indria aktif.

Lalu apa perbedaan Lucid Dream (LD) dengan mimpi biasa? Kata kuncinya adalah: kesadaran. Dalam LD kita mengalami segala sesuatu yang terjadi dalam mimpi dengan sadar, dan saat terbangun kita mengingat semuanya dengan amat jelas. Sedangkan mimpi biasa, kita seolah-olah hanya melihat atau menyaksikan suatu kejadian dan saat terbangun kita tidak mengingat semua kejadian dalam mimpi itu, alias ada sebagian ingatan yang hilang.

Saya beberapa kali bahkan bisa dikatakan sering mengalami mimpi seperti itu. Hanya saja, saya tidak tahu bahwa itu yang namanya Lucid Dream. Terkadang saat terbangun saya bertanya-tanya, apakah yang saya alami tadi sebuah mimpi atau sebuah realitas. Begitu nyatanya sampai saya ragu-ragu sendiri. Saya sering berpikir dan merasa heran, kok mimpi saya aneh, sih. Sekarang, apa yang sebelumnya saya anggap aneh ternyata ada jawabannya, ternyata memang ada fenomena demikian.

Sering kali ketika sedang mimpi, saya berkata sendiri, “oh, saya ini sedang bermimpi.”

Salah satu mimpi saya yang terasa begitu nyata adalah ketika saya mimpi didatangi seseorang, bersalaman dan berkomunikasi dengan intens. Sangat jelas, saya benar-benar bisa merasakan sentuhannya ketika berjabat tangan. Tapi sekaligus juga saya tahu bahwa saya ada di alam mimpi. Saya bahkan sempat membuka mata sedikit dan melihat dengan jelas benda-benda di sekitar saya (lemari, meja, kursi, dsb.) Ibaratnya, kalau dalam LD kita makan makanan yang pedas, misalnya, kita benar-benar merasa kepedasan bahkan rasa pedas itu seolah-olah masih terasa di lidah ketika kita terbangun. Ini untuk menggambarkan betapa nyatanya terasa sebuah LD.

Di waktu yang lain, saya bermimpi dikejar seseorang (saya sebut saja penjahat). Saya berlari kesana-kemari dan ketika si penjahat sudah sedemikian dekatnya, saya “mengatur” diri supaya bisa terbang. Dan memang, seketika saya bisa terbang dengan mengepakkan kedua lengan (berfungsi sebagai sayap), maka selamatlah saya dari si penjahat. Mimpi seram seperti ini beberapa kali saya alami, dan tepat pada waktunya tiba-tiba saja saya bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan diri, yang di dunia realitas tidak mungkin bisa saya lakukan.

Lucid Dream bisa dilatih

Satu fakta lagi yang tak pernah terbayangkan oleh saya adalah, ternyata kita bisa melatih diri agar bisa mengalami LD. Ini juga membuat saya takjub, karena kita bisa merencanakan sebuah mimpi. Merencanakan? Sedangkan selama ini saya sering mengalami LD tanpa pernah memikirkannya sebelumnya, apalagi merencanakannya. Bahkan istilah LD baru saya kenal. Lalu apa manfaat LD sehingga ada orang yang mau bersusah-susah melakukan latihan tertentu untuk bisa mengalami LD?

Beberapa manfaat LD yang saya dapatkan dari hasil googling sana-sini adalah:
1. Meningkatkan kemampuan dalam memecahkan masalah
2. Mengatasi fobia dan trauma
3. Meningkatkan kreativitas
4. Menambah rasa percaya diri
5. Tanya jawab dengan alam bawah sadar kita
6. Sebagai sumber inspirasi (percayakah kita bahwa film “Avatar” yang menghebohkan itu berawal dari sebuah Lucid Dream?)
7. Melatih sesuatu yang di dunia realitas belum bisa dilakukan
8. Mampu menghentikan mimpi yang menyeramkan (mungkin semacam mimpi saya di atas, yang bisa menghindar dari penjahat).

Nah, tampaknya saya harus membaca bukunya selengkapnya agar bisa memahami kenapa dikatakan LD mempunyai manfaat seperti di atas.
Memang keberadaan LD sudah diakui keberadaannya oleh para ahli dan sudah dilakukan penelitian ilmiah tentang hal itu.

Mimpi nyata vs mimpi yang jadi kenyataan

Lucid Dream mungkin bisa juga dikatakan sebagai “mimpi yang begitu nyata” tapi tentu berbeda dengan “mimpi yang jadi kenyataan.”
Perlu diingat bahwa LD tetaplah sebuah mimpi dan apa yang terjadi di sana dan apa yang betul-betul kita rasakan di sana, tetap bukanlah sebuah realitas. Sehingga disarankan, untuk yang sudah benar-benar mahir melakukan LD jangan sampai ketagihan (ternyata ada yang ketagihan, lho). 😀

Mimpi yang jadi kenyataan adalah semacam firasat atau isyarat atau peringatan yang diberikan lewat mimpi, bahwa akan terjadi sesuatu di dunia nyata kita. Isyarat tersebut bisa membuat kita untuk lebih berhati-hati dan waspada.

Ibu saya termasuk orang yang paling sering mengalami mimpi seperti itu. Saya ingat, dulu waktu masih kuliah, pernah suatu pagi Ibu berpesan: “Nanti hati-hati di jalan ya, kemarin malam Ibu mimpi kamu jatuh saat naik motor.”
Dan benar, sore itu saya jatuh di depan kampus. Tapi karena selalu teringat dengan pesan Ibu, saya memang ekstra hati-hati. Sehingga detik-detik saya akan jatuh, saya sangat sadar dan masih bisa mengontrol diri sehingga kondisi jatuh saya tidak parah.

Contoh lain, dulu Bapak saya bekerja di bidang pariwisata. Sebelum mendapat “rezeki nomplok”, Ibu selalu tahu lebih awal. Pagi-pagi, sebelum Bapak berangkat kerja, Ibu akan berkata: “Nanti akan dapat komisi banyak dari seorang tamu yang belanja banyak di sebuah Art Shop.” Bapak yang merasa tidak punya tamu seperti itu akan menjawab: “Ngga mungkinlah, saya ngga punya tamu hari ini.”
Apa yang terjadi? Apa yang dikatakan Ibu memang menjadi kenyataan. Itu terjadi berulang-ulang. Dalam banyak hal, Ibu selalu tahu lebih awal kalau akan terjadi sesuatu. Rupanya pesan-pesan tersebut didapatnya lewat mimpi.

Saya pernah mengalami hal serupa. Dalam mimpi saya didatangi oleh seseorang yang kemudian menyerahkan sebuah benda kepada saya. Benda itu diletakkan begitu saja di atas telapak tangan. Mimpi yang persis sama terulang dua kali dalam minggu itu. Dan? Beberapa hari kemudian ada seseorang yang tak saya kenal datang membawa benda yang persis sama dengan benda yang saya terima dalam mimpi. Tak beda sedikit pun. Benda itu masih saya simpan sampai sekarang.

Beberapa kali saya mengalami mimpi yang sejenis.
Kenapa bisa demikian? Saya pernah membaca di sebuah forum diskusi, bahwa mimpi yang saya alami itu adalah semacam “bocoran informasi” dari alam. Alam sepertinya memberi info bahwa saya akan mengalami hal itu dan bawah sadar saya “menangkap” gelombang bocoran tersebut, menyimpannya, kemudian menyampaikannya lewat mimpi. Kira-kira demikian. Begitu juga yang dialami oleh ibu saya.

Contoh-contoh yang terakhir itu jelas bukan Lucid Dream tapi mimpi yang jadi kenyataan. 😀

Wah, ternyata dunia mimpi itu memang penuh misteri. Atau, otak manusiakah yang penuh misteri?

 

Sumber gambar: https://www.google.co.id/search?q=Lucid+Dream&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ei=7QAUU4_nOobGrAfXmIG4Aw&ved=0CAcQ_AUoAQ&biw=1252&bih=609#facrc=_&imgdii=_&imgrc=khp1bjzYleRPSM%253A%3BfEWIjsXI_mLOYM%3Bhttp%253A%252F%252Fwww.lucid-mind-center.com%252Fimages%252Fgirl-flying-lucid650.jpg%3Bhttp%253A%252F%252Fwww.lucid-mind-center.com%252Fwhat-is-lucid-dreaming.html%3B650%3B650

Perjuangan berat untuk mendapatkan sekotak ‘terang bulan’

Sore itu, dalam perjalanan pulang setelah berkunjung ke rumah kakak, anak saya ingin membeli jajan terang bulan. Di sepanjang jalan Ahmad Yani yang biasanya bertaburan dagang terang bulan dan gorengan, sore itu mendadak susah dicari.

“Kalau lagi butuh, tak ada satu pun dagangnya. Kalau tak butuh, ‘mekacakan’ dagangnya.” Anak saya ngomel-ngomel sendiri karena sudah hampir mendekati belokan menuju rumah belum juga tampak dagang yang dicari.

Pas di depan Indomaret, tiba-tiba anak saya berseru, “Itu ada dagangnya, Bu!”
Benar, di areal parkir Indomaret tampak dagang ‘Terang Bulan’ yang sedang bersiap-siap. Kami langsung menuju ke sana.

Si dagang sedang menata dagangannya. “Tunggu sebentar, ya,” katanya. Kami mengangguk dan duduk di sebuah kursi kayu panjang sambil memperhatikan setiap gerakannya dan berharap agar dia segera membuatkan pesanan kami. Tapi apa yang terjadi? Gerakan bapak itu lambat banget. Sangat lambat malah. Mestinya kalau ada pembeli yang sudah menunggu dia harus lebih cepat bergerak agar si pembeli tak menunggu terlalu lama. Selain kami berdua, ternyata sudah ada juga pembeli lain yang menunggu. Duapuluh menit berlalu dan belum ada tanda-tanda pesanan kami akan dibuat. Si dagang masih sibuk menata ini-itu. Menata barang-barang di mejanya, menata cabe hijau, menata telor dan sebagainya dengan gerakan lambat. Super lambat! Anak saya mulai tak sabar. Ponsel di tangannya mulai tak menarik lagi, yang tadinya dia pakai mainan. Dia duduk gelisah di kursinya dengan kesal.

“Dagang apaan nih, lambat banget pelayanannya!”

“Gimana kalau kita pulang aja?” tawar saya.

“Pulang?! Setelah menunggu lebih dari setengah jam, kita pulang dengan tangan hampa?” jeritnya tertahan.

“Ya, sudah, kalau gitu tunggu aja sampai dia selesai bersiap-siap,” jawab saya santai, karena memang tak ada yang bisa dilakukan lagi. Untuk membuang rasa jemu saya mengalihkan perhatian ke keramaian jalan A.Yani sambil bersenandung kecil.

“Eh, Bu, dia sudah menghidupkan kompor,” kata anak saya dengan nada senang. Oh, berarti pesanan kami siap dibuat.
Tapi beberapa detik kemudian anak saya menjerit tertahan. Kekesalannya jelas terlihat.

“Kenapa lagi??” saya bertanya heran.

“Gasnya habisssss!”

“Oh….”

Kemudian anak saya menunjuk ke si bapak yang menenteng tabung gas ukuran 3 kg yang hendak menyeberang untuk membeli gas. Kebetulan di seberang ada mini market yang juga menjual gas. Saya tersenyum masam.

“Sebeeeeellllllll!” anak saya melampiaskan kekesalannya dengan memukul-mukul bahu saya, walaupun tak keras. Beberapa menit kemudian si bapak menyeberang kembali dengan tabung gas baru di tangannya.

“Tuh, udah dateng dia, bentar lagi jadi kok pesanannya,” kata saya. Anak saya diam. Saya kembali mengalihkan pandangan ke jalan raya. Masih tetap dengan bersenandung kecil. Entah berapa menit berlalu ketika anak saya menjerit kesal lagi. Menjerit pelan tentu saja.

“Ibuuuuuuuu!”

“Apa lagi?”

“Pak dagang masuk ke dalam sana dengan membawa baskom. Udah sekian menit lalu tapi belum balik lagi!” Anak saya menunjuk ke arah dalam Indomaret.

“Oh, tampaknya dia perlu air tuh. Tunggu aja,” kata saya dengan tenang. Kemudian, secara tiba-tiba muncul pikiran jahil di kepala.

“Eh, jangan-jangan dia mengambil air di toiletnya Indomaret, yaa.”

“Apaaaa?” anak saya menjerit lagi. “Jadi, adonannya dibuat dengan air dari toilet??”

“Iyaa, ada kemungkinan kan?”

Anak saya tampak bimbang dan bingung. Saya cepat-cepat menyambung omongan saya.
“Ah, ngga juga, kok. Mungkin ada kran air PAM di dalam sana, di dapurnya Indomaret.” Ini asli saya ngasal, ngga tahu apakah emang ada dapur di dalam sana. 😀

Tak lama kemudian, muncullah bapak itu dengan sebaskom air. Masih dengan gerakan lambat dia menyiapkan segala sesuatunya untuk membuat ‘terang bulan.’ Jelas terlihat dia tidak berusaha untuk mempercepat gerakannya. Dia tak peduli dengan calon pembeli yang sudah menunggu dari tadi dengan gelisah. Sikapnya seolah-olah berbicara: “Kalau loe mau beli, ya, tunggu aja kapan gue siap, kalau ngga mau nunggu, ya, pulang sono!”

Tiba-tiba anak saya berkata.

“Lihat, Bu, ada tulisan di dahinya!” katanya dengan kesal.

“Tulisan apa??” tanya saya heran.

“‘Tabok gue dong!’”

“Hah?!”

“Iyaaa, beda banget sama A’a yang jualan di Cokroaminoto, yang di punggungnya juga ada tulisan.”

“Tulisan apa??”

“‘Peluk gue dong…’”

“Hahhh?”

Saya setengah mati menahan tawa agar tak meledak.
(Siapa yang dimaksud dengan “a’a yang di Cokroaminoto” itu? Nanti saya akan tulis dalam postingan tersendiri). 😀

Akhirnyaaaa, sekotak ‘terang bulan’ bisa kami bawa pulang setelah melalui perjuangan yang berat.

“Coba dari awal dia bilang bahwa kita akan menunggu lama, kita kan bisa mengambil keputusan. Mau nunggu atau ngga usah beli. Kalau gini caranya, itu namanya dia memaksa kita untuk menunggu.” Anak saya masih ngomel. Rupanya dia masih tidak puas dengan sikap dagang itu.

“Ya, sudah, toh sekarang ‘terang bulan’ sudah di tangan, ngga usah dipikir lagi.”

Saya senyam-senyum sendiri setiap teringat kejadian tersebut.

Ajaran yang harus direvisi

“Ibu mau ke pasar?” tanya anak saya ketika dilihatnya saya siap-siap hendak ke pasar.

“Iya, ikut?”

“Ikuuuttt!” serunya.

“Ayooo.”

Dia selalu suka kalau diajak ke pasar yang jarang-jarang bisa dikunjunginya. Pasar tradisional yang akan kami tuju hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumah saya. Pasar ini amat bersih dan beberapa kali mendapat perhatian dan bantuan dari Pemkot karena kebersihannya. Kami menyusuri lorong-lorong pasar yang hari itu tampak tidak begitu ramai. Tiba-tiba anak saya yang berada di belakang saya berteriak tertahan.

“Aduh, Ibuuuu!”

Saya kaget dan seketika membalikkan badan. “Kenapaaa??”

“Mau copot jantungnya Ajung!” katanya, wajahnya agak pucat memutih.

“Tapi, kenapaaaa?”

Saya tidak melihat ada yang aneh. Hanya kedua tangannya mendekap dadanya. Saking penasarannya, saya memperhatikannya dengan saksama. Dia tampak baik-baik saja. Tadinya saya pikir dia terluka kena gores apa, gitu. Tapi dia masih belum bisa bicara. Saya bergeser agak ke pinggir supaya tidak mengganggu lalu-lalang orang. Karena saya tidak menemukan sesuatu yang aneh pada dirinya, saya diam, menatapnya dan menunggu penjelasannya.

Beberapa saat kemudian dia berkata dengan suara pelan.

“Ajung membunuh sesuatu… Ajung menginjaknya sampai mati, Ajung tidak bisa menghindar.” Kedua tangannya masih tetap di dadanya.

“Membunuh apaaa?”

“Kecoa.”

Ya, ampunnn! Saya hampir tertawa, tapi melihat raut wajahnya yang tampak prihatin, saya hanya tersenyum, tidak jadi tertawa dan bertanya untuk menunjukkan empati belaka, “Kok bisa?”

“Ajung betul-betul tidak bisa menghindar, Bu, kakinya Ajung sudah melayang, sudah terayun melangkah, tiba-tiba kecoa itu datang dan diam persis di bawah telapak kakinya Ajung. Yah, Ajung ngga bisa lagi mengangkat kaki yang sudah siap dijejakkan itu,” jelasnya panjang lebar.

“Ya, sudah, jangan dipikirkan lagi. Sudah takdirnya dia mati seperti itu, mungkin sorganya dia ada di bawah telapak kaki Ajung,” canda saya untuk menghiburnya.

Tapi di luar itu ada yang menjadi pikiran saya. Saya jadi berpikir jangan-jangan ada yang salah dengan ‘ajaran’ saya selama ini. Memang dari dulu, dari semenjak dia mengerti, saya sering menekankan bahwa kita tidak boleh menyakiti makhluk apa pun. Tak saya sangka, ajaran ini menjadi ‘bumerang’. Dia selalu merasa bersalah setiap merasa menyakiti atau membunuh makhluk hidup tertentu. Padahal memang ada beberapa makhluk yang harus dibunuh demi keselamatan manusia.

Yah, ini PR bagi saya untuk meluruskan ‘ajaran’ lama yang ‘kurang bener’ itu.

Sebuah episode kehidupan

Hari itu saya kedatangan seorang gadis belia yang manis, namanya Vivi. Kulitnya putih bersih, perawakannya mungil, tidak terlalu tinggi. Usianya setahun di atas usia anak saya.

Dia datang ke rumah saya disuruh oleh kakeknya untuk membawa file yang harus saya edit. Perkenalan saya dengan gadis ini berawal dari kakeknya (saya sebut saja namanya SA) yang mantan Ketua Pengadilan Tinggi di beberapa daerah. Setelah pensiun dia membuka biro konsultan hukum bersama anak perempuannya, sebut saja namanya AF (ibu dari si Vivi). Saya dengan AF juga dikenalkan oleh Pak SA. Saat itu Pak SA sedang menangani beberapa kasus. Sebagai pembela untuk beberapa kasus, dia harus membuat beberapa pledoi. Anak buahnya sudah mengetik draft pledoi tersebut tapi ternyata banyak salah tik. Entah siapa yang memberi tahu yang jelas Pak SA sampai di rumah saya dan minta tolong untuk mengedit dan merapikan naskah tersebut. Sejak itu dia sering berhubungan dengan saya, kemudian saya dikenalkan dengan putrinya, AF ini.

Singkat cerita, karena sering kontak dan ketemu, saya pun jadi cukup akrab dengan Bu AF. Orangnya ramah dan ceria, banyak tertawa. Dari Bu AF inilah saya jadi tahu banyak tentang situasi di pengadilan dan proses peradilan. Wawasan saya tentang dunia hukum makin bertambah karena dia juga sering mengajak saya ngobrol-ngobrol tentang materi kuliahnya ketika dia masih kuliah mengambil Master Hukum di Unud. Dari pengamatan saya, kasus terbanyak yang ditangani oleh Bu AF adalah kasus perceraian. Beda dengan bapaknya yang lebih banyak menangani kasus sengketa tanah dan politik.

Walaupun saya cukup akrab dengan Bu AF, tapi keakraban kami tidak sampai membicarakan hal-hal yang amat pribadi seperti masalah dalam pernikahan, misalnya. Begitu juga saya yang tak pernah bercerita masalah pribadi. Selalu ada banyak hal yang bisa kami jadikan topik pembicaraan setiap kami ketemu dan selalu ada bahan yang membuat kami tertawa. Semuanya di luar masalah pribadi.

Setelah gadis itu menyerahkan file dan menyampaikan pesan kakeknya, saya berbasa-basi sejenak,  menanyakan kabar mamanya.

“Mama apa kabar, Vi? Lama Mama ngga mampir ke sini, titip salam ya. Kangen lama ngga ngobrol.”

“Mama sekarang tinggal di rumah suami barunya, tante. Ngga sama Vivi lagi. Vivi masih tinggal di rumah kakek.”

“Oh!”

Mendengar  jawaban Vivi seperti itu saya agak kaget dan tidak tahu mesti berkata apa.  Vivi masih berdiri di depan saya. Wajahnya setengah menunduk mempermainkan HP. Raut wajahnya kelihatan datar, hampir tanpa ekspresi bahkan terkesan dingin dan cuek. Sebagai seorang ibu saya bisa melihat ada ekspresi terluka di wajahnya yang berusaha ditutupi dengan sikap cuek. Entah kenapa, saya tiba-tiba merasa sangat sedih melihat gadis ini.

Setelah berhasil menguasai diri saya segera mengalihkan pembicaraan.

“Vivi kuliah di mana? Kaya’nya lama deh tante ngga lihat Vivi. Terakhir ketemu waktu Vivi baru selesai UAN.”

“Vivi kuliah di Fak. Hukum, tante.”

“Wah, sama dong dengan Mama. Mau mengikuti jejak Mama yaa?” balas saya sambil tersenyum.

Sebelum sempat menjawab pertanyaan saya, HP-nya berdering. Dia langsung menjawab panggilan telpon itu.

Haloo… iya, Oom. Iya iya. Iyaaa.  Ini masih di temennya Mama, Oom. Iyaaa.

“Dari suaminya Mama,” katanya tanpa saya bertanya. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. Walau demikian dia berusaha ramah dengan saya.

Oh. Oom? Dia memanggil papa barunya dengan sebutan ‘Oom’, bukannya papa?

Saya menarik napas panjang menahan rasa perih membayangkan perasaan anak ini. Atau, saya yang lebay?

Setelah urusannya selesai dengan saya, dia langsung pamit.

“Salam untuk adik ya, tante,” dia berusaha tersenyum sebelum pergi meninggalkan saya.

Adik yang dia maksud adalah anak saya. Sebelum ini mereka memang sempat bertemu dan beberapa kali ngobrol.

“Makasih, Vivi,” saya mengantarnya sampai ke pintu depan.

*Inilah hidup*

Saya ingin ini, saya ingin itu, ingin ini-itu…

Renungan 2013 dan Harapan di tahun 2014

Hidup tak selalu indah, itu pasti…
Hidup tak selalu seperti yang diinginkan, itu pasti…
Hidup harus memilih, itu pasti…

right or wrongTerkadang kita menghadapi dilema, ketika apa yang kita pilih ternyata menyakitkan dan membuat orang terluka, maka, terjadilah kompromi-kompromi. Saya harus mengakui, kelemahan terbesar saya adalah tidak sanggup melihat orang terluka karena keputusan yang saya ambil. Akibatnya, saya pun sering mengalah. Artinya? Sering kali saya berada di pihak yang terluka karena ketidaksanggupan saya melihat orang lain yang menderita karena pilihan saya, walaupun keputusan itu secara umum adalah benar. Ini menyebabkan saya bimbang, benarkah keputusan yang saya ambil? Salahkah? Benarkah? Right? Wrong? Saya sering menyesali kelemahan saya ini, tapi apa hendak dikata?

Tidak apa, semua pasti ada hikmahnya karena Tuhan tak pernah tidur dan pasti ada sebuah rencana di sini. Saya percaya dengan sebuah skenario Tuhan. Saya yakin, hidup adalah menjalankan karma. (Seorang sahabat saya yang membaca ini bisa jadi menertawakan saya, menertawakan kebodohan saya karena dianggap terlalu mengagung-agungkan karma). 🙂 Tidak apa, sebisanya, dalam hidup ini saya berusaha berbuat baik, sedapat mungkin, berusaha tidak menyakiti makhluk lain, semaksimal mungkin. Walaupun usaha saya ini belum tentu selalu berhasil.

Beberapa teman yang cukup mengenal saya secara iseng bilang, “You’re really like an angel.” Saya jawab: “Eh, jangan salah, saya bisa jadi demon yang maha dahsyat, kalau kepepet.” 😀

Sekarang masalah pekerjaan.

Di tahun ini saya harus menata ulang cara kerja saya. Dua tahun terakhir ini saya tenggelam dan kejar-kejaran dengan deadline. Dan ini ada ‘bayarannya’. Saya harus meminggirkan atau mengabaikan hobi saya yang lain karena kejar-kejaran ini. Ini murni kesalahan saya yang barangkali tidak bisa mengatur waktu. Setiap orang mempunyai waktu yang sama, yaitu 24 jam dalam sehari. Lalu, kenapa saya selalu merasa kekurangan waktu? Berarti, masalah ada di saya, bukan? Bisa jadi saya terlalu gampang ‘terditraksi’ oleh sesuatu yang mestinya tidak perlu yang menyebabkan waktu saya terbuang. Di sini saya harus mengoreksi diri.

My Korg PA50Tahun ini saya berusaha menata waktu dengan lebih baik. Saya ingin punya waktu lagi untuk hobi yang lama dikesampingkan karena terdesak oleh ‘singa mati’. Saya ingin mengakrabi lagi keyboard/piano yang lama tak disentuh. Saya ingin menyanyi lagi. Dulu, sempat nyanyi (duet sama anak) di beberapa wedding dan di acara-acara tak resmi. Sekadar menyalurkan hobi dan just having fun.

Saya juga punya hutang baca beberapa buku yang belum sempat saya selesaikan tahun kemarin. Saya juga ingin menulis lebih banyak lagi. Untuk menyalurkan hobi menulis, selama ini saya hanya menulis di blog pribadi dan juga menulis beberapa cerpen (untuk konsumsi pribadi). Oh ya, saya juga punya obsesi untuk menulis sebuah buku. Entah kapan akan tercapai. Saya harus bisa membagi waktu dengan baik untuk semua hal tersebut. Tapi, porsi waktu terbanyak pastilah untuk menerjemah dengan tetap mempertimbangkan kemampuan diri dan ketercukupan waktu. Akhir bulan lalu saya melimpahkan satu materi terjemahan dari seorang yang telah menjadi klien tetap sejak sekian tahun lalu kepada seorang teman, karena saya sadar, waktu saya tak memungkinkan untuk itu.

Iya iya, saya benar-benar harus menata waktu dan menata diri dengan baik.

Saya ingin ini, saya ingin itu, saya ingin ini-itu…. (banyak amat sih yang diinginkan?) 😀

Sumber gambar: http://www.shutterstock.com/pic-82192213/stock-photo-wrong-or-right-dilemma-or-ethical-question-handwriting-on-colorful-sticky-notes.html